"Kalau kamu mau jadi malaikat, lakukan di tempat lain. Di Kediaman Jati Jajar, akulah ratunya!"
Rosie, seorang manajer sukses di era modern, terbangun di tubuh Kirana Merah Trajuningrat, sosok antagonis yang dibenci seluruh rakyat Kerajaan Indraloka.
Dunia di mana "Citra Diri" adalah segalanya, Merah dikenal sebagai gadis pemarah yang hobi menindas adiknya, Putih Sekar. Namun, Rosie segera menyadari ada yang salah.
Putih yang dianggap "Anak Kesayangan Rakyat" ternyata adalah manipulator ulung yang lihai bermain peran sebagai korban di depan para pelayan dan Pangeran.
Ditambah lagi, Ibu kandung Merah, Nyai Citra, adalah wanita ambisius yang menyiksa Putih demi kekuasaan, tanpa sadar bahwa setiap cambukannya justru memperburuk reputasi Merah di mata Pangeran Ararya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riyana Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Arang dan Abu di Balai Belakang
Malam baru saja jatuh saat kesadaran Rosie kembali ke permukaan. Dia tidak lagi merasakan denyut menyakitkan di pelipisnya, melainkan rasa haus yang sangat mencekik kerongkongan.
Ruangan itu hampir gelap gulita, hanya ada satu titik cahaya kuning kemerahan yang bergoyang di sudut. Rosie menyipitkan mata, mencoba menangkap detail objek yang membawa cahaya tersebut.
Seorang gadis muda, yang Rosie ingat bernama Laras, melangkah masuk dengan sangat pelan. Dia membawa sebuah wadah kecil dari tanah liat berisi minyak dan sumbu yang menyala, diletakkan di atas sandaran kayu yang menempel di dinding.
Jadi, ini lampu yang biasanya mereka pake? pikir Rosie dengan sisa-sisa penyangkalan di kepalanya.
Dia masih tidak ingin percaya bahwa apartemennya yang ber-AC telah berganti menjadi kamar kayu yang pengap oleh asap minyak tanah ini.
"Mungkin aku emang lagi diculik ke desa terpencil yang belum ada listrik," gumam Rosie pelan sambil mencoba bangkit dari balai-balai kayu itu.
Suara gesekan kain jariknya dengan kasur kapuk terdengar oleh Laras. Gadis itu segera menoleh dan mendekat dengan wajah cemas.
"Nona sudah bangun? Hati-hati, badan Nona masih lemas," ucap Laras sambil meletakkan lampu di meja dan sigap membantu Rosie untuk duduk tegak.
Laras mengambil sebuah bantal keras berbalut kain dan menyisipkannya di belakang punggung Rosie agar dia bisa bersandar di tiang ranjang yang berukir. Rosie merasa dunianya sedikit berputar.
Pandangannya mendarat pada sebuah meja kayu pendek tanpa kaki yang diletakkan langsung di atas lantai tanah di sudut ruangan. Di atas meja itu terdapat sebuah mangkuk tanah liat dan sebuah teko kecil.
"Jangan bius aku lagi," gumam Rosie saat melihat Laras mengambil mangkuk itu.
Laras menghentikan gerakannya, wajahnya penuh kebingungan. "Bius? Ampun, Nona, saya tidak mengerti. Ini hanyalah air rebusan akar dan dedaunan untuk menurunkan hawa panas di badan Nona," jelas Laras dengan nada rendah yang santun.
Rosie menghela napas panjang, akhirnya dia menyerah dan menerima mangkuk tersebut. Saat bibirnya menyentuh pinggiran tanah liat yang kasar, rasa pahit yang tajam langsung menjalar di lidahnya.
Dia meringis, tapi tetap meminumnya hingga tandas karena rasa haus yang tidak tertahankan. Setelah itu, dia menyerahkan kembali mangkuk kosong tersebut kepada Laras.
"Saya mohon pamit sebentar ke balai belakang, Nona. Nyonya Besar meminta saya membantu menyiapkan perjamuan makan malam," ucap Laras sambil membungkuk dalam.
Samar-samar dari luar kamar, Rosie mendengar suara lengkingan yang tidak asing. Itu suara Citra. "Putih! Di mana kamu? Cepat bantu siapkan makanan di dapur! Jangan hanya diam meratapi nasib di depan sumur!".
Karena suara nyaring itu pula yang membuat Rosie tersadar beberapa kali.
Sumpah ya, ini emak-emak satu, teriak mulu dari tadi siang, batin Rosie.
Suara langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar menjauh menuju bagian belakang rumah. Rasa penasaran Rosie mulai mengalahkan rasa lemasnya.
