NovelToon NovelToon
Aku Memang Pernah Selingkuh

Aku Memang Pernah Selingkuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Selingkuh / Cerai / Pelakor / Penyesalan Suami / Healing
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Poporing

Arinta adalah seorang pria, suami, juga ayah yang telah melakukan perselingkuhan dengan teman sekantornya bernama Melinda dari istri sah nya, Alena setelah menjalani bahtera rumah tangga hampir tujuh tahun pernikahan hanya karena kekhilafan.

Ketika semua rahasianya terbongkar oleh sang istri, semuanya dianggap terlambat, Alena seolah menutup ruang untuknya kembali sekalipun ia berusaha memperbaiki.

Sesakit itukah yang dirasakan oleh Alena? Harapannya untuk bersama Alena pupus ketika wanita itu mantap untuk bercerai dan sepertinya ia mulai dekat dengan seorang pengusaha kaya raya bernama Aditya.

Arinta harus melepaskan Alena meski ia masih mencintai sang istri dan tampak menyesal, tapi kehidupan terus harus berjalan....

Bagaimana cara Arinta memulai kembali semuanya dari awal sementara penghakiman atas dirinya akan terus melekat entah sampai kapan....

"Apakah aku tak pantas dengan kesempatan kedua...?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poporing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25 : Kepedulian dan setitik cinta

Hari itu bergulir dengan cepat, tak terasa sore sudah menjelang, tetapi Arinta belum kunjung pulang. Alena yang menyadari ini sejujurnya merasa was-was. Masih ada kecemasan di dalam hatinya untuk pria itu.

Sedari-tadi pandangannya terpaku ke arah luar pintu, menanti. Kecemasan itu tampaknya terbaca oleh sang babysitter yang sedang menjaga Alea.

"Di telepon saja, Bu kalau khawatir," ujarnya dari belakang. Bukan maksud untuk ikut campur, tapi hanya sekedar memberi saran.

Alena hanya tersenyum kecil setelah mendengar ucapan itu, lalu berkata, "biarkan saja lah Bi, dia mau kemana." Meski terdengar ketus, tapi kegelisahan yang terpancar di wajahnya tak bisa berbohong kalau Alena masih peduli.

Akhirnya karena kesal melihat Arinta yang tak kunjung pulang, Alena memutuskan untuk membereskan semua pakaian-pakaiannya saja terlebih dulu.

"Bi, jaga Alea ya," ucapnya sambil menghela napas pasrah, menyerah untuk tetap menunggu.

.

.

Arinta pulang usai jam 6, sehabis adzan. Ia masuk ke rumah terburu-buru menuju kamar mandi, dan setelahnya ia hanya berpamitan singkat pada Alena yang baru saja melihatnya melintas.

"Len, aku keluar dulu. Oh ya, itu makanan aku taruh di meja tamu, tolong kamu siapin buat makan malam ya," ujarnya sambil berlalu keluar lagi. Alena bahkan tak sempat bertanya sedikit pun kepada pria itu.

Pada akhirnya ya dia hanya menghela napas pasrah dan berjalan ke arah meja tamu, di mana dia melihat sudah ada bungkusan beberapa makanan di plastik yang sudah tersusun rapih di sana.

"Bi...!" Ia memanggil Yani yang sedang berada di kamar.

"Iya Bu, ada apa?" Sambil berlari kecil ia menghampiri Alena.

"Tolong itu nanti disiapin ya, saya mau sholat dulu," ucapnya sambil menunjuk ke arah bungkusan makanan di atas meja tersebut.

"Baik Bu, Bibi kerjain sekarang." Ia mengangguk patuh tanpa protes.

"Makasih ya, Bi...," ujar Alena sembari tersenyum kecil lalu berjalan ke arah kamar mandi.

.

.

Arinta pulang dengan wajah yang sedikit lebih bersinar. Ia melihat keadaan sekitar yang terlihat lengang, lalu ia berjalan menuju dapur Meja makan sudah teratur dan tertata dengan makanan-makanan yang sudah dibelinya barusan. Senyum lega mengukir di wajahnya. Setidaknya Alena masih ada rasa peduli untuk mengikuti ucapannya.

"Eh, Pak...." Yani kaget saat melihat Arinta sedang berdiri di dekat meja makan karena ia berpikir pria itu belum pulang.

"Alena sama Alea di mana, Bi?" Tanyanya.

"Anu, Ibu lagi sholat kayaknya sama Alea," jawab Yani yang reflek menundukkan kepalanya sedikit.

Tanpa banyak bertanya lagi pria itu meninggalkan dapur dan berjalan ke arah kamar Alena dan Alea.

Di sana ia mengintip dari balik pintu yang terbuka sedikit. Sebuah pemandangan yang menenangkan hati, Alena sedang sembahyang dan Alea berusaha mengikuti gerakan ibunya meski masih agak kacau. Diam-diam senyum kecilnya terukir menciptakan suatu kedamaian yang tak pernah ia rasakan lagi beberapa waktu belakangan. Lalu, ia menutup pintu rapat-rapat, tak ingin Alena yang sedang fokus jadi terganggu.

Arinta akhirnya memutuskan untuk pergi ke kamarnya sendiri, berniat untuk mandi agar badan terasa lebih segar.

