NovelToon NovelToon
Ampun, Mayor! Istrimu Minta Cerai!

Ampun, Mayor! Istrimu Minta Cerai!

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikahi tentara / Penyesalan Suami / Romansa
Popularitas:64.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy Ghina

"Om mau nyeraikan gue? Bagus dong! Mana drafnya? Gue tanda tangani sepuluh kali kalau perlu!"

Mayor Yudhana (32) mengira ancaman perceraian akan membuat Vina (20) berlutut memohon ampun. Namun, benturan keras di aspal telah menghapus seluruh kenangan penderitaan Vina selama menikah. Vina yang baru adalah gadis barbar usia 18 tahun yang sama sekali tak terintimidasi oleh baret hijau maupun pangkat tiga melati.

Saat Vina memperlakukannya seperti bapak kos galak dan sibuk mencari uang sendiri untuk angkat kaki, Mayor Yudhana terpukul oleh gengsinya sendiri. Untuk pertama kalinya, Sang Mayor menyadari bahwa hal paling berbahaya bukan lagi kehilangan wibawa di Batalyon—melainkan kehilangan wanita yang baru saja mulai menguasai seluruh sudut hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6. Ampun, Mayor!

"Keluarga Pasien Vina?"

Pintu ganda ruang perawatan intensif terdorong terbuka, memotong keheningan koridor rumah sakit yang berbau antiseptik tajam. Dokter berseragam hijau medis melangkah keluar dengan raut wajah kaku, melepas masker bedahnya yang menyisakan bekas kemerahan di pangkal hidung.

Ita, yang sejak dua jam lalu melipat tubuhnya di atas kursi besi dingin luar ruangan, langsung melompat berdiri. Napasnya memburu, mata sembapnya membelalak menatap Dokter. "Saya, Dok! Saya sahabatnya! Gimana keadaan Vina, Dok? Dia udah sadar, kan?"

Dokter itu menghela napas panjang, sebuah gestur pelan yang seketika meremukkan sisa-sisa ketabahan di dada Ita.

"Pendarahan di otaknya cukup hebat akibat benturan keras di kepala. Pendarahan dalam sudah kami tangani," tutur Dokter dengan nada sehalus mungkin, namun setiap kata yang keluar terasa seperti sabetan pisau. "Saat ini Pasien Vina masuk ke dalam fase koma. Kondisinya sangat kritis. Kami hanya bisa bergantung pada ventilator dan memantau perkembangannya dalam beberapa hari ke depan."

Koma.

Kata itu menghantam telinga Ita seperti ledakan petir. Lututnya seketika melunak, tak sanggup lagi menopang berat tubuhnya. Ita merosot ke lantai koridor yang berkilat dingin, menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Isak tangis yang sejak tadi ditahannya pecah menjadi raungan histeris, memantul-mantul di sepanjang dinding koridor rumah sakit yang kaku dan sepi.

"Nggak mungkin ... Vina ... Ya Allah, Vina," raung Ita, bahunya berguncang hebat.

Dokter menepuk bahunya pelan sebelum melangkah pergi, meninggalkan Ita yang tenggelam dalam kesedihan sendirian.

Setelah beberapa menit mengumpulkan sisa tenaganya yang terkuras, Ita meraba-raba saku celananya dengan jemari bergetar. Ia menarik keluar ponsel milik Vina yang diserahkan oleh petugas kepolisian tadi—layar kaca ponsel itu retak seribu, bernoda bercak darah kering di sudutnya.

Jemari Ita menekan tombol panggilan ke kontak bernama Mas Yudhana.

Panggilan pertama, hanya nada dering panjang yang diabaikan.

Panggilan kedua, ditolak secara sepihak.

Mata Ita menyala oleh amarah yang membakar. Dengan air mata yang masih meleleh deras, ia kembali menekan tombol panggilan untuk ketiga kalinya tanpa menyerah.

Di sudut lain kota, di dalam ruang kerja bergaya minimalis modern milik Tanti, sebuah ponsel bergetar keras di atas meja kaca.

Yudhana, yang sedang melipat lengan kemeja dinasnya, menatap layar ponsel itu dengan kening berkerut dalam. Nama Vina terpampang berkedip-kedip di layar. Pria itu menghembuskan napas jengkel, memutar bola matanya sebelum akhirnya menggeser tombol hijau dan menempelkan benda tipis itu ke telinganya.

"Ada apa lagi, Vina?" tegur Yudhana langsung, suaranya sarat akan nada dingin dan kejenuhan yang tak ditutupi. "Saya kan sudah bilang, jangan hubungi saya kalau tidak ada urusan penting. Saya sedang ada urusan keluarga."

