NovelToon NovelToon
Rahasia Jarum Naga Emas

Rahasia Jarum Naga Emas

Status: sedang berlangsung
Genre:Raja Tentara/Dewa Perang / Dokter Ajaib / Ahli Bela Diri Kuno / Roh Supernatural / Mata Batin / Mengubah Takdir
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: O'Liong

Fauzan Arfariza hanyalah seorang mahasiswa tingkat awal, hidup sederhana dan nyaris tak terlihat di tengah hiruk-pikuk kota. Demi menyelamatkan nyawa ibunya yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit, ia menelan harga diri dan berjuang mengumpulkan uang pengobatan, satu demi satu, di bawah terik dan hujan tanpa keluhan.

Namun takdir kejam menantinya di sebuah persimpangan. Sebuah mobil melaju ugal-ugalan, dikemudikan oleh seorang wanita yang mengabaikan aturan dan nyawa orang lain.

Dalam sekejap, tubuh Fauzan Arfariza terhempas, darah membasahi aspal, dan dunia seolah runtuh dalam kegelapan. Saat hidup dan mati hanya dipisahkan oleh satu helaan napas, roda nasib berputar.

Di ambang kesadaran, Fauzan Arfariza menerima warisan agung Pengobatan Kuno—sebuah pengetahuan legendaris yang telah tertidur selama ribuan tahun. Kitab suci medis, teknik penyembuhan surgawi, dan seni bela diri kuno menyatu ke dalam jiwanya.

Sejak hari itu, Fauzan Arfariza terlahir kembali.
Jarum peraknya mamp

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon O'Liong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tembus Dalam Sekejap

Aldo Barreto melangkah ke depan dengan dada terangkat, sorot matanya menyapu ruangan Gedung Herbal yang sejak ratusan tahun silam menjadi saksi pertarungan sunyi antara hidup dan mati. Dengan suara lantang yang menggema, seolah hendak memakukan kebenaran versinya ke dalam dinding-dinding batu tua itu, ia berteriak:

“Aku adalah otoritas tertinggi dalam bidang kardiologi dan pulmonologi! Akulah pakarnya! Dan aku bisa memastikan kepadamu dengan seratus persen keyakinan bahwa penyakit Karaeng Galesong tidak mungkin disembuhkan oleh siapa pun di dunia ini!”

Kata-katanya seperti ujung pedang yang terayun kasar, tajam namun dingin, penuh kesombongan manusia modern yang menggantungkan segalanya pada grafik, data, dan alat mekanis. Beberapa orang di ruangan itu menunduk, sebagian lain menarik napas panjang. Aura keputusasaan menggantung di udara seperti kabut pagi yang enggan sirna.

Namun Fauzan Arfariza berdiri tegak, punggungnya lurus seperti gunung yang menantang langit. Wajahnya tenang, matanya jernih, seakan penyakit dan kematian hanyalah bayangan tipis di hadapan Energi Vital yang mengalir deras dalam tubuh manusia.

“Gelar pakar yang kau banggakan itu,” ucap Fauzan dengan suara datar namun penuh bobot, “tidak ada nilainya di mataku. Dan aku juga bisa mengatakan dengan kepastian yang sama: penyakit yang tidak dapat disembuhkan oleh pengobatan Barat, dapat disembuhkan oleh ilmu Dokter Timur. Penyakit yang tidak mampu kau sembuhkan… aku bisa.”

Sesaat ruangan itu sunyi. Lalu tawa meledak.

Aldo Barreto tertawa terbahak-bahak, tawa yang sarat penghinaan, seakan ia baru saja mendengar lelucon paling konyol sepanjang hidupnya. Ia menepuk dadanya sendiri, lalu berkata dengan nada mengejek:

“Lelucon! Ini benar-benar lelucon terbesar yang pernah kudengar! Jika pengobatan Timur benar-benar bisa menyembuhkan penyakit, maka babi pun bisa memanjat pohon!”

Ucapan itu bagaikan racun. Fauzan mengerutkan kening. Bukan karena marah pada penghinaan terhadap dirinya, melainkan karena ilmu luhur yang diwariskan Leluhur Tua—ilmu yang lahir dari pengamatan ribuan tahun terhadap Keseimbangan dan Kestabilan alam—dilecehkan begitu saja.

