Ini Novel Wuxia!
Di dunia persilatan yang kelam dan penuh intrik, nama Liang Shan adalah luka yang tak pernah sembuh—anak dari keluarga pendekar agung yang dibantai secara keji oleh lima perguruan besar dan puluhan tokoh bayaran.
Sejak malam berdarah itu, Liang Shan menghilang, hanya untuk muncul kembali sebagai sosok asing yang memikul satu tujuan, yaitu membalas dendam!
Namun, dendam hanyalah awal dari kisah yang jauh lebih kelam.
Liang Shan mewarisi Kitab Golok Sunyi Mengoyak Langit, ilmu silat rahasia yang terdiri dari sembilan jurus mematikan—masing-masing mengandung makna kesunyian, penderitaan, dan kehancuran.
Tapi kekuatan itu datang bersama kutukan, ada racun tersembunyi dalam tubuhnya, yang akan bereaksi mematikan setiap kali ia menggunakan jurus kelima ke atas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nnot Senssei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Angin utara menderu seperti rintihan ribuan jiwa yang tersesat di padang es. Setelah pertempuran berdarah di Benteng Laut Timur, kesehatan Liang Shan merosot tajam.
Hal itu menjadi saksi bisu betapa mahalnya harga yang harus dibayar untuk membangkitkan Pedang Tanpa Wujud. Namun, tidak ada waktu untuk meratapi hal tersebut.
Dengan sisa-sisa tenaga yang dijaga oleh ramuan darurat Han Xiang dan petikan kecapi Yue Niang yang kini berfungsi sebagai penopang denyut jantungnya, Liang Shan memulai perjalanan paling berbahaya dalam hidupnya, yaitu menuju Istana Es Gunung Selatan.
Gunung Selatan bukanlah sekedar pegunungan biasa. Rakyat setempat biasa menyebutnya "Tembok Dewa yang Membeku".
Di sana, suhu udara mampu membekukan arak dalam sekejap, dan salju yang turun dipercaya mengandung partikel energi Yin murni yang bisa menghancurkan basis tenaga dalam pendekar yang tidak siap.
"Liang Shan, minumlah ini," Han Xiang menyodorkan cawan berisi cairan berwarna merah kental.
"Ini adalah ekstrak Ginseng Darah yang dicampur dengan empedu ular gurun. Hanya ini yang bisa menjaga suhu tubuhmu agar tetap hangat."
Liang Shan meminumnya tanpa ekspresi. Matanya kini sering kali menatap kosong ke arah utara.
Sejak menyatukan jiwanya dengan Pedang Tanpa Wujud, kepribadiannya menjadi semakin dingin, seolah-olah kemanusiaannya perlahan terkikis oleh es yang bersemayam di dalam nadinya.
"Terima kasih, Xiang-er," katanya, suaranya parau, dingin seperti gesekan logam.
Saat mereka mulai mendaki kaki gunung, dunia persilatan tidak membiarkan mereka melangkah dengan tenang. Berita bahwa Liang Shan terluka parah setelah membunuh Jenderal Long Zhanyuan telah menyebar luas.
Para serigala dalam dunia persilatan yang serakah mulai mengendus bau darah.
Di sebuah celah sempit yang dikenal sebagai Lembah Kabut Merah, jalan mereka dihadang oleh sekelompok besar pendekar.
Kali ini bukan tentara bayaran, melainkan gabungan dari tiga sekte menengah aliran hitam: Sekte Lima Racun, Sekte Golok Setan, dan Sekte Rantai Maut.
"Liang Shan! Serahkan Golok Sunyi Mengoyak Langit dan kepalamu, maka kami akan melepaskan kedua gadis cantik itu!" teriak seorang pria pendek dengan wajah penuh bopeng, pemimpin Sekte Lima Racun.
Liang Shan menghentikan langkahnya. Ia turun dari kudanya dengan gerakan yang sangat lambat, namun setiap kakinya menyentuh tanah, timbul retakan es yang menjalar.
"Xiang-er, Yue Niang, mundur sepuluh tombak," perintah Liang Shan.
Yue Niang ingin memprotes, melihat tubuh Liang Shan yang gemetar karena hawa dingin, namun Han Xiang menahannya.
"Biarkan dia. Ini adalah cara dia tetap merasa hidup."
Setelah itu, lebih dari dua puluh pendekar menerjang secara bersamaan. Hujan senjata rahasia beracun dan tebasan golok memenuhi udara. Liang Shan tidak bergerak sedikit pun hingga serangan itu hanya berjarak satu inci dari tubuhnya.
Tiba-tiba, ia menarik napas dalam-dalam.
Liang Shan langsung mengeluarkan jurus tangan kosong dan menghadapi semua serangan lawan.
Semua senjata rahasia yang mengenainya hancur menjadi debu, dan setiap golok yang menyentuh bidang itu langsung bergetar.
Liang Shan kemudian mengangkat tangan kanannya, jarinya menunjuk ke langit.
"Mati."
