NovelToon NovelToon
Titisan Dewi Sri Yang Dibuang Ayahnya

Titisan Dewi Sri Yang Dibuang Ayahnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Kontras Takdir / Anak Genius / Mengubah Takdir / Identitas Tersembunyi / Mata Batin / Fantasi Wanita
Popularitas:16.5k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Dibuang karena bukan anak laki-laki, Sulastri dicap aib keluarga, lemah, sakit-sakitan, tak diinginkan.

Tak seorang pun tahu, dalam nadinya berdenyut kuasa Dewi Sri, sang Dewi Kehidupan. Setiap air matanya melayukan keserakahan, setiap langkah kecilnya menghidupkan tanah yang mati.

Saat ayahnya memilih ambisi dan menyingkirkan darah dagingnya sendiri, roda takdir pun mulai berputar.

Karena siapa pun yang membuang berkah, tak akan luput dari kehancuran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Percaya Sama Saya

Pak Lukman, pemilik kios buku tua di kabupaten itu, menatap Abah Kosasih dengan pandangan takjub.

"Kosasih, sampeyan ini benar-benar bikin saya kaget. Kalau tahun ini sampeyan lulus Ujian Persamaan dan dapat ijazah, wah, bakal geger satu kecamatan. Jarang ada orang seumuran kita yang masih semangat belajar."

Abah Kosasih tersenyum simpul, kerut di wajah tuanya tampak melembut.

"Ah, jangan bilang begitu, Man. Belum tentu lulus juga. Saya cuma berusaha semampu tulang tua ini."

Sejujurnya, Kosasih sendiri tidak yakin.

Tangannya lebih akrab dengan cangkul dan lumpur sawah daripada pena.

Pola pikirnya pun sudah pola pikir petani, bukan pelajar.

Namun, dia tidak mau menyerah.

Dia ingin membuktikan bahwa keluarga Hidayat bukan orang bodoh yang bisa diinjak-injak oleh keluarga mantan besan yang sombong itu.

Menang atau kalah urusan belakangan, yang penting sekarang dia berjuang habis-habisan.

"Man, matahari sudah makin tinggi. Saya pamit dulu," Abah Kosasih bangkit dari kursi kayu jati itu.

"Niat kamu saja sudah menang jauh dari anak muda zaman sekarang. Kamu tinggal di mana? Biar saya suruh anak buah antar pakai motor," tawar Pak Lukman sopan.

"Tidak usah, Man. Anak perempuan saya jualan jajanan di dekat pasar alun-alun. Saya jalan kaki saja ke sana," tolak Abah halus sambil merapatkan peci hitamnya.

"Ya sudah kalau begitu. Hati-hati di jalan, Kosasih. Kapan-kapan mampir lagi ngopi di sini."

Pak Lukman tahu tabiat Abah Kosasih yang tidak mau merepotkan orang.

Dia menatap punggung tua yang berjalan tegap itu hingga hilang di tikungan.

Bayangkan, seorang mantan guru honorer SD Inpres yang nyaris kepala lima, ingin ikut ujian persamaan demi bisa ikut tes perangkat desa atau sekadar memperbaiki nasib.

"Lihat itu," kata Pak Lukman pada pegawai magangnya.

"Dulu saya muda juga segagah itu. Berwibawa."

Si pegawai yang sedang menyusun komik petruk terkekeh.

"Bos sekarang juga berwibawa kok. Berwibawa duitnya."

"Dasar cangkem manis. Nih, buat beli es cendol," Pak Lukman melempar uang dua puluh ribu.

"Ingat wajah bapak tadi ya. Kalau nanti saya tidak ada dan dia datang bawa naskah salinan, bayar kontan. Kalau dia mau pinjam buku apa saja, kasih."

Si pegawai mengangguk mantap.

Sesampainya di lapak kaki lima pasar selatan, dagangan Kinar sudah hampir habis.

Aroma minyak goreng dan ikan tenggiri masih menguar dari wajan besar tempat menggoreng baso ikan.

"Istirahat dulu, Nduk. Biar Abah yang jaga," kata Kosasih melihat putrinya yang berkeringat.

Kinar mendongak, menyeka keringat di pelipisnya.

"Eh, Abah. Sudah kelar urusannya?"

"Sudah. Lancar," jawab Abah singkat tapi menenangkan.

"Syukurlah. Abah saja yang duduk, Kinar nggak capek kok," tolak Kinar.

Hatinya senang, hari ini dagangan laris manis.

Pembeli memuji masakannya, dan yang lebih penting, mereka memuji Tari, putri kecilnya, yang duduk anteng di samping gerobak.

"Abah seharian cuma duduk ngobrol. Kamu yang berdiri terus. Sudah, duduk sana."

