NovelToon NovelToon
CINTA DUA ALAM - Aku Menikahi Jin

CINTA DUA ALAM - Aku Menikahi Jin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Misteri
Popularitas:85
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Arga Maheswara, mengira bahwa kepindahannya ke rumah tua peninggalan keluarga, akan menyembuhkan luka akibat pengkhianatan istri. Namun sejak malam pertama, sosok wanita cantik bergaun putih selalu muncul di bawah sinar bulan tersenyum sendu, seolah telah lama menunggunya.

Safira Aluna. Kehadirannya yang lembut perlahan mengobati hati Arga yang hancur. Untuk pertama kalinya, ia merasakan cinta yang tulus. Tapi ketika kebenaran terungkap, Arga terkejut Safira bukan manusia. Ia adalah jin muslimah yang terikat kutukan masa lalu, menunggu puluhan tahun untuk menemukan cinta sejatinya.

Meski menakutkan, Arga tak sanggup melepaskan Safira. Mereka menikah dalam ikatan dua alam yang terlarang. Namun cinta mereka adalah kutukan itu sendiri semakin dalam Arga mencintai Safira, semakin cepat nyawanya terkikis.

Akankah cinta mereka bertahan melawan takdir?

Atau salah satu harus berkorban untuk yang lain?

Selamat menyaksikan kisah cinta beda alam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayangan Pengkhianatan

Arga menatap langit-langit kamar yang mulai tersentuh cahaya subuh. Matanya perih. Merah. Bengkak. Tapi tidak bisa dipejamkan. Setiap kali ia coba memejamkan mata, yang muncul bukan wajah wanita bergaun putih tadi malam.

Tapi wajah Ratih.

Wajah istrinya yang tersenyum saat mereka pertama kali bertemu di kampus enam tahun lalu.

"Ini cuma halusinasi," bisik Arga pada dirinya sendiri, suaranya serak habis menangis sepanjang malam. "Kau terlalu lelah, Arga. Terlalu... terlalu hancur. Makanya kau mulai melihat hal-hal yang tidak masuk akal."

Tapi tangannya masih gemetar. Jantungnya masih berdebar tidak karuan. Dan tubuhnya masih terasa dingin seperti habis dicelupkan ke air es.

Ia bangkit dari kasur, kakinya terasa berat seperti ditarik ke bawah. Berjalan ke jendela. Membuka tirai lusuh yang sudah berjamur. Cahaya pagi yang redup masuk, menerangi kamar yang berantakan. Debu beterbangan di udara.

Dari jendela ini ia bisa melihat kebun belakang yang sudah seperti hutan kecil. Rumput setinggi lutut. Pohon-pohon besar yang ranting-rantingnya seperti tangan kurus mencakar langit. Dan kabut tipis yang masih menyelimuti tanah.

Arga menarik napas dalam. Berusaha menenangkan diri. Tapi dadanya tetap sesak. Seperti ada yang menindih. Menghimpitnya sampai susah bernapas.

Lima tahun. Lima tahun hidupnya bersama Ratih. Dan semuanya hancur dalam satu malam.

Satu malam sialan itu.

Tanpa ia sadari, pikirannya melayang. Melayang kembali ke enam tahun yang lalu. Saat pertama kali ia bertemu Ratih di perpustakaan kampus.

***

"Eh, maaf!" Arga langsung membungkuk saat buku tebal yang ia bawa menabrak kepala perempuan di depannya.

Perempuan itu menoleh, tangannya mengusap kepala sambil meringis. "Aduh... sakit tau."

Dan saat Arga melihat wajahnya, dunia seolah berhenti berputar.

Cantik. Perempuan ini cantik sekali. Rambut panjangnya diikat ponytail. Matanya bulat dengan bulu mata lentik. Hidungnya mancung. Bibirnya merah alami. Bahkan saat sedang meringis kesakitan pun ia terlihat cantik.

"Ma...maaf. Maaf banget. Aku nggak sengaja. Kau... kau baik-baik saja?" Arga tergagap. Wajahnya panas. Bodoh. Kenapa ia jadi gugup begini?

Perempuan itu tertawa kecil. Suaranya merdu. "Iya, aku baik-baik saja kok. Cuma kaget aja tiba-tiba ada buku jatuh ke kepala."

"Bukan jatuh. Aku yang... yang nggak hati-hati. Maaf ya sungguh."

"Sudah, nggak apa-apa." Perempuan itu tersenyum. Senyum yang membuat jantung Arga melompat-lompat. "Namaku Ratih. Kau?"

"Arga. Arga Maheswara."

