Rajendra Baskara, putra sulung keluarga konglomerat, dikhianati oleh adik angkatnya dan istrinya sendiri demi warisan keluarga. Setelah dibunuh, ia terbangun kembali di usia 20 tahun—sebelum pernikahan dan sebelum kehancuran hidupnya. Dengan ingatan masa depan, kecerdasan, dan pengalaman pahit, Rajendra memilih memutus hubungan keluarga dan membangun kerajaan bisnisnya sendiri, sambil menyiapkan balas dendam yang perlahan, menyakitkan, dan tak terhindarkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon asep sigma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MOMENTUM
Kamis siang, Rajendra duduk di kantor Anton Wijaya—ruangan yang sama seperti pertama kali mereka bertemu dua bulan lalu.
Tapi kali ini ada orang ketiga.
Richard Tanuwijaya duduk di sofa panjang—pria berusia empat puluhan dengan kacamata kotak tebal, kemeja batik lengan pendek, rambut mulai memutih di pelipis. Wajahnya tenang tapi matanya tajam—mata orang yang terbiasa menilai angka dan melihat celah.
Anton duduk di kursi kerjanya—memperkenalkan mereka berdua dengan nada santai tapi profesional.
"Richard, ini Rajendra Baskara—founder LokalMart. Rajendra, ini Richard Tanuwijaya—managing partner di Nusantara Ventures."
Mereka berjabat tangan—pegangan singkat tapi erat.
"Silakan duduk," kata Richard sambil menunjuk kursi di seberangnya. "Aku udah denger banyak dari Anton soal startup kamu. Tertarik untuk tahu lebih detail."
Rajendra duduk—laptop di pangkuan, USB flashdisk di tangan.
"Terima kasih udah mau ketemu, Pak Richard. Boleh saya present langsung?"
"Langsung aja. Aku suka yang to the point."
Rajendra mencolokkan flashdisk ke laptop—menampilkan slide pertama ke layar proyektor kecil di dinding.
LokalMart: Membawa UMKM Indonesia ke Era Digital
Richard menatap layar—wajahnya tidak berubah, masih datar.
Rajendra mulai bicara—nadanya tenang, jelas, tidak terburu-buru.
"Indonesia punya lebih dari 50 juta UMKM. Sebagian besar masih jual produk secara offline—pasar tradisional, toko kecil, door to door. Mereka punya produk berkualitas—batik, kerajinan tangan, kopi lokal, makanan tradisional—tapi mereka gak punya akses ke pasar yang lebih luas."
Slide kedua muncul—grafik pertumbuhan pengguna internet Indonesia 2005-2010.
"Di sisi lain, pengguna internet Indonesia tumbuh 20 persen per tahun. Tahun 2010 ini ada sekitar 30 juta pengguna internet. Dan angka itu akan terus naik—tahun 2015 prediksi bisa 80 juta."
Richard mengangguk pelan—matanya fokus ke grafik.
"Tapi ada masalah," lanjut Rajendra. "Orang Indonesia masih takut belanja online. Kenapa? Karena gak ada trust. Takut barang gak sampai. Takut kualitas jelek. Takut ditipu."
Slide ketiga—diagram masalah dan solusi.
"LokalMart solve tiga masalah utama: pertama, payment system yang aman dengan opsi COD—cash on delivery. Kedua, logistik terintegrasi dengan tracking real-time. Ketiga, quality control ketat—semua seller harus lewat verifikasi, semua produk harus lewat approval."
Richard mengangkat tangan—memberi isyarat untuk berhenti sebentar.
"Tunggu. COD itu risky. Kamu harus keluar modal dulu buat bayar seller, tapi belum tentu buyer bayar waktu barang sampai. Gimana kamu handle risiko itu?"
Rajendra sudah siap dengan pertanyaan ini.
"Kita kerja sama dengan logistik partner yang punya sistem COD collection. Kurir yang ambil uang langsung dari buyer, terus transfer ke kita setiap hari. Kita potong fee 2 persen dari total transaksi untuk cover operational cost dan risiko."
"Berapa persen transaksi yang biasanya gagal di COD?"
"Based on data dari kompetitor, sekitar 5-10 persen. Tapi kita bisa turunkan dengan sistem confirmation double—buyer harus confirm ordernya lewat SMS atau telepon sebelum barang dikirim."
Richard mengangguk—seperti puas dengan jawaban itu.
"Lanjut."
Rajendra klik slide berikutnya—financial projection.
"Proyeksi revenue tahun pertama: 500 juta. Itu asumsi kita punya 50 seller aktif, masing-masing jual rata-rata 100 juta per tahun, kita ambil commission 10 persen."
Richard menatap angka di layar—lalu bertanya lagi.
"Asumsi 50 seller realistis?"
"Realistis. Kita udah ada tiga seller confirmed, tujuh lagi dalam proses negotiation. Target kita bulan pertama dapat 15 seller, bulan ketiga 30 seller, bulan keenam 50 seller."
"User acquisition strategy?"
