Greta Hildegard adalah bayangan yang memudar di sudut kelas. Gadis pendiam dengan nama puitis yang menjadi sasaran empuk perundungan tanpa ampun. Baginya, SMA bukan masa muda yang indah, melainkan medan tempur di mana ia selalu kalah. Luka-luka itu tidak pernah sembuh, mereka hanya bersembunyi di balik waktu.
namun mereka tidak siap dengan apa yang sebenarnya terjadi oleh Greta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon spill.gils, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bekal Yang Dingin
Bunyi bel istirahat bergema di sepanjang koridor Jarvis Collegiate Institute, memicu gelombang keriuhan saat puluhan murid berhamburan keluar kelas. Namun, Greta tetap di kursinya. Dengan gerakan yang sangat berhati-hati, seolah takut mengganggu ketenangan udara, ia mengeluarkan sebuah kotak bekal kayu dari tasnya.
Bau samar nasi hangat dan wijen baru saja tercium saat sebuah bayangan jatuh menutupi mejanya.
Greta tersentak, jemarinya membeku di atas tutup kotak bekal. Ia mendongak perlahan, siap untuk menghadapi tatapan dingin lainnya, namun yang ia temukan justru sepasang mata bulat yang bersinar ramah.
"Baunya enak sekali. Apakah itu masakan rumah?"
Gadis yang berdiri di depannya tampak seperti energi murni yang dipadatkan. Rambut cokelat gelapnya ditarik tinggi-tinggi dalam kuncir kuda yang praktis, memperlihatkan garis rahang yang tegas namun manis. Ia mengenakan jaket varsity yang agak kebesaran di atas seragamnya, memberikan kesan tomboy yang sangat natural. Parasnya cantik dengan cara yang berani—tipe gadis yang tidak keberatan berkeringat di lapangan basket tapi tetap terlihat menawan.
"Aku Revelyn," ucapnya sambil mengulurkan tangan yang tampak tangkas. "Atau Rev, kalau kau tidak mau lidahmu keseleo."
Greta terpaku sejenak. Ia mengerjapkan matanya yang gelap, tampak bingung menghadapi keramahan yang tiba-tiba ini. "A-aku... Greta," bisiknya gugup, suaranya hampir hilang di tengah deru suara di kelas.
"Aku tahu! Siapa yang bisa lupa nama sekeren itu?" Revelyn terkekeh, lalu dengan santai menunjuk ke arah pintu. "Ayo, lupakan sejenak buku sejarah itu. Biar kupandu kau melihat-lihat. Sekolah ini punya banyak sudut rahasia yang jauh lebih menarik daripada papan tulis Mr. Henderson."
Mata Greta membulat. Sebuah binar kebahagiaan yang langka menyelimuti wajah asianya, meskipun rona merah pemalu masih menghiasi pipinya. Tanpa pikir panjang, ia membiarkan kotak bekalnya tergeletak terbuka begitu saja di atas meja, mengabaikan rasa laparnya demi sebuah harapan akan pertemanan.
"B-boleh? Maksudku... aku mau," jawab Greta dengan nada yang masih bergetar karena gugup, namun sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tulus pertama yang ia tunjukkan sejak tiba di Toronto.
Revelyn tidak menunggu jawaban kedua. Dengan gerakan yang tegas namun lembut, ia meraih jemari Greta yang dingin. "Ayo, kita mulai dari halaman belakang. Ada pohon maple tua yang sebentar lagi akan berubah warna menjadi merah darah. Kau harus melihatnya."
Mereka melangkah keluar, dua sosok yang sangat kontras—satu yang penuh percaya diri dan satu yang tampak seperti bayangan yang baru belajar berjalan di bawah cahaya. Tangan mereka bertautan erat saat mereka menembus kerumunan murid di lorong, menuju kebebasan di halaman belakang sekolah yang berangin.
Di belakang mereka, kotak bekal Greta tertinggal sendirian di atas meja yang sunyi, seolah menjadi saksi bisu awal dari sebuah babak baru yang menguras air mata.
Langkah kaki mereka bergema di sepanjang koridor lantai dua yang berlantai linoleum kusam. Revelyn memimpin dengan langkah yang ringan, seolah-olah ia memiliki kunci untuk seluruh kota Toronto, sementara Greta mengikuti di belakangnya, merasa seperti ditarik oleh badai kecil yang hangat.
Mereka menuruni tangga beton yang dingin dan sempit. Aroma sisa makan siang dari kantin dan wangi pembersih lantai menguar di udara, bercampur dengan suara tawa murid-murid lain yang memantul di dinding batu bata. Saat mereka melewati pintu ganda besar di lantai dasar, udara musim gugur yang tajam langsung menyergap, membawa aroma tanah basah dan daun-daun yang mulai membusuk.
Halaman belakang Jarvis Collegiate Institute membentang luas, dihiasi oleh pepohonan ek dan maple yang menjulang tinggi, menjatuhkan bayangan panjang di atas rumput yang menguning. Namun, kebahagiaan kecil di wajah Greta seketika memudar saat matanya menangkap sebuah siluet yang sudah tidak asing lagi.