Dan sejak saat itu, mereka sering bertemu di perpustakaan. Ngobrol tentang buku, tentang kuliah, tentang mimpi-mimpi mereka. Arga yang jurusan teknik sipil, Ratih yang jurusan sastra Indonesia.

Enam bulan kemudian, Arga memberanikan diri menyatakan perasaannya.

"Ratih, aku... aku suka sama kau. Sudah lama sebetulnya. Sejak pertama kali ketemu di perpustakaan itu. Aku tahu ini mungkin mendadak, tapi... maukah kau jadi pacarku?"

Ratih diam beberapa detik. Wajahnya memerah. Lalu ia mengangguk pelan sambil tersenyum. "Aku juga suka sama kau, Arga."

Itu adalah hari paling bahagia dalam hidup Arga.

Mereka pacaran selama dua tahun. Dua tahun yang penuh dengan kebahagiaan. Arga merasa Ratih adalah wanita yang tepat untuknya. Wanita yang akan menjadi ibu dari anak-anaknya kelak.

Dan setahun setelah lulus kuliah, Arga melamar Ratih.

"Ratih, kau mau nggak... mau nggak jadi istriku?" Arga berlutut di restoran tempat kencan pertama mereka dulu. Tangannya gemetar memegang kotak cincin.

Ratih menangis bahagia. "Iya, Arga. Aku mau."

Mereka menikah di bulan Mei. Lima tahun yang lalu. Pernikahan sederhana tapi penuh cinta. Keluarga mereka hadir, teman-teman mereka ikut berbahagia. Dan Arga merasa seperti orang paling beruntung di dunia.

Tahun pertama pernikahan mereka sempurna. Ratih yang pengertian, yang selalu mendukungnya. Arga yang bekerja keras untuk membahagiakan istrinya.

Tahun kedua, mereka pindah ke rumah yang lebih besar. Arga dipromosikan di kantornya. Ratih berhenti kerja dan memilih jadi ibu rumah tangga sambil sesekali menulis cerpen.

Tahun ketiga, mereka mulai mencoba punya anak. Tapi tidak berhasil. Dokter bilang tidak ada masalah dengan mereka berdua. Mungkin memang belum waktunya.

Tahun keempat, Arga semakin sibuk dengan proyek-proyek besar di kantornya. Ia sering pulang larut malam. Sering lembur. Sering pergi ke luar kota untuk survei lokasi.

Dan tahun kelima... tahun kelima adalah awal kehancuran.

Ratih berubah. Dingin. Jarang tersenyum. Jarang mengobrol. Kalau Arga pulang malam, ia sudah tidur. Kalau Arga berangkat pagi, ia masih tidur.

Arga pikir Ratih hanya sedang bad mood. Atau mungkin stres karena mereka belum punya anak. Jadi ia mencoba lebih perhatian. Membawakan bunga. Mengajak makan malam di luar. Mencoba mengobrol lebih banyak.

Tapi Ratih tetap dingin. Bahkan semakin dingin.

Sampai suatu malam...

Malam itu Arga pulang lebih awal karena proyeknya selesai lebih cepat. Ia ingin memberi kejutan untuk Ratih. Membeli kue favoritnya. Membeli bunga mawar merah.

Tapi yang ia dapat bukan senyum istrinya.

Yang ia dapat adalah pemandangan yang menghancurkan seluruh hidupnya.

***

Arga tersentak dari lamunannya. Air matanya mengalir lagi tanpa ia sadari. Tangannya mencengkeram jendela dengan kuat sampai buku-buku jarinya memutih.

"Sialan... sialan..." gumamnya sambil terisak. "Kenapa aku harus mengingat semua itu lagi? Kenapa?"

Tapi otaknya seperti punya kehendak sendiri. Terus memutar ulang kenangan itu. Kenangan paling menyakitkan dalam hidupnya.

***

Arga membuka pintu rumahnya pelan-pelan. Ingin memberi kejutan.

Tapi yang terdengar bukan suara Ratih yang sedang memasak atau menonton televisi.

Yang terdengar adalah... suara aneh dari lantai dua. Dari kamar tidur mereka.

Dada Arga langsung berdebar kencang. Ada yang tidak beres. Instingnya berteriak bahaya.

Dengan kaki gemetar, ia naik tangga. Pelan. Sangat pelan. Bunga dan kue di tangannya hampir terjatuh.

Suara itu semakin jelas. Suara... suara napas yang terengah-engah. Suara... suara yang membuat perutnya mual.

Jangan. Jangan, Arga. Jangan buka pintunya. Jangan lihat.

