NovelToon NovelToon
Cinta Di Tengah Perang Abadi

Cinta Di Tengah Perang Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Raja Tentara/Dewa Perang / Kultivasi Modern / Perperangan / Sci-Fi / Action / Cinta Murni
Popularitas:773
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Di dunia di mana setiap tetes air mata dikonversi menjadi energi Qi-Battery, perang bukan lagi soal wilayah, melainkan bahan bakar eksistensi. Li Wei, sang "Pedang Dingin" dari Kekaisaran Langit, hidup untuk patuh hingga pengkhianatan sistem mengubahnya menjadi algojo yang haus penebusan. Di seberang parit, Chen Xi, mata-mata licik dari Konfederasi Naga Laut, dipaksa memimpin pemberontak saat faksi sendiri membuangnya sebagai aset kedaluwarsa.

Saat takdir menjebak mereka dalam reruntuhan yang sama, rahasia kelam terungkap: emosi manusia adalah ladang panen para penguasa. Di tengah hujan asam dan dentuman meriam gravitasi, mereka harus memilih: tetap menjadi pion yang saling membunuh, atau menciptakan Opsi Ketiga yang akan menghancurkan tatanan dunia. Inilah kisah tentang cinta yang terlarang oleh kode etik, dan kehormatan yang ditemukan di balik laras senjata. Apakah mereka cukup kuat untuk tetap menjadi manusia saat sistem memaksa mereka menjadi dewa perang tanpa jiwa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 Kabut Sonar

Tiga sosok itu melangkah keluar dari Gua Bintang, meninggalkan kehangatan sisa api baterai menuju hamparan kabut yang menelan segalanya. Lembah Putih membentang di depan mereka seperti lautan susu yang dingin dan mati. Di sini, udara tidak hanya terasa membeku, tetapi juga bermuatan partikel ion yang membuat layar komunikasi di pergelangan tangan Chen Xi berkedip liar sebelum akhirnya mati total.

"Sistem navigasiku buta," bisik Chen Xi. Suaranya teredam oleh kepadatan kabut yang seolah memiliki massa. "Jarak pandang tidak lebih dari dua meter. Li Wei, kabut ini bukan fenomena alam. Ada pengacak frekuensi aktif di bawah tanah ini."

Li Wei tidak menjawab dengan kata-kata. Ia meraih tangan Chen Xi, memastikan wanita itu tidak tertinggal di belakangnya. "Pegang pundakku. Xiao Hu, tetaplah di antara kami berdua. Jangan lepaskan ujung jubahku meski kau mendengar suara apa pun."

"Dingin sekali, Kak," gumam Xiao Hu. Gadis kecil itu merapatkan jaket mekaniknya, jemarinya yang gemetar memegang erat kain kasar jubah Li Wei. "Bau di sini... seperti logam berkarat yang dibasahi hujan."

"Itu aroma ionisasi," sahut Li Wei datar. Matanya menyipit, berusaha menembus tabir putih yang menyesakkan. "Chen Xi, kau masih bisa merasakan getaran sinyal sonar tadi?"

Chen Xi menggeleng perlahan, meskipun ia tahu Li Wei mungkin tidak bisa melihat gerakannya dengan jelas. "Terakhir kali terdeteksi tepat sebelum kita masuk ke zona ini. Polanya tetap, seperti detak jantung. Tapi sekarang... rasanya seperti kita berada di dalam perut raksasa yang kedap suara."

Langkah mereka menciptakan suara setapak-setapak yang berat di atas tanah lembap. Sunyi di lembah ini terasa menipu, sebuah ketenangan yang justru memicu adrenalin di puncak saraf. Li Wei merasakan jantungnya berdegup lebih kencang, sebuah firasat buruk yang biasa ia rasakan saat berada di parit Sektor 7 sebelum gas saraf dilepaskan.

Tiba-tiba, Li Wei berhenti. Genggamannya pada tangan Chen Xi mengencang.

"Ada apa?" Chen Xi berbisik, napasnya yang pendek membentuk uap di udara.

