Alana, pewaris tunggal imperium properti, menemukan fakta bahwa sahabat yang ia biayai kuliahnya, Siska, adalah wanita simpanan ayahnya sendiri. Apa yang dimulai sebagai drama perselingkuhan berkembang menjadi perang dingin perebutan warisan, rahasia korporasi, dan manipulasi psikologis di mana Alana harus menghancurkan dua orang yang paling ia cintai untuk bertahan hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Retakan di Balik Bedak Tebal
Siska menatap pantulan wajahnya di cermin rias yang dikelilingi lampu LED terang. Bedak impor seharga jutaan rupiah itu tidak mampu menutupi lingkaran hitam di bawah matanya, atau memudarkan pucat pasi yang kini menjadi warna kulit alaminya. Di atas meja marmer, tergeletak sebuah struk motel kusut yang dikirim Rico kemarin. Kertas murahan itu seolah membakar matanya.
Tangannya gemetar saat mencoba memoleskan lipstik merah menyala. Garisnya melenceng, menodai dagu.
"Sial!" Siska menggeram, melempar tabung lipstik itu ke lantai. Ia meraih tisu basah dan menggosok wajahnya dengan kasar, nyaris melukai kulit.
Pintu kamar mandi terbuka. Hendra berdiri di sana, mengenakan setelan jas Armani yang baru disetrika. Wajahnya datar, namun matanya memancarkan ketidaksabaran yang dingin.
"Kamu belum siap?" tanya Hendra. Nadanya bukan bertanya, melainkan menuntut. "Mobil sudah menunggu sepuluh menit. Kita akan terlambat ke acara lelang amal itu."
Siska menahan napas, berusaha menekan rasa mual yang bukan berasal dari kehamilan, melainkan dari teror yang mencekiknya selama 48 jam terakhir. "Sebentar, Mas. Aku... aku merasa agak pusing. Mungkin bawaan bayi."
Hendra melangkah masuk, aroma parfum mahalnya memenuhi ruangan kecil itu. Ia tidak memeluk Siska atau mengelus punggungnya. Ia justru memeriksa jam tangan Rolex di pergelangan tangannya.
"Minum air putih. Jangan jadikan kehamilan alasan untuk tidak profesional," kata Hendra dingin. "Malam ini banyak investor properti. Mereka perlu melihat bahwa Wardhana Group stabil. Dan stabilitas itu tercermin dari keluarga yang bahagia. Jadi, hapus keringat itu dan pasang senyum terbaikmu. Jangan bikin aku malu."
Hendra berbalik dan keluar, meninggalkan pintu terbuka. Siska mencengkeram pinggiran wastafel marmer hingga buku-buku jarinya memutih. Dulu, Hendra akan membatalkan rapat demi mengantar Siska belanja. Sekarang, Siska hanyalah aksesori—inkubator bagi penerus takhta yang sangat didambakan pria tua itu. Masalahnya, inkubator itu menyimpan cacat fatal yang bisa meledak kapan saja.
***
Di lobi ballroom Hotel Mulia, lampu kristal raksasa memantulkan kilauan dari perhiasan para istri pejabat dan pengusaha. Alana melangkah masuk dengan gaun malam sutra berwarna biru tua yang membalut tubuhnya dengan elegan namun sopan. Tidak ada lagi Alana yang memakai gaun boneka pilihan ibu tirinya. Di sampingnya, Elang Pradipta mengenakan tuksedo hitam pekat, memancarkan aura dominasi yang membuat beberapa pelayan menunduk saat mereka lewat.
"Tanganmu dingin," bisik Elang tanpa menoleh, lengannya menyangga tangan Alana yang melingkar di sana.
"AC-nya terlalu kencang," elak Alana.
"Kamu gugup," koreksi Elang. "Ingat, malam ini kamu bukan anak yang diusir. Kamu adalah Alana Wardhana, pemilik Terra Architecture, mitra strategis Sagara Group."
Alana menarik napas panjang, membiarkan aroma lili dan uang mengiang di udara. "Aku siap. Di mana mereka?"
"Meja bundar nomor satu. Tentu saja," jawab Elang, matanya memindai ruangan dengan tajam. "Rico sudah melakukan bagiannya. Sekarang giliranmu menikmati pertunjukan."
Alana melihat mereka. Hendra sedang tertawa lebar sambil memegang gelas anggur, sementara Siska duduk di sebelahnya seperti patung lilin yang hampir meleleh. Siska tersenyum kaku setiap kali ada yang menyapa, matanya liar bergerak ke kiri dan kanan, seolah mencari ancaman dari balik bayang-bayang pilar.
"Ayo," ajak Elang.
Mereka berjalan mendekat. Kehadiran Elang selalu menarik gravitasi ruangan. Percakapan di meja Hendra terhenti saat Elang dan Alana berhenti tepat di hadapan mereka.
"Selamat malam, Pak Hendra," sapa Elang dengan sopan santun yang dibuat-buat. "Senang melihat Anda masih bugar di tengah guncangan pasar properti belakangan ini."
Hendra meletakkan gelasnya dengan denting keras. "Elang. Saya dengar kamu sedang sibuk mengurusi proyek recehan di Bali."
"Proyek yang efisien, Pak. Bukan recehan," sahut Alana tenang. Ia menatap langsung ke mata ayahnya, lalu mengalihkan pandangan pada Siska. "Halo, Siska. Kamu terlihat... lelah."
