NovelToon NovelToon
The Librarian'S Midnight Guest

The Librarian'S Midnight Guest

Status: sedang berlangsung
Genre:Vampir / Fantasi Wanita / Harem
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: treezz

Di balik rak-rak kayu ek yang menjulang tinggi, Genevieve Isolde Clara adalah cahaya yang tak pernah padam. Sebagai pustakawan, ia dikenal karena senyumnya yang merekah bagi siapa saja dan keramahannya yang membuat siapa pun merasa diterima. Namun, keceriaan itu hanyalah tirai tipis yang menutupi luka batin yang sangat dalam. Genevieve adalah ahli dalam berpura-pura—ia membalut rasa sakitnya dengan tawa, memastikan dunia melihatnya sebagai gadis yang paling bahagia, meski hatinya perlahan hancur dalam kesunyian.
Kehidupan Genevieve yang penuh kepura-puraan terusik ketika Valerius Theodore Lucien muncul. Valerius adalah seorang pria dengan aura bangsawan kuno, pucat, dan memiliki tatapan yang seolah bisa menembus waktu—ia adalah seorang vampir yang telah hidup berabad-abad. Sejak pertama kali melihat Genevieve, Valerius merasakan sesuatu yang janggal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Harga Sebuah Kebebasan

Wajah Genevieve memucat pasi. Kata-kata Valerius berputar di kepalanya seperti badai.

"Menghancurkan masa laluku? Apa maksudmu? Apa yang kau lakukan pada orang tuaku?!" teriak Genevieve, suaranya menggema di kelas yang kini terasa mencekam.

Valerius tetap tenang, ekspresinya sedingin es, namun matanya memancarkan kepemilikan yang gelap. Ia menyodorkan surat kusam itu ke tangan Genevieve yang gemetar.

"Dunia manusia bekerja dengan transaksi, Genevieve," ucap Valerius pelan. "Orang tuamu ingin menjualmu karena mereka terjerat hutang pada seorang lintah darat yang kejam. Mereka tidak melihatmu sebagai anak, melainkan sebagai koin emas terakhir di kantong mereka."

Genevieve membuka surat itu dengan tangan gemetar.

Di dalamnya terdapat pernyataan resmi pelunasan hutang keluarga Clara, namun ada satu baris di bawahnya yang ditulis dengan tinta merah tua yang berbau karat: 'Subjek Genevieve Isolde Clara kini berada di bawah hak asuh penuh Tuan V.T.L. Segala klaim dari pihak keluarga dianggap batal demi hukum... dan nyawa.'

"Aku mendatangi mereka tadi malam," lanjut Valerius, suaranya datar seolah sedang menceritakan cuaca. "Saat kau pingsan, aku pergi ke kota seberang. Aku melunasi semua hutang itu. Tapi sebagai gantinya, aku mengambil sesuatu dari mereka yang jauh lebih berharga daripada uang."

Genevieve mendongak, matanya berkaca-kaca. "Apa... apa yang kau ambil?"

Valerius melangkah maju, menghapus jarak di antara mereka hingga Genevieve bisa merasakan aura dingin yang mematikan.

"Aku mengambil ingatan mereka tentangmu. Mulai hari ini, bagi mereka, Genevieve Isolde Clara tidak pernah lahir. Kakakmu tidak akan mengingat siapa yang membiayai kuliahnya, dan adikmu tidak akan tahu siapa yang menyelamatkan nyawanya. Kau telah mati bagi mereka."

"Kau... kau menghapusku dari hidup mereka?" bisik Genevieve tak percaya. Perasaan sesak menghujam dadanya. Di satu sisi, ia bebas dari ancaman dijual, namun di sisi lain, ia kini benar-benar sebatang kara di dunia ini.

"Aku tidak menghapusmu, Genevieve. Aku menyelamatkanmu dari mereka yang hanya ingin mengisap darahmu perlahan-lahan," Valerius meraih tangan Genevieve, menggenggamnya dengan jemari pucat yang kuat.

"Sekarang, kau tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini selain aku. Tidak ada masa lalu yang bisa mengejarmu, dan tidak ada keluarga yang bisa menjualmu. Kau bebas... untuk menjadi milikku sepenuhnya."