Kinar akhirnya menurut.

Ia duduk di bangku kayu kecil di samping Tari.

Dengan sigap, tangan kecil Tari menyodorkan botol air minum bekas sirup yang diisi air putih.

"Ibu minum," suara Tari terdengar serak tapi manis.

Hati Kinar meleleh.

"Pintar banget anak Ibu. Tari capek? Lapar nggak?"

Tari menggeleng pelan.

Wajahnya masih pucat, sisa-sisa sakit menahun yang dideritanya saat masih tinggal di rumah gedong keluarga Wibowo.

Kinar tersenyum, lalu merogoh tas kain lusuhnya.

Dia mengeluarkan sebutir telur rebus yang masih hangat.

Mata Tari membulat.

"Kok ada telur, Bu?"

"Ibu tadi main sulap," canda Kinar, mengupas kulit telur itu dengan telaten.

Dia tahu putri kecilnya butuh gizi. Dulu di rumah Suryo Wibowo, meski ayahnya kaya raya, Tari sering diabaikan. Sekarang, meski hidup pas-pasan di desa, Kinar bersumpah akan meratukan anaknya.

"Makan ya, Nduk."

Tari menerima telur itu.

Saat gigitan pertama masuk ke mulutnya, rasa hangat menjalar ke seluruh tubuhnya.

Bukan hanya karena protein, tapi karena energi cinta ibunya. Tari bisa merasakan 'baterai' tubuhnya yang soak perlahan terisi.

Setelah dagangan ludes dan gerobak dirapikan, Tari menarik ujung baju ibunya.

"Mbah Kung, Ibu... Tari mau jalan-jalan sebentar. Mau lihat tempat orang-orang pintar di pojok pasar."

Kinar kaget.

"Lho, mau ngapain ke tempat itu, Nduk?"

Abah Kosasih juga heran.

Dia menatap cucunya lekat-lekat.

Di mata bocah lima tahun itu, ada sorot kedewasaan yang melampaui usianya. Sorot mata yang tua dan bijaksana.

"Tari, cucu Abah... kamu tahu apa yang kamu lakukan?"

Tari mengangguk mantap.

"Tahu, Bah. Tari mau cari cara biar Tari bisa... makan yang 'terang-terang', biar badan Tari nggak sakit lagi."

Sebagai titisan Dewi Sri yang terjebak di tubuh manusia fana, dia butuh memulihkan keseimbangan alam di sekitarnya untuk bertahan hidup.

Selama ini energinya disedot habis untuk melancarkan bisnis Bapaknya yang serakah di kota.

Sekarang, dia harus memulihkannya sendiri.

"Makan yang terang-terang biar sembuh?" Kosasih bergumam, mencoba mencerna logika mistis cucunya.

"Mbah, badan Tari nggak bisa sembuh cuma pakai obat dokter atau jamu. Tari nggak mau jadi beban Ibu terus. Tari mau bantu Ibu," suara Tari mulai serak menahan tangis.

Ia tahu obat-obatannya mahal, membuat ibunya harus banting tulang menggoreng kerupuk sampai malam.

"Hush, ngomong apa to, Nduk. Kamu bukan beban. Kamu itu hartanya Ibu dunia akhirat," Kinar langsung memeluk anaknya, matanya berkaca-kaca.

Kosasih menghela napas panjang.

Cucunya ini spesial.

Mungkin kelahiran Tari membawa takdir yang belum bisa mereka pahami dengan pikiran orang biasa.

"Ya sudah, ayo Mbah antar," kata Kosasih lembut, menggandeng tangan kecil Tari.

Kinar hendak berdiri, tapi Kosasih menahannya.

"Kinar, kamu tunggu di sini beres-beres gerobak. Bapak yang jaga Tari, jangan khawatir. Biar cepat pulang nanti."

Kinar sempat ragu, tapi melihat senyum Tari, ia luluh.

"Ya sudah. Jangan nakal ya, Nduk."

"Iya, Bu."

Tari berjalan menggandeng tangan kakeknya yang kasar namun hangat.

Setelah agak jauh, Tari mendongak.

"Makasih, Abah Kung."

Ia tahu kakeknya cerdas.

Kakek tahu Tari tidak ingin ibunya ikut karena Tari tidak mau ibunya cemas mendengar hal-hal aneh.

"Tari... kamu itu cucu Abah. Apapun kelebihan dan kekuranganmu, Abah Kung dan keluarga Hidayat akan selalu menjagamu," kata Abah bijak.

Tari tersenyum.

Tari memang cerdas, jiwanya tua, tapi tubuh fisiknya tetaplah bocah lima tahun yang belum sempat sekolah karena ditelantarkan ayahnya.

