NovelToon NovelToon
Sabira

Sabira

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Putri asli/palsu / Tamat
Popularitas:3.3M
Nilai: 4.8
Nama Author: devi oktavia_10

Terlahir dari keluarga berada dan putri bungsu satu satunya, tidak menjamin hidup Sabira Rajendra bahagia.

Justru gadis cantik yang berusia 18 th itu sangat di benci oleh keluarganya.

Karena sebelum kelahiran Sabira, keluarga Rajendra mempunyai anak angkat perempuan, yang sangat pintar mengambil hati keluarga Rajendra.

Sabira di usir oleh keluarganya karena kesalahan yang tidak pernah dia perbuat.


Penasaran dengan kisah Sabira, yukkkk..... ikuti cerita nya..... 😁😁😁

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon devi oktavia_10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Pagi hari, Sabira sudah rapi dengan seragam sekolahnya, dan dia berdandan seperti biasa, hanya memakai bedak bayi, handbody, lip balm untuk melembabkan bibirnya, rambut di kuncir kuda.

Berdandan sesederhana itu saja, sudah membuat kecantikan Sabira terpancar indah, apa lagi wajah Sabira yang baby face, dan mempunyai kulit yang memang sudah putih bersih dari orok, di tambah dengan tinggi badan Sabira yang sedikit melebihi tinggi rata rata wanita indinesia, membuat gadis remaja itu sudah seperti model, dan banyak di kagumi oleh para pria, membuat kakak angkat Sabira semakin iri kepada Sabira.

Sabira keluar dari kamarnya dengan menyandang tas ransel dan menjinjing tas laptop di tangannya.

"Pagi non Bira." sapa bi Tuti, yang keluar dari kamar Aura.

"Pagi bi." sahut Sabira lembut.

"Hati hati ya non." ucap Bi Tuti, pembantu yang sangat baik kepada Sabira, tidak seperti yang lain, yang di bawah kendali Aura.

"Makasih bi." ucap Sabira tulus, Sabira sangat sayang kepada bi Tuti, orang pertama yang akan datang saat dia terjadi sesuatu.

"Bekal non, sudah bibi letakan di jok motor non." bisik bi Tuti, yang selalu menyiapkan bekal untuk Sabira secara diam diam, takut ketahuan oleh Aura.

"Terimakasih bi, lain kali tidak usah, Bira bisa jajan di luar, aku nggak mau bibi di marahin oleh nenek lampir itu." lirih Sabira.

"Non, tenang saja, bibi bikin bekal diam diam, sebelum para pelayan lain masuk ke dalam rumah." sahut bibi pelan.

"Ya sudah, terimakasih ya, bi." ucap Sabira tulus.

"Sama sama, non." sahut bibi tersenyum senang.

"Oh, ya bi. Lusa ada pertemuan wali murid, apa bibi bisa datang ke sekolah? " tanya Sabira penuh harap.

Semenjak Sabira masuk SMA, orang tuanya tidak pernah lagi datang ke sekolah Sabira, dengan berbagai alasan, tentu saja alasan mereka adalah Aura yang tidak bisa di tinggal, karena tiba tiba sakit.

Dan abang abangnya juga khawatir dengan Aura, pernah beberapa kali Sabira berharap orang tua atau abangnya yang datang ke sekolah, namun harapan Sabira tinggal harapan, akhirnya Sabira tidak pernah lagi meminta bantuan kepada orang tua mau pun abang abangnya, sedapat mungkin Sabira akan menyelesaikan masalahnya sendiri.

Klau harus di hadiri oleh wali murid, maka Sabira minta tolong sama bi Tuti, seperti saat ini, klau bi Tuti tidak bisa, maka orang tua sahabatnya lah yang menjadi wali Sabira.

"Siap non, bibi bisa datang ke sekolah, non. Karena lusa jatah bibi libur, jadi bibi tidak harus mencari alasan untuk pergi ke sekolah, non." sahut Bi Tuti semangat.

"Terimakasih bi." ucap Sabira berkaca kaca.

"Jangan berterimakasih mulu, ah... Bibi Bosan." kekeh Bi Tuti yang tidak mau nona mudanya bersedih.

Sabira jadi terkekeh mendengar ucapan bi Tuti itu.

"Sudah, non cepat turun, nanti di marahi lagi." usir bi Tuti.

"Baik lah." pasrah Sabira, berlaku dengan mengecup sayang pipi bi Tuti.

"Haiiiss... Anak itu." ucap bi Tuti lirih memegang bekas kecupan Sabira.

"Kasian sekali kamu, non." gumam bi Siti berkaca kaca.

Sementara di meja makan, tampak kehangatan di sana, Bira hanya bisa tersenyum kecut melihat itu semua.

Keluarganya bisa bahagia, tanpa ada dirinya, mereka sudah memulai sarapan bersama tanpa menunggu Sabira, klau Aura yang terlambat, pasti mereka akan menunggu gadis itu, tanpa mengambil makanan terlebih dahulu, sungguh menyesakkan dada.

*Jangan sedih Bira, bukan kah ini sudah biasa kamu lihat, anggap saja kamu anak yatim piatu, yang sedang menumpang di rumah saudara.* gumam Sabira dalam hati.

"Pagi semua." sapa Sabira.

Namun tidak ada yang menyahut, mereka sibuk dengan makanannya, dan orang tua Sabira hanya berdeham, tanpa melihat kearah sang putri.

Aura tersenyum puas dalam hati, melihat Sabira yang di abaikan orang tuanya.

Sabira hanya bisa menahan sesak di dadanya, begitu tidak berartinya dirinya di mata keluarganya itu, mungkin keputusannya untuk pergi jauh dari keluarganya adalah pilihan yang tepat.

