NovelToon NovelToon
Obsesi Rahasia Pak Dosen

Obsesi Rahasia Pak Dosen

Status: tamat
Genre:Obsesi / Dosen / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:29.3k
Nilai: 5
Nama Author: shadirazahran23

Lima tahun lalu, Zora hanyalah mahasiswi biasa di mata Dimas. Kini, ia adalah obsesi yang tak bisa ia lepaskan.

Dimas adalah dosen Ekonomi yang kaku dan dingin. Baginya, segala sesuatu harus terukur secara matematis. Namun, rumusnya berantakan saat sang ibu memboyong Zora,mantan mahasiswi yang kini sukses menjadi juragan kain untuk tinggal di rumah mereka setelah sebuah kecelakaan hebat.

Niat awal Dimas hanya ingin membalas budi karena Zora telah mempertaruhkan nyawa demi ibunya. Namun, melihat kedewasaan dan ketangguhan Zora setiap hari mulai merusak kontrol diri Dimas. Ia tidak lagi melihat Zora sebagai mahasiswi yang duduk di bangku kelasnya, melainkan seorang wanita yang ingin ia miliki seutuhnya.

Zora mengira Dimas masih dosen yang sama dingin dan formal. Ia tidak tahu, di balik sikap tenang itu, Dimas sedang merencanakan cara agar Zora tidak pernah keluar dari rumahnya.

"Kau satu-satunya yang tak bisa kulogikakan,Zora!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shadirazahran23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34. Sekenario terindah Dimas

Akad nikah itu telah usai dua jam yang lalu, namun euforianya masih menggantung pekat di udara. Di tengah hiruk-pikuk resepsi yang megah, kedua pengantin masih terjebak dalam ritual jabat tangan yang seolah tak ada habisnya. Hingga akhirnya, giliran Wulan dan Dimas Danureta,pria yang lebih akrab disapa Danu,melangkah maju ke pelaminan.

Danu tidak langsung menyalami. Ia justru menepuk bahu Dimas dengan bertenaga, lalu menarik sahabatnya itu ke dalam pelukan singkat yang maskulin.

"Selamat, Bro," bisik Danu di telinga Dimas, namun cukup keras untuk didengar yang lain. "Akhirnya, burung cantik ini benar-benar masuk sangkar. Dia tidak akan bisa lari lagi darimu."

Dimas melepaskan pelukan itu, menatap Danu dengan sorot mata tajam yang sulit diartikan. "Terima kasih. Tapi jujur saja, aku hampir kehilangan dia gara-gara ulahmu."

Danu mengerutkan dahi, tawa kecil masih tersisa di sudut bibirnya. "Kenapa? Apa aku baru saja melakukan dosa besar?"

"Tanya saja pada istrimu," balas Dimas dingin, melirik ke arah Wulan. "Tanya apa yang sudah dia lakukan pada istriku sampai-sampai rencanaku hampir berantakan."

Danu menoleh pada Wulan yang tertangkap basah sedang menutup mulut, berusaha meredam tawa cekikikan yang nakal. Menyadari suasana memanas,atau tepatnya, Dimas yang sedang merajuk,Wulan akhirnya menyerah.

"Maafkan aku, Dimas, Zora. Aku hanya memberi sedikit 'saran' bercanda," ujar Wulan sambil mengerling jenaka.

"Bercandamu itu nyaris membuatku gila," potong Dimas cepat. Suaranya merendah, memberi kesan intim sekaligus kesal. "Kau tahu gara-gara omongan istrimu aku terpaksa tidur di sofa semalam."

"Mas, sudah... jangan dibahas di sini. Aku malu," sela Zora tiba-tiba. Wajahnya yang cantik di balik balutan Siger Sunda itu memerah sempurna, senada dengan riasan di pipinya. Ia menunduk, mencoba menghindari tatapan menggoda dari sahabat-sahabat mereka.

Tawa Danu pecah seketika, menggelegar di atas panggung pelaminan. "Hahaha! Luar biasa! Akhirnya ada juga yang bisa menjinakkan 'singa karatan' seperti kau, Dim. Seorang Zora ternyata cukup kuat untuk membuatmu tidur di luar!"

Dimas mendengus, meski ada secuil senyum yang tertahan di sudut bibirnya. "Sialan kau. Setelah ini, bawa pulang anak kalian. Jangan berani muncul di depanku selama seminggu. Aku dan istriku mau bulan madu, dan aku tidak butuh gangguan sekecil apa pun."

Danu merangkul pundak Wulan, menatap Dimas dan Zora dengan tatapan yang kini melembut, penuh doa tulus.

"Iya, iya. Nikmatilah waktu kalian. Sekali lagi, selamat. Semoga rumah tangga kalian sekuat kesabaran Dimas saat tidur di sofa tadi malam," tutup Danu sambil tertawa, diikuti senyum simpul Wulan saat mereka menjauh dari pelaminan.

*

"Sayang, aku ke sana dulu ya, mau menyapa teman-teman di meja sebelah," pamit Dimas lembut pada istrinya.

