Axel Bahng adalah dokter jenius yang percaya bahwa semua racun memiliki penawar — hingga satu kesalahan kecil mengubah cinta dalam hidupnya menjadi mimpi buruk yang tak bisa disembuhkan.
Tunangan yang paling ia cintai, Lusy Kim, tanpa sengaja meminum racikan eksperimen ilegal buatannya. Sejak hari itu, tubuh Lusy tak lagi mengenali rasa lapar seperti manusia. Saat kelaparan menyerang, kesadarannya hilang, digantikan naluri brutal yang hanya bisa diredakan oleh darah.
Demi melindungi Lusy dari dunia — dan dunia dari Lusy — Axel menyekapnya dalam ruang rahasia di bawah rumahnya, mempertaruhkan karier, moral, dan kewarasannya sendiri. Ia mencuri darah dari rumah sakit, membohongi keluarga, dan melawan hukum, yakin bahwa cinta dan sains akan menemukan jalan keluar.
Namun seiring waktu, kebohongan runtuh satu per satu. Ketika kebenaran akhirnya terungkap, tak ada lagi yang bisa diselamatkan — bukan reputasi, bukan keluarga, bukan bahkan cinta itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phida Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Meja makan yang besar dan kokoh di ruang tengah itu biasanya menjadi saksi bisu atas setiap momen kehangatan keluarga Bahng. Namun malam ini, suasana di sekeliling meja itu terasa sangat ganjil dan cukup mencekam.
Aroma daging panggang yang gurih dan menggugah selera dari galbi yang baru saja matang, serta uap panas yang keluar dari mangkuk sup kimchi yang merah pekat memenuhi setiap sudut ruangan. Tetapi bagi Axel, semua kelezatan itu hanya berfungsi sebagai latar belakang yang tidak berarti dari sebuah pertunjukan horor yang sedang berlangsung secara perlahan namun pasti tepat di depan matanya.
Lusy tidak lagi makan dengan cara yang biasa ia lakukan—tidak ada lagi keanggunan atau kesadaran akan etika makan yang biasanya selalu ia tunjukkan. Ia seolah-olah sedang dalam misi untuk menelan seluruh isi meja dengan secepat mungkin.
Potongan daging galbi yang cukup besar dan sudah dipotong menjadi bagian yang pas berpindah dari piringnya ke mulutnya hanya dalam hitungan detik saja, tanpa ada jeda untuk menikmati rasanya atau bahkan untuk menelan dengan benar.
Ia tidak lagi menggunakan sumpit dengan cara yang benar dan teratur; tangannya yang biasanya anggun kini terus bergetar dengan sangat jelas, sesekali jemarinya langsung menyambar potongan daging yang ada di piringnya tanpa menggunakan alat makan sama sekali, membuat saus merah pedas dari daging itu belepotan menutupi sekitar bibir dan dagunya yang lembut. Bahkan nasi putih yang biasanya ia makan dengan sedikit demi sedikit kini dituang langsung ke dalam mulutnya dengan sendok yang dipegang dengan tergesa-gesa, membuat beberapa butir nasi jatuh ke atas bajunya yang berwarna muda.
"Pelan-pelan ya, Nak. Dagingnya tidak akan lari ke mana-mana kok." Ucap Doni dengan suara yang mencoba untuk tetap riang, meskipun nada suaranya jelas mengandung nada keheranan yang tidak bisa disembunyikan lagi.
Ia tertawa dengan cukup canggung sambil melirik ke arah Axel yang sudah mulai menunjukkan ekspresi wajah yang sangat serius dan penuh kekhawatiran. "Wah, Axel, sepertinya ini yang dinamakan nafsu makan pengantin baru ya? Rasanya dia benar-benar ingin membalas dendam pada makanan Korea yang sudah lama tidak bisa ia nikmati selama tinggal di Australia."
Axel tidak bisa menyahut atau bahkan memberikan senyum sebagai tanggapan terhadap gurauan ayahnya yang baik hati itu. Selera makannya sudah benar-benar mati dan hilang sama sekali sejak Lusy menghabiskan mangkuk sup kimchi kedua dalam waktu kurang dari dua menit saja.
