NovelToon NovelToon
Cari Aku Di Rasa Sesalmu

Cari Aku Di Rasa Sesalmu

Status: tamat
Genre:CEO / Balas Dendam / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Zikri Cahyandi

Tiga tahun Alyssa Kirana Sastro duduk di meja makan keluarga Narendra, dan tiga tahun pula ia dituduh jadi penyebab lumpuhnya Nadine. Suaminya, Devan, tak pernah mau mendengarnya.

Malam ini Alyssa meletakkan surat gugatan cerai dan cincin nikahnya di meja kerja Devan, lalu pergi tanpa membawa apa pun. Dua jam kemudian, mobilnya ditemukan hancur di dasar jurang. Jasadnya tidak ada.

Devan masih ingin percaya itu hanya drama. Namun di rumahnya tertinggal selembar catatan.

Ke mana Alyssa pergi, dan apa yang akan Devan lakukan saat sadar apa yang sudah ia buang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zikri Cahyandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kebangkitan Sang Pewaris

Aroma antiseptik yang steril menusuk penciuman ketika tirai putih di ruang perawatan VVIP Rumah Sakit Gleneagles Singapura tersingkap pelan. Sinar matahari pagi menembus kaca jendela tebal, memantul di atas lantai granit yang bersih tanpa noda. Di atas ranjang rumah sakit, Alyssa menyandarkan punggungnya pada tumpukan bantal empuk.

Pergelangan tangan kirinya sudah terbebas dari perban tebal, hanya menyisakan bekas goresan tipis yang mulai mengering. Pergelangan itu terasa telanjang. Gelang peraknya tidak ada di sana, dan ibu jari kanannya terus menyentuh tempat kosong itu tanpa ia sadari. Gelang itu ia ikat sendiri di tuas rem tangan, beberapa detik sebelum tim medis membuka pintu mobil. Satu-satunya benda yang ia tinggalkan dengan sengaja, supaya untuk pertama kalinya Devan mulai bertanya.

Tim medis darurat yang dikirim Aris Setiawan bekerja sangat cekatan malam itu. Mereka berhasil mengevakuasi Alyssa dari dalam sedan hitamnya hanya tiga menit sebelum dua dari tiga SUV suruhan musuh mendorong mobil itu menembus pagar pembatas tebing Km 45 jalur Puncak.

Pintu kamar rawat terbuka pelan lewat sensor otomatis. Seorang pria paruh baya bertubuh tegap melangkah masuk dengan langkah terburu-buru. Jas abu-abu gelap buatan penjahit ternama London membalut tubuhnya yang masih gagah, meski rambut di pelipisnya sudah memutih.

Rendra Mahendra, pemilik tunggal Mahendra Corp—salah satu konglomerasi terbesar di Asia Tenggara.

Di belakangnya, Aris melangkah masuk membawa sebuah map kulit hitam. Wajah pria muda itu tenang, tetapi matanya menyimpan lelah setelah dua puluh empat jam tanpa tidur demi memastikan seluruh jalur evakuasi rahasia berjalan tanpa hambatan.

Rendra berhenti tepat di samping ranjang. Pria yang terkenal dingin dan tanpa ampun di lantai bursa dunia itu kini menatap Alyssa dengan tangan bergetar. Tangannya terangkat pelan, hendak menyentuh jemari Alyssa, lalu menahan diri, seolah takut sosok di hadapannya hanya ilusi yang bisa lenyap.

"Dua puluh tahun," suara Rendra serak, bergetar oleh perasaan yang selama puluhan tahun ia pendam sendirian. "Dua puluh tahun Papa mencari jejakmu sejak banjir bandang di Lembah Anai itu memisahkan kita, Karen."

Ia meraih berkas bersetempel laboratorium genetika internasional dari tangan Aris, lalu meletakkannya perlahan di pangkuan Alyssa.

Alyssa menunduk, menatap sampul berkas bertuliskan Laporan Pengujian DNA Internasional - Otentikasi Khusus. Jemarinya membuka lembar demi lembar hingga sampai di halaman kesimpulan.

Tingkat Aksesi Probabilitas Parental: 99,98%. Terkonfirmasi bahwa Subjek A (Alyssa Kirana Sastro) adalah putri kandung biologis dari Subjek B (Rendra Mahendra).

Dadanya bergetar pelan. Ia membaca baris itu sekali, lalu sekali lagi. Ujung kertasnya mulai kusut di antara jemarinya.

Selama dua puluh empat tahun hidupnya, ia tumbuh di panti asuhan tanpa tahu siapa orang tuanya, menganggap dirinya anak yang dibuang tanpa nama dan tanpa harga. Hari ini fakta tertulis di hadapannya membuktikan ia bukan wanita tak beridentitas yang bisa dihina seenaknya oleh keluarga Narendra.