“Berani bertaruh denganku?” kata Fauzan akhirnya, suaranya tenang namun menekan. “Jika aku bisa menyembuhkan penyakit Karaeng Galesong, kau harus meminta maaf secara terbuka kepada pengobatan Timur di seluruh Jakarta, bahkan ke seluruh Wilayah negeri ini. Permintaan maaf itu harus kau muat di media-media ilmiah paling otoritatif.”

Ia berhenti sejenak, lalu mengeluarkan selembar cek bernilai satu juta Rupiah dalam nominal besar—hadiah yang baru saja ia peroleh dari Gedung Herbal. Kertas itu tampak kecil, namun bobotnya seperti gunung.

“Dan jika aku kalah,” lanjutnya, “cek ini menjadi milikmu.”

Aldo Barreto menatap cek itu sekilas, lalu menggelengkan kepala. “Karaeng Galesong sudah berada di ambang kematian. Taruhan semacam ini tidak ada artinya.”

“Apa?” Fauzan menyipitkan mata. “Atau kau takut?”

Kata itu—takut—menusuk harga diri Aldo Barreto lebih tajam daripada pisau bedah. Ia, seorang pakar ternama, dipertanyakan kemampuannya oleh seorang pemuda berusia dua puluhan. Wajahnya memerah.

“Baik!” bentaknya. “Karena kau tidak tahu betapa luasnya langit dan dalamnya bumi, aku akan memberimu pelajaran. Hanya taruhan, bukan? Jika aku kalah, aku tidak hanya akan meminta maaf kepada pengobatan Timur secara terbuka di seluruh Jakarta dan Wilayah negeri ini, tapi aku juga akan memberimu satu juta Rupiah tambahan!”

“Kesepakatan tercapai,” jawab Fauzan singkat.

Ia berbalik, lalu menyerahkan cek di tangannya kepada Karaeng Araba. “Aku mohon Tuan Karaeng menjadi saksi atas taruhan ini.”

Karaeng Araba menerima cek itu dengan tangan sedikit bergetar. Di balik wajah tenangnya, badai emosi sedang berkecamuk. Harapan dan ketakutan saling bertabrakan.

Fauzan kemudian melangkah menuju sisi ranjang Karaeng Galesong. Namun sebelum ia sempat mendekat, sesosok bayangan bergerak cepat dan menghadangnya.

Karaeng Fatimah berdiri di depannya, kedua tangan terentang, mata beningnya menyala oleh kecemasan dan amarah. “Berhenti! Kau tidak boleh menyentuh kakekku! Kakek bukan alat taruhan kalian!”

Fauzan berhenti. Ia menatap gadis itu dengan tenang. “Aku tidak memperlakukannya sebagai alat. Aku sedang berusaha menyembuhkan penyakit kakekmu.”

“Aku tidak percaya padamu,” jawab Karaeng Fatimah dengan keras kepala. “Untuk penyakit kakek, aku akan menghubungi para pakar dari Asosiasi Medis Dunia. Akan ada cara lain!”

Sanro Maega, yang sejak tadi berdiri di samping dengan wajah muram, akhirnya melangkah maju. “Fatimah,” katanya lembut namun tegas, “Fauzan adalah Dokter Timur yang sangat andal. Percayalah padanya.”

Namun gadis itu menggeleng. “Sanro Maega, hanya Anda satu-satunya Dokter Timur yang kupercayai. Bahkan Anda sendiri tidak mampu menyembuhkan penyakit kakek. Bagaimana mungkin dia bisa?”

Kata-kata itu bagai duri. Namun Fauzan tidak mundur. Taruhan telah dibuat, kehormatan ilmu telah dipertaruhkan. Ia menarik napas dalam-dalam, merasakan Energi Vital mengalir dari titik terdalam yang tersembunyi menyusuri meridian tubuhnya.

“Kalau begitu,” ucapnya perlahan, suaranya jernih dan mantap, “bagaimana jika kita membuat kesepakatan lain?”

Semua mata tertuju padanya.

