NovelToon NovelToon
A.M.R.A

A.M.R.A

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Cerai / Keluarga / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Selingkuh
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Seorang Wanita Kuat-Amara. setelah hampir 15 th pernikahan ternyata suaminya ketahuan Selingkuh.

Semenjak itu Kehidupan Amara dan kehidupan rumah tangga nya berubah.

Masih Mencinta namun tak dapat bersama

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Foto itu

Selepas insiden galeri dan penjelasan Rafa, semacam gencatan senjata yang rapuh terbentuk di rumah itu.

Rafa berusaha lebih hadir—pulang lebih awal beberapa kali, menawarkan bantuannya pada Amara dengan proyeknya, bahkan mengajak Luna bermain board game di ruang keluarga.

Tapi semua gerak-geriknya terasa seperti gerakan yang dipelajari, sebuah skrip yang dia jalankan untuk memerankan

"suami yang berusaha". Ada jarak yang masih menganga, sebuah dingin yang tidak bisa diusir hanya dengan tindakan sopan.

Amara pun berusaha. Dia menerima usul makan malam bersama, mengangguk saat Rafa bercerita—dengan hati-hati—tentang sesi terapinya yang "membantu".

Tapi di balik setiap anggukan, ada suara yang berbisik: Apakah ini benar? Atau hanya sandiwara yang lebih rumit? Dia belum membuka amplop berisi kontak Dian. Sesuatu menahannya. Mungkin ketakutan untuk mengetahui kebenaran yang sebenarnya, atau mungkin naluri yang memberitahunya bahwa ada yang masih tidak beres.

Hari-hari berlalu dengan ritme yang aneh. Amara sibuk dengan proyek klinik Ibu Dewi yang sudah masuk tahap pemilihan material.

Dia juga tenggelam dalam revisi koleksi musim dingin untuk Clara, memasukkan amarah dan harapannya ke dalam potongan-potongan kain yang dia eksplorasi—banyak asymetrical cuts, jahitan yang sengaja terlihat, seperti luka yang sedang menjahit dirinya sendiri.

Sore itu, hari Selasa, langit mendung menggelantung rendah. Luna sedang dijemput Yuni dari les renang. Rafa mengirim pesan bahwa ada dinner meeting dengan investor dari Singapura, akan pulang larut.

Amara baru saja kembali dari toko material, membawa beberapa sampel kain dan cat. Dia merasa pegal. Ingatannya teringat pada botol minyak angin aromaterapi yang biasa disimpan Yuni di kamarnya—kamar kecil di belakang dapur yang sederhana namun selalu rapi.

Yuni, asisten rumah tangga mereka selama lima tahun terakhir, adalah wanita berusia 40-an yang pendiam, efisien, dan sangat bisa diandalkan.

Kamarnya selalu tertutup rapat, privasi yang Amara selalu hormati. Tapi sore ini, Yuni belum pulang, dan rasa pegal di bahu Amara mendesak.

Dia mendekati pintu kamar Yuni. Biasanya terkunci. Tapi hari ini, mungkin karena buru-buru menjemput Luna, atau karena merasa rumah sedang sepi, pintunya tidak terkunci betul. Hanya tertutup.

Amara mengetuk pelan. "Yuni?" Tidak ada jawaban.

Dia membuka pintu perlahan. Kamar itu kecil, persis seperti yang dia bayangkan: ranjang single yang rapi, lemari pakaian sederhana, meja kecil dengan cermin. Di atas meja itulah, di antara sisir dan hand cream, terletak botol minyak angin yang dia cari.

Dia masuk, mengambil botol itu. Saat hendak keluar, matanya tertarik pada sesuatu yang tergelar di atas bantal. Sebuah kaus oblong abu-abu—bukan milik Yuni. Kaus itu terlalu besar, modelnya simple, merek sport yang biasa dipakai pria.

Dan di sebelahnya, sebuah jam tangan yang amat sangat familiar: jam tangan sport bermerek yang sama persis dengan yang diberikan Amara pada Rafa untuk ulang tahunnya tiga tahun lalu, dengan goresan kecil yang khas di bagian clasp-nya.

Jantung Amara berdebar kencang. Mungkin kebetulan. Mungkin model yang sama. Tapi goresan itu… terlalu spesifik.

Dengan tangan gemetar, dia melihat sekeliling. Tidak ada yang lain yang mencurigakan. Hanya kaus dan jam itu. Lalu, tanpa sengaja, kakinya menyenggol tempat sampah kecil di samping meja.

Sebuah potongan foto yang tergeletak di atas tumpulan tissue jatuh ke lantai.

Amara membungkuk, mengambilnya. Dan dunia berhenti berputar.

