NovelToon NovelToon
DAYANGKARA SEPULUH CINCIN PENGUASA

DAYANGKARA SEPULUH CINCIN PENGUASA

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Mengubah Takdir
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: adicipto

Sejak zaman dulu, sepuluh padepokan saling serang demi pecahan Cincin Braja Moksa. Kabarnya, siapa pun yang menyatukan sepuluh pecahan itu akan menguasai dunia.

Satrio Caksena hanyalah murid Geni Wening, padepokan paling lemah yang tinggal punya tujuh murid dan seorang guru dengan cakra hancur. Saat Kala Ireng datang menuntut pecahan mereka, Satrio cuma bisa bangun lagi setiap kali dihajar.

Malam itu, ia menemukan kristal merah di bawah lantai pendapa. Kristal itu menyala karena darahnya dan membangunkan sisa jiwa seorang Prabu yang sudah mati ribuan tahun lalu.

Dari sang Prabu, Satrio mengetahui rahasia yang dilupakan semua padepokan. Cincin Braja Moksa ternyata segel. Di dalamnya terkurung Sandawa, raja siluman yang dulu hampir menguasai dunia. Setiap pecahan yang terkumpul membuat segel itu makin lemah.

Satrio harus menghentikan Kala Ireng sebelum cincin itu utuh kembali. Masalahnya, tidak ada yang mau percaya pada murid dari padepokan paling lemah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adicipto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ruang di Bawah Pendopo

"Sembilan... sepuluh... sebelas..."

Satrio menghitung anak tangga sambil berbisik. Bara di telapak tangan kanannya hanya mampu menerangi tiga anak tangga di depan, selebihnya gelap gulita.

Ia turun dengan tubuh menyamping sambil menempelkan tangan kiri ke dinding. Lutut kanannya nyeri setiap kali ditekuk, sisa hajaran Bargowo kemarin ditambah Raka tadi siang. Makin ke bawah, udara makin panas sampai keringat menetes dari dagunya.

Di dinding sebelah kiri ada ceruk kecil berisi pelita tanah liat yang minyaknya sudah kering. Satrio mengusap pelita itu dengan ujung jari, dan debu tebal langsung menempel di jarinya. Batu dinding di sekitar ceruk itu juga menghitam oleh jelaga.

Ia berhenti sebentar dan mendongak. Lubang di lantai pendopo sudah jauh di atas sana, tinggal sebesar telapak kaki.

'Kalau Guru bangun dan melihat papan itu terbuka, habis aku,' batinnya.

"Dua belas... tiga belas..."

Kaki kirinya menginjak bagian anak tangga yang cekung dan licin, kemudian tergelincir ke depan.

"Eh... eh... eh!"

Satrio berusaha menyambar dinding, namun jari-jarinya hanya menemukan batu yang halus. Lutut kanannya tertekuk, dan tubuhnya terjungkal.

Duk! Duk! Bruk!

Punggung, bahu, dan kepalanya bergantian membentur anak tangga. Bara di telapaknya padam. Ia mencoba menahan tubuh dengan tangan kanan, tapi telapaknya malah tergerus batu, dan tubuhnya terus berguling sampai terhempas di lantai.

"Arghh..."

Satrio meringkuk sambil memegangi rusuk kirinya. Rusuk yang sejak kemarin nyeri itu kini rasanya seperti ditusuk dari dalam. Debu yang beterbangan masuk ke hidungnya.

"Hacih!"

"Arghh! Rusukku..."

Telapak tangan kanannya perih dan basah. Ia mengerjap beberapa kali, tapi tetap tidak bisa melihat tangannya sendiri.

"Sial," desisnya. "Sial, sial..."

'Kalau Gandung melihat ini, aku pasti ditertawakan sampai tua,' batin Satrio.

"Ada orang?" bisiknya.

Tidak ada jawaban, dan Satrio meringis sendiri.

'Bodoh. Siapa yang mau tinggal di bawah tanah begini,' batinnya.

Ia meraba-raba lantai di sekitarnya, tapi tangannya hanya menemukan batu berdebu. Dengan susah payah ia bangkit, namun kepalanya masih pusing akibat terguling tadi, dan tubuhnya oleng ke depan.

Dukk!

"Aduh!"

Keningnya menghantam sesuatu yang keras. Satrio terhuyung mundur dan jatuh terduduk.

"Siapa yang menaruh dinding di sini?" gerutunya sambil mengusap kening.

Ia duduk bersila di tempat itu, kemudian menyeka telapak tangan kanannya ke baju sampai kainnya lengket oleh darah. Ia menarik napas, menahannya di perut, lalu merapatkan dua jari. Sampai tarikan napas ketiga, tenaganya belum juga mau mengalir, dan baru pada tarikan keempat telapak tangannya mulai terasa hangat.

Bara yang muncul kali ini sebesar kepalan tangan.

Satrio terbelalak sampai hampir mengibaskan tangannya sendiri.

'Sejak kapan apiku sebesar ini?' batinnya.

