Lin Xiao, seorang Supreme Alchemist dan petarung tingkat Dewa di "Alam Kayangan", dikhianati oleh kekasih dan sahabatnya demi merebut "Kitab Keabadian". Ia meledakkan jiwanya sendiri, tetapi bukannya musnah, ia bereinkarnasi 500 tahun kemudian ke tubuh seorang tuan muda yang dianggap sampah di sebuah kota kecil di Benua Bawah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35
Lin Xiao melihat mereka pergi. Dia tidak membunuh mereka. Membunuh sesama murid di dalam sekte dilarang keras dan bisa memancing Aula Penegakan Hukum (Law Enforcement Hall). Tapi membuat mereka cacat? Itu wilayah abu-abu yang sering terjadi dalam "pertarungan antar murid".
Lin Xiao berbalik. Dia melihat Tetua Han berdiri di pintu gubuk, menatapnya.
"Kejam," komentar Tetua Han. "Tapi efektif."
"Mereka yang memulainya," jawab Lin Xiao. Dia memungut pecahan botol racun dan membersihkan tanah yang terkontaminasi dengan sekop.
"Wang Jian tidak akan berhenti," kata Tetua Han. "Dia berada di Tingkat 9 Puncak. Dan dia memiliki Roh Pedang Darah. Kau yang sekarang... belum tentu menang melawannya."
"Aku tahu," Lin Xiao mengangguk. "Itulah sebabnya aku butuh uang. Dan senjata."
Lin Xiao menatap pedang hitam Xuan-nya yang mulai retak di beberapa bagian. Pedang itu, meski terbuat dari bahan bagus, hanyalah produk gagal pandai besi desa. Pedang itu tidak kuat menahan Qi Naga dan Api Ungu terus-menerus.
"Besok aku akan ke Paviliun Penempaan," kata Lin Xiao. "Aku akan menempa ulang pedang ini. Dan menjual sisa panen untuk membeli teknik pertahanan."
Tetua Han melempar sesuatu ke arah Lin Xiao.
Sebuah token logam berkarat berbentuk palu.
"Bawa ini ke Paviliun Penempaan. Cari orang tua bernama Tie Shan. Bilang padanya, 'Pemabuk Han' menagih hutang araknya."
Mata Lin Xiao berbinar. Rekomendasi! Di sekte besar, koneksi adalah segalanya. Dengan token ini, dia pasti bisa mendapatkan akses ke fasilitas penempaan yang lebih baik.
"Terima kasih, Kek."
"Hmph. Pergi tidur. Kau berisik sekali membunuh orang malam-malam begini," gerutu Tetua Han, membanting pintu gubuk.
Lin Xiao tersenyum. Dia menatap langit yang mulai terang di timur.
Wang Jian telah melempar dadu pertama. Permainan dimulai. Dan Lin Xiao tidak berniat kalah.
Sementara itu, di kediaman mewah Wang Jian di area elit Sekte Luar.
Wang Jian sedang menikmati sarapan pagi dilayani dua pelayan cantik, ketika pintu halamannya didobrak.
Tiga sosok merangkak masuk. Bau busuk mayat dan daging hangus memenuhi ruangan yang wangi itu.
"T-Tuan..." rintih salah satu dari mereka.
Wang Jian menjatuhkan sumpitnya. Wajahnya yang tampan berubah menjadi topeng kemurkaan saat melihat kondisi anak buahnya. Wajah hancur, bisu permanen, dan kaki lumpuh.
"Siapa yang melakukan ini?" tanya Wang Jian pelan, tapi auranya membuat pelayan di ruangan itu pingsan ketakutan.
"L-Lin Xiao..." jawab si kaki lumpuh gemetar. "Dia... dia iblis. Dia menyuruh kami meminum racun itu sendiri. Dan dia titip pesan... Tunggu giliranku."
PRAKK!
Meja makan marmer di depan Wang Jian hancur berkeping-keping dihantam telapak tangannya.
"Lin Xiao!" Wang Jian meraung. "Bocah petani sampah! Berani kau menantangku?!"
Dia berdiri, mencabut pedang merah darah dari punggungnya. Aura membunuh yang pekat meledak, membuat bunga-bunga di taman layu.
"Kau ingin bermain? Baik. Aku akan menghancurkanmu di depan seluruh sekte saat Ujian Kenaikan Tingkat bulan depan. Aku akan memotong lidahmu dan memaksamu menelannya!"
Di kejauhan, guntur bergemuruh, seolah menyetujui sumpah darah yang baru saja diucapkan.
Paviliun Penempaan (Forging Pavilion) Sekte Awan Putih dibangun tepat di atas kawah gunung berapi aktif di sisi barat pegunungan sekte. Bahkan dari jarak satu mil, hawa panas sudah terasa menyengat kulit. Asap hitam membumbung tinggi ke langit siang dan malam, membawa bau logam cair dan belerang yang pekat.
Suara dentingan palu yang beradu dengan besi terdengar seperti irama musik perang yang tak henti-hentinya. TANG! TENG! TANG!
