NovelToon NovelToon
Transmigrasi Si Gadis Polos

Transmigrasi Si Gadis Polos

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Romansa / Reinkarnasi / Cintapertama
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Lyly little

Shabila Diaskara adalah gadis polos dan lugu yang bersikap hiperaktif serta pecicilan demi menarik perhatian ayahnya—seorang Daddy yang membencinya karena kematian sang ibu saat melahirkan dirinya. Dalam sebuah insiden, Shabila berharap bisa merasakan kasih sayang seorang ayah sebelum akhirnya kehilangan kesadaran.

Saat terbangun, Shabila menyadari dirinya telah bertransmigrasi ke tubuh Aqila Weylin, gadis cantik namun pendiam dan cupu. Kini dipanggil “Aqila,” Shabila—yang akrab disapa Ila — mulai mengubah penampilan dan sikapnya sesuai kepribadiannya yang ceria dan manja.

Beruntung, kehidupan barunya justru memberinya keluarga yang penuh kasih. Sikap hiperaktif dan manja Ila membuat seluruh keluarga Aqila gemas, bukan marah. Setelah tak pernah merasakan cinta keluarga di kehidupan sebelumnya, Ila bertekad menikmati kesempatan kedua ini sepenuh hati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lyly little, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 **Ponsel Baru untuk Ila**

"Daddy..." lirih Ila dengan suara yang sangat pelan, nyaris tak terdengar, saat menatap wajah Zidan yang tampak begitu nyata di depan matanya.

Ila mendadak menunduk dalam, menyembunyikan wajahnya di balik helaian rambutnya yang halus. Ada rasa takut yang menjalar di hatinya—takut jika sosok di depannya, sang Daddy dari kehidupan masa lalunya, belum bisa menerimanya kembali. Ila memilih untuk membisu, menekan keinginan kuat untuk berteriak memanggilnya.

"Jangan panggil Aqila lagi, putriku tidak menyukai panggilan itu sekarang," jelas Bryan tanpa menaruh curiga sedikit pun. Ia hanya mengira putrinya tiba-tiba merasa malu atau kelelahan.

"Oh, benarkah? Terus sekarang dipanggil siapa?" tanya Zidan sambil tersenyum ke arah Ila. Di mata Zidan, gadis kecil di depannya kini terlihat jauh lebih segar, tidak 'culun' lagi seperti ingatannya, dan entah mengapa penampilan Ila saat ini justru sangat mengingatkannya pada putrinya yang sudah meninggal.

"Ila," ucap Bryan singkat namun bangga.

Deg!

"I-ila?" Jantung Zidan seakan berhenti berdetak sesaat. Nama itu... nama panggilan kesayangan yang sama dengan mendiang putrinya. Zidan terpaku, kenangan masa lalu mendadak berputar di kepalanya.

"Kamu kenapa, Dan?" tanya Bryan saat menyadari perubahan ekspresi di wajah sahabatnya yang tiba-tiba berubah sendu dan teduh.

Zidan tersentak dari lamunannya. "Ah, tidak apa-apa. Oh ya, kalian ke sini baru sampai atau sudah lama?" Zidan mencoba mengalihkan pembicaraan secepat mungkin. Ia tidak ingin tenggelam dalam rasa bersalah yang terus menghantuinya setiap kali teringat putrinya sendiri.

"Kami baru saja datang," sahut Zeline lembut, mendahului Bryan.

Zidan hanya mengangguk pelan. Namun, pandangannya tak bisa lepas dari sosok Ila. Jujur saja, ada getaran aneh di hatinya; ia merasa seolah-olah melihat bayangan putrinya sendiri dalam tubuh Ila. Zidan sangat ingin mengajak Ila berbicara lebih jauh, namun melihat gadis kecil itu terus menunduk takut, ia mengurungkan niatnya.

"Kamu baru sampai juga? Sendiri saja?" tanya Bryan lagi.

"Iya, aku baru sampai. Rencananya mau ke restoran di mall ini untuk bertemu klien penting," jawab Zidan sambil merapikan jasnya.