Zora yang duduk di meja VIP hanya bisa mengangguk kecil. Di sekelilingnya, suasana riuh dengan kehadiran keluarga besar ada Wa Apud, Wa Minah, Bu Lastri, Kanaya, hingga Bumi dan Nurul. Mereka tampak lega, akhirnya bisa menikmati hidangan setelah setengah hari berdiri tegak di atas pelaminan yang melelahkan.

"Oh ya, Mas. Aku temani Uwa dulu di sini," balas Zora, berusaha tetap terlihat tenang meski hatinya masih dipenuhi tanda tanya.

"Iya," jawab Dimas singkat.

Tanpa peduli pada siger yang masih bertengger berat di kepala Zora, Dimas membungkuk, mendaratkan kecupan hangat di dahi istrinya. Sebuah gestur protektif yang membuat siapa pun yang melihatnya akan iri.

"Alhamdulillah ya, Neng. Uwa lega sekarang. Kamu sudah benar-benar jadi istri sah," ucap Wa Apud dengan suara yang sedikit bergetar karena haru.

Zora tersenyum, meski ada sedikit rasa sesak yang menyelip. "Terima kasih ya, Wa, sudah memberikan restu dan mau menikahkan Neng lagi."

Zora kemudian sedikit condong ke arah Wa Apud, suaranya merendah. "Oh ya, ngomong-ngomong, Uwa ke sini sama siapa? Tidak nyasar, kan?"

Pertanyaan itu akhirnya meluncur. Hingga detik ini, Zora benar-benar buta soal bagaimana rencana pernikahan ini disusun. Dimas terlalu rapi menyembunyikan semuanya, seperti sebuah skenario yang dirancang tanpa celah.

"Oh, itu?" Wa Apud terdiam sejenak. Pandangannya melirik ke arah sang besan, Bu Lastri, yang sedang asyik bercakap-cakap dengan kerabat lainnya.

"Sebelumnya, Dimas mengirimkan ponsel untuk kami gunakan. Katanya, supaya komunikasi kita tidak terputus..." Wa Apud menggantung kalimatnya, membuat Zora merasa ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar bantuan ponsel.

Dari ponsel itulah Dimas mulai menyusun rencana peresmian pernikahan kalian. Uwa juga banyak bicara dengan Bu Lastri lewat telepon, sampai akhirnya kemarin Uwa dijemput oleh sepasang suami istri agar bisa sampai ke Bandung tepat waktu," balas Wa Minah dengan wajah berbinar.

Zora mengernyitkan dahi, rasa herannya makin memuncak. "Suami istri? Siapa?"

Wa Minah mengangguk mantap. "Itu, orangnya lagi mengobrol sama suamimu." Wa Minah menunjuk ke arah pasangan yang tengah tertawa akrab bersama Dimas di kejauhan sana.

Zora sedikit membelalakkan matanya. Jantungnya berdegup lebih kencang saat mengenali sosok itu. "Wulan?"

"Iya, Neng! Kamu tahu tidak? Mereka menjemput Uwa pakai helikopter, lho! Katanya itu perintah langsung dari Dimas, biar cepat dan Wa Apud tidak mabuk perjalanan." Wa Minah terkekeh pelan, mengenang pengalaman pertamanya terbang membelah awan dari kampung menuju kota.

Zora tertegun. Pandangannya beralih pada Dimas yang tampak tenang di kejauhan. Pria itu sudah memikirkan segalanya,bahkan hal sekecil kenyamanan lambung Wa Apud,dengan cara yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Dan sialnya, ia sempat memelihara prasangka buruk pada Wulan.

"Neng, jangan lupa berterima kasih sama Neng Wulan, ya. Dia sudah membuat kami sangat nyaman. Bahkan kami ditempatkan di tempat yang sangat mewah, kasurnya empuk sekali! Cuma sayang, Wa Apud sempat kebingungan menyalakan air mandi. Katanya susah sekali memutar keran air panasnya," ucap Wa Minah lagi sambil tertawa kecil.

Zora terdiam. Ia kembali menatap pasangan suami istri di kejauhan yang sempat ia salahpahami itu. Ada rasa sesak yang tiba-tiba menghimpit dadanya.,perasaan bersalah yang begitu nyata.

Ya Allah, begitu pendeknya pikiranku saat itu... batin Zora perih. Seharusnya aku mencari tahu lebih jelas siapa mereka sebenarnya, agar tidak ada kesalahpahaman ini.

Zora mengalihkan pandangannya pada Dimas yang masih tampak berwibawa di antara tamu-tamunya. Pria itu menanggung semua kecurigaannya dengan kesabaran yang luar biasa.

"Ampuni istrimu ini, Mas..." bisik Zora lirih, nyaris tak terdengar di tengah kebisingan pesta, sementara matanya mulai berkaca-kaca menatap punggung sang suami.

Bersambung...

Makanya Zora kalau ada apa-apa jangan di pendem,tanyain sama suamimu ya..