Tapi tangannya sudah memutar gagang pintu. Membukanya pelan.

Dan dunianya runtuh.

Di ranjang mereka. Ranjang yang mereka beli bersama dua tahun lalu. Ranjang tempat mereka berbagi mimpi, berbagi cerita, berbagi kehangatan.

Ratih. Istrinya. Dengan pria lain.

Dengan Dimas.

Rekan kerjanya sendiri. Teman yang sering ia ajak makan siang. Teman yang ia percaya.

Mereka bertelanjang. Bergelut di bawah selimut yang setiap pagi Ratih rapikan dengan tangan-tangan halusnya.

Arga tidak ingat apa yang terjadi selanjutnya. Yang ia ingat hanya jeritannya yang memekakkan telinga. Bunga dan kue yang terjatuh ke lantai. Ratih yang panik mencari pakaiannya. Dimas yang melompat dari ranjang sambil tergagap minta maaf.

"KELUAR! KELUAR DARI RUMAHKU!" Arga berteriak sekuat tenaga. Suaranya serak. Wajahnya basah oleh air mata yang mengalir deras.

Dimas bergegas memakai celananya, mengambil bajunya, dan kabur keluar rumah seperti tikus yang ketahuan mencuri.

Tinggal Arga dan Ratih.

Ratih yang sekarang sudah memakai daster, berdiri di pojok ruangan dengan wajah pucat. Tangannya gemetar.

"Arga... Arga, aku..."

"KAU APA?!" Arga melangkah maju, tangannya mengepal. Ia ingin memukul sesuatu. Ingin menghancurkan sesuatu. "KAU APA, RATIH?! MAU BILANG APA SEKARANG?! MAU BILANG INI SEMUA SALAH PAHAM?!"

"Aku... aku minta maaf..." suara Ratih pelan. Hampir tidak terdengar.

"MINTA MAAF?!" Arga tertawa. Tertawa seperti orang gila. "KAU SELINGKUH DENGAN TEMAN KU SENDIRI DI RANJANG KITA SENDIRI DAN KAU BILANG MINTA MAAF?!"

Ratih menangis. Tubuhnya gemetar. Tapi bukan tangisan penyesalan. Bukan tangisan yang minta ampun.

Itu tangisan frustrasi.

"Kau nggak akan ngerti, Arga!" Ratih berteriak balik. Matanya merah. "Kau nggak akan ngerti gimana rasanya ditinggal sendirian di rumah ini setiap hari! Gimana rasanya nunggu suami yang jarang pulang! Yang kalau pulang cuma tidur!"

"AKU KERJA KERAS UNTUK KAU! UNTUK KITA!" Arga membalas dengan teriakan yang lebih keras. "AKU LEMBUR, AKU PERGI KE LUAR KOTA, SEMUANYA BUAT MASA DEPAN KITA!"

"MASA DEPAN APA?!" Ratih melangkah maju. Air matanya mengalir tapi matanya penuh amarah. "Masa depan yang mana, Arga?! Kita sudah lima tahun menikah tapi kau bahkan nggak pernah nanya aku bahagia atau nggak! Kau pikir cukup dengan kasih aku uang belanja, kasih aku rumah bagus, kasih aku baju mahal?!"

"Lalu kau mau apa?! Kau mau aku di rumah terus?! Kita mau makan apa kalau aku nggak kerja?!"

"AKU MAU KAU PERHATIIN AKU!" Ratih berteriak sampai suaranya pecah. "Aku mau kau pulang lebih awal sesekali! Aku mau kau ajak aku jalan-jalan kayak dulu! Aku mau kau peluk aku dan bilang kau sayang sama aku! BUKAN CUMA KASIH UANG TERUS PERGI!"

Arga terdiam. Dadanya naik turun. Napasnya terengah-engah. Kepalanya pusing.

"Jadi... jadi ini salahku?" suaranya pelan sekarang. Pelan tapi penuh luka. "Ini semua salahku karena aku sibuk kerja? Karena aku jarang di rumah?"

Ratih tidak menjawab. Ia hanya menunduk sambil menangis.

"JAWAB AKU, RATIH!" Arga berteriak lagi. "INI SALAHKU?!"

"Bukan cuma salahmu!" Ratih mengangkat wajahnya. Matanya menatap Arga dengan tatapan yang dingin. Dingin sekali. "Tapi aku juga nggak bahagia, Arga. Aku nggak pernah bahagia sama kau."

Kata-kata itu seperti pisau yang menikam jantung Arga berkali-kali.

Nggak pernah bahagia.

Nggak pernah bahagia.

