NovelToon NovelToon
Mahar Satu Miliar Dari Pria Impoten

Mahar Satu Miliar Dari Pria Impoten

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Pengantin Pengganti / Terpaksa Menikahi Suami Cacat / Tamat
Popularitas:1.4M
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Arum Mustika Ratu menikah bukan karena cinta, melainkan demi melunasi hutang budi.
Reghan Argantara, pewaris kaya yang dulu sempurna, kini duduk di kursi roda dan dicap impoten setelah kecelakaan. Baginya, Arum hanyalah wanita yang menjual diri demi uang. Bagi Arum, pernikahan ini adalah jalan untuk menebus masa lalu.

Reghan punya masa lalu yang buruk tentang cinta, akankah, dia bisa bertahan bersama Arum untuk menemukan cinta yang baru? Atau malah sebaliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13. Cucu?

Reghan mendorong perlahan kursi rodanya menyusuri lorong panjang menuju taman belakang. Langit pagi bewarna cerah, dan suara burung-burung kecil terdengar dari pepohonan. Di antara semilir angin dan aroma mawar putih yang samar, dia melihat sosok Arum duduk di bangku taman, mengenakan gaun sederhana berwarna krem, rambutnya diikat setengah, dan tatapan matanya kosong menatap kolam kecil.

Langkah roda berhenti beberapa meter di belakangnya. Reghan hanya diam beberapa saat, memperhatikan dari jauh. Ia bisa melihat semburat lelah di wajah wanita itu, tapi juga ketegaran yang entah bagaimana membuat dadanya terasa sesak.

“Kenapa tidak beristirahat?” suaranya terdengar berat, tapi lebih lembut dari biasanya.

Arum terkejut sedikit, lalu menoleh. “Aku tidak mengantuk, Tuan,” jawabnya pelan. “Lagipula udara pagi ini cukup menenangkan.”

Reghan menggulirkan rodanya mendekat, hingga kini jarak mereka hanya sebatas satu langkah. Dia menatap tangan Arum yang bertumpu di pangkuan, tampak gemetar ringan.

“Kau masih lemah,” katanya datar. “Dokter bilang kau butuh istirahat lebih lama.”

Arum tersenyum tipis, meskipun jelas senyum itu menutupi lelah. “Aku sudah terlalu banyak beristirahat, Tuan. Kalau terus berbaring, rasanya tubuh aku justru semakin sakit.”

Keduanya terdiam, hanya angin yang berembus di antara percakapan mereka. Reghan menatap lurus ke depan, ke arah kolam yang memantulkan sinar matahari terakhir hari itu.

“Arum,” katanya perlahan, “kalau suatu hari … kau diberi kesempatan memilih, apakah kau tetap akan menerima lamaran itu?”

Arum terdiam, pertanyaan itu menusuk lebih dalam dari yang ia kira. Ia menatap wajah Reghan, mencoba membaca maksud di balik tatapan dingin itu, tapi hanya menemukan kelelahan dan sedikit rasa bersalah.

“Aku tidak tahu, Tuan,” jawabnya jujur. “Tapi yang pasti, aku tidak pernah menyesali atas keputusanku sendiri. Sekalipun sakit, setidaknya aku tahu ... aku sudah membayar lunas segala hutang aku di dunia ini.”

Reghan menunduk, rahangnya mengeras. Ada sesuatu yang terasa berat di dadanya, antara kagum, sedih, dan marah pada dirinya sendiri.

“Kau bodoh,” gumamnya pelan, hampir tak terdengar. “Terlalu bodoh untuk orang sekuat dirimu.”

Arum hanya tersenyum kecil, tidak menanggapi. Tapi matanya berair, bukan karena sedih melainkan karena untuk pertama kalinya, nada suara Reghan saat menyebutnya bodoh terdengar seperti perhatian, bukan penghinaan. Reghan menatap wajahnya dalam-dalam, lalu menatap langit yang perlahan gelap.

“Kalau saja semua ini bisa ku ubah,” katanya lirih. “Mungkin kita tidak akan bertemu dengan cara seperti ini.”

Arum menunduk. “Tapi mungkin juga ... kalau tidak seperti ini, aku takkan mengenal sisi lain dari Tuan.”

Oma datang mencari keduanya di taman, Oma Hartati menatap Arum penuh harap. Suasana taman itu hening, beberapa saat setelah Oma berada di depan keduanya. Reghan duduk di kursi rodanya, diam dengan wajah sulit ditebak, sementara Arum berdiri dengan kepala sedikit tertunduk.

“Arum,” suara Oma lembut tapi tegas. “Kau tahu, keluarga ini sudah menanggung banyak beban. Tapi satu hal yang paling diinginkan oleh keluarga Argantara sekarang ... adalah penerus. Aku hanya ingin tahu, apakah kau siap memberi cucu untuk keluarga ini? Meskipun saat ini aku tahu mungkin Reghan belum mampu ... tapi kita bisa carikan seorang dokter untuk itu.”

Arum menelan ludah, pertanyaan itu menusuk tajam, tapi bukan karena ia tak mengerti maknanya, melainkan karena Reghan ada di sana, mendengarnya. Perlahan ia menatap Oma dan menjawab tenang, “Saya tidak akan mengandung anak siapapun, Oma … tanpa persetujuan bapaknya.”

Kalimat itu membuat udara seketika berat. Reghan menunduk, dan jemarinya mengepal kuat di atas pahanya. Suara kursi roda berderit pelan ketika tubuhnya sedikit bergerak, mencoba menahan emosi yang merayap.

Oma Hartati tampak tertegun beberapa detik sebelum akhirnya berdiri terburu-buru. “Kalian berdua pikirkan baik-baik,” katanya singkat, lalu berjalan cepat keluar ruangan dengan wajah kaku.

