Devan, ketua geng motor yang disegani, tak pernah menyangka hatinya akan terpikat pada Lia, gadis berkacamata yang selalu membawa setumpuk buku. Lia, dengan dunia kecilnya yang penuh imajinasi, awalnya takut pada sosok Devan yang misterius. Namun, takdir mempertemukan mereka dalam sebuah kisah tak terduga, membuktikan bahwa cinta bisa tumbuh di antara dua dunia yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Peluru dan Pertahanan
Ketegangan di rumah persembunyian itu terasa kental, seolah udara bisa diiris dengan pisau. Lia terbangun dengan perasaan waswas. Suara denting logam dan gumaman rendah dari ruang tamu memberitahunya bahwa Devan tidak tidur barang sedetik pun. Ketika ia keluar kamar, ia menemukan Devan sedang membersihkan sebuah belati kecil dengan kain hitam. Matanya merah, namun sorotnya tetap tajam seperti elang.
"Lia, kemari," panggil Devan tanpa menoleh.
Lia mendekat dengan ragu. Devan berdiri, lalu menarik tangan Lia. Ia meletakkan belati itu—yang masih di dalam sarungnya—ke telapak tangan Lia yang kecil.
"Duniaku bukan lagi sekadar cerita di novel fantasimu, Lia. Ini nyata, dan ini kejam," ucap Devan serius. "Aku tidak bisa selalu ada di sampingmu setiap detik, meski aku ingin. Kamu harus belajar cara bertahan hidup. Setidaknya untuk memberiku waktu sampai aku datang menjemputmu."
Pagi itu, di halaman belakang rumah ibunya yang tertutup pagar tinggi, Devan mulai melatih Lia. Bukan latihan militer yang berat, melainkan teknik dasar untuk melepaskan diri dan titik lemah manusia. Devan berdiri di belakang Lia, melingkarkan tangannya di leher gadis itu dengan lembut namun menunjukkan bagaimana musuh akan melakukannya.
"Jika mereka mencekikmu seperti ini, jangan panik. Gunakan berat badanmu, injak kakinya sekeras mungkin, dan gunakan sikutmu," instruksi Devan.
Lia mencoba mengikuti gerakan itu berkali-kali. Awalnya ia ragu, gerakannya kaku dan lemah. Namun, setiap kali ia mengingat wajah ayahnya yang terancam, atau bayangan Devan yang terluka, tenaganya muncul.
"Lagi, Lia! Jangan ragu! Anggap aku adalah orang yang ingin memisahkanmu dariku!" seru Devan memotivasi.
Lia berbalik, menyikut dada Devan dengan telak hingga pria itu terbatuk kecil namun tersenyum bangga. "Bagus. Itu baru gadisku.".
Di sela-sela latihan, Devan menceritakan lebih banyak tentang The Vipers. Ketuanya bernama Reno, seorang pria tanpa nurani yang dulunya adalah sahabat Devan sebelum ambisi kekuasaan memecah mereka. Reno tahu bahwa Devan sangat protektif terhadap apa yang ia cintai, dan itulah yang sedang ia manfaatkan sekarang.
Siang harinya, suasana berubah mencekam. Sebuah pesan video dikirim ke ponsel Baron. Video itu menunjukkan rumah ayah Lia yang sudah dikepung oleh motor-motor anggota The Vipers. Mereka tidak masuk, mereka hanya berdiri di sana, memamerkan rantai dan senjata tajam sebagai teror psikologis.
"Mereka memancingku keluar," desis Devan. Urat-urat di lehernya menonjol, tanda kemarahan yang luar biasa. "Reno ingin aku datang ke gudang tua di pelabuhan sendirian, atau mereka akan membakar rumah ayahmu."
"Jangan, Devan! Itu jebakan!" Lia memohon sambil memegang lengan jaket Devan. "Mereka akan membunuhmu!"
Devan memegang wajah Lia dengan kedua tangannya. Ia mencium kening Lia cukup lama, seolah itu adalah pertemuan terakhir mereka. "Aku adalah ketua Black Roses, Lia. Aku tidak bisa membiarkan keluargaku—dan keluargamu—terancam. Aku harus mengakhiri ini sekarang."