"Content marketing dan word of mouth. Kita bikin blog dengan artikel tentang produk lokal, tentang seller stories, tentang cara belanja online yang aman. Kita juga pakai Facebook dan Twitter untuk build community. Budget marketing bulan pertama 10 juta—mostly untuk Facebook ads dan Google Ads."
Richard mencatat sesuatu di buku kecil di tangannya—lalu menatap Rajendra lagi.
"Unit economics gimana? Cost per acquisition berapa? Lifetime value customer berapa?"
Rajendra diam sebentar—pertanyaan ini agak tricky karena mereka belum punya data real.
Tapi ia punya data dari kehidupan pertamanya.
"Estimasi cost per acquisition sekitar 50 ribu rupiah per customer baru—itu asumsi conversion rate dari ads sekitar 2 persen. Lifetime value customer, kalau mereka repeat order minimal tiga kali dalam setahun dengan average order value 200 ribu, LTV-nya sekitar 600 ribu. Ratio LTV to CAC sekitar 12:1—itu healthy."
Richard berhenti menulis—menatap Rajendra dengan tatapan berbeda sekarang.
Tatapan lebih serius.
"Kamu udah pernah kerja di e-commerce sebelumnya?"
"Belum. Tapi saya banyak research—baca case study dari Amazon, eBay, Alibaba. Dan saya lihat pola yang sama—semua mulai dari trust problem, semua solve dengan payment flexibility dan logistics reliability."
Richard menatapnya lama—seperti mencoba baca apakah ini bullshit atau genuine insight.
Lalu ia tersenyum tipis.
"Oke. Lanjut ke slide terakhir."
Rajendra klik slide terakhir—Funding Ask.
"Kita minta funding 500 juta untuk 18 bulan runway. Breakdown: 200 juta untuk hiring—engineer, marketing, customer service. 150 juta untuk marketing dan user acquisition. 100 juta untuk operational cost—sewa kantor, server, logistics. 50 juta untuk buffer."
"Equity yang kamu tawarkan?"
"15 persen."
Richard menatap Anton—Anton mengangguk pelan.
Lalu Richard menatap Rajendra lagi.
"Valuasi 3,3 miliar untuk startup yang belum launch?"
"Belum launch tapi sudah punya product ready, sudah punya seller pipeline, sudah punya clear go-to-market strategy. Dan kita launch beta minggu depan."
Richard diam—jari-jarinya mengetuk-ngetuk buku catatannya.
Anton bicara untuk pertama kalinya sejak presentation mulai.
"Richard, aku udah lihat product-nya. Solid. Tim-nya juga solid—programmer dari ITB, marketing dari agensi bagus, logistik dari ex-Grup Baskara. Dan Rajendra sendiri punya vision yang jelas."
Richard menatap Anton—lalu menatap Rajendra lagi.
"Aku tertarik. Tapi aku gak bisa putuskan sekarang. Aku perlu due diligence dulu—cek financial record, cek legal document, cek team background. Itu butuh waktu minimal dua minggu."
Rajendra mengangguk—sudah mengantisipasi ini.
"Saya paham. Semua dokumen bisa saya kirim hari ini."
"Bagus. Satu lagi—aku mau lihat product-nya langsung. Demo live. Bisa?"
"Bisa. Kita launch beta Senin depan. Bapak bisa datang ke kantor kita, saya demo langsung."
Richard berdiri—mengulurkan tangan.
"Deal. Aku akan datang Senin. Jam berapa?"
"Jam dua siang?"
"Oke. Kirim alamat kantor kamu ke email aku."
Mereka berjabat tangan lagi—kali ini lebih lama.
Richard berjalan keluar ruangan—meninggalkan Rajendra dan Anton berdua.
Anton tersenyum lebar—menepuk bahu Rajendra.
"Bagus. Kamu present dengan baik. Richard jarang tertarik langsung begitu—biasanya dia langsung tolak kalau gak suka."
Rajendra menghela napas panjang—baru sadar dia menahan napas sejak tadi.
"Thanks, Pak Anton. Buat intro-nya juga."
"Sama-sama. Tapi inget—due diligence itu phase paling penting. Dia akan cek semua detail. Kalau ada yang gak match, dia bisa langsung mundur."
"Saya paham."
Anton menatapnya—lalu bicara dengan nada lebih serius.
"Satu lagi. Richard tanya soal background tim. Kamu bilang logistik dari ex-Grup Baskara. Itu Bambang kan?"
"Iya."
"Bambang dipecat dari Grup Baskara dua tahun lalu. Richard mungkin akan tanya kenapa. Kamu harus siap jawab."
Rajendra mengangguk—sudah punya jawaban.
"Bambang dipecat karena dia tolak manipulasi data. Itu bukti dia punya integritas. Justru itu alasan saya rekrut dia."
Anton tersenyum.
"Good spin. Pakai itu kalau Richard tanya."
Rajendra pulang ke kantor dengan perasaan campur aduk.
Lega karena presentation jalan lancar.
Tegang karena due diligence akan mulai.