"Nama aslimu Karen Alyssa Mahendra," kata Rendra, suaranya kini mantap dan sarat perlindungan. "Kamu putri tunggal keluarga Mahendra, satu-satunya ahli waris sah atas seluruh aset, saham, dan kejayaan yang Papa bangun."

Alyssa mendongak. Ada kemiripan yang mencolok pada bentuk mata cokelat terang mereka berdua—mata yang tajam, mengamati, dan memancarkan keteguhan yang tak mudah digoyahkan badai apa pun.

"Terima kasih sudah menemukan saya, Papa," ucap Alyssa pelan namun jernih.

Mata Rendra berkaca-kaca saat kata Papa keluar dari bibir putrinya untuk pertama kali. Pria tua itu mengangguk cepat, lalu menarik kursi dan duduk di samping ranjang. Akhirnya ia berani menyentuh jemari Alyssa. Telapak tangannya dingin dan gemetar. Alyssa tidak menarik tangannya. Untuk pertama kali dalam tiga tahun, ada tangan yang menggenggamnya tanpa menuntut apa pun.

"Aris sudah menceritakan seluruh penderitaanmu selama tiga tahun di rumah keluarga Narendra," kata Rendra. Nada suaranya mendadak keras dan dingin seperti es. "Pria bernama Devan itu dan ibunya yang picik memperlakukan putriku seperti pelayan. Hari ini juga, Papa akan mengerahkan seluruh kekuatan finansial Mahendra Corp untuk menghancurkan Narendra Group sampai tak tersisa satu sen pun!"

"Jangan, Papa," potong Alyssa, tenang namun tegas.

Rendra mengerutkan dahi, terkejut. "Kenapa, Karen? Mereka sudah menyakitimu! Mereka membiarkanmu dicaci dan dituduh atas kejahatan yang tidak pernah kamu lakukan!"

Alyssa menggeleng pelan. "Kalau Papa yang menghancurkan mereka, Devan hanya akan berpikir saya menang karena bersembunyi di balik kekuasaan orang lain. Saya tidak mau kehancuran mereka datang dari Mahendra Corp."

Rendra terdiam lama. Pria yang terbiasa memenangkan perang dengan uang itu baru sadar bahwa putrinya memilih jalan yang jauh lebih sulit.

Ia menoleh ke Aris yang berdiri di ujung ranjang. "Aris, bagaimana laporan investigasi soal kecelakaan di Puncak semalam?"

Aris maju satu langkah, membuka map hitamnya, mengeluarkan sebuah tablet, dan mengusap layarnya sebelum menyerahkannya.

"Skenario sabotase semalam sudah terungkap sepenuhnya, Nona," ujar Aris. "Tiga mobil SUV yang membuntuti Anda terdaftar atas nama perusahaan cangkang bernama Vanya Logistics."

"Perusahaan cangkang milik Nadine Vanya," bisik Alyssa, matanya menyipit dingin.

"Benar, Nona. Kami mengamankan rekaman percakapan telepon antara eksekutor di lapangan dan asisten pribadi Nadine, sepuluh menit sebelum mobil Anda didorong ke jurang. Nadine memerintahkan mereka memastikan mobil Anda masuk ke dasar tebing dan tidak ada jasad yang bisa dikenali."

Rendra mengepalkan tangan di atas paha sampai buku-buku jarinya memutih. "Wanita ular itu... dia berusaha membunuh putriku!"

"Nadine terlalu terburu-buru karena tahu saya sudah mulai memegang buktinya," sahut Alyssa. "Dua tahun lalu saya menemukan transfer rutin dari yayasan Siska ke klinik terapi Nadine, tanpa satu pun catatan kemajuan medis. Dari situ saya mulai memeriksa, sampai akhirnya melihat sendiri bahwa kakinya tidak lumpuh. Dia mengira kalau saya hilang, kebohongannya selama lima tahun akan aman selamanya."

Ia menyerahkan tablet itu kembali ke Aris. "Bagaimana kondisi perusahaan investasi rahasia kita?"

"Firma A-K Capital sudah siap beroperasi penuh dari kantor cabang Singapura, Nona," jawab Aris cepat. "Seluruh dana investasi lepas senilai tiga ratus juta dolar yang Anda kelola sendiri selama dua tahun terakhir sudah dikonsolidasikan. Likuiditas kita lebih dari cukup untuk menguasai surat utang Narendra Group yang jatuh tempo bulan depan."

Rendra menatap putrinya. Selama ini ia mengira Alyssa hanya terisolasi di rumah Devan. Ternyata, tanpa nama besar Mahendra Corp pun, gadis itu diam-diam membangun kekuatannya sendiri dari balik meja kecil di sudut ruang arsip.

"Kamu bertindak sangat rapi, Karen," kata Rendra dengan senyum bangga. "Tapi berhati-hatilah. Perang dengan Narendra Group tidak hanya melibatkan Devan."

"Maksud Papa?"