Lin Xiao berdiri di kaki gunung Paviliun Penempaan. Dia mengenakan jubah murid luar yang sederhana, pedang hitam Xuan terbungkus kain di punggungnya. Meski panas di sini cukup untuk membuat orang biasa pingsan, Lin Xiao justru merasa nyaman. Api Roh Ungu di dalam tubuhnya bergetar pelan, seolah menyapa elemen sejenis.
"Ramai sekali," gumam Lin Xiao melihat antrean panjang murid di depan pintu masuk utama.
Kebanyakan murid datang untuk memperbaiki senjata mereka yang rusak atau memesan senjata baru untuk persiapan Ujian Kenaikan Tingkat bulan depan.
Lin Xiao tidak ikut antrean. Dia memegang token palu berkarat pemberian Tetua Han, lalu berjalan menuju pintu samping yang dijaga ketat—pintu khusus untuk tamu VIP dan Tetua.
"Berhenti!"
Dua penjaga bertubuh kekar dengan kulit sewarna tembaga menghalangi jalan Lin Xiao dengan tombak bersilang.
"Ini pintu masuk khusus Master Penempa. Murid Luar dilarang mendekat. Pergi ke pintu utama dan antre seperti yang lain!" bentak salah satu penjaga dengan kasar.
Lin Xiao tidak marah. Dia mengangkat token berkarat di tangannya.
"Saya datang mencari Master Tie Shan. Seseorang menyuruh saya memberikan ini padanya."
Penjaga itu melirik token itu sekilas, lalu tertawa mengejek.
"Token apa itu? Besi tua berkarat? Nak, kau pikir kami bodoh? Token Master Tie Shan terbuat dari Emas Ungu, bukan rongsokan seperti ini. Kau pasti memungutnya di tempat sampah dan mencoba menipu kami!"
Penjaga itu mendorong bahu Lin Xiao. "Enyah! Sebelum aku melemparmu ke kolam pendingin!"
Lin Xiao mengerutkan kening. Dia tidak bergeser sedikit pun meski didorong oleh penjaga yang memiliki kekuatan Tingkat 6. Justru penjaga itu yang merasa seperti mendorong dinding besi.
"Aku tidak punya waktu untuk berdebat," kata Lin Xiao dingin. "Sampaikan saja nama 'Han Si Pemabuk'. Jika Master Tie Shan tidak mau menemuiku, aku akan pergi."
"Han Si Pemabuk? Siapa itu? Dasar orang gila!" Penjaga itu marah karena gagal mendorong Lin Xiao. Dia mengangkat tombaknya, hendak memukul kaki Lin Xiao. "Berani membuat keributan di sini?!"
"HENTIKAN!"
Sebuah suara menggelegar seperti ledakan bom terdengar dari dalam pintu gerbang. Getaran suara itu begitu kuat hingga tombak di tangan penjaga terlepas jatuh ke tanah.
Seorang raksasa setinggi dua setengah meter melangkah keluar. Dia bertelanjang dada, otot-ototnya sebesar batu kali, kulitnya merah mengkilap oleh keringat dan minyak. Janggut hitamnya tebal dan kaku seperti kawat. Dia memegang sebuah palu penempaan yang besarnya seukuran kepala manusia dewasa.
Ini adalah Master Tie Shan, Kepala Paviliun Penempaan, ahli penempaan Tingkat Roh Tinggi.
Mata Tie Shan yang besar melotot menatap penjaga itu. "Siapa yang berani menyebut nama 'Han' di depan pintuku?!"
Penjaga itu gemetar ketakutan, langsung berlutut. "M-Master Tie! Bocah ini... dia membawa sampah berkarat dan mengaku kenal dengan seseorang bernama Han..."
Mata Tie Shan beralih ke tangan Lin Xiao. Saat melihat token berkarat berbentuk palu itu, pupil matanya mengecil.
Dia menyambar token itu dari tangan Lin Xiao dengan kecepatan yang mengejutkan untuk ukuran tubuhnya. Dia mengelus karat di token itu, lalu melihat ukiran kecil di baliknya.
"Token Palu Jiwa..." bisik Tie Shan, suaranya bergetar emosional. "Orang tua bangka itu... dia masih hidup? Aku pikir dia sudah mati membusuk di suatu selokan sepuluh tahun lalu."
Tie Shan menatap Lin Xiao tajam. "Siapa namamu, Nak?"
"Lin Xiao. Penjaga Kebun Herbal Nomor 9."
"Kebun Nomor 9? Hah! Pantas saja dia bersembunyi di sana," Tie Shan tertawa keras, lalu merangkul bahu Lin Xiao dengan akrab—rangkulan yang hampir meremukkan tulang bahu orang normal.
"Masuk! Masuk! Siapapun yang membawa token ini adalah tamu kehormatan Tie Shan! Penjaga, kalau kalian berani menghalanginya lagi, aku akan menempa kalian menjadi pispot!"
Penjaga itu bersujud ngeri, sementara murid-murid lain yang mengantre di pintu utama ternganga kaget. Siapa murid luar itu? Kenapa Master Tie Shan yang terkenal galak memperlakukannya seperti keponakan sendiri?