Siska tersentak, tangannya menyenggol sendok perak hingga jatuh ke lantai. Bunyi logam beradu dengan marmer menarik perhatian beberapa tamu di meja sebelah.
"Aku baik-baik saja," jawab Siska cepat, suaranya serak. Ia membungkuk untuk mengambil sendok, tapi tangannya gemetar hebat.
"Hati-hati," kata Alana, nadanya lembut namun penuh bisa. "Ibu hamil tidak boleh terlalu banyak stres. Apalagi di trimester pertama. Kondisi janin sangat bergantung pada ketenangan batin ibunya... dan kejelasan asal-usul genetiknya, bukan begitu?"
Kalimat terakhir itu diucapkan dengan volume normal, tapi bagi Siska, itu terdengar seperti ledakan bom. Wajah Siska memucat drastis. Ia menatap Alana dengan horor. Alana tahu. Tatapan itu mengonfirmasinya.
Hendra mengerutkan kening, tidak menangkap subteks tersebut. "Apa maksudmu, Alana? Tentu saja janinnya sehat. Dokter keluarga sudah menjadwalkan USG lengkap minggu depan."
"Baguslah," Alana tersenyum tipis. "Teknologi sekarang canggih. Tes DNA prenatal bahkan bisa dilakukan sejak dini untuk memastikan... risiko penyakit turunan. Benar kan, Siska?"
Siska merasa ruangan itu berputar. Ancaman Rico di telepon, struk motel, dan sekarang ucapan Alana. Semuanya terhubung. Mereka tahu rahasianya. Bayi ini mungkin bukan anak Hendra. Jika Hendra tahu, Siska tidak hanya akan diusir; dia bisa mati.
"Saya... saya harus ke toilet," gumam Siska. Ia berdiri terhuyung-huyung, nyaris menabrak pelayan yang membawa nampan canapé.
"Siska!" Hendra mendesis, malu melihat perilaku istrinya yang kacau di depan saingan bisnisnya. "Duduk."
"Aku mual, Mas!" pekik Siska, sedikit terlalu keras. Ia berlari kecil meninggalkan ballroom, mengabaikan tatapan heran para tamu.
Hendra menghela napas kasar, wajahnya merah menahan amarah. Ia menatap Alana dengan tatapan menuduh. "Kamu sengaja?"
"Sengaja apa, Pa?" Alana memasang wajah polos. "Aku hanya mengkhawatirkan kesehatan adik tiriku. Mungkin Siska butuh istirahat, atau mungkin dia sedang menyembunyikan sesuatu yang berat. Siapa yang tahu?"
Tanpa menunggu jawaban ayahnya, Alana menarik lengan Elang. "Ayo, Elang. Kita cari minum."
Mereka berjalan menjauh menuju bar di sudut ruangan. Begitu mereka cukup jauh dan terlindung oleh kerumunan, Elang mencondongkan tubuh ke arah Alana.
"Itu tadi kejam," bisik Elang. Ada nada apresiasi dalam suaranya.
"Dia yang memulainya, Elang. Dia yang masuk ke rumahku, mengambil ayahku, dan mencoba mencelakaiku di proyek," jawab Alana datar. Tangannya mengambil segelas air mineral. "Aku hanya mengembalikan rasa takut yang dia tanam."
"Dia akan semakin nekat," Elang memperingatkan. "Orang yang terpojok seperti binatang buas. Siska tidak akan tinggal diam setelah ini."
"Aku tahu," Alana menatap pintu keluar tempat Siska menghilang. "Justru itu tujuannya. Aku butuh dia berbuat kesalahan. Kesalahan fatal di depan mata Ayah."
Di toilet wanita yang berlapis marmer, Siska mengunci diri di salah satu bilik. Ia duduk di atas kloset tertutup, napasnya memburu. Ponselnya bergetar. Satu pesan masuk dari nomor tidak dikenal.
*Foto: Siska sedang merangkul Rico di parkiran basemen tiga bulan lalu. Tanggal dan jam tertera jelas.*
*Caption: "Pak Hendra pasti suka foto ini. Transfer 500 juta malam ini, atau aku kirim ke email kantornya."*
Siska menjatuhkan ponselnya. Ia menutup mulut dengan kedua tangan untuk menahan jeritan. Air matanya tumpah, melunturkan maskara tebalnya. Dia tidak punya uang sebanyak itu. Kartu kreditnya dipantau Hendra, dan uang tunai simpanannya sudah habis diperas Rico minggu lalu.
Dia terjebak. Dan Alana ada di balik semua ini. Siska tahu itu. Tatapan Alana tadi bukan tatapan seorang putri yang terbuang, melainkan tatapan seorang eksekutor.
Siska mengambil ponselnya dengan tangan gemetar. Ia tidak akan mentransfer uang. Itu percuma. Ia harus menghilangkan sumber masalahnya. Ia harus membuat Hendra membenci Alana lebih dari apapun, sehingga kalaupun rahasia ini terbongkar, Hendra tidak akan percaya pada Alana.
Siska menghapus air matanya, memperbaiki tatanan rambutnya yang berantakan, dan menatap cermin. Wajahnya yang hancur perlahan berubah menjadi topeng kebencian yang dingin.
"Kalau aku harus jatuh," bisik Siska pada bayangannya sendiri, "aku akan menyeretmu ke neraka bersamaku, Alana."