Dia menatap spanduk kain lusuh di salah satu lapak dengan bingung.

Abah Kosasih tersenyum maklum.

"Itu tulisannya: 'Jasa Ramal 5000, Buang Sengkolo (Sial) 50.000, Baca Weton, Jodoh, Rezeki, dan Arah Rumah'."

Tari mengangguk-angguk, merekam informasi itu di kepalanya.

Nanti aku harus bikin kain begitu buat aku sama Ibu.

Ibu jualan kerupuk, aku buka lapak ramal di sebelahnya. Ibu pulang, aku pulang sama-sama bawa duit.

Abah menemani Tari mengamati beberapa lapak.

Ada yang pakai kartu, ada yang pakai burung pipit, ada yang cuma modal omongan manis.

"Gimana, Nduk? Mereka sakti nggak?" tanya Abah geli.

Tari menggeleng polos.

"Nggak ada isinya, Mbah. Kosong. Cuma ngomong yang enak-enak biar dikasih duit. Tapi ya sudah, yang beli senang kok."

Abah tertawa kecil.

Cucunya ini kritikus dukun yang sadis.

"Yuk pulang, sudah sore."

Baru saja mereka hendak berbalik, seorang ibu-ibu dengan dandanan menor menyeret seorang anak perempuan kurus ke salah satu lapak.

Wajah ibu itu keruh, penuh amarah.

"Mbah, tolong terawang anak ini! Dia ini benar-benar sial apa bukan?" cerocos wanita itu.

Langkah Tari terhenti.

Dia merasakan gelombang energi negatif yang pekat.

"Mbah, tunggu," bisiknya.

Abah Kosasih menurut, mereka berdiri di balik pohon asem, mengamati.

Si dukun, seorang pria tua dengan blangkon miring, berdehem.

"Coba lihat tangannya."

Anak perempuan itu diam saja, matanya kosong.

Ibu itu langsung menyodorkan tangan si anak kasar.

"Sejak anak ini ada di rumah, beras cepat habis, suami saya sakit-sakitan, dagangan sepi! Benar-benar pembawa sial! Kalau dia laki-laki mending, lha ini perempuan, nyusahin!" omel si ibu.

Si dukun memegang tangan anak itu, pura-pura merem melek.

"Waduh... ini berat, Bu. Auranya gelap. Kolo Bendu. Ini anak memang bawa sial. Bikin rezeki seret, bikin rumah panas."

"Tuh kan! Apa saya bilang!" seru si ibu girang karena kebenciannya divalidasi.

"Terus gimana solusinya, Mbah?"

"Bisa diruwat, tapi mahal," si dukun melirik dompet si ibu.

Si ibu meletakkan uang lima puluh ribu rupiah di meja.

Mata dukun itu berbinar.

Dia mengamankan uang itu lalu berbisik sok misterius, "Sebaiknya anak ini dijauhkan dari rumah. Titipkan ke panti asuhan, atau kalau mau untung sedikit... kasihkan ke orang kaya di kota buat jadi babu. Bilang saja kontrak sepuluh tahun, itu bisa buat buang sial. Nanti kalau sudah bersih, baru ambil lagi."

Itu saran jahat.

Menjual anak dengan kedok buang sial.

"Wah, matur nuwun Mbah! Matur nuwun!" Si ibu tampak puas.

Dia menarik tangan anaknya dengan kasar.

"Dengar tuh! Kamu bakal saya kirim ke kota!"

"TUNGGU!"

Suara kecil tapi lantang itu membelah keramaian pasar.

Tari melangkah maju.

Matanya menatap tajam, bukan seperti mata anak kecil.

Angin sore tiba-tiba bertiup kencang, menerbangkan debu di sekitar kaki Tari.

"Kamu penipu! Kamu nggak bisa baca nasib!" tunjuk Tari pada si dukun.

Orang-orang mulai menoleh.

"Heh, bocah ingusan! Minggir!" bentak si ibu.

Tari tidak gentar.

Dia menatap si ibu lurus-lurus.

"Kalau Ibu jual kakak ini, bayi di perut Ibu bakal mati. Ibu bakal kehilangan segalanya!"

Wajah si ibu pucat pasi.

Dia memegang perutnya yang masih rata.

Dia baru telat datang bulan seminggu dan belum bilang siapa-siapa. "Ka... kamu ngomong apa? Jangan nyumpahin ya!"

"Bocah kurang ajar! Siapa orang tuamu hah? Mengganggu orang usaha!" Si dukun berdiri, wajahnya merah padam mau menampar Tari.

Tapi sebuah tangan kekar menahannya.

Abah Kosasih sudah berdiri di depan Tari, tegak bagaikan tembok benteng.