"Mas Yudhana! Ini Ita!"*l suara jeritan berbaur tangis histeris menyeruak kencang dari speaker ponsel. "Vina, Mas! Vina kecelakaan parah! Dia tertabrak mobil di persimpangan dekat markas! Sekarang Vina koma di rumah sakit!"

Yudhana menyipitkan matanya. Garis rahangnya mengeras, namun alih-alih panik, bibirnya justru mengukir senyum sinis yang tipis. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kulit.

"Ita, tolong sampaikan pada Vina, drama murahannya ini sama sekali tidak membalut hatiku," sahut Yudhana datar, suaranya tenang tanpa gelombang emosi sedikit pun. "Dia baru saja kabur dari kantor saya tadi siang, dan sekarang pura-pura kecelakaan sampai koma? Bilang padanya, trik mencari perhatian seperti ini sangat kekanak-kanakan. Saya tidak punya waktu untuk melayani akting kalian."

"Mas! Demi Allah, Vina beneran kritis! Dokter bilang otaknya pendarahan!" suara Ita menjerit penuh keputusasaan di seberang sana, terputus-putus oleh isak tangis yang pilu. "Mas itu suami jenis apa, sih?! Istri Mas Yudha sedang bertaruh nyawa di sini!"

Tanti, yang duduk di sofa sambil menyesap teh herbalnya, melirik Yudhana dengan pandangan berpura-pura prihatin. Ia meletakkan cangkirnya pelan, lalu berbisik cukup keras agar terdengar oleh pria itu.

"Mas, kan aku sudah bilang," bisik Tanti halus, jemari berkuteks merahnya mengusap lembut lengan Yudhana. "Cewek panti itu pasti tadi sengaja mengintip kita di depan pintu, terus sengaja jatuhin diri atau sengaja nabrakin motornya sedikit biar kamu merasa bersalah. Dia tahu kamu mau ajukan cerai, Mas. Itu cuma taktik biar kamu kasihan dan batalin rencanamu."

Yudhana menatap Tanti sejenak, lalu mengangguk pelan, membenarkan dugaan wanita di sampingnya. Tatapannya kembali mengeras penuh keangkuhan.

"Dengar, Ita," tegas Yudhana pada ponselnya. "Saya tidak akan tertipu. Bilang pada Vina, kalau dia sudah puas main drama, suruh dia pulang dan bersihkan rumah. Jangan lagi gunakan kamu untuk membohongi saya."

Tut... tut... tut...

Sambungan diputus.

Di koridor rumah sakit, Ita meremas ponselnya hingga buku-buku jarinya memutih, mendengarkan nada tut-tut dari seberang telepon setelah panggilan diputus sepihak oleh pria berpangkat Mayor itu.

Tangannya gemetar hebat oleh kombinasi rasa tidak percaya dan amarah yang meluap-luap. Ponsel di genggamannya serasa ingin ia remukkan ke lantai. Bagaimana mungkin seorang pria—seorang suami yang bersumpah di atas kitab suci—bisa setega dan sekotor itu pikirannya terhadap wanita yang telah melayaninya tulus selama setahun?

Ita bangkit berdiri, menyapu air matanya dengan kasar, lalu melangkah masuk ke balik pintu kaca ruang perawatan intensif yang dingin.

Aroma antiseptik yang menusuk hidung menyambutnya. Di tengah ruangan yang hening dan steril itu, tubuh Vina terbaring kaku di atas ranjang besi.

Wajah cantik sahabatnya kini pucat bagai kertas tanpa darah. Perban putih tebal melilit kepalanya, menutup sebagian pelipisnya yang terluka parah. Selang respirator besar terpasang melintasi mulutnya, menimbulkan desis mesin teratur yang memompa udara buatan ke dalam paru-parunya. Di samping tempat tidur, monitor jantung berdetik lambat, bip... bip... bip..., memetakan grafik garis hijau yang lemah.

Ita melangkah mendekat, menarik kursi plastik di samping ranjang. Ia meraih tangan kanan Vina yang tertancap jarum infus—tangan yang dingin, halus, dan tak berdaya.

"Vin," bisik Ita lirik, mengusap jemari sahabatnya dengan kedua telapak tangannya sendiri yang berusaha menyalurkan kehangatan. "Bangun, Vin.Tolong bangun ...."

Air mata Ita kembali menetes, jatuh tepat di atas punggung tangan Vina yang pucat.

