"Menikah tentulah merupakan hal yang sangat didambakan seseorang. Apalagi menikah dengan orang yang kita inginkan dan kita cintai."
" Namun, bagaimana jika kamu menikah atas dasar keterpaksaan? Disisi lain, kamu ingin melihat orang tua mu bahagia, tapi disisi lain kamu masih terjebak dimasa lalu. Seolah cintamu sudah habis dimasa itu."
"Menjalani semuanya tanpa perasaan cinta. Akankah berakhir bahagia? Atau justru malah menambah masalah baru untuk aku... dan juga dia..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evelyn12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mimpi Buruk
"Maaf ya Nai hari ini aku pulang kemaleman. Tadi ada kerjaan dikit." Ucap Dimas saat sampai di rumah. Naina yang tidak mencurigai sedikitpun tingkah Dimas hanya menggangguk sembari tersenyum
"Tidak apa-apa, Mas." Jawab Naina santai, ia sengaja tidak ingin ada pertengkaran karena mencecar Dimas dengan banyak pertanyaan.
Dimas lantas bergegas membersihkan diri, dan setelah itu ia menemui Naina yang sudah menunggu di meja makan.
"Oh, ya Mas. Besok aku libur, bagaimana kalau kita jalan-jalan?" Ucap Naina yang membuat Dimas terdiam sesaat.
"Besok? Apa bisa di ganti lain hari?" Tanya Dimas.
"Aku libur hari minggu hanya kali ini Mas, setelahnya akan berubah menjadi hari Kamis karena Toko full buka satu minggu."
"Tapi besok aku ada kegiatan lain, Nai."
"Bukannya hari minggu Mas libur?" Pertanyaan Naina membuat Dimas gelagapan.
"Be-besok ada kegiatan di kantor. Apa bisa kita perginya malam saja?"
"Yasudah. Malam juga tidak apa-apa."
Dimas merasa lega mendengar jawaban Naina. Ia juga tidak mungkin membatalkan janji dengan Kimmy untuk pergi jalan-jalan esok hari.
*****
Pagi ini wajah bu Ais terlihat murung. Beberapa kali pak Bandi mendapati istrinya itu melamun. Seperti sedang menyimpan kekhawatiran.
"Ibu kenapa? Ayah perhatikan Ibu terlihat gelisah dari tadi."
"Semalam Ibu mimpi yang tidak enak, Yah. Makanya Ibu jadi kepikiran."
"Memangnya Ibu mimpi apa?"
"Dimas pergi meninggalkan Naina bersama perempuan lain."
"Astaghfirullah. Mungkin Ibu terlalu khawatir sama mereka."
"Entahlah, Yah. Mimpi yang seolah nyata. Ibu jadi takut."
"Itu hanya fikiran Ibu saja. Makanya, sebelum tidur itu membaca doa, agar terhindar dari mimpi yang tidak-tidak."
Bu Ais hanya diam, ia mengambil nafas dari hidung dan mengeluarkannya dari mulut. Berkali-kali sembari mengucap istighfar.
"Apa hari ini kita ke rumah mereka saja ya, Yah? Lagian Ibu sudah kangen sama Naina."
"Yasudah. Ibu siap-siap, kita pergi ke sana."
***
Naina terlihat sibuk menyapu halaman, sedangkan Dimas baru saja pergi dengan mobilnya. Hingga tak lama mobil pak Bandi datang, hal itu membuat Naina senang, karena sudah lama ia tidak bertemu dengan mertuanya itu.
Saat bu Ais dan pak Bandi keluar dari mobil Naina sangat antusias menyambut. Ia lantas memeluk bu Ais dan mengalami tangan Ibu mertuanya itu, bergantian menyalami tangan pak Bandi Ayah mertuanya.
Bu Ais terlihat bingung, ia tidak melihat sosok Dimas di sana. "Dimas masih tidur kah, Nai?" Tanya bu Ais saat mereka masuk ke dalam rumah.
"Mas Dimas baru saja pergi, Bu. Katanya ada kegiatan di kantor."
"Hari minggu ada kegiatan?" Tanya bu Ais heran. Ia lantas melirik pak Bandi, tapi suaminya itu hanya membalas dengan menggelengkan kepala, seolah memberi isyarat agar istrinya tidak perlu memikirkan hal itu.
"Kegiatan apa?" Tanya bu Ais lagi, dirinya seperti merasa ada yang janggal.
"Tidak tahu, Bu. Naina tidak menanyakan dan mas Dimas hanya bilang ada kegiatan."
Bu Ais kemudian diam, ia menarik nafas dalam.