Dinding di depannya penuh ukiran. Di bagian yang tadi dihantam keningnya, terukir sebuah garis lengkung yang dalam. Satrio mundur beberapa langkah supaya bisa melihat seluruhnya.

Garis itu ternyata bagian dari sebuah lingkaran besar, lebarnya kira-kira sama dengan rentangan kedua lengannya. Di sekeliling lingkaran itu ada sepuluh ukiran yang lebih kecil. Ukirannya rapi, namun sudut-sudutnya sudah tumpul.

Ia mendekatkan bara ke ukiran di sebelah kiri atas, yang bentuknya sosok bayangan memanjang. Tangan kirinya langsung mengepal. Lambang yang sama tersulam di dada Bargowo, orang yang kemarin menggosokkan terompahnya ke papan nama Geni Wening.

Di bawah lambang bayangan itu ada tiga lidah api yang menyatu di pangkalnya. Satrio mendekat sampai hidungnya hampir menyentuh dinding.

"Ini kan lambang Geni Wening," gumamnya. "Sama persis dengan ukiran di tiang pendopo, di atas tempat duduk Guru."

Lambang-lambang lainnya tidak ia kenal. Ada gelombang air, kepala burung, sambaran petir, dan beberapa ukiran yang sudah aus sampai bentuknya tidak jelas lagi.

Telunjuknya berpindah dari satu ukiran ke ukiran berikutnya.

"...delapan, sembilan, sepuluh," gumamnya.

Di garis lingkaran besar itu juga ada sepuluh cekungan, masing-masing tepat di depan satu lambang. Satrio memasukkan ujung jarinya ke salah satu cekungan itu, ternyata kosong, dan ukurannya kira-kira sebesar telur puyuh.

'Sepuluh lambang mengelilingi satu cincin,' batin Satrio. 'Jangan-jangan pecahan yang diminta Bargowo disimpan di sini.'

Ia berbalik.

Ruangan itu bundar, kira-kira seluas bilik obat ditambah dapur. Di tengahnya berdiri sebuah tugu batu setinggi dada, dan di puncaknya tertanam sebuah kristal merah. Saat gelap tadi, kristal itu sama sekali tidak bercahaya, namun sekarang benda itu memancarkan cahaya merah redup.

'Kata Damar, tidak ada yang pernah melihat pecahan itu. Bentuknya saja mereka tidak tahu,' batin Satrio. 'Bagaimana kalau ini dia?'

Satrio langsung berjalan ke arah tugu tanpa melepaskan pandangan dari kristal itu.

Tek.

Ubin di bawah kaki kirinya turun sedikit. Satrio menunduk, dan matanya melebar. Ubin itu berukir lidah api.

Wusss!

Api menyembur dari celah lantai di sebelah kanannya, setinggi kepala, dan langsung menyambar lengan kanannya yang masih terjulur memegang bara.

"Arghh!"

Lengan bajunya terbakar. Satrio membanting tubuhnya ke lantai dan berguling sambil menepuk-nepuk lengan bajunya dengan tangan kiri. Api itu baru padam setelah tiga kali ia berguling, dan semburan dari celah lantai juga berhenti tidak lama kemudian.

Satrio terlentang dengan napas terengah-engah. Bau kain hangus tercium dari lengan bajunya yang kini habis sampai siku. Kulit di bawahnya merah, dan gelembung-gelembung kecil mulai muncul dari pergelangan sampai punggung tangan. Bulu-bulu halus di lengannya juga ikut habis terbakar, sampai Satrio buru-buru meraba alisnya.

'Untung masih ada,' batinnya.

"Ssshh... ahh..."

Ia mencengkeram pergelangan tangan kanannya dan menggigit bibir, sampai luka di sudut bibirnya terbuka lagi. Ia meniupi lengannya yang melepuh berkali-kali, tapi perihnya tidak juga berkurang.

Bara di telapaknya sudah padam. Ia mencoba menyalakannya lagi, tapi tangan kanannya gemetar hebat. Bara itu hanya muncul sebesar biji jagung, lalu mati sebelum ia sempat menarik napas berikutnya. Satrio tidak mencoba lagi.

Sekarang satu-satunya cahaya di ruangan itu berasal dari kristal di puncak tugu. Cahayanya redup, tapi cukup untuk melihat lantai.

'Pantas Guru tidak pernah mengunci pendopo,' batin Satrio. 'Malingnya dipanggang di bawah sini.'

Ia bangkit dengan bertumpu pada tangan kiri dan memperhatikan lantai. Ubin-ubin batu itu tersusun melingkar mengelilingi tugu, dan sebagian besar berukir lidah api. Debu tipis menutupi semuanya.

Di atas debu itu ada bekas telapak kaki telanjang. Jejaknya hanya ada di ubin-ubin yang polos, berkelok-kelok dari kaki tangga sampai ke tugu. Sebagian sudah hampir tertutup debu, sebagian lagi masih jelas.

Satrio berjongkok dan menempelkan telapak kakinya di samping salah satu jejak itu. Ukurannya hampir sama.

'Ini jejak Guru,' batinnya. 'Dan bukan cuma sekali dia ke sini.'