“Aku tidak akan menyentuh Karaeng Galesong tanpa persetujuanmu,” lanjut Fauzan. “Aku akan menjelaskan penyakitnya secara rinci terlebih dahulu. Jika setelah itu kau masih tidak percaya, aku akan pergi tanpa melakukan apa pun. Namun jika penjelasanku benar, berikan aku satu kesempatan.”

Karaeng Fatimah terdiam. Kata-kata itu bukan paksaan, melainkan tawaran yang jujur. Ia menoleh ke arah kakeknya yang terbaring lemah, napasnya tersengal, wajahnya pucat seperti kertas. Di titik itu, antara harapan dan keputusasaan, ia merasakan dadanya sesak.

Aldo Barreto mendengus dingin. “Baiklah. Mari kita dengar dongengmu.”

Fauzan tidak menanggapi ejekan itu. Ia melangkah mendekat, tidak menyentuh, hanya mengamati. Pandangannya tajam, seakan menembus kulit, otot, tulang, hingga ke aliran Energi Vital di dalam tubuh Karaeng Galesong. Dalam sekejap mata, segala sesuatu menjadi jelas baginya—aliran yang tersumbat, Keseimbangan dan Kestabilan aliran dalam struktur tubuh yang runtuh, jalur Darah Putih dan jalur Darah Merah yang saling bertabrakan di jantung.

“Penyakit ini,” katanya akhirnya, “bukan sekadar kegagalan jantung atau paru-paru seperti yang kau kira. Ini adalah keruntuhan total keseimbangan Energi Vital. Jika hanya ditekan dengan obat Barat, hasilnya hanyalah penundaan kematian.”

Ruangan itu kembali sunyi.

Di hadapan mereka semua, seorang pemuda berdiri, membawa warisan Leluhur Tua, menantang dunia modern dengan keyakinan yang lahir dari ribuan tahun kebijaksanaan. Dan pada saat itu, tak seorang pun berani meremehkannya lagi.

------

“Aku akan melanjutkan kembali diagnosis terhadap Karaeng Galesong,” ucap Fauzan Arfariza dengan nada tenang, setenang permukaan danau di pagi buta. “Jika diagnosis ini tepat, kau menyingkir dan membiarkanku bekerja. Namun jika keliru, aku akan berbalik dan pergi tanpa menoleh lagi.”

Karaeng Fatimah segera menegang. Wajahnya yang tegas, khas perempuan yang tumbuh dalam disiplin keras seni bela diri, memantulkan kegelisahan yang beradu dengan kewaspadaan. “Kakekku sedang berada di ujung nyawa,” katanya dingin. “Kau tidak boleh menyentuhnya.”

“Tidak masalah,” jawab Fauzan lembut. “Pengobatan Timur berpegang pada empat pilar: pengamatan, pendengaran, penelusuran, dan perabaan. Aku dapat menentukan kondisi hanya dengan pengamatan.”

Kata-kata itu melayang di udara Gedung Herbal seperti lonceng peringatan. Beberapa orang berbisik, sebagian menahan napas. Namun Fauzan tidak terpengaruh. Dalam dirinya, Energi Vital berdenyut stabil, seimbang antara Keseimbangan dan Kestabilan, mengalir dari titik terdalam yang tersembunyi menuju mata batinnya yang jernih.

Ia telah mengetahui kondisi Karaeng Galesong laksana membaca garis-garis telapak tangannya sendiri. Dengan langkah mantap, ia berdiri di sisi ranjang, menjaga jarak, hanya menatap.

“Ketika Karaeng Galesong masih muda,” tutur Fauzan, suaranya tidak keras namun menyapu seluruh ruangan, “beliau pernah mengalami luka tembak di paru-paru kiri. Lukanya tidak parah, namun pemulihan tidak sempurna karena kurangnya perawatan dan istirahat setelahnya.”

Karaeng Fatimah tersentak. Pupil matanya mengecil.

“Dalam beberapa tahun terakhir,” Fauzan melanjutkan, “beliau kerap mengonsumsi minuman keras. Ditambah paparan hawa dingin yang berulang, penyakit paru yang lama itu pun memburuk, perlahan namun pasti.”