Dari sudut pandangnya yang sedikit lebih tinggi karena ia sedang berdiri di dekat meja, ia melihat sesuatu yang membuat seluruh darahnya seolah membeku dan membuatnya merasa sangat dingin meskipun ruangan itu terasa cukup hangat karena uap makanan yang keluar terus-menerus.
Pupil mata Lusy kini mulai perlahan-lahan diselimuti oleh semburat kemerahan yang tipis namun cukup jelas terlihat, seolah-olah semua pembuluh kapiler yang ada di bagian putih matanya telah pecah secara bersamaan dan menyebarkan warna merah ke seluruh area sekitar pupilnya.
"Lusy, berhenti sebentar." Bisik Axel dengan dengan rasa takut yang mendalam.
Ia dengan cepat meraih pergelangan tangan Lusy yang sedang hendak mengambil sendok untuk menyuap nasi lagi ke dalam mulutnya, mencoba dengan lembut namun tetap tegas untuk menghentikan gerakan wanita itu yang sudah mulai terlihat sangat tidak terkendali. Jemarinya yang menekan pergelangan tangan Lusy itu bisa merasakan sesuatu yang sangat tidak biasa dari tubuh wanita itu.
Kulit Lusy terasa sangat panas saat disentuh—hampir seperti membakar dan bisa menyebabkan rasa sakit jika disentuh dalam waktu yang lama. Saat itulah Axel melihat dengan lebih jelas bagian leher wanita itu yang biasanya selalu tertutup oleh rambutnya atau oleh kerah bajunya.
Urat-urat di bagian leher Lusy mulai perlahan-lahan menonjol ke permukaan kulitnya yang biasanya sangat halus dan lembut, berwarna biru gelap yang sangat kontras dengan warna kulitnya yang kini tampak sangat pucat.
Urat-urat itu tidak diam saja—mereka berdenyut dengan ritme yang cukup cepat dan teratur, seolah-olah ada sesuatu yang besar dan sangat tidak biasa sedang dipompa dengan paksa melalui saluran darahnya ke seluruh sistem tubuhnya. Setiap denyutan yang terjadi membuat bagian leher Lusy sedikit bergoyang, memberikan kesan bahwa ada sesuatu yang sedang bekerja dengan sangat keras di dalam tubuhnya.
"Aku... aku masih merasa lapar, Axel." Suara Lusy terdengar sangat berbeda dari biasanya.
Bukan lagi nada lembut dan merdu seorang dosen yang selalu ia kenal, melainkan suara serak dan kasar yang seolah keluar dari kerongkongan yang sangat kering dan tidak nyaman. Ia menatap Axel dengan mata yang sudah mulai menunjukkan warna merah yang lebih jelas, bibirnya yang merah merona kini terlihat kering dan sedikit pecah-pecah karena terlalu banyak makan dengan cepat.
"Kenapa... kenapa rasanya perutku masih sangat kosong seperti belum makan apa-apa sama sekali? Aku sudah makan banyak sekali tapi tidak ada gunanya."
"Axel, lihat lehernya! Ada apa dengan dia?" Doni kini benar-benar panik dan tidak bisa lagi menyembunyikan kekhawatirannya.
Ia dengan cepat meletakkan sumpitnya yang masih ada di tangannya ke atas piring dengan sedikit kasar, kemudian berdiri dengan tergesa-gesa dari kursinya, mendekati Lusy dengan wajah yang juga mulai tampak pucat dan penuh dengan ketakutan yang sama dengan yang dirasakan Axel. Matanya melotot dengan sangat lebar saat melihat bagian leher Lusy yang sedang menunjukkan sesuatu yang sangat tidak normal itu.
Tiba-tiba, Lusy menjatuhkan sendok yang masih ia pegang di tangannya dengan sangat cepat ke arah lantai. Bunyi denting logam yang keras dan tajam itu memecah kesunyian malam yang sudah mulai terbentuk dengan sangat tajam, membuat suara itu bergema dengan jelas di seluruh ruangan. Ia kemudian dengan sangat kuat mencengkeram pinggiran meja makan itu hingga sendi-sendi jarinya menjadi memutih.
Wajahnya yang sudah mulai memerah karena kesakitan menunjukkan ekspresi yang sangat menyakitkan, kemudian tangannya yang tadinya mencengkeram meja itu beralih dengan cepat untuk mencengkeram kepalanya sendiri dengan sangat erat.