Itu adalah foto selfie. Diambil di dalam sebuah kafe yang terang. Yuni, dengan senyum lebar dan rias wajah yang lebih mencolok dari biasanya, memakai blus merah muda yang terbuka sedikit di bagian leher.

Dan di sebelahnya, dengan lengan terkulai di bahu Yuni, menempel erat, adalah Rafa. Dia tersenyum. Bukan senyum formal yang biasa dia tunjukkan di foto-foto keluarga. Ini adalah senyum rileks, santai, bahkan… mesra.

Pandangan mereka saling beradu, ada keakraban yang intim, sebuah bahasa tubuh yang tak terbantahkan: mereka nyaman. Sangat nyaman.

Blur.

Segala sesuatu di sekitar Amara menjadi buram. Suara dengungan AC di kamar itu tiba-tiba menjadi deru besar di telinganya. Tangannya yang memegang foto itu gemetar hebat, membuat gambar Yuni dan Rafa yang tersenyum itu seolah bergoyang-goyang, mengejek.

Dinginnya Rafa. Jadwal meeting yang tak ada habisnya. Pulang larut. Kamar tamu. Psikolog. Kuitansi Bandung.

Potongan-potongan itu bukan lagi puzzle yang acak. Mereka adalah gambar yang sama, gambar yang jelas dan mengerikan.

Dian si terapis hanyalah kedok. Atau mungkin dia benar ada, tapi itu tidak menutupi fakta lain yang lebih gelap. Rafa berselingkuh.

Bukan dengan terapis cantik berpendidikan tinggi, tapi dengan Yuni. Asisten rumah tangga mereka. Wanita yang telah memasak untuk mereka, membersihkan rumah mereka, mengasuh anak mereka selama lima tahun.

Rasa mual yang hebat menyerang. Amara berpegangan pada tepi meja agar tidak terjatuh. Rasanya seperti ditinju berulang-ulang di ulu hati.

Pengkhianatan itu terasa lebih dalam, lebih hina, lebih memalukan. Dia tidak hanya dibohongi; dia dianggap begitu bodoh dan tidak berdaya hingga suaminya memilih berselingkuh dengan wanita di bawah atap mereka sendiri.

Tiba-tiba, suara mobil berhenti di depan rumah menyentaknya. Luna! Yuni!

Amara dengan cepat meletakkan foto itu kembali ke tempat sampah, seolah itu adalah benda panas yang membakar. Dia melesat keluar dari kamar, menutup pintu persis seperti semula, dan berlari ke tangga. Dia harus masuk ke kamarnya sebelum mereka melihatnya.

Dia berhasil masuk ke kamar tidur, mengunci pintu, lalu terjatuh berlutut di lantai. Napasnya tersengal-sengal. Air mata belum juga datang. Yang ada adalah rasa beku yang menyelimuti seluruh tubuhnya, seperti es yang menyebar dari tulangnya ke luar. Dingin.

Dia mendengar suara di bawah: tawa riang Luna, suara lembut Yuni, "Ayo, Nak, cuci tangan dulu, Ibu buatkan susu coklat."

Ibu. Yuni menyebut dirinya 'Ibu' untuk Luna.

Amara memeluk diri sendiri, menggigit kepalan tangannya untuk menahan teriakan yang ingin meledak.

Beberapa jam berlalu seperti mimpi buruk. Amara mengunci diri, berpura-pura sakit migrain ketika Luna mengetuk. "Mama istirahat dulu, sayang," bisiknya melalui pintu, suaranya nyaris normal, dan itu membuatnya sendiri terkejut.

Rafa pulang larut, seperti biasa. Dia mendekati kamar, mencoba membuka. Terkunci.

"Amara? Kau baik-baik saja?" suaranya penuh kepura-puraan, penuh dengan kekhawatiran palsu.

"Aku migrain. Parah. Aku mau tidur sendirian," jawab Amara, datar.

"Baiklah. Istirahatlah."

Langkah kakinya menjauh. Menuju kamar tamu? Atau… diam-diam menuju kamar di belakang dapur?

Amara tidak bisa tidur. Dia duduk di lantai, bersandar di pintu, menatap kegelapan.

Pikirannya adalah rollercoaster gambaran: senyum Rafa di foto, sentuhan di galeri, taplak meja bernoda sirup, ekspresi kasihan Dian, ketulusan Ibu Dewi, tawa Riana, wajah polos Luna. Semuanya berbaur menjadi satu badai yang menghancurkan.

Dia tertipu. Sepenuhnya. Penjelasan Rafa tentang terapi, air matanya yang meyakinkan—semuanya akting.