Kini hanya ada keheningan antara mereka. Arum menatap lantai, sementara Reghan menatap lurus ke arahnya, rahangnya mengeras.

“Jadi,” ucap Reghan datar, suaranya rendah tapi bergetar, “kau menolak karena takut tak bisa memberiku anak?”

Arum mendongak perlahan. “Bukan karena itu, Tuan,” katanya pelan tapi tegas. “Aku tidak mau punya anak dari pria yang bahkan tidak mau menerimaku.”

Reghan terdiam sejenak, matanya menyipit. “Siapa yang bilang aku tidak mau menerimamu?” tanyanya cepat, nada suaranya meninggi sedikit, seperti tak bisa menahan diri.

Arum menatapnya lekat, ekspresinya getir. “Tuan sendiri,” balasnya cepat. “Tuan tidak senang dengan pernikahan ini. Lebih baik tidak ada anak sama sekali … kasihan kalau ada yang harus lahir dari dua orang yang bahkan tak saling menginginkan.”

Kata-kata itu menampar Reghan keras. Ia menunduk, lalu menatap kursi rodanya, seolah kursi itu adalah simbol kelemahan yang selama ini ia sembunyikan. Arum tidak tahu, bahwa tubuhnya kini sudah bisa bereaksi saat di dekat Arum. Tapi mendengar ucapan Arum barusan membuat dada Reghan terasa sesak.

Dalam hatinya, ia bergumam lirih, 'Kau tidak tahu, Arum ... yang tidak aku inginkan hanyalah rasa kasihanmu.'

Namun bibirnya tetap diam, hanya matanya yang perlahan menatap ke arah Arum, memantulkan rasa yang tak sempat diucapkan.

1
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Reghan terlalu ceroboh mempertaruhkan keselamatan Arum dan Revan tanpa pengawalan padahal tau bahaya mengintai..aneh
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
apa Reghan mau melamar ulang Arum ya, tp malesnya pasti ada para siluman kumpul di sana.🤣🤣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
syutingnya ceritanya lagi musim hujan apa gimana thor, perasaan hujan mulu.🤭🤭🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎: hihihihiii... terbawa suasana sambil makan yg anget² selebihnya inget apa yaa...jangan sampe ingetnya kenangan. 🤣🤣🫣
total 2 replies
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
thor ga kedengaran lagi kabar para siluman Maya dan antek²nya juga keluarga yg dulu membesarkan Arum gimana tuh... sudah dapet kartu merah belum.🤭🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
hebatnya Dr Gavin dia dewasa pemikirandan tindakannya juga bijak ga egois..
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
resiko besar yg harus kamu merasakan Reghan kalau ankmu harus memanggil pria lain papahnya jd cobalah lapang dada karna Dr Gavin punya peran besar dalam kehidupan Arum sama Revan
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Dr Gavin salut dengan kedewasaan dan kelapangan hatimu...👏👏👏
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
ikutan berat banget jadi Arum.🤭🤭
kembali lg ke author yg punya sekenario mereka, mau gimana lagi Reghan masih mencintai Arum dan begitupun sebaliknya meskipun rasanya ga rela mereka balikan tp alasa Revan butuh ayah kandungnya selalu jd alasan utama padahal aku dukungnya Arum sama Dr. Gavin.🤣🤣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
heehhh pada telaaaattt bertindaakkk.. setelah kesakitan Arum yg kalian lakukan di rumah itu
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
kenapa baru sekarang kamu tegasnya Reghan, ternyata harus kehilangan dulu baru bertindak
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
kekuasaan di atas segalanya yg kecil makin tertindas sedangkan yg berkuasa hidup bahagia... tp kalau bener endingnya Arum balikan sama Reghan waaahh di luar prediksi aku yg baca...
logika saja dari awal Arum di buat menderita di rumah Argantara dan segitu mudahnya minta maaf trs balikan.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
thor jangan di buat balikan tapi kalaupun di buat balikan lg jangan sampai di kasih gampang, enak saja Arum berjuang sendiri tanpa Reghan atau siapa pun... apa lg mereka sudah membuat luka pd Arum.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
jangan sampe Arum di bikin balikan lagi sama Lelaki plin plan seperti Reghan thor sudah cukup Arum menderita tapi malah di tambah lagi penderitaannya dengan Revan yg sakit parah... trs apa kabar dengan orang² yg buat dia menderita... kasihan Arum
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
aneh masa iya di rumah sebesar itu ga ada cctv maen nuduh sembarangan dan Reghan ga berubah sama sekali yrs Arum dengan b0d0hnya mudah percaya dengan Reghan dan omanya
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
syukurlah Arum pergi buat kewarasan diri dari pada bertahan di sana tp ga di anggap
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
hadeuuhh Arum kamu mah manut bae sudah tau mereka manfaatin kamu, kamu di rumah itu bukan untuk di jadikan pesuruh suman tapi fokus pd Reghan.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
kasian Arum, bukan hanya tekanan dan beban fisiknya saja yang dia tanggung tapi juga mentalnya...
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
dr Samuel aneh emangnya dia psikolog atau dokter umum kok seolah² keadaan Arum ga penting buat dia.. aneh, dia di bayar buat mengobati kalaupun bukan bidangnya tp penyampaianmu ga yg seharusnya
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Reghan ga ada harga dirinya sama sekali dengan mantan sendiri saja lemah..
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
sudah tau tanggung jawabmu diperusahaan membutuhkan kamu tp kamu tetap terpuruk dengan orang yg sudah meninggalkan kamu demi harta Reghan dan yg mirisnya kamu ga mau sembuh dan move on dari siluman Alena..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!