"Argh!"
Lusy mengerang dengan suara yang sangat keras dan menusuk hati, tubuhnya mulai menggigil dengan sangat hebat seolah sedang mengalami demam tinggi yang luar biasa. Suara itu tidak lagi seperti suara manusia pada umumnya—lebih mirip rintihan kesakitan yang sangat dalam dan menyakitkan yang keluar dari kedalaman jiwanya. Ia menggoyangkan kepalanya dengan sangat kuat di antara genggaman tangannya sendiri, seolah ingin melepaskan diri dari rasa sakit yang luar biasa itu.
"Lusy!" Axel menghambur dengan cepat ke arahnya untuk menangkap bahu wanita itu sebelum ia terjatuh dari kursinya yang tidak lagi mampu menahan gerakan tubuhnya yang terus bergoyang.
Ia menangkap bahu Lusy dengan sangat erat, mencoba untuk menstabilkan tubuhnya yang terus menggigil dan bergerak tidak terkendali.
"Sakit... Axel, kepalaku... rasanya seperti mau pecah!"
Lusy mengerang lagi dengan suara yang semakin menyakitkan, tubuhnya kini mulai menjadi sangat kaku dan tegang. Ia memegangi bagian pelipis rambutnya dengan sangat kuat seolah-olah sedang berusaha dengan sekuat tenaga untuk menahan tekanan besar yang berasal dari dalam tengkoraknya.
Keringat dingin mengalir deras dari seluruh wajahnya, melunturkan sisa-sisa saus daging yang masih belepotan di sekitar bibir dan dagunya, menciptakan pemandangan yang sangat menyedihkan sekaligus mengerikan bagi siapa saja yang melihatnya. Wajahnya kini hanya menunjukkan penderitaan yang luar biasa dan ekspresi wajah yang sangat menyakitkan.
Batin Axel berteriak kencang dengan segala kekuatannya yang masih ada. Ini bukan sekadar metabolisme yang cepat atau efek kelelahan perjalanan. Ini jauh lebih parah dari itu. Ini adalah transformasi sistemik yang sedang terjadi pada tubuhnya.
Cairan kimia eksperimental yang ia buat sedang bekerja dengan sangat cepat dan membakar tubuh Lusy dari dalam, merombak setiap susunan biologis yang ada di dalam dirinya dengan kecepatan yang tidak masuk akal dan tidak bisa dihentikan dengan cara apa pun yang ia ketahui. Semua pengetahuan ilmiah yang ia miliki selama ini seolah tidak berguna sama sekali di hadapan kondisi yang sedang dialami oleh wanita yang paling ia cintai itu.
"Ayah, bantu aku membawanya ke kamar!" teriak Axel pada Doni yang masih mematung dengan wajah ketakutan di dekat meja makan itu.
Ia sudah tidak bisa lagi menangani semua ini sendirian—tubuh Lusy yang semakin kaku dan berat membutuhkan bantuan untuk dibawa ke tempat yang lebih aman dan nyaman agar bisa mendapatkan perawatan yang mungkin bisa menyelamatkannya. Tangannya yang mencengkeram bahu Lusy itu sudah mulai terasa lelah, namun ia tetap bertahan dengan sekuat tenaga.
Lusy terus mengerang dengan suara yang semakin meninggi hingga menjadi teriakan tertahan yang penuh dengan kesakitan. Matanya yang kini sudah merah padam sepenuhnya menatap ke arah Axel dengan pandangan yang penuh penderitaan dan kebingungan yang mendalam.
Beberapa detik kemudian, tubuhnya mendadak menjadi sangat kaku dan kaku seolah menjadi patung batu, sebelum akhirnya ia kehilangan kesadaran sepenuhnya dan tubuhnya mulai menjuntai lembut di pelukan tunangannya.
Pada saat yang sama, aroma yang tidak sedap seperti darah dan daging yang mulai membusuk mendadak terasa sangat kuat dan membuat mual di dalam indra penciuman Axel, menggantikan semua aroma makanan yang sebelumnya memenuhi ruangan itu.
.
.
.
.
.
.
.
ㅡ Bersambung ㅡ