Hopeful karena ada kemungkinan dapat funding besar.
Tapi juga waspada—karena semakin besar funding, semakin besar ekspektasi, semakin besar tekanan.
Dia sampai kantor jam lima sore—Arief, Rian, dan Dina masih di sana, sibuk dengan laptop masing-masing.
"Gimana?" tanya Dina langsung begitu melihat Rajendra masuk.
"Dia tertarik. Mau liat demo live Senin depan."
Arief berdiri dari kursinya—mata berbinar.
"Serius? Berarti kita harus finalisasi semua bug sebelum Senin?"
"Iya. Berapa bug yang masih outstanding?"
Rian membuka spreadsheet di laptopnya—scroll ke bawah.
"Masih ada 23 bug. Tapi sebagian besar minor—typo, layout issue, loading time. Yang critical cuma tiga—payment confirmation kadang gak muncul, tracking number kadang salah generate, sama shopping cart kadang reset sendiri."
"Prioritas critical dulu," kata Rajendra. "Minor bisa fix belakangan. Yang penting core functionality jalan sempurna."
"Siap. Gue sama Rian bisa lembur sampe Minggu kalau perlu."
"Gue juga bantu testing," tambah Dina. "Dari sisi user experience, gue cek flow-nya udah smooth belum."
Rajendra menatap mereka bertiga—orang-orang yang bahkan belum dibayar full karena budget ketat, tapi tetap kerja keras seolah-olah ini perusahaan mereka sendiri.
"Thanks, guys. Seriously. Gue gak bisa lakuin ini tanpa kalian."
Arief nyengir.
"Ah lebay. Kita kan team. Kalau LokalMart sukses, kita semua sukses."
Dina menambahkan dengan nada bercanda tapi serius.
"Dan kalau LokalMart gagal, kita semua nganggur bareng. Jadi lebih baik kita sukses."
Mereka semua ketawa—suasana ruangan jadi lebih ringan.
Tapi Rajendra tahu—di balik jokes itu, ada kekhawatiran real.
Mereka semua bertaruh dengan LokalMart.
Dan dia tidak boleh gagal.
Malam itu, Rajendra duduk sendirian di kantor lagi—yang lain sudah pulang jam delapan.
Laptop terbuka—email dari Hartono masuk jam sembilan malam.
Subjek: Sidang Kedua - 15 Juli 2010
Rajendra,
Sidang kedua besok. Prof. Dr. Soewandi akan hadir sebagai saksi ahli pihak penggugat. Saya sudah siapkan strategi cross-examination. Dr. Anwar juga sudah confirm hadir sebagai saksi ahli kita.
Datang jam 9 pagi. Jangan terlambat.
Salam,
Hartono
Rajendra menatap email itu—lalu menatap kalender di dinding.
Besok Jumat.
Sidang pukul sepuluh pagi.
Demo untuk Richard Senin siang.
Semuanya bertumpuk dalam satu minggu.
Dia menutup laptop—bersandar di kursi—menatap langit-langit.
Kadang dia bertanya pada diri sendiri—apakah ini worth it?
Apakah semua tekanan ini, semua beban ini, semua konflik ini, worth it?
Lalu dia ingat—kehidupan pertamanya.
Mati sendirian di lantai kantor sendiri. Dikhianati orang-orang terdekat. Tidak bisa berbuat apa-apa karena terlambat sadar.
Dan jawaban selalu sama.
Ya.
Ini worth it.
Karena apapun yang terjadi sekarang—sekeras apapun, sesulit apapun—setidaknya dia punya kontrol.
Setidaknya dia yang pegang kendali hidupnya sendiri.
Bukan orang lain.
Dia bangkit—mematikan lampu kantor—mengunci pintu—lalu berjalan ke halte bus.
Jakarta malam hari lebih sepi—jalanan tidak semacet siang, udara sedikit lebih sejuk meski masih panas.
Bus datang sepuluh menit kemudian—setengah kosong.
Rajendra duduk di pojok belakang—menatap jendela—melihat lampu-lampu kota yang bergerak cepat.
Ponselnya bergetar—pesan dari Dina.
"Bro, gue udah finalisasi design untuk demo Senin. Besok gue kirim ke lu buat review. Good luck buat sidang besok. Gue doain."
Rajendra tersenyum kecil.
Mengetik balasan.
"Thanks, Din. Lu juga istirahat yang cukup. Jangan lembur terus."
Balasan datang cepat.
"Siap, bos. Tapi lu juga ya. Lu keliatan makin kurus akhir-akhir ini. Jangan lupa makan."
Rajendra menatap pesan itu—lalu menatap tubuhnya sendiri.
Memang lebih kurus.
Kemeja yang dua bulan lalu pas sekarang agak longgar di bagian pinggang.
Tapi dia tidak punya waktu untuk mikirin itu.
Besok masih ada sidang.
Lusa ada bug fixing marathon.
Senin ada demo investor.
Satu per satu.
Pelan-pelan.
Sampai semuanya selesai.
[ END OF BAB 11 ]