Xu Qinqin adalah fotografer abad ke-21 yang terkenal dengan foto-fotonya yang fantastis. Ia dikenal karena citranya yang nakal namun terampil, terkadang membuat modelnya merasa kesal sekaligus terkesan dengan tingkah lakunya.
Tak disangka, setelah tanpa sengaja memotret pria aneh yang mengenakan jubah kuno, Ia justru terlempar ke tubuh istri dari Jenderal Perang tertinggi di Kekaisaran.
Istri yang tidak disentuh suami nya , disakiti oleh ibu sang jenderal , dan dinggap sampah.
"Ck , gini doang ga becus banget! Pelayan macam apa kau!" Sungut Xu Qinqin dengan berkacak pinggang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13 : Melawan Preman
Sinar matahari mulai meredup, menyisakan gurat kemerahan di langit Gozuang saat Qinqin melangkah keluar dari gerbang belakang Kediaman Jenderal. Sesuai kesepakatan, dua pengawal bayangan mengikuti dari jarak jauh. Qinqin tahu mereka ada di sana, tapi ia punya cara untuk membuat mereka 'kehilangan jejak' sejenak.
Qinqin mengenakan pakaian linen sederhana berwarna abu-abu kusam, rambut emasnya disembunyikan di balik tudung bambu. Xue mengikuti di belakangnya dengan langkah ragu.
"Nona, Pasar Gelap di pinggiran Barat itu berbahaya. Banyak orang bermata gelap dan penyamun di sana," bisik Xue cemas.
Qinqin membetulkan letak tudungnya. "Justru di tempat gelap, kita bisa melihat siapa yang sebenarnya bersinar, Xue. Diam dan ikuti saja langkahku."
Mereka memasuki sebuah lorong sempit yang lembap. Qinqin sengaja berbelok ke kerumunan pedagang kain yang ramai, lalu dengan gerakan lincah, hasil latihan Qinggong singkatnya, ia menarik Xue masuk ke celah bangunan sempit dan memanjat dinding rendah. Kedua pengawal di belakang sempat bingung kehilangan sosok majikannya di antara tumpukan gulungan sutra.
Qinqin sampai di sebuah gubuk tua berbau rempah menyengat. Seorang pria tua dengan mata katarak menyambutnya.
"Aku butuh 'bunga pemutus mimpi' dan ramuan pembersih darah untuk segala penyakit," ujar Qinqin tanpa basa-basi. Ia tidak menyebutkan kata racun. Di dunia medis, racun dalam dosis kecil adalah obat, begitu pun sebaliknya.
"Ini bunga pemutus mimpi dan... Untuk 'ramuan pembersih darah untuk segala penyakit' kau bisa mencari nya di gunung Qingyun, Nona." Lontar pria tua sembari menyelipkan 'bunga pemutus mimpi' ke tangan Qinqin. Wanita itu mendecak dan segera membayar pria tua berjambang merah dengan cekatan.
Setelah mendapatkan apa yang ia cari, beberapa botol kecil dan bungkusan kertas berisi serbuk, Qinqin segera menyembunyikannya di dalam lipatan stagen pinggangnya yang tebal. Ia tidak akan membiarkan siapa pun, termasuk Wu Lian, tahu bahwa ia sedang menyiapkan "kejutan" untuk Nyonya Besar Wu.
Namun, saat hendak keluar dari pasar gelap, tiga pria bertubuh kekar dengan wajah tertutup kain menghadang jalan mereka. Salah satu dari mereka memegang rantai besi yang berdenting mengerikan.
"Serahkan uangmu, Nona Manis. Atau kau ingin kami robek dagingmu?" gertak salah satu preman itu.
Xue menjerit tertahan, namun Qinqin justru mendengus geli. Ia melangkah maju, melepaskan tudung bambunya hingga rambut emasnya tergerai indah namun matanya menatap tajam ke arah pria preman.
"Uangku terlalu mahal untuk kalian. Tapi kalau kalian mau nyawa, aku bisa memberikannya secara cuma-cuma," ujar Qinqin dengan nada tengil yang khas.
Preman dengan rantai besi itu menyerang duluan. Rantai berdesing menuju kepala Qinqin. Dengan refleks yang sudah terasah dari latihannya bersama Huo Lu, Qinqin merunduk rendah hingga perutnya hampir menyentuh tanah.
Brak!