Namun tak lama, Alena baru saja selesai dan melirik ke arah pintu yang sudah tertutup. Ia sebenarnya menyadari kehadiran Arinta dan merasa sedikit tenang, pria itu tidak memaksakan diri untuk masuk barusan.

Mungkin aku bisa mulai sedikit mempercayainya..., ujarnya dalam hati sambil masih memandang ke arah pintu.

"Mamih, kok bengong!" Alea menggoyang-goyangkan tangan Alena.

"Enggak sayang, Mamih gak lagi bengong kok!" Alena pun tersadar. Dengan cepat ia menoleh ke arah putri kecilnya yang sedang menatap dengan dua bola mata besarnya yang masih sangat polos.

"Ke depan yuk, Mamih, Aela laperrrr!" Gadis kecil itu memegangi perut kecilnya dengan kedua tangan.

"Hahaha, iya iya, yuk makan." Alea tertawa senang. "Kacian anak Mamih, udah laper yah," ujarnya sambil mencolek hidung anaknya itu yang dibalas dengan seringai lucu.

"Tunggu dulu ya, Alea. Mamih beresin dulu semuanya." Ia lantas berdiri dan melepas mukenah yang sedang dipakai, lalu membereskan peralatan sholatnya dengan Alea.

.

.

Keduanya keluar dari dalam kamar dan berjalan menuju dapur. Di sana ternyata meja makan sudah disusun dengan piring nasi, dan Arinta sudah berada di sana, tersenyum sambil melihat ke arah keduanya.

"Yuk duduk yuk, kita makan!" Arinta sebenarnya berusaha untuk mencairkan suasana. Ia mengajak Alena dan Alea untuk duduk di meja makan bersama.

Tapi sepertinya usaha dia gagal, karena Alena mengatakan ia tak mau makan di sana.

"Aku sama Alea makan di kamar saja," ucapnya datar. Arinta diam, memandang ekspresi sang istri. Kemana senyumannya yang tadi terpancar saat ia berjalan masuk ke dapur bersama Alea.

Dia tak banyak bicara dan hanya menghela napas. Tapi Alea tampaknya tidak setuju dan keinginan Alena.

"Tapi Alea mau sama Papih, kita makan sama-sama yuk, Mamih...," ujar Alea berusaha menuntun tangan sang ibu ke arah meja makan.

"Ya udah, kalau Alea mau makan sama Papih enggak apa-apa. Mamih mau makan di kamar aja," ucap Alena dengan nada tegas. Secara halus ia seperti memberikan dua pilihan kepada Alea yang masih begitu kecil.

"Oke, Mamih!" Alea mengangguk seakan ia sudah mengerti apa yang harus dilakukan.

Alena awalnya tersenyum karena Alea gadis yang pintar, cepat memahami. Tapi ekspresinya berubah saat si kecil malah berlari ke meja makan dan duduk di sana.

"Alea makan sama Papih ya, Mamih!" Anak kecil itu duduk sambil menggoyangkan kedua kakinya dan tertawa bahagia.

Bagi Alea dia hanya rindu pada sang ayah karena sudah lama tak berkumpul bersama. Tapi bagi Alena ini seperti pengkhianatan. Harusnya dia mengerti, tapi ada rasa cemas dan ego yang tak bisa ia turunkan. Dia tidak bisa melihat Alea lebih memilih Arinta yang jelas-jelas berdosa kepadanya dan juga Alea.

"Alea!" Akhirnya satu bentakan keras yang tak terelakkan meluncur dari bibirnya begitu saja.

Suaranya menggema di dalam dapur bahkan Yani yang sedang makan di kamar pun tersentak. Sementara Alea, namanya dipanggil begitu keras oleh Alena langsung terdiam, tertunduk, takut....

Arinta menatap putrinya diperlakukan sebagai seorang pendosa hanya karena dekat dirinya yang bersalah jadi merasa kasihan. Dia tak jadi makan.

"Kalau kamu gak suka aku dekat sama Alea, aku pergi sekarang sampai kalian selesai makan," ucapnya dingin.

Pria itu segera berdiri dari meja makan dan berjalan keluar dapur menuju ke arah ruang keluarga. Dia duduk di sana dan menonton TV.

Alea turun dari bangku dengan wajah ditekuk.

"Mamih, maaf...," ujarnya dengan suara sesegukan. Ah, diam-diam air matanya menetes. Hati Alena terenyuh. Kenapa dia bisa jadi seegois ini? Ia tak bermaksud menyakiti putri kecilnya, tapi....

"Maafin Mamih ya, sayang...." Alena berlutut di depan Alea lalu memeluk gadis kecil itu dengan erat.

Mau sampai kapan Alena akan bersikap seperti ini? Tanpa ia sadari, sedikit demi sedikit Alea telah menjadi korban yang harus selalu memilih antara dirinya atau Arinta....

.

.

Bersambung....

1
partini
kesempatan kedua
hemmmm jarang deh mungkin ada 1000/1 yg betul" sadar, sodara ku aja berhentinya ajal menjemput selingkuh Mulu susah kalau hati udah pernah bercabang
Panda: wah baru tau aku 😱
total 7 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!