"Oh, ya sudah. Semoga urusanmu lancar," ucap Bryan mendoakan.

"Iya, semoga saja. Kalau begitu aku duluan ya. Ila, Om pamit dulu!" Zidan berpamitan dengan suara yang agak serak. Ila tetap diam, tak berani mendongak sedikit pun.

(Batin Ila: Daddy... Ila rindu. Ila pengin peluk Daddy, tapi Ila takut Daddy tidak suka dan memarahi Ila lagi...) gumam Ila dalam hati dengan pilu sambil melirik singkat ke arah punggung Zidan yang mulai menjauh.

"Mas, ayo..." ajak Zeline sambil menyentuh lengan suaminya yang masih menatap kepergian Zidan.

"Ah, ayo." Bryan kembali menggenggam erat tangan mungil Ila, membimbingnya menuju lantai tiga. Perlahan, keceriaan Ila kembali muncul. Ia adalah anak yang kuat; rasa sedih itu segera ia tepis demi menikmati waktu bersama Bryan dan Zeline.

Begitu kaki mereka berpijak di lantai tiga, mata Ila langsung berbinar melihat stan es krim dengan berbagai warna yang menggoda.

"Bunda, look! Ila mau itu!" seru Ila riang sambil menunjuk penjual es krim tersebut.

Zeline dan Bryan mengikuti arah telunjuk kecil itu lalu tersenyum kompak. "Ila mau, hm?" tanya Bryan dengan nada suara yang sangat lembut.

Ila mengangguk dengan gerakan lucu yang membuat rambutnya bergoyang. "Ila mau, Ila mau... mau banyak-banyak, Ayahhh!" Ia melompat-lompat kecil karena kegirangan.

"Jangan banyak-banyak ya, nanti giginya sakit," sela Zeline dengan nada memperingatkan, yang seketika membuat bibir Ila mengerucut manis—tanda ia mulai cemberut.

"Satu saja ya, Princess," ucap Bryan sambil mengelus lembut rambut putrinya.

"Dua!" ujar Ila tegas. Ia mengangkat telapak tangan mungilnya,  tapi jarinya malah menunjukkan angka tiga.

Bryan terkekeh melihat kesalahan menggemaskan itu. "Itu tiga, Princess."

"Hu'um, dua!" Ila segera memperbaiki posisi jarinya menjadi dua.

"Satu atau tidak sama sekali," tegas Zeline kembali. Ia masih teringat betapa sensitifnya gigi Ila dulu terhadap makanan manis. Namun, ia tidak tahu bahwa Ila yang sekarang mungkin sudah berbeda.

Ila langsung cemberut maksimal mendengar ultimatum bundanya. Interaksi manis bin kocak antara orang tua dan anak ini tak pelak menarik perhatian pengunjung mall lainnya. Banyak yang berhenti sejenak, terpekik gemas melihat ekspresi 'menyun' Ila yang justru membuatnya terlihat sepuluh kali lebih imut.

Lantai tiga mall tersebut mendadak ramai oleh bisik-bisik kagum dari para pengunjung. Kehadiran Ila dengan wajah cemberutnya ternyata menjadi magnet perhatian.

"Gemes banget..."

"Ahh, pengin yang kaya bocil itu, Mak!"

"Andai putriku sepertinya..."

"Lihatlah wajah cemberut itu, sungguh lucu."

Begitulah seruan-seruan kecil yang tertangkap oleh indra pendengaran Zeline dan Bryan. Zeline sebenarnya harus berjuang keras menahan tawa melihat bibir putrinya yang maju beberapa senti itu, namun ia harus tetap terlihat tegas agar Ila tidak lepas kendali membeli terlalu banyak es krim.

"Satu, Bunda..." cicit Ila pelan dengan nada memelas. Padahal dalam hatinya, ia ingin memborong semua rasa yang ada.

Zeline tersenyum penuh kemenangan melihat pertahanan putrinya runtuh. "Kalau satu boleh. Ayo, kita beli," ajak Zeline sambil menarik lembut tangan kecil Ila menuju stan es krim.