1
Ila Aisyah
penggelapan uang perusahaan, pembunuhan berencana ayah dimas
Shifa Burhan
inilah enak pemeran utama wanita, berbuat salah tapi segampang itu dimaafkan dan kesalahan hal sepele

zora
*pergi (minggat) dari rumah tampa izin dan sepengetahuan suami kesalahan fatal
*lebih percaya orang lain dari pada suami, ingat asas kepercayaan wanita yang lebih berkoar2
*membuat suami cemas, bingung, khawatir,
*dia enakan tidur, suami tapi suami dia biarkan kayak orang bodoh, alasan HP mati, tinggal colok cas, hidupkan hubungi suami, ini malah enak2an tidur, kayak tidak ada beban sama sekali
*setelah melakukan banyak kesalahan dengan enteng dia merasa aman saja, zora pakai otak kau tidak mau memaafkan dengan mudah kesalahan suami tapi ketika kau salah kau semudah itu dimaafkan

thor mohon lah berlaku adil, jika sang suami buat salah tidak mudah dimaafkan dan dibuat berjuang dulu baru dimaafkan maka adil lah juga ketika sang istri melakukan kesalahan buat juga tidak semudah itu dimaafkan buat juga berjuang,

buang jauh jauh pemikiran yang selalu menormalisasi semua kesalahan pemeran utama wanita,


adil tidak membuat novel jelek tapi malah membuat novel bertambah berkelas
Shifa Burhan: dan thor jangan sepelekan kesalahn zora karena ini adalah kesalahan yang berulang2, zora bukan belajar dari kesalahan sebelum nya tapi malah makin jadi seenak karena dia merasa author membela dia dengan membuat dimas selalu jadi budak cinta yang Terima saja diperlakukan seperti apa saja

thor adil terhadap sang wanita dan sang pria, berlalu netral lah, author harus berdiri adil, buang jauh2 sudut pandang wanita saja
total 1 replies
Dodoi Memey
Dimas maen cium aja cepet banget nyosornya
Dodoi Memey
Thor keren banget dimasnya calon suami siaga
Dodoi Memey
sepertinya Dimas blom pernah berdekatan sama cewek
shadirazahran23: dia pernah naksir sahabatnya Zora lo 🤣
total 1 replies
Dodoi Memey
tambah seru lanjutkan
Dodoi Memey
asyiikkk seru
Wiwi Sukaesih
kebiasaan Zora kalau ad apa" g pernh nanya lngsung
g bljr dr msalt kemarin
Rahayu Ayu
Kalau Zora srkalu berasumsi buruk senditi tanpa bertanya dan mendengarkan apapun alasan dari Dimas,
itu membuat Zora terlihat kekanakan dan selalu mendrama.
Acih Sukarsih
mulai konflik
Tamirah Spd
Thor kalau ingin menciptakan konflik Dimas dan Zora, kenapa hrs ada akta dlm dompet yg tertera namae Wulan anak Wulan dan Dimas ....?.yg sama sama nama Dimas beda nama belakang .Kan Janggal Dimas menyimpan akta sahabat nya dlm dompet mereka hanya sahabat.walau kesannya jadi salah paham dikira Dimas punya anak dgn Wulan.Tetap gak etis nyimpan akta org lain dalam dompet apa lagi anak nya Wulan panggil papa..... wesss angelllll.
Rahayu Ayu
Aq kira yg datang mengganggu Nesa atau Wulan, ternyata malah Mira si biang kerok, mungkin harapan Mira bisa bekerja di perusahaan Dimas, agar bisa mendekati Dimas lagi,
tapi entah peketjaan apa yg sudah di siapkan sandi, jadi tukang fotokopi atau malah jadi cleaning servis.
Rahayu Ayu: Ga terlalu penasaran amat sih kak.
yg penting jangan ada lagi gangguan buat RT mereka.
total 2 replies
Rahayu Ayu
Antara Nesa atau Wulan
soalnya keduanya ada hubungannya dengan Dimas,
Nesa sepupunya Dimas,
sedangkan Wulan walaupun teman yg baik tapi teman lucnat juga🤭
Rahayu Ayu
Posesif boleh, itu menandakan kalau kamu adalah orang yg sangat mencintai dan menjaga pasangan mu,
tapi, jangan sampai keposesif an mu ,malah membuat pasangan mu ilfil.
Ila Aisyah
loooo,,, iku yg membuat merinding disko 😛,,,
Wiwi Sukaesih
nah Lo ad LG penggemar zora.😁
Wiwi Sukaesih
ahh dkra spa yg bela Zora dh parno aj
ternyata paksu Dimas 😍
shadirazahran23: Matanya Dimas kaya Elang
total 1 replies
Marini Suhendar
Bos Dimas 🤭
Acih Sukarsih
dimas
Wiwi Sukaesih
pelajaran untuk Zora klw bertanya itu jgn dlm hati y sung tny k.orgny.jgn suudzon...
y Dimas persiapan 👍
shadirazahran23: Ia betul.Setelah ini Insya Allah Zor lebih dewasa dalam bersikap
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!