Kata orang, cinta itu buta. Buat Kara Anindita, cinta itu bukan cuma buta, tapi juga bikin miskin mendadak.
Demi menikah dengan Rio Pratama—cowok biasa yang dia pikir tulus mencintainya apa adanya—Kara rela melakukan "prank" terbesar dalam hidupnya. Dia menyembunyikan identitasnya sebagai pewaris tunggal Anindita Group, raksasa properti nomor satu di negeri ini. Kara menukar kartu kredit unlimited-nya dengan uang belanja recehan, menukar penthouse mewahnya dengan kontrakan petak yang atapnya bocor, dan menukar gaun desainernya dengan daster diskonan di pasar kaget.
Kara pikir, hidup sederhana asal penuh cinta itu indah.
Tapi ternyata, "tulus" itu ada masa kedaluwarsanya.
Tiga tahun menikah, setelah karier Rio menanjak (yang Rio nggak tahu, itu berkat koneksi "orang dalam" Kara), sikap suaminya berubah 180 derajat. Rio mulai sombong, gila hormat, dan menganggap pengorbanan Kara sebagai kewajiban istri yang tidak berpenghasilan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32: Cincin Berlian dan Proposal Merger
Suasana di dalam mobil Maybach Damian hening. AC mobil berdesis pelan, kontras dengan gemuruh di kepala Kara.
Damian melirik Kara yang sejak tadi diam menatap iPad-nya. Dia mengira Kara sedang menahan tangis akibat hinaan ibunya tadi.
"Ra," panggil Damian lembut, tangannya terulur menyentuh bahu Kara. "Jangan dengerin Mama. Mulutnya emang gitu. Kita nggak butuh restu dia. Kita bisa kawin lari kalau perlu."
Kara menoleh. Wajahnya tidak basah oleh air mata. Justru matanya menyala dengan api ambisi.
"Kawin lari?" Kara terkekeh sinis. "Itu gaya Rio, Dam. Gaya pecundang. Aku nggak mau lari. Aku mau menaklukkan."
Kara menyodorkan iPad-nya ke wajah Damian. Layar itu menampilkan grafik saham dan valuasi aset kedua perusahaan mereka.
"Liat ini. Valuasi Anindita Group 20 Triliun. Cakra Corp 35 Triliun. Kalau kita jalan sendiri-sendiri, Ibumu masih bisa nekan aku lewat koneksi politiknya. Dia bisa bikin bisnisku susah."
"Tapi..." Kara menggeser jarinya di layar. "Kalau kita Merger. Kalau kita gabungkan dua raksasa ini jadi satu holding... valuasi kita jadi 55 Triliun lebih. Kita bakal menguasai pasar properti, retail, dan tambang di Asia Tenggara."
Damian tertegun. "Maksud kamu?"
"Menikah denganku bukan cuma soal cinta, Dam. Ini soal benteng pertahanan," jelas Kara logis, mode CEO-nya aktif penuh.
"Kalau aku jadi pemegang saham mayoritas bersamamu di perusahaan gabungan ini, Ibumu nggak akan berani nyentuh aku. Karena kalau dia nyerang aku, dia nyerang warisan Cakra yang dia agung-agungkan itu."
Kara menatap Damian tajam. "Kita ikat dia dengan keserakahannya sendiri. Gimana?"
Damian menatap wanita di depannya dengan rasa kagum yang meluap-luap.
Biasanya wanita yang dihina ibunya akan minta putus atau minta dibela. Kara? Dia malah merancang akuisisi korporat untuk membungkam calon mertua.
"Jenius," bisik Damian. Senyumnya mengembang. "Kamu bener-bener Ratu, Kara. Oke. Kita Merger. Kita bikin Mama nggak punya pilihan selain nerima kamu atau liat kerajaaannya runtuh."
London, Inggris. Pukul 07.00 pagi waktu setempat.
Di sebuah apartemen mewah di Kensington, Clarissa sedang menenggak aspirin untuk meredakan sakit kepalanya.
Sejak konferensi pers itu, dia bersembunyi. Instagram-nya digembok karena serbuan netizen Indonesia. Dia takut pulang.
Drrt. Drrt.
HP-nya bergetar. Nama di layar membuat Clarissa tersedak air putih.