Rantai itu menghantam tiang kayu hingga hancur. Qinqin tidak membiarkan lawannya menyerang lagi. Ia melesat maju, menggunakan teknik langkah kaki yang diajarkan Huo Lu. Ia memutar tubuhnya dan memberikan tendangan memutar tepat di rahang pria itu.
Krak!
Pria itu tersungkur. Dua preman lainnya maju bersamaan. Qinqin mencabut belati perak pemberian Wu Lian. Ia tidak menusuk, melainkan menggunakan gagang belatinya untuk menghantam titik saraf di leher lawan pertamanya, lalu dengan gerakan melintir, ia menendang lutut lawan kedua hingga terdengar bunyi patahan.
Hanya dalam hitungan menit, ketiga pria itu mengerang di tanah.
"Latihan malam memang tidak sia-sia," gumam Qinqin sambil mengelap belatinya ke baju salah satu preman yang pingsan.
Sontak setelah ia menumbangkan kelompok preman, Qinqin menyeret tangan Xue untuk segera kembali ke kerumunan orang di pasar, sebelum dicurigai oleh pengawal bayangan milik Wu Lian.
***
Sesampainya di Paviliun Anggrek, Qinqin segera mengganti pakaiannya. Ia menyimpan botol-botol dari pasar gelap di dalam sebuah kotak rias yang memiliki dasar ganda.
Tak lama kemudian, Wu Lian masuk. Wajahnya tampak curiga. "Pengawalku bilang mereka kehilanganmu di pasar kain selama lima menit. Apa yang kau lakukan?"
Qinqin sedang duduk santai sambil menyesap teh, wajahnya tampak sangat sopan dan manis. Sungguh akting yang sempurna. "Aduh Jenderal, jangan galak-galak. Namanya juga perempuan, kalau lihat kain bagus ya lupa diri. Aku tadi cuma asyik pilih-pilih sutra untuk baju baru Xue. Tanya saja dia."
Xue mengangguk kaku, mencoba menyembunyikan memar kecil di lengannya akibat tarikan Qinqin tadi.
Wu Lian berjalan mendekat, matanya menatap tajam ke arah tangan Qinqin yang tergores sedikit. "Lalu kenapa tanganmu lecet?"
Qinqin tertawa kecil, menepuk kursi di sebelahnya agar Wu Lian duduk. "Tadi ada kucing liar galak sekali, aku mencoba menangkapnya tapi malah dicakar. Jenderal, daripada urus lecet kecil ini, lebih baik bantu aku. Aku butuh informasi tentang Gunung Qingyun. Katanya di sana ada obat untuk penyakit ayahku."
Wu Lian menyipitkan mata. Ia merasa istrinya ini sedang menyembunyikan sesuatu yang besar, tapi ia tidak punya bukti. "Gunung itu sarang para pertapa dan binatang buas. Jika kau nekat ke sana hanya dengan kemampuan kakimu yang masih gemetar itu, kau hanya akan mengantarkan nyawa."
"Maka dari itu, ajari aku teknik menggunakan tenaga dalam pagi besok," pinta Qinqin sambil memberikan senyum paling manis yang ia miliki. "Atau kau takut istrimu ini menjadi lebih hebat darimu?"
Wu Lian mendengus, namun di sudut bibirnya muncul tarikan tipis yang hampir menyerupai senyum. "Besok subuh di lapangan belakang. Jangan terlambat, atau aku akan mengurungmu lagi."
Setelah Wu Lian pergi, Qinqin mengeluarkan botol kecil berisi serbuk pemutus mimpi. "Nyonya Tua, kau senang ketika aku 'dibersihkan' oleh dukun kemarin kan? Lalu menaruh racun tidur di sup. Sekarang, mari kita lihat siapa yang jiwanya akan lebih gelisah mulai malam ini."
Qinqin merencanakan sesuatu yang jauh lebih halus daripada racun mematikan. Ia akan membuat mertuanya berhalusinasi setiap malam, hingga wanita tua itu sendiri yang akan memohon ampun padanya.
***
Happy Reading ❤️
Jangan lupa like, komen, ikuti penulis noveltoon ANWi, vote(kalo ada) dan rate 5 , terimakasih❤️
semoga tuh rencana mertua gagal total.....
😡
aku menunggu kelanjutan nya thor😍😍
semangat up trus thor😍
bar bar gak ya ne MC nya.. suka kali klo dia bisa war😂😂😂😂