Perhatian–perhatian cerita ini beralur lambat. Harap bersabar menanti ceritanya ya .... 😁
Gea Agatha adalah seorang wanita berusia 21 tahun yang hidup mandiri. Gea berusaha hidup menjauh dari keluarganya yang membencinya. Wanita mandiri itu memiliki seorang kekasih bernama Davin Angkara.
Suatu hari, mereka mengikrarkan janji sehidup semati. Namun naas, Gea malah dikhianati oleh kekasihnya di hari pernikahannya yang membuatnya harus berada pada keadaan yang lebih mengecewakan. Hari itu juga, ia bertemu dengan Briel, seorang laki-laki yang juga harus menikah di hari itu juga yang sama sekali tidak Gea kenal, memaksa Gea untuk menikah dengannya karena suatu kesalahpahaman.
Mereka berdua mengarungi bahtera rumah tangga yang diterpa berbagai macam musim.
Akankah Gea dan Briel bisa melewati semuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asabernisletih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Sakit Berdarah Bening
Saat ini, Briel tengah berada di perjalanan menuju tempat di mana pernikahannya dilangsungkan. Ia menggunakan mobil bersama Adam, sang asisten. Tiba-tiba dering gawai terdengar di telinganya. Ia mengangkat panggilan itu.
"Apa?" pekik Briel tatkala ia mendengar kabar dari orang di seberang sana. Seketika dunianya terasa runtuh. Ia tercenung, tak percaya dengan apa yang terjadi.
"Kenapa bisa, Tuhan? " batinnya.
Adam sangat penasaran dengan perubahan raut muka Briel. Ada apa dengannya? Kenapa bosnya seperti itu? Apa yang terjadi? Namun ia memilih untuk diam, menunggu Briel angkat berbicara.
"Putar balik!" ucapnya dengan suara lemas. Ia tak mempunyai tenaga untuk berbicara setelah mengetahui apa yang telah terjadi.
"Apa, Bos?" tanyanya.
Adam tidak yakin dengan apa yang ia dengar dari mulut Briel. Kenapa mendadak sekali? Pertanyaan itu muncul dalam benaknya.
"Aku bilang, putar!!" bentak Briel penuh emosi. Suasana hati Briel yang hancur, membuat amarahnya naik.
Adam bungkam. Ia melaksanakan perintah Briel tanpa menanyakan apa alasan dan ke mana arah tujuannya. Ia tidak mau membuat suasana hati Briel semakin buruk walaupun ia sendiri bingung kenapa bosnya begitu. Ia sudah hapal betul dengan Briel. Jika sudah waktunya, Briel akan memberitahu apa yang telah terjadi.
Dan benar. Tak lama setelah itu, Briel memberitahu kemana tujuan mereka dan kenapa mereka berdua harus ke sana. Seketika raut muka Adam sama kacaunya dengan raut muka Briel. Ia jadi tahu apa yang Briel rasakan saat ini.
"Percepat lajunya!" ucap Briel kemudian.
Tanpa menunggu perintah lagi, Adam melajukan mobilnya lebih cepat, menembus jalanan yang mulai padat.
🍂
Setelah beberapa waktu menempuh perjalanan, sampailah Gea di sebuah gereja yang menjadi tempat di mana ia akan melangsungkan pernikahannya dengan Davin. Ia berjalan masuk ke dalam gereja itu. Betapa terkejutnya ia melihat seorang wanita yang ia kenal tengah duduk di kursi yang ada di depan altar.
"Siapa yang mengundangnya? Kenapa ia di sini? Ada urusan apalagi?" gumam Gea lirih.
Gea berjalan menghampirinya. Suara high heels-nya yang terdengar, membuat dia berdiri lalu menengok ke arah Gea.
"Oh... hai Tuan Putri. Wah sungguh cantik…." Ia mengamati penampilan Gea dari ujung ke ujung.
"Namun sayang... hanya gaunnya saja yang cantik. Gaun itu sangat tidak pantas untuk dipakai oleh orang sepertimu. Sungguh malang nasibmu, gaun."
Tawa ejekan terdengar jelas di telinga Gea. Namun Gea masih bisa bersikap tenang. Gea tertawa melihat tingkah wanita yang tidak tahu diri itu.
"Ada urusan apa kamu ke sini?"
Tanpa basa basi, Gea melontarkan kata-kata itu kepadanya. Wanita itu hanya menarik bibirnya ke atas. Tatapan matanya begitu mengejek.
"Suka-suka Delalah. Apa sih yang nggak buat seorang Dela!"
"Darling... Sudah lamakah kamu menungguku di sini?" ucap seorang pria yang menggema di dalam ruangan.
"Darling? Oh mungkin itu panggilan baru untukku."
Senyum bahagia telah terbit di bibir Gea saat mengetahui siapa pria yang datang. Dia yang tak lain adalah Davin. Davin berjalan menghampiri mereka berdua. Wajah bahagia juga terukir jelas di wajah Davin.
"Akhirnya kamu datang juga," ucap Gea. Davin tersenyum lebar. Dengan senang hati, Gea ingin memeluk sang calon pengantin pria.
Deg
Wajah Gea yang semula bahagia kini telah pudar. Wajah itu saat ini kian sendu.
"Apa maksudnya? "
Davin masih terus berjalan. Gea mengikuti arah gerak Davin. Hingga ia melihat Dela berada dalam dekapan Davin.
"Apalagi ini Tuhan?"
