“Aku telah melihat masa depan kalian,” lanjutnya. “Dari abu pengorbanannya, jiwanya tidak hancur. Jiwa sang Ratu terlepas dari pusaran kehancuran dan ditakdirkan untuk terlahir kembali.”
“Sebagai apa?” suara Ragnar nyaris hanya bisikan.
“Sebagai manusia.”
“Manusia?” Ragnar tertawa pendek, pahit. “Makhluk fana, rapuh, dengan umur sekejap mata?”
“Justru karena itu,” jawab Holly. “Ia akan hidup jauh dari dunia kita, tanpa ingatan tentang perang, mahkota, atau pengorbanannya. Namun takdir tidak sepenuhnya kejam, bukan? Setidaknya dia terlahir kembali kali ini hanya untukmu.”
999 tahun pencarian....
“Akhirnya, aku menemukanmu, Ivory! Aku telah menepati janjiku untuk tidak melupakanmu dan datang menjemputmu.”
PLAK!
“Anda sudah keterlaluan! Dasar Bos Gila!” Kata Ivory penuh amarah.
Akankah takdir kali ini akan mempersatukan Ragnar dan Ivory kembali? Ataukah takdir sebelumnya akan terulang kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34. Tandanya Berbeda
Lampu-lampu kristal restoran itu memantulkan cahaya keemasan di gelas-gelas anggur, namun udara di antara mereka terasa dingin, terlalu dingin untuk sebuah makan siang dimana matahari tengah bersinar terang di luar sana.
Pembicaraan itu akhirnya datang. Ragnar duduk di hadapannya tanpa suara, seolah bayangannya sendiri yang memadat menjadi sosok. Mata merah tuanya menatap tajam, bukan ke wajah Ivory, melainkan ke sesuatu yang sejak awal ingin ia pastikan sendiri.
“Benarkah tanda itu tidak ada padamu? Kalau begitu putar kepalamu sekarang. Biar aku memastikannya sendiri,” perintahnya singkat, nadanya rendah dan tertahan.
Jantung Ivory terasa berdegup keras. Ada getar aneh di dadanya, sebuah rasa akrab yang tidak masuk akal, seakan suara itu pernah memanggil namanya berabad-abad lalu. Dengan ragu, ia menyibakkan rambutnya, menyingkap bagian belakang telinga kanan.
Perasaan gugup tidak dapat Ivory hindari ketika Ragnar lantas berdiri. Dalam satu langkah, jarak mereka lenyap. Nafasnya yang dingin menyentuh kulitnya ketika ia menunduk, mata vampir itu menyipit, menelusuri kulit pucat di bawah cahaya lampu.
Dan di sanalah tanda itu berada.
Ada.
Jelas ada.
Namun bukan seperti yang diramalkan.
Tandanya berbeda.
Sangat berbeda.
Bukan lambang bunga red ryder lily yang saling melingkar, bukan pula segel kuno berbentuk bulan sabit seperti yang dikatakan oleh peri Holly padanya. Tanda itu berbentuk berbeda, lebih sederhana, lebih liar. Garis-garis halus menyerupai retakan cahaya, seolah sesuatu pernah pecah lalu menyatu kembali dengan caranya sendiri.
Wajah Ragnar mengeras.
“Apa ini…?” gumamnya, bukan bertanya, melainkan menahan amarah yang mendidih cepat.
Ia mundur selangkah. Dua. Tatapannya berubah… bukan lagi penuh harap atau kerinduan yang telah menunggu berabad-abad, melainkan kekecewaan yang menusuk.
“Peri Holly telah bersumpah padaku,” katanya pelan, namun setiap kata seperti ancaman. “Mereka sudah bersumpah dan bentuknya tak akan keliru.”
Ivory menatap Ragnar dalam, hatinya sedikit merasa lega. Meski seakan masih ada sesuatu yang mengganjal dalam benaknya. “Kau sudah puas melihatnya sekarang? Ditubuhku tidak ada tanda reinkarnasi seperti yang kau katakan selama ini. Ini hanya sebuah tato yang aku buat.”
Ragnar tertawa singkat, tapi tatapannya tajam, tanpa humor. “Kalau begitu, ramalan itu salah… atau kau memang bukan dia… reinkarnasi dari ratuku.”
“Sudah aku katakan sejak awal, bahwa aku bukan orang yang tengah kau cari,” ujar Ivory kembali menegaskan pernyataannya.
Tanpa mengatakan apapun, ia berbalik. Kursinya yang menghalanginya ia tendang dengan kasar, menarik perhatian beberapa karyawan restaurant, namun tak satu pun berani menoleh terlalu lama. Aura kemarahannya seperti badai yang menekan dada siapa pun yang berada di dekatnya.
“Setelah ini,” ucap Ivory dingin menatap Ragnar pergi, “aku harap kau benar-benar tidak mengusik hidupku lagi di kehidupan kali ini.”
Langkahnya menjauh, dan dalam sekejap Ragnar lenyap meninggalkan meja yang masih utuh, hidangan yang belum tersentuh sepenuhnya. Dan Ivory yang berdiri terpaku, dengan tanda reinkarnasi di balik telinganya… yang mungkin saja lebih penting dari ramalan mana pun. Akan tetapi, Ivory memilih untuk menyembunyikan tanda itu selamanya meski takdir telah memilihnya kembali sebagai Ratu vampire.