"Diam," perintah Li Wei. Ia melepaskan tangan Chen Xi perlahan, lalu jemarinya bergerak menuju hulu Bailong-Jian. Pedang itu masih memiliki retakan panjang akibat hantaman petir saat mereka mencuri pesawat tempo hari, namun di tempat ini, kerusakan itu menjadi keuntungan.

"Aku tidak mendengar apa pun," kata Chen Xi, mencoba menajamkan pendengarannya yang sudah ditingkatkan oleh sistem perwira Naga Laut.

"Itulah masalahnya. Hutan di belakang kita penuh dengan suara serangga dan angin. Di sini... bahkan suara napas kalian terdengar terlalu keras," Li Wei menarik pedangnya dari sarung. Logam itu tidak berdenting, melainkan mengeluarkan desisan halus saat bergesekan dengan udara dingin.

Li Wei memejamkan mata. Ia membiarkan sistem sarafnya menyatu dengan retakan di bilah pedang. Ia mulai mengetuk pelan pangkal pedang dengan buku jarinya, menciptakan getaran frekuensi rendah yang tidak terdengar oleh telinga manusia, namun beresonansi melalui logam Bailong-Jian.

Tek. Tek.

Gelombang suara itu terpental ke depan, menembus kabut, dan kembali membawa informasi. Dalam kegelapan batinnya, Li Wei melihat "pantulan". Ada tiga, tidak, lima objek bergerak di sekeliling mereka dengan pola melingkar. Mereka bergerak tanpa menyentuh tanah, seolah-olah mengapung di atas kabut.

"Pembunuh bayangan," desis Li Wei. "Mereka tidak menggunakan panas tubuh. Mereka menggunakan kamuflase termal tingkat tinggi."

"Bagaimana kau tahu?" Chen Xi mulai meraba Yan-Zuo di pinggangnya, sarafnya mulai bersiap untuk sinkronisasi tempur.

"Sonar suara melalui pedang. Retakan ini... ia menangkap pantulan yang tidak bisa dilihat mata," Li Wei memutar tubuhnya sedikit ke kiri. "Xiao Hu, peluit daunmu. Sekarang."

"Sekarang, Kak? Tapi itu akan memberi tahu posisi kita!" Xiao Hu panik, namun ia tetap merogoh sakunya.

"Lakukan saja. Tiup dengan nada paling tinggi yang kau bisa."

Xiao Hu menempelkan daun perak itu ke bibirnya. Sebuah lengkingan tajam membelah kesunyian Lembah Putih. Suara itu begitu menyakitkan hingga Chen Xi harus memejamkan mata. Namun bagi Li Wei, lengkingan itu adalah cahaya. Getaran suara yang kuat itu menghantam kabut, memperlihatkan siluet lima sosok yang mengenakan jubah abu-abu dengan topeng sensorik.

Sring!

Satu tebasan mendatar dari Li Wei membelah kabut tepat saat salah satu pembunuh melompat dari arah belakang. Darah hitam memuncrat, mengotori kabut putih yang suci menjadi pemandangan yang mengerikan.

"Satu jatuh!" teriak Li Wei. "Chen Xi, arah jam dua! Gunakan serangan buta, mereka ada di ketinggian satu meter!"

Chen Xi tidak ragu. Ia menarik Yan-Zuo, bilah tipisnya mengeluarkan cahaya biru elektrik yang membelah kabut. Sebuah dentuman logam terdengar, diikuti oleh erangan tertahan.

"Kau mengenainya!" Xiao Hu bersorak, namun ia segera bungkam saat sebuah anak panah berenergi melesat tepat di samping telinganya.

"Mereka bukan sekadar predator hutan," Chen Xi berteriak sambil melakukan manuver menghindar. "Gerakan ini... ini taktik infiltrasi militer. Li Wei, ini faksi desersi!"

"Aku tahu," jawab Li Wei dingin. Ia merasakan hantaman di bahunya—sebuah belati lempar yang berhasil menembus celah zirahnya yang sudah rusak. Ia tidak meringis. Algojo di dalam dirinya telah mengambil alih. "Mereka ingin menguji apakah kita layak masuk ke gerbang mereka atau mati sebagai sampah di sini."