Bryan merunduk sedikit, berbisik tepat di telinga putrinya untuk mengembalikan mood sang Princess. "Jangan cemberut, Princess. Gak apa-apa cuma beli satu, nantikan sehabis beli es krim kamu beli HP..." bisik Bryan lembut.

Mata Ila seketika berbinar terang. Ah! Dia hampir lupa bahwa agenda utama hari ini adalah memiliki benda pipih canggih incarannya. Rasa kesalnya menguap begitu saja, digantikan rasa tidak sabar yang meluap.

"Paman, Ila mau es krim rasa Strawberry yaaa..." pesan Ila dengan suara ceria begitu mereka sampai di depan etalase. Si penjual es krim dengan ramah mengambilkan satu scoop besar rasa jambu, lalu menyerahkannya pada tangan mungil Ila.

"Yeayyy! Ila suka es krim!" seru Ila kegirangan saat merasakan dinginnya cone di tangannya. Si penjual es krim hanya bisa terkekeh gemas melihat tingkah laku pelanggan kecilnya itu. Setelah Bryan membayar, mereka pun melanjutkan langkah menuju tujuan utama: Apple Store.

Begitu memasuki toko yang didominasi warna putih minimalis itu, Bryan langsung menghampiri salah satu pegawai yang berjaga.

"Berikan ponsel keluaran terbaru," pinta Bryan dengan gaya lugasnya.

"Ini, Tuan," ucap pegawai tersebut dengan sopan, sambil menyerahkan sebuah kotak berisi ponsel tercanggih saat ini.

Bryan menunjukkan ponsel itu pada putrinya. "Kamu suka?"

Ila mengamati ponsel berwarna putih bersih di depannya. Meskipun mewah, ada sesuatu yang kurang di matanya. "Ila mau warna biru, Ayahh..." pinta Ila dengan nada manja.

Pegawai toko itu tersenyum simpul, mencoba menjelaskan. "Maaf Nona, ponsel keluaran terbaru tidak ada yang berwarna biru."

Wajah Ila kembali mendung. Bibirnya mulai mengerucut lagi. "Tapi... tapi Ila mau warna biru..."

Pegawai tersebut tampak gemas sekaligus bingung menghadapi permintaan si bocah imut ini. Ia merasa tidak tega melihat wajah cemberut itu.

"Pakein softcase berwarna biru," sela Zeline memberikan solusi cerdas.

Pegawai tersebut dengan sigap mengambilkan softcase iPhone berwarna biru yang sangat cantik. Ia mengeluarkan ponsel dari kotaknya, lalu memasangkan case itu dengan rapi sebelum memberikannya kembali kepada Ila.

"Yeayyy biru!" pekik Ila senang sambil mengangkat ponsel barunya tinggi-tinggi.

Aksi spontan itu membuat para pengunjung lain dan pegawai Apple Store menoleh. Suara tawa dan decak gemas kembali memenuhi ruangan melihat tingkah laku Ila yang begitu ekspresif.

Bryan dan Zeline hanya bisa terkekeh melihat kebahagiaan sederhana putri mereka. Bryan kemudian mengeluarkan selembar Black Card dari dompetnya dan menyerahkannya kepada pegawai untuk menyelesaikan pembayaran.

Setelah semua urusan selesai, mereka memutuskan untuk langsung keluar dari mall dan pulang. Mereka tidak mampir ke mana-mana lagi karena guratan senja sudah mulai menghilang, menandakan hari sudah mulai gelap dan waktunya sang Princess untuk beristirahat di rumah.

1
Marsya
lupa namanya,tapi itu ketua dari abg2 ila klau gx slah,ampun dech bisa2nya lupa namanya🤣🤣🤣🤣
Little Girl ୭ৎ 。⁠*⁠♡.
maaf KA aku salah nulis tokoh harusnya Zeline bukan Radella.
Dewiendahsetiowati
Radella ini siapa Thor?
Dewiendahsetiowati
dapat ganti keluarga yang menyayangi
Dewiendahsetiowati
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!