Genevieve merasa dunianya runtuh sekaligus terbentuk kembali dalam cara yang mengerikan. Ia bebas, tapi harga kebebasannya adalah terikat pada monster yang berdiri di depannya—makhluk yang rela menghapus keberadaannya dari sejarah hanya untuk memilikinya sendiri.

"Kau gila," bisik Genevieve dengan air mata yang akhirnya jatuh.

"Mungkin," jawab Valerius, ia mendekatkan wajahnya ke leher Genevieve, menghirup aroma ketakutan dan luka yang begitu ia puja. "Tapi sekarang, hanya akulah satu-satunya tempatmu pulang."

Genevieve mendorong dada Valerius sekuat tenaga. Sentuhan dingin pria itu terasa seperti sengatan listrik yang menyadarkannya dari keterpakuannya.

"Kau monster! Kau tidak punya hak untuk menghapusku dari kehidupan mereka!" teriak Genevieve dengan suara pecah. "Kebebasan yang kau tawarkan adalah penjara, dan aku tidak sudi menjadi milikmu!"

Tanpa menunggu balasan dari Valerius, Genevieve menyambar tasnya dan berlari keluar kelas. Ia tidak menoleh ke belakang, bahkan ketika ia merasa bayangan jangkung itu masih berdiri mematung di tengah ruangan kelas yang mulai gelap.

Ia terus berlari menyusuri jalanan setapak menuju perpustakaan, tempat yang selama ini ia anggap sebagai rumah.

Pikirannya kalut. Bagaimana mungkin orang tuanya melupakannya? Bagaimana mungkin pria itu bisa melakukan hal sekeji itu?

Sesampainya di perpustakaan, Genevieve segera masuk ke dalam dan mengunci semua pintu—utama, samping, hingga pintu belakang.

Ia menaiki tangga loteng dengan tergesa-gesa, masuk ke kamarnya, dan kembali mengunci pintu kayu itu.

Ia jatuh terduduk di balik pintu, napasnya memburu dan tidak beraturan.

Air mata mengalir deras membasahi pipinya. Ia merasa seolah-olah seluruh dunianya baru saja dihapus dengan paksa. Ia sendirian. Benar-benar sendirian.

"Hanya mimpi... Tolong, jadikan ini semua hanya mimpi," isaknya sambil membenamkan wajah di lutut.

Ia berharap saat ia bangun esok pagi, Valerius akan menghilang seperti kabut.

Ia berharap ia masih menjadi Miss Genevieve yang biasa, yang punya beban keluarga namun setidaknya memiliki identitas. Ia terus berdoa dalam hati agar pria gila itu menjauh darinya.

Namun, di tengah isak tangisnya, ia menyadari sesuatu yang janggal. Kamarnya tidak terasa sesunyi biasanya. Ada keheningan yang berbeda—keheningan yang berat dan penuh tekanan.

Genevieve perlahan mengangkat kepalanya. Matanya yang sembab menatap ke arah meja kecil di sudut kamar. Di sana, di bawah cahaya bulan yang masuk dari celah jendela, mawar merah darah yang tadi pagi ia tinggalkan telah berubah.

Mawar itu tidak lagi mekar, melainkan telah membeku sepenuhnya menjadi kristal es berwarna merah, seolah-olah waktu dan kehidupan di dalamnya telah dihentikan secara paksa.

Dan di samping mawar beku itu, terdapat sebuah kunci perak kuno dengan ukiran inisial V.T.L.

1
Yusry Ajay
semangat trus kk Thor 🤗
May Maya
lanjut Thor
May Maya
baru kali ini aku baca novel ada kata2 kiasan sekuat batu nisan biasanya kan sekeras n sekuat baja atau beton 🤭
May Maya
kacian velerius 😄
Afri
alur cerita nya bagus. . tidak buru buru .. mengalir dgn perlahan
keren
Afri
aku suka karya mu thor ..
cerita nya manis
May Maya
suka dgn genre ini
May Maya
vieve di dekati vampir tampan tp namanya makhluk gaib pasti takut jg ya vie🤭
May Maya
mulai baca Thor
treezz: semoga suka kakak🤭
total 1 replies
Afri
bagus
Afri
cerita nya bagus thor
fe
mantapp
anggita
👍👆 sip.,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!