Devan memerintahkan Baron untuk tetap di rumah menjaga Lia dengan lima anggota terbaik lainnya. Namun, Lia tahu Devan tidak akan bisa menang sendirian melawan seluruh geng The Vipers.
"Baron, bawa aku ke sana," kata Lia setelah Devan pergi dengan motornya.
"Tidak mungkin, Nona! Bos akan membunuhku jika aku membawamu ke medan perang!" tolak Baron keras.
"Jika Devan mati, kita semua juga akan mati, Baron! Aku tahu tempat itu, aku pernah membacanya di peta pelabuhan. Kita bisa masuk lewat jalur belakang yang tidak mereka jaga. Aku punya rencana!" Lia bicara dengan nada yang tidak pernah ia gunakan sebelumnya. Ada keberanian yang muncul dari rasa takut yang paling dalam.
Baron ragu sejenak, namun melihat tekad di mata "gadis culun" itu, ia akhirnya mengangguk. Mereka berangkat menggunakan mobil cadangan, mengikuti Devan dari jarak jauh.
Di gudang tua pelabuhan, Devan berdiri sendirian di tengah lingkaran puluhan anggota The Vipers. Cahaya lampu tembak dari motor-motor musuh menyilaukan mata. Reno keluar dari kegelapan, memegang sebatang besi panjang yang diseret di lantai, menciptakan suara berdecit yang mengerikan.
"Akhirnya, sang raja mawar datang untuk menyerahkan mahkotanya," ejek Reno. "Hanya karena seorang gadis berkacamata, kamu jadi sebodoh ini, Devan?"
"Lepaskan ayah Lia, dan selesaikan ini denganku, laki-laki lawan laki-laki," tantang Devan, ia membuang senjatanya ke lantai sebagai tanda ia datang untuk bernegosiasi nyawa.
"Sayangnya, aku bukan orang yang adil, Devan," tawa Reno pecah. Ia memberi kode pada anak buahnya untuk mengeroyok Devan.
Tepat saat serangan dimulai, terdengar ledakan keras dari tangki minyak di luar gudang—hasil sabotase Baron atas perintah Lia. Asap hitam mengepul menutupi pandangan. Di tengah kekacauan itu, suara tembakan peringatan dari polisi (yang diam-diam dipanggil Lia lewat koneksi lama ayahnya) menggema.
Lia muncul dari balik pintu belakang, berteriak memanggil nama Devan. Devan yang sedang bergulat dengan dua orang, melihat Lia dan entah dari mana mendapatkan kekuatan tambahan. Ia memukul mundur musuh-musuhnya dan berlari ke arah Lia.
"Kenapa kamu di sini?!" bentak Devan sambil menarik Lia ke balik tumpukan peti kayu.
"Aku tidak bisa membiarkanmu mati sendirian!" balas Lia berani.
Perkelahian besar pecah. Black Roses yang ternyata sudah bersiap di sekitar lokasi (atas perintah rahasia Devan sebelumnya) merangsek masuk begitu ledakan terjadi. Pelabuhan itu berubah menjadi medan perang. Namun di tengah kekacauan itu, Reno mengarahkan senjatanya ke arah Devan.
Lia melihatnya. Tanpa berpikir panjang, ia menggunakan teknik yang diajarkan Devan pagi tadi. Ia melempar sebuah botol kaca ke arah kaki Reno, membuatnya kehilangan keseimbangan sesaat, memberi waktu bagi Devan untuk menerjang Reno.
Malam itu berakhir dengan sirine polisi dan pelarian anggota The Vipers yang tersisa. Reno berhasil diringkus. Devan terduduk di aspal dengan napas tersengal, wajahnya penuh lebam dan darah, namun ia segera menarik Lia ke dalam pelukannya..
"Kamu gila, Lia. Benar-benar gila," bisik Devan sambil tertawa kecil di tengah rasa sakitnya.
"Aku belajar dari guruku," jawab Lia sambil memeluk Devan erat, tidak peduli lagi pada bau mesiu dan darah yang menempel pada mereka.
Mereka selamat, namun Lia tahu, ini hanyalah satu babak dari kehidupan barunya. Dan ia tidak lagi takut untuk menulis bab berikutnya bersama Devan.