Ardio adalah seorang mafia kejam sejak kematian istri yang meninggal karena di bunuh oleh musuhnya, padahal istrinya bari melahirkan seorang bayi.
Setelah kepergian istrinya, ia menjadi bertambah kejam, meskipun begitu, ia sangta lembut kepada putri kecilnya yang bernama Adel, bahkan menggantikan popok pun ia mau bahkan rela begadang agar buah hatinya tidak terganggu oleh masalah.
Hari ini ia sedang mengeksekusi penjahat yang ingin menganggu bisnisnya, Tiba-tiba saja ia mendapat telpon dari pengasuh anaknya jika Adel tidak bisa tidur tanpa dirinya, dan ia rela pulang, dan menyurh anak buahnya untuk mengeksekusi penjahat tersebut.
Meskipun ia mafia kejam, tapi ia adalah ayah yang penyayang.
Adel pun berusia masuk SMA favorit, tapi ia mendapatkan pembullyan daei teman Sekolahnya karena ada seorang pria primadona yang mendekatinya.
Sementara ia tidak sedikit pun menyukai sang primadona tersebut.
Tapi Adel menyimpan sendiri pembullyan itu hingga akhirnya di ketahui oleh Ardio.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28
Festival Seni Tahunan yang sangat ditunggu-tunggu akhirnya digelar di aula serbaguna sekolah.
Panggung megah dihiasi tata lampu warna-warni, sementara stan-stan makanan dan pameran karya seni murid memadati area koridor utama hingga halaman tengah.
Adel melangkah di antara kerumunan bersama Karin.
Ia mengenakan gaun kasual berwarna merah muda yang sederhana.
Di belakang mereka, dalam jarak sekitar lima meter, Mbak Lina bersama dua pengawal berjas hitam tetap berjaga penuh konsentrasi.
"Wah, Del! Seru banget festivalnya! Lihat deh, stan kelas XI rame banget!" seru Karin gembira sambil memegang dua porsi sosis bakar.
Adel mengangguk setuju. "Iya, Rin. Senang deh akhirnya kita bisa menikmati acara sekolah tanpa ada gangguan."
Namun, di tengah keriuhan festival, Mbak Lina tiba-tiba memegang earphone nirkabel di telinganya.
Raut wajahnya mendadak berubah tegang.
"Laporan untuk Tim Dua. Ada gangguan sinyal di sektor barat. Periksa generator utama sekarang," bisik Lina pelan pada perangkat komunikasinya.
Dari lantai dua aula, dua pria berpakaian serba hitam dengan topi bisbol menutupi wajah sambil memantau pergerakan Adel melalui teropong.
Di lengan mereka ada tato ular naga berkepala dua, anggota sindikat Black Cobra.
"Target utama terlihat di depan aula. Pengawal wanita dan dua intelijen tepat di belakangnya. Lakukan pemadaman sekarang!" bisik salah satu penyusup ke walkie-talkie.
KLIK!
BZZZZT!
Seketika, seluruh aliran listrik di SMA Garuda Bangsa mati total.
Lampu panggung, lampu koridor, dan sound system padam semua.
Keadaan menjadi gelap gulita.
Jeritan panik dari ratusan murid langsung pecah menggema di seluruh sudut aula.
"Aaaaa! Kenapa mati lampu?!"
"Jangan dorong-dorong! Woy, jangan desak-desakan!"
"Awas, jalanan gelap!"
Puluhan murid yang berlarian mencoba keluar dari aula mendorong tubuh Adel dan Karin dengan sangat keras.
"Adel! Pegang tanganku, Del!" jerit Karin histeris di tengah kegelapan dan dorongan kerumunan.
"Karin! Karin!" panggil Adel panik.
Namun, cengkraman tangan Karin terlepas akibat terdorong oleh rombongan murid yang berlari panik.
"Non Adel! Jangan bergerak dari posisi Anda!" suara Mbak Lina terdengar berteriak dari kejauhan, berusaha menembus barikade manusia yang saling berdesakan.
"Tim Satu, tutup semua akses keluar! Amankan Non Adel sekarang!"
"Mbak Lina! Aku di sini!" teriak Adel seraya meraba-raba dinding dalam kegelapan.
Namun, pergerakan massa yang kacau balau makin memisahkan Adel dari para pengawalnya.
Suara jeritan, langkah kaki yang gaduh, dan kegelapan membuat arah mata Adel menjadi kabur.
Adel terdorong ke arah koridor samping dekat ruang musik yang sepi dan jauh dari area aula utama.
"Mbak Lina...? Karin...?" seru Adel dengan napas terengah-engah, dadanya berdegup kencang karena ketakutan.
Tiba-tiba, terdengar langkah kaki mendekati lokasi Adel dari lorong sepi itu.
"Sstt... jangan berteriak, Putri Kecil," bisik suara asing tepat di belakang telinga Adel.
Adel tersentak hebat, refleks hendak berbalik dan berteriak, namun sebuah kain tebal berdosis pembius kuat langsung mencengkeram dan menutupi hidung serta mulutnya dari belakang.
"Emmph! Mmmph...!" jerit Adel tertahan, tangannya memberontak memukul lengan pria misterius itu.
Namun, rasa kantuk yang sangat berat dan rasa pening yang luar biasa seketika membuat Ia kehilangan kesadarannya.
Pandangan mata Adel mulai berkunang-kunang, dan kekuatan hilang sepenuhnya.
"Kerja bagus. Bawa dia lewat pintu belakang laboratorium! Sebelum pengawal Ardio menyadari kita!" bisik penyusup kedua dari sindikat Black Cobra seraya memegangi tubuh Adel yang mulai terkulai.
Di luar aula, lampu darurat bertenaga baterai akhirnya menyala redup.
Mbak Lina berhasil menembus kerumunan bersama para pengawalnya, namun lokasi di dekat ruang musik itu sudah kosong.
Hanya tersisa pita rambut milik Adel yang jatuh tergeletak di atas lantai.
Mbak Lina memungut pita rambut itu dengan tangan gemetaran hebat. Wajahnya seketika pucat.
"Tidak... tidak mungkin..." bisik Lina histeris.
Dengan jemari bergetar hebat, Lina menekan tombol saluran komunikasi darurat prioritas utama.
"Kode Hitam! Kode Hitam! Non Adel... Non Adel diculik! Target terpisah di lorong samping saat listrik padam!" jerit Lina melalui mikrofon, air mata panik mulai menetes di pipinya.
Di markas utama, saluran telepon Ardio berdering.
Begitu mendengar laporan dari lapangan, gelas kopi hitam di tangan Ardio terlepas dan pecah berantakan di lantai.
Wajah Radio seketika membeku.
"Reno..." suara Ardio terdengar begitu rendah, bergetar, akan intimidasi.
"S-Siap, Bos Ardio!" sahut Reno yang langsung berlutut dengan tubuh gemetaran hebat.
"Lakukan lockdown di seluruh kota. Tutup semua pelabuhan, jalan tol, dan perbatasan. Siapa pun yang menyentuh putriku malam ini... tidak akan pernah melihat matahari besok pagi!" perintah Ardio datar tapi penuh hawa membunuh.