Dua pembunuh lagi menerjang secara bersamaan dari sisi buta. Li Wei kembali mengetuk pedangnya, menangkap koordinat mereka melalui gema suara. Ia melompat, melakukan putaran di udara yang mustahil dilakukan tanpa bantuan Neural Overclock. Pedang Bailong-Jian yang retak itu melolong, mengeluarkan suara sonar yang memecahkan kaca sensor pada topeng lawan.

Dua tubuh ambruk ke tanah lembap, leher mereka terputus oleh presisi yang hanya dimiliki oleh mantan Perwira Sektor 7.

"Tinggal dua," Li Wei mendarat dengan lutut tumpuan. Darah mengalir dari bahunya, namun matanya tetap tajam menatap ke depan. "Keluar kalian! Aku tahu kalian tidak dikirim hanya untuk mati konyol!"

Sunyi kembali turun, namun kali ini kabut di depan mereka mulai berputar, seolah-olah ada lubang hitam yang menghisap udara di sana. Seorang pria dengan staf energi panjang perlahan muncul. Ia tidak mengenakan jubah pembunuh; ia mengenakan seragam putih dengan lambang teratai hitam yang berpendar ungu.

"Cukup," suara pria itu berat dan berwibawa, bergema di seluruh lembah seolah disiarkan melalui ribuan pengeras suara tersembunyi.

Li Wei menodongkan pedangnya ke arah pria itu. "Utusan Void?"

Pria itu melepaskan topengnya, memperlihatkan wajah yang penuh bekas luka bakar. "Selamat datang di Lembah Putih, Li Wei. Dan kau, perwira Naga Laut yang malang. Kami telah mengamati perjalanan kalian sejak dari gorong-gorong kimia."

Chen Xi melangkah maju, tangannya masih gemetar menggenggam pedang. "Jika kalian mengamati, kenapa kalian membiarkan kami diburu seperti binatang?"

"Karena di dunia ini, hanya mereka yang berdarah yang memiliki hak untuk bicara," pria itu mengetukkan stafnya ke tanah. "Nama saya adalah Utusan, dan kalian baru saja melewati ujian kelayakan yang paling dasar. Tapi jangan salah sangka... masuk ke gerbang kami bukan berarti kalian aman. Itu hanya berarti kalian memilih jenis kematian yang berbeda."

Li Wei tidak menurunkan senjatanya. Ujung Bailong-Jian yang masih berlumuran darah hitam tetap mengarah tepat ke jakun pria berstaf itu. "Jenis kematian yang berbeda? Tawaran yang sangat buruk untuk seseorang yang baru saja membantai anak buahmu."

"Anak buah?" Utusan itu tertawa kecil, suara yang terdengar hambar dan kering. "Mereka bukan anak buahku. Mereka adalah sisa-sisa ego dari mereka yang gagal melepaskan identitas faksi lama mereka. Di sini, di bawah naungan Teratai Hitam, kegagalan hanya memiliki satu kegunaan: menjadi pupuk bagi kewaspadaan mereka yang lebih kuat."

"Kau gila," desis Chen Xi. Ia melangkah mendekat, berdiri di samping Li Wei meski kakinya masih terasa nyeri akibat cedera jatuh dari pesawat tempo hari. "Kau membiarkan orang-orangmu mati hanya untuk sebuah ujian?"

Pria itu menatap Chen Xi dengan saksama. Mata pria itu tampak berbeda—pupilnya tidak bereaksi terhadap cahaya, melainkan berdenyut pelan mengikuti irama sonar yang masih terpancar dari perangkat komunikasi Chen Xi yang rusak. "Kau mengenali pola ini, bukan, Strategis Chen Xi? Frekuensi yang kau kejar ini bukan sekadar kode. Ini adalah undangan dari masa lalumu."

Wajah Chen Xi memucat. "Apa maksudmu?"

"Ikutlah denganku, atau tetaplah di sini sampai kabut ini memakan paru-paru kalian," Utusan itu berbalik, staf energinya mengeluarkan denyut cahaya ungu yang membelah kabut secara vertikal, membentuk jalur setapak yang bersih dari partikel ion. "Pilihan ada di tangan kalian. Kebebasan di tengah ketiadaan, atau kepatuhan di tengah kebenaran."