Sabira menarik kursi yang biasa dia duduki, sebelah kursi Daren terpisah satu kursi kosong dari sisi kirinya dan di sebelah kanan juga ada kursi kosong dan sebelahnya duduk Aura, sungguh terlihat Sabira anak yang tersisihkan di meja makan itu.

Keluarganya seperti jijik berdekatan dengan Sabira.

Tanpa membuang waktu Sabira lansung mengambil makan, dia duduk dengan diam, memakan sarapannya, sementara keluarganya sedang bersenda gurau tanpa memperdulikan Sabira.

"Aku sudah selesai, aku berangkat duluan." ucap Sabira.

"Dasar anak nggak sopan, kau lihat kami belum selesai kau sudah mau pergi saja! " pekik sang Mama.

"Sekolah ku jauh, ma. Kalau aku menunggu kalian, aku akan terlambat kesekolah." sahut Sabira memberi alasan, yang memang itu adanya.

"Halah, sok sibuk dan sok pintar kau! " sentak sang Mama.

*Memang aku pintar, kalian saja yang nggak tau siapa aku. * gumam Sabira dalam hati.

"Sudah lah, ma. Biarkan saja dia pergi, merusak pandangan saja klau dia ada di sini." sinis Kaifan.

Pak Rusdi mengibaskan tangannya, menandakan Sahira boleh pergi dari hadapan mereka.

Tanpa menunggu waktu lagi, Sabira pergi dari ruang makan itu, dan berjalan cepat keluar rumah, dengan mata yang berkaca kaca.

"Tahan sebentar lagi, kamu pasti kuat, Bira." bisik Sabira kepada dirinya sendiri.

Sabira menunggangi motor metik sejuta umatnya, berbeda dengan ke tiga kakak kakaknya, yang memakai mobil mewah, Sabira memilih memakai motor metik sejuta umat itu, karena motor itu adalah kado ulang tahun dari ayahnya setahun yang lalu.

Ayahnya berniat membelikan mobil untuk Sabira, namun Aura melarangnya, takut Sabira akan kebut kebutan di jalanan, padahal dia saja yang iri, namun papanya membenarkan ucapan Aura, dan memberikan Sabira motor metik sejuta umat itu pada akhirnya.

Sabira menerima dengan senang hati, walau hadiahnya jauh berbeda dari kakak kakaknya, namun ini adalah kado pertama yang papanya berikan, semenjak Sabira duduk di bangku kls 2 SMP.

"Bira." panggil seseorang, saat Sabira di lampu merah.

"Ehh... Rud." sapa Sabira tersenyum tipis, kepada teman sekolahnya.

"Nanti kamu jadi ikut lomba, kan Bir? " tanya Rudi.

"In Syaa Allah, jadi." sahut Sabira.

"Haa.... Syukur lah." lega Rudi.

Tidak lama setelah itu, lampu jalan berubah menjadi hijau.

"Rud, aku duluan." ucap Sabira.

Rudi hanya menganggukan kepala, dan menyusul Sabira dari belakang.

Bersambung....

Haiii... Jangan lupa like komen dan vote ya.... 😘😘😘

1
Mamah Kaila
meskipun g ikut nyiksa harusnya jgn lgsg dimaafin si Devan, disiksa didepan mata cm diem aja giliran g ada sok"an ngebela, sok"an sayang, Sampah
Lusi Sabila
Tapi kl ingat pas di cambuk sama di tampar ayah nya sama Abang nya.. pasti masih Tetap gak ilang sakitnya 😭😭 walaupun di kasih hadiah yg fantastis!
Jahayu Levi nain
maaf mak 🙏🙏🙏kok banyak tulisan yg susah di baca ya
Amiera Syaqilla
sedih pulak baca kisah Sabira ni🥺
Anonymous
Kaifan isi kepalanya kosong, udh kaya gitu masih tanya ada apa😡😡🥶
Anonymous
Nanti kalau udh tau kebusikan anakmpunggut minta maaf lalu di maafi dengan kata karena orang tua 😡😡😡
Amariksa
kan sabira masih sekolah datangi sekolah nya ya pasti ketemu kan, aneh bin o'on nih keluarga, kok meratap, mengharap bira pulang, tanpa usaha mencari, huh gedeg banget dah.
Iryani levana khrisna Khrisna
cerita yang bagus semangat Thor dan terimakasih
z***a
cerita nya bagus banget sampai bingung mau komen apa😅😅/Sneer//Sneer/
z***a
baca lagi sampai selesai
Pujiastuti
nama bapaknya ganti terus, otornya ga konsisten ini
olra
semangat thor
Minarti Youmidin
ibuku merasakannya kk neneku semasih muda menjadikan ibuku musuh setiap hari hanya cacian, tapi sekarang saat. sudah. tua ga bisa apa apa yang tiap hari di cariin ibuku terus dan ga pernah ada kata maaf dari dia ke ibu,
Nursanti Ani
heleh heleh heleh gak jelas
Nursanti Ani
ribet amat nyariin,,, kan sekolah maih sm yg dulu
Muft Smoker
mamak dy kaifan ,, bukan babang Rafael tukang sebluk ,,
perlu aqua/Chuckle//Chuckle/
Muft Smoker
sabira mamak ku ,, 🤭😄
Muft Smoker
karungin aura yuk ,, qta buang k kali citarum ,, segala Hal harus jd milik dy ,, herman saya ,, /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Muft Smoker
sabira kakak author ,, bukan si aur auran tu ,,
🤭🤣
Muft Smoker
hahahahaha ,, emank boleh se yakin Dan se menyeramkan ituu waahaai kau makhluk astral ,, 🤭🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!