Mutiara mengira kalau dikhianati oleh kekasihnya adalah hal yang terburuk di dalam hidupnya, musibah yang akan membuat di hidupnya terpuruk. Namun, ternyata hal itu merupakan berkah di dalam hidupnya.
"Kenapa kamu tega, Fajar? Kenapa aku hanya dijadikan lelucon saja di dalam hubungan kita ini?"
Bagaimana kehidupan Mutiara selanjutnya?
Kuy baca, jangan lupa kasih komen yang baik jika suka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DMNB 35
Ketika bangun tidur, wajah Mutiara berseri-seri. Bahagia sekali saat dia membuka mata, wanita itu ada di dalam pelukan ibu kandungnya.
"Kamu udah bangun, Sayang?"
Saat Cia membuka mata, dia begitu kaget karena Mutiara sudah membuka mata dan saat ini sedang menatap dirinya dengan lekat.
"Sudah, Bun. Aku sudah bangun," jawab Mutiara dengan senyum yang tidak pernah luntur dari bibirnya.
"Kalau begitu kita mandi," ajak Cia yang langsung turun dari tempat tidur.
"Ini masih pagi, kenapa harus mandi terlalu pagi?"
"Karena sebentar lagi adzan subuh akan berkumandang, kita harus melakukan salat berjamaah."
"Ah, iya. Aku lupa kalau Bunda seorang muslim, ya udah Bunda mandi aja. Tiara mau ke kamar," ujar Mutiara.
Mutiara keluar dari dalam kamar ibunya, ketika dia melewati ruang tamu, ternyata suaminya sudah ada di sana. Dia sedang menikmati secangkir kopi sambil menatap layar ponselnya.
"Sayang, kamu lagi ngapain? Kok tumben pagi-pagi udah ngopi?"
Arkan menyimpan ponselnya, kemudian dia meminta Mutiara untuk duduk di sampingnya. Mutiara menurut, dia bahkan langsung memeluk Arkan.
"Ada apa?"
"Aku harus pergi ke luar kota selama 3 hari, Kamu tinggal di sini saja biar aku merasa tenang."
"Iya, tapi nanti siang aku mau ke rumah. Ada beberapa barang yang tertinggal," ujar Mutiara.
"Oke, tapi jangan lama-lama."
"Iya, Sayangku."
Di saat keduanya sedang mengobrol, mereka menghentikan obrolan mereka karena mendengar suara Anjar yang sedang membaca surat al-fatihah.
Mushola yang ada di rumah itu memang tidak jauh dari ruang tamu, keduanya langsung bangun dan melangkah untuk mendekat menuju mushola.
Keduanya tanpa sadar memperhatikan Anjar, Abidzar dan juga Cia yang sedang melakukan salat berjamaah. Bahkan setelah mereka selesai melaksanakan salat berjamaah, Arkan dan juga Mutiara masih betah memperhatikan ketiganya.
Terlebih lagi ketika ketiga orang itu mulai membaca ayat suci Alquran, Mutiara dan juga Arkan terpaku mendengar lantunan ayat suci Alquran yang mampu membuat hatinya tenang.
"Loh! Kalian lagi apa?"
Anjar baru selesai mengaji, ketika dia ingin pergi ke dalam kamarnya, dia merasa kaget karena melihat anak dan juga menantunya yang sedang berdiri tidak jauh dari mushola.
"Eh? Anu, Yah. Mau titip Tiara, Arkan harus pergi ke luar kota selama 3 hari."
"Oh, santai saja. Bekerjalah dengan tenang, karena anak Ayah ada yang jaga."
"Terima kasih," ujar Arkan.
Selepas sarapan Arkan benar-benar pergi ke luar kota, sedangkan Mutiara menghabiskan waktunya untuk berkasih sayang dengan kedua orang tuanya. Saat siang hari tiba, Mutiara meminta izin kepada kedua orang tuanya untuk pulang ke rumah Arkan terlebih dahulu.
"Mau ditemani atau tidak?" tanya Anjar.
"Tidak perlu, Ayah. Aku hanya pergi untuk mengambil barang yang tertinggal di sana," jawab Mutiara.
"Hati-hati," ujar Anjar.
Setelah berpamitan kepada ayah dan juga ibunya, Mutiara pergi ke rumah Arkan. Tentu saja dia langsung masuk ke dalam kamar mereka, lalu mengambil barang yang tertinggal dan memasukkannya ke dalam tas miliknya.
"Sekarang tinggal pulang, aku tidak mau lagi tinggal di rumah ini. Karena aku merasa risih kalau setiap hari harus bertemu dengan Fajar," ujar Mutiara.
Setelah mengambil barang yang tertinggal dia berniat untuk pulang ke rumah kedua orang tuanya, tetapi tepat di saat dia hendak keluar dari dalam rumah itu, Fajar datang dan langsung menghalangi jalan Mutiara.
"Aku mau pergi, tolong berikan aku jalan."