Li Wei menatap Xiao Hu yang tampak sangat ketakutan, lalu menatap Chen Xi yang sedang bergulat dengan keraguan batinnya. "Chen Xi, apa kau memercayainya?"

"Aku tidak punya pilihan untuk percaya atau tidak, Li Wei," jawab Chen Xi pelan. "Tapi pola sonar itu... itu adalah algoritma yang sama dengan proyek penelitian yang hilang di Konfederasi sepuluh tahun lalu. Jika ini benar-benar mereka, maka satu-satunya jalan pulang adalah melalui mereka."

"Kita tidak akan pulang," balas Li Wei tegas. "Kita akan maju."

Mereka melangkah mengikuti jalur ungu tersebut. Kabut di sekeliling mereka seolah-olah membentuk dinding padat yang tidak berani menyentuh cahaya dari staf sang Utusan. Di ujung jalur, sebuah struktur batu raksasa mulai terlihat. Itu bukan sekadar gua, melainkan sebuah gerbang mekanis kuno yang terintegrasi dengan akar-akar pohon raksasa.

"Selamat datang di ambang pintu Void," ujar Utusan itu sambil berhenti di depan pintu baja yang dihiasi ukiran teratai hitam. "Sebelum gerbang ini terbuka, ada satu hal yang harus kau ketahui, Li Wei."

"Apa?"

"Masa lalumu bukan sekadar beban. Ia adalah kunci," Utusan itu menunjuk ke arah kantung di ikat pinggang Li Wei. "Chip saraf milik Sersan Han yang kau simpan... itu bukan sekadar data militer. Itu adalah bagian dari sirkuit yang dibutuhkan untuk mengaktifkan sistem pertahanan di tempat ini."

Li Wei tersentak. Tangannya secara naluriah menyentuh kantung tersebut. Bagaimana pria ini tahu tentang chip itu? Bagaimana ia tahu tentang eksekusi sunyi yang ia lakukan pada sahabatnya sendiri di pipa induk bawah kota?

"Han adalah bagian dari kami sebelum ia dicuci otak oleh Zhao Kun," suara Utusan itu melunak, namun tetap terasa dingin. "Membunuhnya adalah tindakan belas kasihan terbesarmu. Sekarang, biarkan kematiannya memberikan arti bagi kelangsungan hidupmu."

Gerbang batu itu mulai bergetar. Suara mesin hidrolik yang berat beresonansi dengan lantai lembah, menciptakan getaran yang terasa hingga ke sumsum tulang. Perlahan, pintu itu terbelah, memperlihatkan sebuah lorong panjang yang diterangi oleh lampu-lampu bioluminesensi yang tumbuh dari dinding gua.

"Li Wei," Chen Xi menyentuh lengan Li Wei, genggamannya erat dan penuh kecemasan. "Jika kita masuk ke sana, tidak akan ada jalan kembali. Kita akan menjadi hantu bagi dunia luar."

Li Wei menatap ke arah kabut putih yang kini menutup kembali di belakang mereka, lalu menatap ke dalam kegelapan lorong yang menjanjikan jawaban. Ia teringat wajah Han di saat-saat terakhirnya, dan teringat bau ozon dari Sektor 7 yang menghancurkan hidupnya.

"Aku sudah menjadi hantu sejak pertama kali aku mengayunkan pedang ini untuk Kekaisaran," ujar Li Wei. Ia menatap Xiao Hu dan memberikan anggukan kecil yang menguatkan. "Ayo. Mari kita lihat rahasia apa yang disembunyikan oleh para desersi ini."

Saat mereka melangkah masuk, pintu batu itu tertutup dengan dentuman yang memekakkan telinga. Cahaya fajar di Lembah Putih lenyap, digantikan oleh temaram ungu yang misterius. Di depan mereka, Utusan itu terus melangkah tanpa menoleh, menuntun mereka menuju jantung Kota Cahaya yang tersembunyi di bawah tanah.

Li Wei menggenggam Bailong-Jian-nya erat-erat. Ia tahu, ujian yang sesungguhnya bukan lagi melawan serigala atau pembunuh bayangan, melainkan melawan kebenaran pahit yang mungkin akan menghancurkan sisa-sisa kewarasannya di dalam Void.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!