Sebuah narasi yang dirancang dengan baik untuk menutupi perselingkuhan yang lebih sederhana, lebih mudah, dan lebih merendahkan. Yuni ada setiap hari. Dia adalah akses yang mudah, yang tahu segala rutinitas rumah, yang bisa menjadi mata-mata bagi Rafa, dan mungkin… menjadi pengganti ibu bagi Luna.

Pikiran terakhir itu yang membuat Amara akhirnya muntah ke dalam tempat sampah di samping tempat tidur.

Ketika fajar menyingsing, dengan mata bengkak dan tubuh lemas, Amara bangkit. Dingin di hatinya telah berubah menjadi sebuah kepastian yang keras dan tajam seperti beling.

Dia tidak akan menangis lagi. Tidak akan berteriak. Tidak akan konfrontasi dulu.

Dia mandi dengan air yang hampir mendidih, seolah ingin membersihkan semua rasa jijik yang menempel. Dia mengenakan pakaian yang paling membuatnya merasa kuat: celana hitam, kemeja putih sederhana, blazer hitam.

Dia menyisir rambutnya ke belakang, membuat sanggul rapat. Wajahnya pucat, tapi matanya—oh, matanya—memancarkan sebuah cahaya dingin yang belum pernah ada sebelumnya.

Itu adalah mata seorang desainer yang sedang melihat sebuah proyek yang sangat rusak dan memutuskan untuk merobohkannya untuk membangun dari nol.

Dia turun ke dapur. Yuni sudah ada di sana, menyiapkan sarapan.

"Selamat pagi, Bu," sapa Yuni dengan nada yang sama seperti biasa. Tapi sekarang, Amara bisa melihat sesuatu yang lain: sebuah kepercayaan diri yang tersembunyi, sebuah pengetahuan rahasia yang membuat senyumnya sedikit terlalu manis.

"Pagi, Yuni. Luna sarapan apa?"

"Omelet keju, Bu. Seperti biasa."

Seperti biasa. Segalanya seperti biasa. Tapi tidak ada yang biasa lagi.

Rafa turun, terlihat segar. "Migrainmu sudah baikan?" tanyanya, berpura-pura peduli.

"Sudah," jawab Amara pendek, menuangkan kopi untuk dirinya sendiri. Dia tidak menatapnya.

"Aku ada survei lagi ke klinik hari ini. Mungkin pulang siang."

"Baik. Hati-hati di jalan."

Percakapan kosong. Sebuah pantomim. Amara ingin tertawa menertawakan semua ini. Tapi dia menahan. Dia punya rencana.

Setelah mengantar Luna, Amara tidak langsung pergi. Dia pulang, masuk ke rumah dengan diam-diam.

Dia tahu Yuni punya jadwal belanja ke pasar setiap Selasa pagi. Dia menunggu di luar rumah, agak tersembunyi.

Benar. Tak lama kemudian, Yuni keluar, membawa tas belanja. Setelah dia menghilang di ujung jalan, Amara masuk kembali ke rumah.

Dia langsung menuju kamar Yuni. Kali ini, dia membawa sarung tangan latex dapur dan kantong plastik kecil.

Dia masuk. Dengan cepat dan sistematis, dia mencari. Di bawah kasur, dia menemukan beberapa surat dalam bahasa Sunda (bahasa asli Yuni) yang tampaknya dari keluarganya.

Di laci meja, ada beberapa perhiasan murah dan… sebuah kunci kamar hotel berbentuk kartu (blank, tanpa logo) yang sudah kadaluarsa. Bukti fisik yang kecil. Tapi yang dia cari bukan untuk pengadilan. Dia mencari untuk kepastian hatinya sendiri.

Dia menemukannya di balik cermin foto yang berdiri di atas meja. Sebuah foto lain. Lebih lama. Rafa dan Yuni di sebuah taman, mungkin Taman Mini.

Luna kecil, mungkin usia 3 tahun, ada di pangkuan Rafa. Tapi yang menarik perhatian adalah cara Yuni memandang Rafa—penuh kekaguman dan kepemilikan. Dan cara Rafa berdiri dekat dengannya, tubuhnya condong ke arahnya.

Cukup.

Amara mengambil foto itu, menyimpannya dalam plastik. Dia meninggalkan kamar persis seperti semula, kecuali satu foto yang hilang.

Dia kembali ke luar rumah, duduk. Tidak ada air mata. Hanya sebuah kedinginan yang mendalam, dan sebuah amarah yang begitu putih dan bersih hingga hampir menyilaukan.

Dian si terapis mungkin ada. Tapi itu hanyalah lapisan kebohongan yang pertama. Lapisan kedua, yang lebih dalam dan lebih busuk, adalah ini.