Wajah Karaeng Fatimah berubah. Setiap kata yang terucap seolah memukul tepat pada kenyataan. Ia tidak menyangka, tidak pernah membayangkan, bahwa semua yang dikatakan pemuda ini—tanpa menyentuh, tanpa bertanya—sepenuhnya sesuai dengan kondisi kakeknya.

Namun keras kepala adalah perisai terakhirnya. “Cukup katakan yang tidak berguna,” sanggahnya. “Aku ingin tahu kondisi saat ini.”

“Kondisi saat ini sangat gawat,” jawab Fauzan tanpa ragu. “Tekstur kedua paru kasar. Sudut kostofrenik kiri tumpul. Pleura kanan menebal dan melekat, disertai penumpukan cairan.”

Ia berhenti sejenak, sorot matanya menajam. “Paru kiri bagian atas menyimpan sisa tuberkulosis lama, pergerakannya terbatas, bahkan menunjukkan kecenderungan atrofi lobus. Yang paling berbahaya—fibrosis paru berkembang semakin cepat.”

Kata-kata itu jatuh seperti palu godam.

Aldo Barreto, yang sejak tadi menggenggam laporan pemeriksaan laboratorium, mendadak berubah wajah. Sebagai pakar yang hidup di antara grafik dan citra radiologi, ia tahu persis apa arti istilah-istilah itu. Dan yang membuat darahnya membeku—semua yang diucapkan Fauzan sama persis dengan hasil alat presisi mutakhir.

Karaeng Fatimah terdiam, lalu seberkas kecurigaan melintas. “Aku mengerti sekarang,” katanya cepat. “Sanro Maega pasti telah memberitahumu kondisi kakekku sebelumnya. Itu sebabnya kau bisa menjelaskannya sedetail ini.”

Sanro Maega melangkah maju, hendak membela. Namun Fauzan mengangkat tangan, menghentikannya. Senyum tipis terukir di wajahnya.

“Jika kau masih belum percaya,” katanya ringan, “mari kita ubah arah. Kita bicarakan kondisimu.”

Ia menatap Karaeng Fatimah dengan pandangan yang membuatnya tanpa sadar mundur setengah langkah. Tatapan itu tidak melecehkan—melainkan menembus, jujur, dan terang.

“Secara umum, kondisi tubuhmu sangat baik,” ujar Fauzan. “Kau telah berlatih bela diri sejak kecil. Di kaki kananmu terdapat bekas luka lama. Lengan kiri pernah cedera—nyerinya kambuh saat cuaca mendung atau hujan.”

Karaeng Fatimah membeku.

“Belakangan ini,” Fauzan melanjutkan tanpa jeda, “bagian dada kiri terasa tidak nyaman, terdapat benjolan—gejala hiperplasia. Selain itu, akibat latihan bertahun-tahun tanpa perawatan memadai, rasa dingin telah masuk ke tubuhmu. Ini menyebabkan nyeri haid… yang kambuh dua jam lalu.”

“Ka-kau… diam sekarang juga!” bentak Karaeng Fatimah. Wajahnya memerah. Meski sikapnya tomboy dan lugas, membuka perkara paling pribadi di hadapan orang banyak tetaplah memalukan.

Namun di balik kemarahan itu, jantungnya berdegup keras oleh keterkejutan. Jika kondisi kakeknya mungkin saja diketahui Fauzan melalui Sanro Maega, lalu bagaimana dengan urusannya sendiri—yang tak pernah ia ceritakan kepada siapa pun?

Karaeng Araba dan Aldo Barreto sama-sama ternganga. Mereka tidak mengetahui kondisi Karaeng Fatimah, namun reaksi gadis itu sudah cukup menjadi bukti kebenaran. Kemampuan melihat kondisi seseorang hanya dengan satu lirikan melampaui batas imajinasi manusia.

Apakah mata pemuda ini dipasangi mesin tembus pandang?

Satu-satunya yang tetap relatif tenang adalah Sanro Maega. Baginya, ini bukan kejutan. Pewaris Sembilan Jarum Kebangkitan tidak mungkin manusia biasa.

Melihat Karaeng Fatimah terdiam kaku, Fauzan hanya tersenyum tipis. Ia tidak mengejek, tidak berdebat. Ia melangkah mengitari ranjang, mendekat ke sisi Karaeng Galesong. Dari balik jubahnya, ia mengeluarkan gulungan jarum perak yang berkilau lembut.