Tetesan bening mengalir deras di pipinya tatkala ia melihat sang pujaan hati lebih memilih mendekap wanita lain dari pada dirinya, kekasih Davin sendiri. Rasa sakit menjalar cepat bagaikan listrik yang menyengat dengan tegangan tinggi, menggerogoti hatinya tatkala melihat mereka berpelukan mesra di hadapannya. Ia menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangannya.
"A... Apa maksud semua ini?" ucap Gea dengan suara yang bergetar. Tangisnya tak terbendung lagi. Ribuan panah tajam menancap di hatinya.
Davin mencium kening Dela cukup lama. Dengan senang hati Dela menerima kecupan hangat dari lelaki pujaannya. Senyuman itu terlukis di wajah Dela.
"Apa maksud kalian? Kenapa kalian...." Gea tidak mampu melanjutkan ucapannya. Bibirnya kelu, telinganya terlalu sakit untuk mendengar, hatinya terlalu rapuh untuk merasakan pahitnya ucapannya sendiri.
Davin mengakhiri kecupannya itu. Ia memandang Dela dan saling melempar senyum satu sama lain. Mereka berdua sama-sama menatap Gea dengan senyum penuh kemenangan.
"Seperti yang kamu lihat," ucap Dela kemudian tertawa.
Gea menjerit, hingga suaranya memekakan telinga Davin dan Dela.
"Astaga, santai sedikit bisa tidak?" geruntu Dela sambil mengelus pelan telinganya.
"Uluh-uluh Darling... Sini-sini." Davin mengelus dan meniup pelan telinga Dela dengan mesra. Kemesraan mereka membuat Gea semakin meradang.
"Kenapa…? Kanapa kalian tega padaku?"
Gea menangis, meraung. Sungguh hatinya begitu sakit melihat pengkhianatan cinta di depan matanya. Cinta tulusnya kepada Davin terasa sia-sia.
Davin mengalihkan perhatiannya ke arah Gea. "Masih bertanya kenapa?" Ia menjeda ucapannya.
"Tanyakan pada dirimu sendiri!" ucapnya sinis.
"Saat ini dia sudah mendapatkan apa yang dia mau. Lebih baik kamu pergi, Gey, sebelum menangis darah di sini!" ketus Dela.
"Tenang saja, Gey! Dia akan bahagia.... bersamaku." Dela mencium pipi Davin, lalu memeluk mesra Davin lagi.
Gea menangis tergugu. Ia menundukkan kepalanya, berusaha keras untuk mengusap air matanya agar berhenti mengalir. Cukup lama ia melakukan tindakan itu, namun semua itu sia-sia. Davin dan Dela semakin tertawa melihat penderitaan Gea.
"Hahaha... Rasakan Gey. Rasa sakit yang kau rasakan tak sebanding dengan penghinaan yang telah kau lakukan padaku waktu itu," batin Davin sembari membayangkan penolakan Gea akan keinginannya kala itu.
Ya... Itulah Davin. Suatu penolakan baginya adalah suatu penghinaan.
"Aku puas, Gey, aku puas! Melihatmu menderita adalah kebahagiaan bagiku." Dela tersenyum culas.
Tak lama setelah itu, datanglah seorang pria berjubah putih yang berjalan ke arah mereka.
"Baiklah, mari kita mulai prosesi pernikahan pada hari ini. Silahkan kedua calon mempelai saling berhadapan," katanya.
"Maaf, Tuan. Siapakah wanita bergaun pengantin yang berdiri di sana?" Ia menunjuk ke arah Gea.
Davin mengikuti arah telunjuknya. "Oh, dia?" Pria itu mengangguk.
"Dia adalah wanita yang ingin menghancurkan pernikahan kami. Kami mohon, abaikan dia, dan segera nikahkan kami," ucap Davin dengan tegas.
Gea mendongakkan kepalanya. Ia menggeleng, berharap Davin menghentikan pernikahan yang seharusnya pernikahannya dengan Davin. Namun sayang, Davin tak mau menghentikan keputusannya.
Pria berjubah putih itu mengiba, saat menatap Gea yang sangat memprihatinkan. Hatinya tergerak untuk menenangkannya, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa.
"Lanjutkan! Jangan hiraukan dia!"
Davin dan Dela mulai mengucapkan janji suci mereka. Saat itu juga, Gea berlari ke luar. Ia tak kuasa melihat Davin, seseorang yang dicintainya, kini telah menjadi mantan kekasihnya. Bahkan saat ini dia bersanding dengan Dela, sang saudara sedarah ayah, yang begitu membencinya.
"Kenapa? Kenapa Tuhan? Kenapa?" Gea menangis tergugu. "Kenapa semua ini terjadi padaku? Kenapa penderitaan tak kunjung lepas dari hidupku? "
Gea terus berlari, tak tentu arah. Ia hanya mengikuti kemana sang kaki akan membawa ia pergi. Bagaimanapun pengkhianatan dari orang yang dicintainya adalah suatu pukulan hebat untuknya. Apalagi ada campur tangan orang yang membencinya. Ia tak kuasa menerima kenyataan pahit itu.
🍂
//
huwaaa sungguh kenapa hati Asa sakit yahh? 🤧 (lebay kau Sa 😂)
Happy reading all
Jangan lupa bahagia 💕💕
Makasi thor ceritanya bagus, meski up nya lama tapi gpp
ditunggu karya selanjutnya
tetap semangat berkarya