Tante Sofia Cakra.
Dengan tangan gemetar, Clarissa mengangkatnya. "Ha-halo, Tante?"
"Kapan kamu pulang, Clarissa?" suara Bu Sofia terdengar dingin namun mendesak.
"Aku... aku belum tau, Tan. Damian ngancem aku di TV. Aku takut..."
"Jangan bodoh," potong Bu Sofia tajam. "Damian cuma menggertak karena dia sedang diguna-guna janda itu. Tante ada di pihakmu. Tante butuh kamu di Jakarta."
Mata Clarissa membelalak. "Tante... Tante nggak marah sama aku?"
"Marah? Tante justru kecewa kenapa usahamu kemarin gagal. Harusnya kamu lebih rapi," jawab Bu Sofia santai, seolah membicarakan tumpahan teh, bukan sabotase kriminal.
"Pulanglah. Tante sudah siapkan pengacara terbaik kalau Damian macam-macam. Dan Tante restui kamu masuk ke keluarga Cakra. Asalkan kamu bisa singkirkan wanita bernama Kara itu dari sisi anakku. Selamanya."
Senyum Clarissa perlahan kembali.
Dukungan Nyonya Besar Cakra? Itu adalah kartu 'Get Out of Jail Free'.
"Siap, Tante. Aku cari tiket pulang hari ini juga."
Rooftop Cakra Tower, Jakarta. Pukul 20.00 WIB.
Angin malam di ketinggian lantai 60 bertiup kencang, menerbangkan ujung gaun Kara.
Di hadapan mereka, hamparan lampu kota Jakarta berkelap-kelip seperti lautan berlian. Tapi tidak ada yang seindah benda yang sedang dipegang Damian saat ini.
Damian berlutut dengan satu kaki di atas landasan helipad. Di tangannya, sebuah kotak beludru hitam terbuka.
Di dalamnya, bertakhta sebuah cincin dengan berlian biru (Blue Diamond) berbentuk tear-drop yang dikelilingi berlian putih kecil-kecil.
"Tadi pagi kita sudah sepakat soal Proposal Merger Perusahaan," ucap Damian, menatap manik mata Kara dalam-dalam. "Itu untuk membungkam dunia."
"Tapi malam ini... proposal ini khusus untuk membungkam keraguan di hatimu."
Damian menarik napas.
"Kara Anindita. Aku nggak menjanjikan hidup yang mulus. Mamaku menyebalkan, musuh bisnis kita banyak, dan Clarissa mungkin masih berkeliaran. Tapi aku janji, di setiap perang yang akan datang, kamu nggak akan sendirian lagi."
"Aku akan berdiri di depanmu sebagai tameng, dan di sampingmu sebagai partner."
Damian menyodorkan cincin itu sedikit lebih tinggi.
"Maukah kamu Merger denganku? Bukan cuma saham, tapi sisa hidup kita? Will you marry me?"
Kara merasakan matanya memanas. Bukan karena sedih, tapi karena haru.
Setelah bertahun-tahun hidup dengan Rio yang pelit dan penuh perhitungan, dia akhirnya merasa dihargai. Dihargai sebagai wanita, sebagai partner, sebagai manusia utuh.
Kara mengulurkan tangan kirinya. Jari manisnya bergetar sedikit.
"Proposal diterima, Pak CEO," bisik Kara. "Mari kita guncang dunia sama-sama."
Damian menyematkan cincin itu di jari Kara. Pas sempurna.
Damian berdiri, langsung menarik pinggang Kara dan menciumnya di bawah sinar bulan dan lampu sorot helipad.
Di kejauhan, Jakarta seolah menjadi saksi lahirnya Power Couple paling berbahaya di negeri ini.
Mereka tidak tahu, di saat yang sama, pesawat Garuda Indonesia dari London baru saja mendarat di Soekarno-Hatta, membawa Clarissa yang membawa mandat perang dari Ibu Suri.
Perang dingin antara Menantu vs Mertua+Mantan baru saja dimulai.
...****************...
...Bersambung......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share ❣️...
...****************...
kanjooot..
terus kemaren2 sblm kara pergi, ibunya tinggal dimana?
nanya lho thor, bkn menghujad.. 🤭🙏