"Pria brengsek itu nggak pantas dapat air mata kamu, Vin. Nggak pantas sama sekali," gumam Ita serak. "Kamu harus sembuh. Kamu harus bangun dan lihat kalau dunia ini masih luas tanpa dia."

Hari pertama berlalu.

Hari kedua.

Hari ketiga.

Matahari berganti bulan di balik jendela kaca ruang rawat yang muram. Suara desis mesin respirator dan detak monitor jantung tetap menjadi satu-satunya musik yang mengisi ruangan itu.

bersambung...

1
Mulaini
Vina katakan aja ke kakek Gema kalau kamu tidak mengenalnya dan kita lihat gimana reaksi Yudhana.
Teh Euis Tea
alhamdulilah akhirnya lolos jg, srmangat mommy
Mulaini
Yudhana jadi nikmati aja hasil dari keegoisan mu.
Esther
Kapok kamu Yudhana, hadapi tuh Opa Gema yang datang disaat yang tepat saat Vina tidak ada dirumah
Mulaini
Yudhana kamu jadi panik kan secara kakek mu datang berkunjung dan Vina gak ada di rumah.
Mulaini
Yudhana pelihara aja tuh gengsi mu.
Mulaini
waalaikumsalam...
Alhamdulillah 🤲
Daneen
Semoga thor
Hesty
cepetan thor bikin mereka pisah aku ga setuju vina sama yuda jijik, buat opa gema tau agar yuda di beri pelajaran👍
Hesty
cepetan thor bikin mereka pisah aku ga setuju vina sama yuda jijik, buat opa gema tau agar yuda di beri pelajaran👍
merry
Vina jjur np si ksh pljrann buat lakimu, dan si Tanti itu biar kapok,, gmn kelakuannya kmu di abaikan minta cerai trss,, trs msk RS siumann br dtgg di kiriin kmu cm akting ,, kuasin kmr gede kmu dpt kmr kcil,,, ceritaiin biar cerai cpt kmu fokus sm hdpmu klo jdoh kembali versi terbaik ajj vin,, tentara ko gk bs hargai istri ya heran jg 🤔🤔🤔🤭🤭
merry
asik dtg jg opa gema,, Vina gk drmh ceritaiin Vina kelakuan laki mu biar di tempeleng tu 😆😆😆😆
Kar Genjreng
kurang setuju' mommy kenapa Vina main sandiwara. biar saja untuk apa menutupi aib orang yang tidak perduli dan menyakiti,,, harusnya biar yudhayana merasakan sakit seperti yang Vina rasakan
Mommy Ghina: nanti bakal ketahuan kok
total 1 replies
Kar Genjreng
🤭🤭wah bisa gaswat nihh,,,Vina bingung yudhayana kecut dan pucat pasi mana Vina bau keringat seharian jualan Es coklat dan mampir pasar tradisional,,,kontras dengan peran istri rasa babu nya mayor jossss semoga lekas terbongkar,,👍
Kar Genjreng
rasano sebabagus bagus nya mengemas bangkai lambat laun pasti akan tercium aromanya busuk' nya,,,mamcussss 🤣🤣 sedang kan cucu menantu nya sedang mengais rezeki ,,, karena tidak sudi hidup nya menggantung kepada Pria ,,kaku dan mengabaikan bagus Kakek datang selamat datang Kek dan selamat sore 👍👍
Kar Genjreng
Aamiin ya Mom jadi review di terima tinggal kontrak semoga dapat ya Mom,,,,,,,
Vina benar jadi untuk apa takut di lihat suaminya,,, orang cari uang halal ko dan
apa bila mau protes dan marah marah ,,Vina juga bisa menyampaikan kepada Kakek Gema iya to,,,wong cucunya yang selingkuh bahkan seolah Vina hanya di jadikan babu ,,,sedang dirinya mirip buaya muara ngecas sama wanita lain ko ga malu sama rekan atau bawahannya, biarpun banyak uang buat apa ga menghargai wanita notabene sebagai istri,,anjit ga banget lihat tiap hari di samperin sama si pELaKoR,,najong tralala,,😡😡
Mundri Astuti
menunggu detik" si mayor ketahuan tdk melaksanakan amanahnya
Mundri Astuti
yahhh opa mergokin dong pas lampir manja" ke mayor konon
Nining Sariningsih
semangat thoorrrrrr 💪💪💪
Riska Nianingsih
opa gema berarti tdur dikmr tamu kamarnya vina... otomatis ketahuanlah kan dikmr ada barang2nya vina... biar kebongkar deh kelakuan yudhana
Mommy Ghina: yes betul sekali
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!