Tanpa ragu, tangannya bergerak.

Kecepatannya menakjubkan—sekejap mata, lebih dari sepuluh jarum perak telah tertancap pada titik-titik akupunktur utama di dada Karaeng Galesong. Setiap tusukan presisi, setiap sudut terukur, seolah jarum-jarum itu menari mengikuti irama yang hanya Fauzan dengar.

Begitu jarum terakhir tertancap, ekor-ekor jarum mulai bergetar tanpa henti. Getarannya halus namun konstan, seperti digerakkan oleh motor listrik tak kasatmata.

“Sembilan Jarum Kebangkitan!” seru Sanro Maega dengan suara bergetar. “Ini benar-benar teknik Sembilan Jarum Kebangkitan! Karaeng Galesong terselamatkan kali ini!”

Ia melangkah lebih dekat, matanya berbinar. Meski tidak mampu menggunakan teknik itu, ia telah membaca banyak catatan kuno. Tak salah lagi—yang digunakan Fauzan adalah teknik legendaris itu.

Kekhawatiran yang sempat mengganjal dadanya lenyap seketika, digantikan keyakinan penuh. Bahkan lebih dari itu—kegembiraan meluap. Menyaksikan teknik legendaris ini dalam hidupnya, ia takkan menyesal walau ajal menjemput esok hari.

Karaeng Araba menoleh dengan mata berbinar. “Paman Sanro,” tanyanya tergesa, “apa yang istimewa dari Sembilan Jarum Kebangkitan?”

Sanro Maega menarik napas panjang, menenangkan gejolak hatinya. “Sembilan Jarum Kebangkitan adalah teknik jarum tertinggi yang tercatat dalam naskah medis kuno. Menyebutnya Jarum Ilahi pun tidak berlebihan.”

Ia menatap jarum-jarum yang bergetar. “Teknik ini merangkum pencapaian terbesar akupunktur Timur. Sembilan jarum, sembilan metode: Memelihara Energi Vital, Menguatkan Urat, Meneguhkan Tulang, Membersihkan Meridian, Membentuk Ulang Tubuh… hingga Kebangkitan dan Kelahiran Kembali.”

Suara Sanro Maega merendah, penuh khidmat. “Legenda mengatakan, Sembilan Jarum Kebangkitan mampu menarik kembali jiwa dari ambang kematian. Karena itulah ia mendapat julukan indah: ‘Saat jiwa kembali, Sang Maut pun menangis.’”

“Benarkah?” Karaeng Araba berseru penuh harap. “Berarti penyakit ayahku bisa disembuhkan?”

“Apakah semujarab itu?” gumam Karaeng Fatimah pelan. Ia masih merasa cerita itu berlebihan. Namun jauh di lubuk hatinya, harapan kecil menyala—rapuh, namun hangat.

Ia tidak berkata apa-apa lagi. Bersama semua orang di ruangan itu, ia menatap Fauzan Arfariza yang berdiri di sisi ranjang, tangannya bergerak halus mengatur aliran Energi Vital, memulihkan Keseimbangan dan Kestabilan.

Di Gedung Herbal, di bawah cahaya redup dan napas yang tertahan, sejarah seakan berputar. Dan di hadapan mereka semua, takdir Karaeng Galesong mulai bergeser—perlahan, namun pasti.

1
Achmad
gasss thor
Achmad
semangat Thor
Achmad
semangat Thor
Achmad
semangat Thor lanjut jangan pernah kendor
culuns
ini cerita Indonesia apa cina kok campur2
Nanang: translit ing
total 1 replies
Hary
PEREMPUAN MA GAMPANG, yg SUSAH itu DUIT...!!!
MOTTO : Menghadapi wanita tidak tau diri
KENAL, PIKAT, SIKAT, MINGGAT
O'Liong: ➕2️⃣1️⃣🤭
total 1 replies
sitanggang
novelnya mirip bgt, kek sebelah...tapi disebelah pakai nama china/Korea gitu. 🫣🫣
O'Liong
Sip
O'Liong
😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!