Nggak pernah.

"Apa... apa maksudmu?" Arga tergagap. Kakinya mundur selangkah. Dadanya terasa hancur.

"Aku menikah sama kau karena aku pikir kau bisa bikin aku bahagia. Tapi ternyata tidak. Kau... kau terlalu sibuk dengan pekerjaanmu. Terlalu sibuk dengan duniamu sendiri. Dan aku... aku kesepian, Arga. Sangat kesepian."

"Jadi kau selingkuh?!" Arga tidak percaya dengan apa yang ia dengar. "Karena kesepian kau selingkuh dengan Dimas?!"

"Dimas... Dimas perhatian sama aku. Dia dengerin aku. Dia ada waktu buat aku. Dia bikin aku merasa... merasa dihargai."

Arga tertawa lagi. Tertawa pahit yang membuat dadanya semakin sakit. "Jadi sekarang Dimas pahlawanmu? Pria yang rela selingkuh dengan istri temannya sendiri adalah pahlawanmu?!"

Ratih tidak menjawab lagi. Ia hanya berdiri di sana. Menangis dalam diam.

Dan Arga tahu. Di saat itu ia tahu. Ratih tidak mencintainya lagi. Mungkin memang tidak pernah mencintainya.

"Keluar," bisik Arga pelan. Sangat pelan. "Keluar dari rumah ini."

"Arga..."

"KELUAR!" Arga berteriak sampai pembuluh darah di lehernya muncul. "KELUAR SEKARANG ATAU AKU YANG KELUAR DAN NGGAK PERNAH BALIK LAGI!"

Ratih tersentak. Ia menatap Arga dengan mata berkaca-kaca. Tapi tidak ada penyesalan di sana. Tidak ada permohonan maaf yang tulus.

Dengan langkah gontai, Ratih mengambil tasnya. Memasukkan beberapa baju. Mengambil dompetnya. Dan berjalan keluar kamar.

Saat ia melewati Arga, ia berhenti sebentar. "Maaf, Arga. Maaf kalau aku mengecewakan kamu."

Lalu ia pergi. Turun tangga. Keluar dari pintu depan. Dan hilang dari hidup Arga.

Arga berdiri di kamar itu sendirian. Menatap ranjang yang berantakan. Ranjang yang sudah dinodai oleh pengkhianatan istrinya.

Kakinya melemas. Ia terjatuh ke lantai. Dan menangis. Menangis sejadi-jadinya.

Menangis sampai suaranya hilang. Sampai air matanya kering. Sampai dadanya terasa benar-benar kosong.

***

Arga kembali tersadar di kamar rumah neneknya. Wajahnya basah oleh air mata. Tangannya masih mencengkeram jendela dengan kuat.

"Aku tidak akan pernah percaya cinta lagi," gumamnya dengan suara serak yang penuh kepahitan. "Tidak akan pernah."

Cinta itu bohong. Cinta itu menyakitkan. Cinta itu hanya membawa luka.

Ratih sudah membuktikannya.

Ia menatap keluar jendela dengan pandangan kosong. Mata merah bengkaknya yang lelah. Dada yang terasa remuk.

Dan tanpa ia sadari, di balik kabut pagi yang mulai menipis, di bawah pohon besar di kebun belakang, sosok wanita bergaun putih berdiri diam.

Menatapnya.

Dengan tatapan yang sangat, sangat sedih.

Seolah ia merasakan semua luka yang Arga rasakan. Seolah ia menangis untuk kesedihan yang Arga tanggung sendirian.

Wanita itu mengangkat tangannya pelan, meletakkannya di dadanya sendiri, lalu menunduk dalam.

Seperti sedang berdoa.

Berdoa untuk laki-laki yang hancur di dalam rumah tua itu.

Tapi Arga tidak melihatnya. Ia terlalu tenggelam dalam lukanya sendiri untuk menyadari bahwa ada seseorang, atau sesuatu, yang mengawasinya dengan penuh kasih sayang.

1
Cimol krispy
wah mereka bisa sentuhan dong. bahkan pelukan
Cimol krispy
50 th berarti sejak sebelum nenek Sarinah tinggal di sana sudah ada kejadian itu ya.
Cimol krispy
Arga... ayo move on bareng mbak Kun
Leoruna: ngeri2 sedep klo Arga bisa berpaling sama mbak kun🤣
total 1 replies
Cimol krispy
Serem banget astaga. ini si Arga beneran bisa cepet move on sih kataku, dunianya langsung teralihkan sama mbak-mbak Kunti😅
Cimol krispy: iya lagi, ih
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!