Satu kata itu diikuti oleh ledakan energi Yin dan Yang yang tidak stabil. Pedang Tanpa Wujud bereaksi dengan racun di tubuhnya. Bilah-bilah energi melesat keluar seperti badai salju yang tajam.
Dalam waktu kurang dari sepuluh hitungan, lembah itu menjadi sunyi. Tidak ada teriakan panjang, hanya suara tubuh yang tumbang di atas salju yang kini berubah menjadi merah pekat.
"Kau ..." seorang tetua dari Sekte Lima Racun menggeram marah. "Aku bersumpah! Sekte Lima Racun akan terus memburumu sampai kau benar-benar mampus!"
Setelah berkata seperti itu, dia langsung pergi bersama dua tetua dari dua sekte lainnya, meninggalkan jasad para murid yang bersimbah darah.
Liang Shan berdiri di tengah tumpukan mayat, napasnya mengeluarkan uap putih yang tebal. Ia memuntahkan darah hitam, tanda bahwa racun di tubuhnya sedang memberontak.
"Satu langkah lagi ..." bisiknya pada diri sendiri.
Tiba-tiba, dari atas tebing, terdengar tepuk tangan yang lambat. Seorang wanita cantik mengenakan pakaian sutra putih yang menyapu salju muncul.
Dia adalah Ratu Es Gunung Selatan yang asli, ditemani oleh Xue Me.
"Luar biasa. Putra Liang Qi memang memiliki bakat yang mengerikan," ucap Ratu Es. Wajahnya yang sangat cantik tampak abadi, tidak menua sedikit pun, namun matanya memancarkan kesedihan yang mendalam yang bercampur dengan kebencian.
Liang Shan menatap wanita itu. "Kau ..., kau adalah alasan mengapa Ayahku dituduh berkhianat!"
Ratu Es terdiam sejenak, lalu tertawa kecil, suara tawa yang bisa menyayat hati.
"Liang Qi menjanjikan dunia padaku, namun ia memilih wanita desa biasa dan rahasia pusaka konyol itu daripada cintaku. Jika aku tidak bisa memilikinya, maka tidak boleh ada yang memilikinya, termasuk keturunannya."
Ratu Es melambaikan tangannya. Tiba-tiba, salju di bawah kaki Han Xiang dan Yue Niang membeku dan mengunci kaki mereka.
"Liang Shan, jika kau ingin menyelamatkan mereka dan mendapatkan permata itu kembali, kau harus melewati Labirin Cermin Es. Di sana, kau tidak akan bertarung melawan musuh fisik, tapi melawan penyesalan terdalammu. Jika kau gagal, kau akan membeku selamanya menjadi patung es di istanaku."
Liang Shan menatap Han Xiang yang menggigil ketakutan. Ia tahu ini adalah perangkap, namun ia tidak punya pilihan.
"Aku akan masuk," ucap Liang Shan tegas.
Dia lalu berjalan melewati Ratu Es dan memasuki gerbang istana yang terbuat dari es abadi. Di dalam, Liang Shan disambut oleh ribuan cermin es yang memantulkan bayangannya.
Namun, bayangan di cermin itu mulai bergerak sendiri. Ia melihat ayahnya, Liang Qi, sedang dipukuli, juga melihat ibunya sedang menangis.
Dan yang paling mengerikan, ia melihat dirinya sendiri sedang mencekik Han Xiang dengan tangan yang berwarna biru kehitaman.
"Ini tidak nyata ..." Liang Shan menutup matanya, namun suara-suara itu masuk langsung ke dalam jiwanya.
"Kau membunuh mereka semua, Shan-er ..." suara bayangan Liang Qi di cermin tiba-tiba terdengar. "Kau membawa maut kepada siapa pun yang mencintaimu. Berhentilah berjuang, dan tidurlah di dalam es ini."
Liang Shan merasakah tubuhnya semakin berat. Es mulai menjalar dari kakinya menuju pinggangnya. Kesadarannya mulai hilang.
Tetapi, di saat kritis itu, ia teringat teknik Sembilan Matahari dan ajaran Pedang Tanpa Wujud, bahwa pedang yang sejati tidak menebas daging, tapi menebas ilusi.
Liang Shan tidak lagi mencoba melawan es itu dengan kekasaran, melainkan membiarkan hawa panas dari pusat energinya mengalir lembut, bukan untuk menghancurkan cermin, tapi untuk menyinari kegelapan di dalam hatinya.
"Ayahku mati untuk kebenaran. Aku hidup untuk kebenaran. Dan kebenaran tidak memiliki bayangan!"
Liang Shan menghentakkan kakinya. Seluruh cermin es di labirin itu pecah berkeping-keping. Kekuatan Pedang Tanpa Wujud meledak ke segala arah, menghancurkan ilusi Ratu Es.
Beberapa saat kemudian, dia keluar dari labirin, berdiri di aula utama istana. Di sana, Ratu Es sedang memegang kelima permata itu di atas sebuah altar es.
"Kau berhasil keluar," ujar Ratu Es tampak terkejut. "Tapi tubuhmu sudah hancur. Kau tidak akan bisa mengalahkan aku di rumahku sendiri."