Baru saat Ragnar menghilang dari balik pintu restaurant, Ivory baru berani bernapas. Tangannya gemetar di atas meja. “Keputusan semalam… sepertinya adalah keputusan yang tepat.”
...----------------...
Flashback….
Malam sebelumnya, lilin-lilin kecil menyala redup di kamar sempit beraroma herbal kering. Tirai ditutup rapat, dan jendela seolah disegel dengan mantra peredam suara. Ivory duduk membelakangi cermin, rambutnya disibakkan ke depan, memperlihatkan bagian kulit di belakang telinga kanannya.
Di sana, tanda itu berdenyut pelan. Garis melingkar seperti bulan sabit yang retak, hitam pekat dengan serat merah darah dan perpaduan ukiran bunga red ryder lily. Tanda asli reinkarnasi sang Ratu Vampir
“Kau yakin?” bisik Elena, jari-jarinya sudah memegang kuas kecil dengan tinta pewarna tipis berwarna abu-abu keperakan. “Mengubah tanda reinkarnasi bukan hal sepele. Kalau gagal—”
“Aku tahu risikonya,” potongnya pelan. “Tapi jika dia melihat ini apa adanya… aku tidak akan sempat mengelaknya lagi.”
Elena menghela napas, lalu mulai menorehkan kuas tersebut secara perlahan membuat pola yang baru. Tinta abu-abu menyapu pelan di kulit itu, menutup tanda asli, menenunnya ulang. Garis-garis hitam memudar, berubah menjadi simbol lain yang lebih sederhana, lebih kasar, seperti bekas tanda retakan cahaya. Tidak istimewa. Tidak layak dicari.
Rasa perih menjalar, tapi Ivory berusaha untuk tidak bersuara. Beberapa menit kemudian, Elena menarik kuasnya sembari memperhatikan dengan lekat pola baru yang ia ubah. Kemudian Elena mulai menyentuh kulit itu, memastikan. “Berhasil… setidaknya pola ini berbeda jauh dengan tanda yang sebenarnya.”
“Aku hanya butuh itu,” kata Ivory lirih.
Flashback off….
...----------------...
Ivory terlalu sibuk mengingat kejadian semalam, sampai ia tidak bahwa kini seseorang sudah berdiri tepat di sampingnya. “Kurasa aku datang di waktu yang kurang tepat kali ini.”
Suara itu membuat Ivory tersentak. Ia menoleh. Dimana seorang pria berdiri beberapa langkah darinya, wajah yang ia kenal. Pria yang tempo hari sempat makan siang bersama dan berbincang dengannya. Rambutnya sedikit basah oleh hujan, mantel cokelatnya disampirkan sembarangan. Senyumnya tipis, namun matanya tajam, seolah menyadari sisa ketegangan yang belum sepenuhnya menguap.
“Restaurant ini kosong sekali. Makanannya juga masih utuh. Sayang sekali,” lanjutnya sambil duduk di kursi seberang. “Bolehkan aku duduk di sini?”
Ivory mengangguk perlahan. “Silakan.”
Pria itu melirik pintu yang baru saja ditutup. “Pria tadi… kau datang bersamanya, bukan? Kalian memiliki hubungan special?”
Ivory mengaduk tehnya, mencari ketenangan. “Ya, tapi kami tidak memiliki hubungan apapun selain hanya boss dan sekretaris.”
Pria itu tersenyum kecil. “Baguslah. Karena sepertinya, orang yang ia cari tidak duduk di sini.”
Untuk sesaat, mata mereka bertemu. Dan entah mengapa, Ivory merasakan sesuatu yang lain. Bukan kegelapan, bukan ancaman melainkan firasat bahwa pertemuan sederhana di restoran sepi ini akan membawa masalah yang jauh lebih rumit dari Raja Vampir itu sendiri.
“Apa maksud ucapanmu, Ren?” tanya Ivory langsung.
Restoran itu semakin terasa hening seiring jarum jam merangkak. Hujan diluar tinggal sisa rintik, menempel di kaca seperti kenangan yang belum mau pergi. Pelayan terakhir membereskan meja di ujung ruangan, lalu menghilang ke dapur, meninggalkan mereka berdua dalam keheningan yang canggung.
Ren menyesap kopinya, lalu melirik wanita di depannya. “Kau kelihatan seperti seseorang yang baru saja lolos dari… sesuatu yang tidak seharusnya dialami manusia,” katanya ringan, tapi nadanya tulus. “Aku pikir pria tadi kekasihmu, aku berniat menyerah kalau sepertinya. Rupanya itu hanya argumenku yang salah, ternyata hubungan kalian hanya bos dan karyawan biasa. Aku merasa lega mendengarnya.”
Bersambung ….
Jangan sampe ada pertumpahan darah. Ya, meskipun kaum Vampir memang identik dengan hal itu... 😩
Tubuhnya masih belum menerima kekuatan sihirnya... Sehingga Denzel harus turun tangan untuk mengendalikan sihir hitam milik Elena...
Ivory yang sabar yah, aku yakin kakakmu akan baik-baik saja.. Benar kata Ragnar, sebaiknya kamu tinggal di Istana dulu.. Karena kaum Werewolf masih berkeliaran... 😩
Dan sekarang, Ivory udah pulang ke rumahnya, ke Istana nya bersama Ragnar...
Kabar Elena gimana yah? Apa dia udah baik-baik saja?
Karena kalo ngga, nyawa Dorian sendiri yang jadi taruhannya 🤣