"Sabar, Ki Sanak," suara Abah tenang tapi berat.

"Cucu saya juga bisa nrawang. Kalau sampeyan asli, nggak usah takut sama omongan anak kecil. Tapi kalau tangan sampeyan melayang ke cucu saya, urusannya panjang sama orang satu desa."

Wibawa Abah membuat si dukun ciut.

"Ibu nggak usah marah," lanjut Abah pada si ibu.

"Anak kecil nggak bisa bohong. Dia nggak minta duit Ibu, cuma mengingatkan. Obat pahit itu menyembuhkan, omongan manis itu racun."

Ibu itu gemetar.

"Kamu... kamu bilang anak ini tidak bawa sial?" tanya si dukun sinis, mencoba membalikkan keadaan.

"Coba kamu ramal kalau kamu hebat!"

Tari berjalan mendekati anak perempuan yang diam itu.

Saat Tari mendekat, anak itu mendongak.

Ada rasa damai yang aneh saat Tari berdiri di dekatnya.

Tari melihat aura emas kemerahan memancar dari bahu anak itu.

Aura seorang kesatria.

"Kakak ini bukan pembawa sial," kata Tari tegas.

Suaranya bergema, membuat orang-orang merinding.

"Kakak ini Srikandi. Badannya kuat, mentalnya baja. Dua puluh tahun lagi, dia bakal jadi Jenderal wanita yang dihormati satu negara. Dia yang bakal angkat derajat keluarga!"

Si dukun tertawa mengejek.

"Hahaha! Jenderal? Perempuan jadi Jenderal? Dua puluh tahun lagi? Ngayal kamu, Nduk!"

Tapi Tari tidak peduli.

Dia menatap lekat mata anak perempuan itu, mentransfer sedikit energi keberanian lewat sorot matanya.

"Percaya sama saya. Jangan mau dijual. Kakak berharga."

Di sekitar kaki mereka, rumput liar yang kering di celah aspal mendadak berbunga kuning kecil-kecil secara serentak.

Tidak ada yang sadar, kecuali si anak perempuan itu yang menunduk melihat keajaiban kecil di ujung kakinya.

1
Lala Kusumah
😭😭😭😭😭😭
Enah Siti
suami edan pngen ku baco tu suryo 😡😡😡😡😡😡😡
gina altira
untung Abahnya Tari itu pinter, cerdas dan bijaksana
gina altira
dibikin lumpuh aja si suryo ini
gina altira
Suryo pengecut
Ebhot Dinni
ayo semangat kinar
Allea
ka Author aku boleh titip nanya ga ma Tari tolong terawang anting2 dan gelang aku keselip apa ada yg ambil soalnya raib dari tempatnya 😁
Allea: paham ka
ke 1 9,900
ke 2 99.000
ke 3 999.000 kan y 🤭
total 2 replies
Kusii Yaati
kasian keluarga kinar, mantan suami tak tahu diri itu ngusik terus.nggak ada yang belain.kirimkan pahlawan yang bisa membantu dan melindungi kinar dan keluarganya Thor 😟
Sribundanya Gifran
lanjut
Aretha Shanum
bingung ko ga kelar2 tuh si suryo ma antek2, pdhal karna udah jalan y tpi ga sadar2, malsh makin jadi, jangan stak alurnya nanti bosen🙏
Pawon Ana
pada masa lampau banyak orang2 yang Waskita karena hati mereka bersih,sekarang mencari orang benar2 berhati bersih seperti mencari jarum ditumpukan jerami 😔
Sribundanya Gifran
lanjut thor
mom SRA
baru mampir..bagus bgt ini...
Lili Aksara
Bagus sekali cerita ini, suka banget deh, udah gitu sering update.
Sribundanya Gifran
lanjut up lagi thor
Pawon Ana
membaca ceritamu sambil flashback kenangan masa lampau, dulu dibelakang rumah bapak jug nanam buah juwet yng rasnya asem2 sepet tapi kadang juga ada rasa manisnya,ada juga buah salam.✌️🤭
Pawon Ana: wayang kakak bukan walang kekek🤭
ditempatku ada yng namanya suket teki,suketnya panjang cuma satu tangkai,sama anak2 biasanya dibentuk serupa wayang buat mainn🤭✌️
total 4 replies
🌸nofa🌸
Asli ketawa ngakak🤣🤣
Lili Aksara
Tari, ancurin aja lah tuh pak Halim, udah salah juga, tapi masih bilang tapi kan dia nggak tahu rumah kita.
Lala Kusumah
lanjuuuuuuuuut, tambah seruuuuu nih, semangat sehat ya 💪💪🙏🙏
el 10001
tapi novel nya keren semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!