Ubin polos terdekat ada di sebelah kirinya. Satrio menyeka keringat yang masuk ke matanya, lalu menjulurkan kaki ke sana. Ia menghitung sampai tiga dalam hati sebelum menumpukan berat tubuhnya.

Ubin itu tidak bergerak.

Satu per satu ubin polos itu ia lewati sambil mengikuti jejak kaki gurunya. Setiap kali kaki kanannya menapak, lututnya gemetar menahan berat tubuh.

Di tengah jalan, jejak itu hilang karena debu di sana berantakan bekas ia berguling tadi. Di depannya ada dua ubin, yang kiri polos, sedangkan ukiran di ubin kanan sudah aus sampai hampir rata.

Satrio berjongkok dan meniup debu di atas ubin kanan. Di bawah debu itu tampak garis-garis lidah api yang tinggal sedalam goresan kuku.

"Hampir saja," gumamnya, kemudian ia menginjak ubin kiri.

Di dekat tugu, jejak itu melompati dua ubin berukir sekaligus. Satrio memandangi jarak itu, lalu melirik lutut kanannya.

'Guru yang sudah tua saja bisa,' batinnya.

Ia melompat. Kakinya mendarat tepat di ubin polos, tapi lutut kanannya langsung tertekuk dan menghantam lantai.

"Ugh!"

Satrio berjongkok di atas ubin itu dengan kedua tangan menekan lantai. Ia tidak berani bergerak sampai rasa nyeri di lututnya agak reda. Saat ia menoleh, kaki tangga sudah tidak terlihat dari tempatnya berjongkok.

Akhirnya ia sampai di depan tugu.

Tugu itu dipahat dari satu batu utuh, dan ukiran lidah api melilit permukaannya dari kaki sampai ke puncak. Kristal itu tertanam di cekungan pada puncaknya.

Dari dekat, kristal itu sebesar telur puyuh dan berwarna merah tua. Di dalamnya ada titik cahaya kecil yang terus berputar.

Tangan Satrio terulur, lalu berhenti sejengkal dari kristal.

'Guru sampai membentakku semalam supaya aku menjauh dari pendopo,' batinnya sambil melirik celah-celah lantai di sekitar tugu. 'Kalau kusentuh, apa aku dipanggang lagi?'

Belum sempat ia memutuskan, lutut kanannya tiba-tiba lemas. Tubuhnya oleng ke depan, dan tangan kanannya refleks mencengkeram puncak tugu. Darah dari telapaknya yang lecet mengalir ke sela jari dan menetes ke permukaan kristal.

Kristal itu menyala, dan cahaya merah terang memenuhi ruangan sampai Satrio harus menyipitkan mata. Hawa panas datang menyusul. Dalam sekejap ruangan itu terasa panas sampai keringat mengucur dari pelipis ke lehernya, dan luka bakar di lengan kanannya terasa perih bukan main.

Satrio tersentak dan melepaskan tugu. Ia terhuyung mundur, dan tumit kirinya hampir mendarat di ubin berukir. Ia membeku dengan satu kaki terangkat, sementara kedua lengannya mengayun mencari keseimbangan.

Pelan-pelan ia menurunkan kaki itu ke ubin polos di belakangnya.

Saat ia mengangkat wajah, kristal itu sudah terlepas dari puncak tugu. Benda itu melayang di udara dan bergerak ke arahnya, sementara titik cahaya di dalamnya berputar makin cepat.

Satrio melongo. Ia tidak berani menggeser kaki sedikit pun karena takut menginjak ubin berukir lagi.

Kristal itu berhenti di depan dadanya, kemudian turun dan mendarat di telapak tangan kanannya yang masih terbuka, tepat di atas luka lecet. Rasanya hangat, seperti batu kali yang dijemur seharian. Kulitnya tidak terbakar sedikit pun, dan darah di telapaknya mengering dalam sekejap.

Satrio menatap kristal itu tanpa berkedip, dan mulutnya masih terbuka.

Lalu sebuah suara berat terdengar di dalam kepalanya.

"Darah siapa ini?"

1
Mujib
☹️☹️☹️☹️☹️
Mujib
😄😄😄😄😄
Humaira
bawahan mati, ketua pun datang
Mujib
💪💪💪💪💪
Mujib
👍👍👍👍👍
Humaira
sepertinya pradipta menyadari ada yang datang 🤔
Humaira
mengerikan 😱😱
Humaira
siapa itu 🤔
Humaira
pengecut, beraninya main culik 😤
Humaira
untung masih kedengaran 😂😂🤭
Humaira
udah kayak buronan 😂😂🤭
Humaira
dan akhirnya branjang pun modar 👍👍🔥
Humaira
deg deg an 😳
Humaira
benar2 menegangkan 🤔
Chahyanicy
mntapppp,mkin seru nih,,,
y@y@
👍🏾⭐💥⭐👍🏾
y@y@
👍🏿🌟👍🏼🌟👍🏿
Humaira
mau apa nih para lelaki bercaping 🤔🤔
Humaira
si caping misterius masih mengikuti ternyata 🤔
Humaira
ya ampun 😂😂😂🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!