Dia ingin melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana pusat dari segala kegiatan rumah ini dijalankan. Dia turun dari tempat tidur, kakinya yang telanjang menyentuh lantai tanah yang terasa dingin dan lembap.
Dia berjalan keluar kamar, melewati ruang tengah yang luas di mana terdapat hamparan anyaman pandan yang rapi. Rosie berhenti sejenak, menatap lantai itu. Dia ingat di sanalah tadi siang Putih bersimpuh dan menangis dengan sangat dramatis.
Kayak sinetron sejarah. Ternyata Bawang Putih ini memang diperlakukan layaknya pelayan, ya? pikirnya sambil terus melangkah mengikuti aroma masakan yang gurih dan kuat.
Langkah Rosie membawanya ke sebuah ruangan luas dengan dinding bambu yang memiliki banyak celah udara. Di sana, kepulan asap membumbung dari dua tungku batu besar yang apinya sedang berkobar menjilat dasar kuali tanah liat.
Oh, ternyata kayak gini dapurnya, aku baru nyadar, semua perempuan di sini harus pake sanggul rambut.
Gendis, yang sedang sibuk memilah sayuran di atas meja kayu panjang, langsung memekik kaget saat melihat sosok tinggi berbaju merah itu muncul di ambang pintu.
"Nona! Apa yang Nona lakukan di sini? Nona belum pantas keluar kamar!" teriak Gendis sambil menjatuhkan beberapa ikat kacang panjang.
"Aku haus," jawab Rosie asal, meskipun dia baru saja minum obat dari Laras.
Laras yang sedang mengaduk sesuatu di atas tungku segera mengambil sebuah gayung dari tempurung kelapa dan menuangkan air dari kendi besar ke dalam gelas bambu. Dia memberikannya kepada Rosie dengan tangan gemetar.
"Nona, saya mohon, kembali ke kamar saja. Di sini sangat panas dan penuh asap, tidak baik untuk keadaan Nona," pinta Gendis sambil mencoba mendekat dan memegang lengan Rosie untuk membimbingnya keluar dari area dapur.
Rosie menolak dengan gerakan tangan yang tegas. Matanya menyisir sudut dapur. Di dekat tungku lainnya, dia melihat Putih sedang berjongkok, meniup api dengan bambu kecil hingga wajahnya terkena abu. Melati berdiri di sampingnya, sibuk mengiris bumbu dengan tatapan yang sesekali melirik sinis ke arah Rosie.
"Apa yang Nona lakukan di sini? Maaf, tapi saya diminta Nyonya Besar untuk menyiapkan makanan dengan cepat, jadi saya tidak bisa melayani atau membantu Nona," tanya Putih dengan nada yang terdengar sangat rendah hati, tapi terselip penekanan bahwa dia sedang sibuk bekerja.
Rosie melipat tangan di dada, bersandar pada tiang kayu dapur yang besar. Dia mengambil lalu minum sedikit pemberian Laras tadi. "Lakuin aja apa yang kamu lakukan. Aku cuma mau ngeliat," jawab Rosie.
"Ha?" ucap Putih, gerakannya meniup api terhenti seketika.
Dia menatap Rosie dengan wajah bingung, seolah tidak percaya bahwa kakaknya yang biasanya suka membentak itu kini bicara dengan kalimat yang begitu singkat dan aneh.
"Lanjutkan memasaknya, Putih. Kenapa malah berhenti?" perintah Rosie lagi.
Putih segera membuang muka kembali ke arah kuali yang mulai mendidih, tangannya kembali bergerak sibuk meskipun terlihat sedikit kaku karena diperhatikan secara intens oleh Rosie. Rosie berdiri di sana dalam diam, memperhatikan bagaimana cara mereka memasak yang masih sangat primitif. Tidak ada kompor gas, tidak ada pisau baja yang tajam, bahkan talenan pun hanya berupa potongan kayu kasar.
Dia menatap tangannya sendiri yang halus, lalu menatap Putih yang tangannya mulai hitam terkena arang. Sebuah pertanyaan besar mulai menghantam benaknya dengan keras. Bisakah dia benar-benar bertahan hidup di dunia tanpa teknologi ini?
Rosie memejamkan mata sejenak, menghirup aroma rempah yang menyengat di udara dapur itu.
"Nona, sayurnya sudah hampir matang," lapor Laras memecah keheningan.
Rosie hanya mengangguk kecil. Putih dan Melati saling berpandangan dengan penuh tanda tanya di tengah kepulan asap tungku.
Coba kalian kasih aku bintang 5, like, komen, gift gratisan juga gapapa, biar aku semangat update bab gitu, terimakasih cintakuhhh
Terus subscribe cerita ama follow juga boleh
maaf yak banyak minta hihi /Shy/