Di bawah naungan pohon maple yang paling besar, duduklah Norah. Ia bersandar dengan gaya yang sangat berkuasa di atas bangku taman kayu, dikelilingi oleh beberapa murid lain yang tampak seperti pengikut setianya. Norah sedang memutar sebuah pulpen di antara jemarinya, namun gerakannya terhenti saat ia melihat kedatangan mereka. Sudut bibirnya terangkat membentuk seringai yang sama dengan yang Greta lihat di kelas—sebuah tatapan yang penuh kepuasan jahat.
Jantung Greta mencelos. Ketakutan yang murni merayap naik ke tenggorokannya. Secara refleks, ia mencoba menarik tangannya, berusaha melepaskan genggaman Revelyn yang tadinya terasa seperti pelindung, namun kini terasa seperti jebakan.
"Re-Rev... aku ingin kembali ke kelas," bisik Greta parau, suaranya gemetar. Ia menarik lengannya lebih kuat, namun Revelyn tidak melepaskannya.
Justru sebaliknya. Revelyn mempererat cengkeramannya, jemarinya mengunci tangan Greta dengan kekuatan yang tidak terduga dari gadis seukuran dia. Kekuatan itu bukan lagi terasa seperti dukungan, melainkan paksaan.
Revelyn tidak menoleh ke arah Greta. Ia tetap menatap lurus ke arah Norah yang sedang menunggu mereka dengan mata yang berkilat. Revelyn kemudian mencondongkan tubuhnya ke arah telinga Greta, membiarkan rambut kuncir kudanya menyentuh pipi Greta yang dingin.
"Akan kuperkenalkan kau dengan teman-temanku," bisik Revelyn, suaranya kini terdengar rendah dan bergetar dengan nada yang sulit diartikan—sebuah perpaduan antara perintah dan rahasia yang gelap. "Ayo, ikut aku."
Dunia di sekitar Greta seolah melambat. Genggaman tangan itu kini terasa seberat rantai besi. Di bawah langit Toronto yang mulai mendung, Greta menyadari bahwa keramahan yang baru saja ia rasakan mungkin hanyalah jembatan menuju neraka yang sudah dijanjikan Norah sebelumnya.
Langkah Greta terasa berat, seolah rumput di bawah kakinya telah berubah menjadi rawa yang siap menelan tubuhnya bulat-bulat. Revelyn menariknya mendekat ke lingkaran itu dengan langkah yang tetap riang, sebuah kontras yang mengerikan dengan suasana hati Greta yang hancur.
"Lihat siapa yang kubawa," ujar Revelyn dengan nada ceria yang kini terdengar seperti denting logam yang tajam.
Norah berdiri dari bangku taman. Ia merapikan roknya dengan gerakan lambat, seolah sedang mempersiapkan diri untuk sebuah pertunjukan utama. Teman-temannya di samping kanan dan kiri langsung terdiam, menciptakan suasana sunyi yang mencekam di tengah halaman sekolah yang luas.
"Kerja bagus, Rev," kata Norah. Suaranya halus, namun mengandung racun yang pekat. Ia melangkah mendekat hingga aroma parfum floralnya yang menyengat menembus udara musim gugur. "Aku sudah menunggumu, Greta Hildegard."
Norah berhenti tepat di depan Greta. Jarak mereka begitu dekat hingga Greta bisa melihat pantulan ketakutannya sendiri di pupil mata Norah yang gelap. Norah mengulurkan tangan, bukan untuk menjabat, melainkan untuk menyisipkan seuntai rambut hitam panjang Greta ke belakang telinga gadis itu. Gerakannya sangat lembut, namun terasa seperti belaian pisau.
"Kau tahu," bisik Norah, suaranya hanya ditujukan untuk Greta, "Toronto adalah kota yang sangat besar. Terlalu besar untuk gadis mungil yang bahkan tidak tahu caranya bersuara."
Greta menoleh ke arah Revelyn, mencari setitik pembelaan, namun Revelyn hanya berdiri di sana dengan senyum yang tetap terpatri di wajahnya—tangan mereka masih bertautan, namun kini Greta sadar bahwa Revelyn bukan sedang menggandengnya, melainkan sedang menahannya agar tidak lari.
"Jangan menatapnya begitu, Sayang," Norah tertawa kecil, suara tawa yang kering dan tak berperasaan. "Rev adalah bagian dari kami. Kami semua adalah keluarga di sini. Dan di keluarga ini, setiap anggota baru harus tahu di mana posisi mereka berada."
Norah kemudian berpaling ke arah teman-temannya yang mulai menyeringai, lalu kembali menatap Greta dengan tatapan predator. "Selamat datang di lingkaran kami. Mari kita lihat, berapa lama kau bisa bertahan sebelum arus di kota ini menenggelamkanmu."
Angin musim gugur bertiup kencang, menerbangkan daun-daun maple merah yang berguguran di sekitar mereka. Greta berdiri mematung di tengah kepungan itu, menyadari bahwa pelarian yang ia impikan baru saja berubah menjadi penjara tanpa jeruji besi.
oke lanjut thor.. seru ceita nya