Perselingkuhan yang telah berlangsung lama, mungkin sejak Luna masih kecil, di bawah hidungnya.

Semua "kesibukan" Rafa, "meeting"-nya,

"dinner bisnis"-nya, "terapi"-nya—semua adalah tirai asap.

Amara memesan mobil taxi online. Matanya melihat rumah mewah mereka di kaca jendela. Rumah itu bukan lagi museum. Itu adalah lokasi kejahatan. Sebuah tempat dimana kepercayaannya dibunuh pelan-pelan setiap hari.

Dia tidak akan langsung menghadapi. Tidak sekarang. Konfrontasi butuh kekuatan, dan dia harus mengumpulkannya dulu. Dia butuh bukti yang lebih kuat, rencana yang lebih matang, dan yang paling penting: dia harus melindungi Luna.

Tapi satu hal yang dia tahu: perang telah dideklarasikan. Dan Amara, yang bangun dari tidur panjangnya dengan hati yang beku dan mata yang terbuka lebar, siap untuk bertarung. Sandiwara itu sudah selesai.

Sekarang, waktunya aksi nyata. Dan langkah pertamanya adalah menemui seorang pengacara. Tapi sebelum itu, dia harus memastikan satu hal: bahwa dirinya sendiri—kariernya, kemandiriannya, jiwanya—sudah cukup kuat untuk menghadapi badai yang akan datang.

Dan untungnya, proyek-proyek desainnya adalah fondasi yang sempurna untuk mulai membangun kekuatan itu.

1
Kustri
pengorbanan yg sgt besar 💪
Kustri
qu ikut prihatin🥺😭
La Rue
Kali ini benaran mewek dibuat kisah Amara ini 😭
Bp. Juenk: hehe, siap2 d bab berikutnya ya Kk. sediain tisu yg banyak.
total 1 replies
Kustri
kasian luna, msh terlalu kecil🥺
Kustri
tak tunggu UP'a
sambil ☕ thor
Bp. Juenk: siap Ka, segera di update
total 1 replies
Kustri
lanjut yaa
Kustri
wuiih... kalimat"mu luar biasa thor👍
Bp. Juenk: thanks kaka 🙏
total 1 replies
La Rue
Ruang hampa,kehilangan,cinta,kepergian dan penemuan kembali jati diri dalam hubungan dua orang dewasa yang terikat dalam pernikahan. Namun pada akhirnya hanya pengertian dan mulai belajar mencintai diri sendiri serta belajar menerima kehilangan meskipun tidak ada yang benar-benar baik-baik saja dari kehilangan. Jadi ingat lirik lagu lawas " Sometimes Love Just Ain't Enough ".
Penulisnya sukses mengaduk emosi jiwa seperti naik roller-coaster dan yang buat salut hampir tidak ada typo dalam tiap bab cerita yang disuguhkan. Semoga kisah di novel ini bisa diangkat ke film,karena asli bagus jalan cerita dan penokohan serta konflik yang ada benar-benar membuat cerita ini hidup.
Terimakasih buat penulis dan sukses selalu.
La Rue: n you too. Keep it up 👍
total 2 replies
MomRea
Author ini ceritanya gak bisa di prediksi, dari bahagia sedih lagi bahagia lagi sedih lagi... lanjut Thor
MomRea
Rafa-Sari, Amara-Edo, atau Rafa-Amara. ? teka teki othor 😊
Halwah 4g
ceritamu sangat mengubek-ubek hatiku Thor 😍
MomRea
semangat Thor terimakasih banyak up nya🙏💪
Bp. Juenk: siap terimakasih dukungan nya
total 1 replies
MomRea
"Akhir sebuah bab tapi awal sebuah cerita" mantap kalimatnya Thor 😊
MomRea
gak bisa komen karna dadaku sesak banyak banget bawangnya 🥲🥲
MomRea
ikutan berdoa Thor...semoga Rafa cepat sembuh biar bisa bermain lagi dgn Luna 😊😊😊
MomRea
Semangat Amara, restart kembali pola pikir, lihat masa depan bersama Luna 🥰
Kustri
ini rumah apa apart, koq ada lift ☹️
Bp. Juenk: 🤭ada koq Ka rumah yg pake lift. di pondok indah banyak yg pake lift
total 1 replies
MomRea
bingung juga sih rumah tangga gak ada romantis romantisnya.
Bp. Juenk: 🤣 🤣🤣 bisa Bae nih ka
total 3 replies
Kustri
☕dl amara, ngecas semangat💪
MomRea
good, buka saja semua, biar ibunya Rafa yg bertindak.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!