"Ibu dan Ayah duduk saja, biar Naina ambilkan minum." Ucap Naina.
Bu Ais dan pak Bandi lantas duduk di sofa ruang tamu.
"Aneh kan, Yah? Hari minggu ada kegiatan? Tidak masuk akal." Ucap bu Ais dengan wajah kesalnya.
"Sudah Ibu. Jangan suudzon. Mungkin memang sedang ada kegiatan di kantornya. Berdoa saja semoga tidak ada apa-apa."
"Ibu cuma takut mimpi Ibu jadi nyata. Nauzubillah."
Pak Bandi mengelus pelan punggung bu Ais untuk menenangkan istrinya itu. "Sudah. Nanti Naina bertanya-tanya kenapa Ibu terlihat gelisah seperti ini. Kasian dia kan nanti jadi beban pikiran. Baiknya Ibu lebih rileks saja. Istighfar."
Bu Ais mengangguk.
Naina datang dengan membawa dua gelas minuman. Kopi hangat dan juga teh hangat. Tidak lupa ia juga membawa bolu yang di susun rapi di dalam sebuah piring. Ia meletakan semuanya di atas meja, dan kemudian ikut duduk di sofa.
"Naina juga sudah masak. Nanti kita makan sama-sama ya, Ayah Ibu." Ucap Naina.
"Terimakasih, Sayang." Ucap bu Ais.
*
"Ibu, Ayah, maaf Naina belum sempat cerita." Ucap Naina.
"Ada apa, Nak?" Wajah khawatir bu Ais kembali terpancar.
"Sebenarnya, Naina sudah mulai kerja, Bu."
"Kerja?" Bu Ais kaget mendengar ucapan Naina.
"Iya, Bu. Naina kerja di sebuah Toko Bunga tidak begitu jauh dari sini, hanya tiga puluh menitan perjalanan."
"Kenapa kamu kerja, Nak? Apakah Dimas tidak menafkahi mu?" Raut wajah bu Ais terlihat marah. Sedangkan pak Bandi hanya menyimak obrolan mereka, tidak ingin banyak pertanyaan yang terlontar.
"Bu-bukan, Bu. Semua sudah dicukupi dan dipenuhi di rumah ini. Hanya saja, kadang aku merasa sepi di rumah sendirian saat mas Dimas lagi kerja." Naina berusaha menjelaskan.
"Tapi bukan karena Dimas tidak menafkahi kamu, kan?" Bu Ais memastikan.
Naina menggelengkan kepala beberapa kali. "Tidak, Bu."
"Huh! Awas saja kalau anak itu menelantarkan kamu. Nafkah lahir dan batin itu wajib bagi seorang suami." Ucapan bu Ais seperti mengena di hati Naina saat Ibu mertuanya itu mengucapkan kata 'nafkah batin'. Naina tetap bersikap tenang walau hatinya merasakan kesedihan.
"Tapi kerja mu tidak berat kan, Nak? Jangan kerja yang berat-berat."
"Tidak, Bu. Naina kerja merangkai buket bunga serta membantu memasang dekorasi bunga jika ada pesanan, Bu."
"Syukurlah kalau begitu. Ibu tidak mau menantu Ibu kesusahan."
"Ibu tenang saja."
Bu Ais memegang tangan Naina erat dan menatap menantunya itu sangat lekat, "Ibu sayang sekali sama kamu, Nai. Walaupun kamu menantu Ibu, Ibu sudah menganggap kamu seperti anak kandung Ibu sendiri. Ibu tidak mau terjadi sesuatu sama kamu atau ada hal yang membuat kamu tidak nyaman."
Ucapan Bu Ais berhasil membuat hati Naina luruh. Air matanya jatuh seketika. Ia sangat beruntung memiliki Ibu mertua dan Ayah mertua sebaik bu Ais dan pak Bandi.
Naina memeluk bu Ais sangat erat, ia berdiam diri di sana untuk merasakan pelukan hangat seorang Ibu yang selama ini ia rindukan.
"Terimakasih banyak, Ibu dan Ayah selalu baik pada Naina. Naina janji akan menjadi menantu yang baik."
***
udah muak gw di otak nya sarah mulu, kasian naina,,
sarah jga udah tau dimas laki orang, malah di biarin anak nya deket sma si dimas, kan cari masalah pusing sndri krna udah terlanjur deket,,
kasih dia cwok gih biar gak recokin rumah tangga orang mulu,,,
kalau Dimas masih datangin sarah dan Kimmy,,buat naina pergi jauh dan Dimas nangis darah..