"Tentu saja kamu boleh pergi, tapi sebelum itu aku mau bicara sama kamu."
"Ya udah bicara aja," ujar Mutiara yang tidak ingin berlama-lama dengan pria itu.
"Yang mau aku bahas itu masalah rahasia, kita bicara di dalam kamar aku aja. Takut nanti Bibi dengar," bujuk Fajar.
"Ngomongnya di sini aja, jangan di dalam kamar. Masalahnya aku sudah menikah dengan ayah kamu, tidak mungkin harus mengobrol bersama dengan kamu di dalam kamar."
"Kalau tidak mau di dalam kamar tidak apa-apa, tapi saya tidaknya kita berbicara di ruang keluarga saja. Jangan di depan pintu seperti ini," tawar Fajar.
"Ya."
Keduanya akhirnya masuk ke dalam ruang keluarga, ketika tiba di sana Fajar langsung memeluk Mutiara. Sontak saja hal itu membuat Mutiara marah terhadap mantan kekasihnya itu, dia bahkan langsung memberontak.
Awalnya pelukan Fajar begitu kencang, sampai dia tidak bisa melepaskan. Namun, setelah berkali-kali dia memberontak, akhirnya pelukan pria itu terlepas juga.
"Aku itu adalah ibu dari kamu, tolong bersikaplah dengan sopan. Jangan sekali-kali lagi melakukan hal seperti itu, karena itu tidak akan baik."
"Kamu itu nggak usah ngomong begitu, aku tahu kalau kamu menikah dengan ayahku itu hanya ingin balas dendam. Hanya ingin membuat aku cemburu dan juga marah, kamu sudah menang."
"Maksud kamu apa sih ngomong kayak gitu? Aku benar-benar tidak paham, aku juga tidak pernah berniat untuk balas dendam."
Fajar tidak banyak bicara, dia memperlihatkan kontrak pernikahan antara Mutiara dan juga Arkan. Mutiara cepat-cepat mengambil surat nikah kontrak itu, kemudian dia berbicara dengan Fajar dengan nada yang cukup kesal.
"Dari mana kamu mendapatkan berkas ini?"
"Tidak perlu kamu pertanyakan, yang pasti sekarang aku tahu kalau kamu dan ayahku tidak menikah secara serius. Kalian menikah hanya untuk membuat aku tertekan saja."
Mutiara kesal juga terhadap dirinya, karena dia lupa merobek surat kontrak nikah itu. Padahal dari awal dia sudah memutuskan untuk menikah dengan benar bersama dengan Arkan, tidak akan ada yang namanya mempermainkan pernikahan.
"Awalnya kami memang hanya ingin merdeka kontrak, tetapi sekarang surat nikah kontrak ini sudah tidak berlaku."
"Bohong, kamu pasti berbohong padaku karena ingin lebih lama lagi menyakiti aku bukan?"
"Nggak ada yang seperti itu, pertama kali nikah memang kami belum yakin saja. Makanya melakukan kontrak nikah, tapi sekarang kami benar-benar saling mencintai."
"Halah! Gampang ngomong seperti itu, karena pada kenyataannya pasti itu tidak akan pernah terjadi."
Mutiara merobek surat perjanjian nikah itu di depan Fajar, lalu membuangnya ke tong sampah. Fajar sampai melongo dibuatnya, dia tidak percaya dengan apa yang Mutiara lakukan.
"Aku sudah merobek surat perjanjian nikahnya, semoga kamu percaya kalau aku memang benar-benar menikah dengan benar bersama dengan ayahmu itu."
"Tidak mungkin, aku tidak percaya."
Tanpa diduga Fajar langsung memeluk Mutiara, pria itu bahkan terlihat hendak mencium bibir Mutiara. Namun, Mutiara berusaha untuk melawan.
Bibirnya hanya untuk suaminya, tubuhnya milik suaminya. Dia tidak mau ada orang lain yang menjamah tubuhnya itu, akhirnya dia bisa terlepas dari Fajar.
"Tidak usah malu, aku tahu kamu itu mendambakan sentuhan aku. Lebih baik ceraikan ayahku, kamu nikah saja sama aku. Dijamin puas,dia belum tentu hidup lama."
"Kurang ajar!" kesal Mutiara yang hendak menampar Fajar.
Namun, gerakan pria itu sangat cepat. Dia mengunci pergerakan Mutiara, lalu berusaha untuk mencumbui wanita itu. Mutiara berteriak minta tolong, tetapi herannya tidak ada yang datang.
"Berteriaklah sesukamu, karena para pelayan sedang pergi."
Fajar berusaha untuk mencumbui Mutiara, tetapi Mutiara berusaha untuk kabur. Kekuatan pria itu ternyata sangat besar, di saat ada kesempatan, Mutiara cepat-cepat menendang milik pria itu dengan kakinya.
"Argh! Sialan!" pekik Fajar sambil memegangi miliknya.
"Rasakan!" teriak Mutiara sambil berlari dari sana.