Rendra menghela napas panjang. Wajahnya mendadak tegang. "Ada pengkhianat di dalam Mahendra Corp sendiri. Seseorang di jajaran direksi lama bersekutu secara rahasia dengan Siska Narendra. Lima tahun lalu, pengkhianat itu menyalurkan dana segar dari anak perusahaan kita untuk menyelamatkan Narendra Group dari kebangkrutan, tanpa sepengetahuan Papa."

Alyssa mengangguk pelan. Kepingan puzzle itu mulai menyatu di kepalanya. "Jadi itu alasan almarhum Kakek Devan memaksa pernikahan ini. Beliau tahu ada orang dalam Mahendra Corp yang mencoba memanfaatkan keluarga Narendra, dan beliau menjadikan pernikahan saya sebagai jaminan keselamatan saya dari incaran pembunuh."

"Benar," tegas Rendra. "Paman kandungmu sendiri, Bram Mahendra, yang paling mencurigakan di dewan direksi. Hati-hati sebelum kamu memunculkan identitasmu ke publik."

Alyssa menatap jari manisnya yang kini polos. "Saya tidak akan muncul sebagai korban yang memohon keadilan, Papa. Saat saya kembali ke Jakarta nanti, saya akan berdiri sebagai pihak yang memegang kendali atas nasib mereka semua."

Ibu jarinya kembali mengusap pergelangan kirinya yang kosong. Tidak ada yang menyadarinya, kecuali Aris. Tanpa berkata apa-apa, ia meletakkan segelas air hangat di nakas dan mundur ke dekat pintu.

***

Tiga hari kemudian.

Di penthouse pribadi milik Rendra Mahendra di kawasan Orchard Road, Singapura, udara sore tampak cerah, memperlihatkan deretan gedung bertingkat dari balik dinding kaca balkon.

Alyssa duduk di sofa kulit warna krem, mengenakan gaun kasual hitam yang elegan. Teh di cangkirnya sudah dingin sejak setengah jam lalu. Tiga hari terakhir ia tidur tidak lebih dari lima jam setiap malam. Di meja kaca di depannya, sebuah laptop menampilkan grafik harga saham Narendra Group yang mulai merosot tajam akibat rumor ketidakstabilan internal sejak hilangnya Alyssa.

Di sudut ruangan, televisi besar yang tersambung ke saluran berita keuangan Bisnis TV Indonesia menyiarkan langsung dari Jakarta.

"Aris," panggil Alyssa tanpa mengalihkan pandangan dari layar. "Berapa persen saham Narendra Group yang sudah dibeli A-K Capital di pasar sekunder?"

"Empat koma delapan persen, Nona," jawab Aris dari dekat meja kerja. "Kita hanya butuh nol koma dua persen lagi untuk melewati batas kepemilikan yang wajib dilaporkan ke otoritas bursa."

"Tahan di empat koma sembilan," perintah Alyssa dingin. "Biarkan Devan menghadapi krisis likuiditasnya sendiri dulu."

Suara pembawa berita di televisi mendadak meninggi, memotong analisis pasar. 'Pemirsa, kami perbarui langsung dari Gedung Utama Narendra Group di Jakarta Selatan. CEO Narendra Group, Devan Narendra Pratama, baru saja melangkah menuju podium konferensi pers yang dijadwalkan mendadak sore ini.'

Alyssa meraih remote dan menaikkan volume.

Di layar, puluhan kilatan kamera memantul di dinding ruang konferensi pers yang penuh sesak. Devan berdiri di belakang podium kayu jati berlogo Narendra Group, mengenakan setelan jas hitam polos dan kemeja putih tanpa dasi.

Wajahnya jauh lebih tirus dibanding tiga hari lalu. Bayangan hitam tebal membingkai matanya, dan garis rahangnya kaku. Tetapi di balik letih itu, tatapannya dingin dan tegas.

Di barisan tamu VIP di samping podium, Siska dan Nadine duduk didampingi pengacara keluarga. Nadine mengenakan gaun hitam dengan riasan pudar, duduk di kursi roda sambil memegang saputangan. Siska menyunggingkan senyum samar yang ditata rapi, yakin konferensi pers ini untuk mengumumkan masa berkabung resmi atas hilangnya Alyssa sekaligus mengesahkan rencana pernikahan Devan dan Nadine.

Kamera sempat menyorot Nadine. Alyssa tidak memperhatikan wajahnya. Ia memperhatikan selimut di pangkuan wanita itu.

Devan menyesuaikan mikrofon. Ruangan yang tadinya riuh oleh bisikan wartawan mendadak hening.

"Selamat sore," suaranya berat, memantul lewat pengeras suara. "Terima kasih atas kehadiran rekan-rekan media. Saya berdiri di sini untuk menyampaikan dua keputusan resmi atas nama pribadi dan atas nama pimpinan tertinggi Narendra Group."

Ia berhenti sejenak, menatap lurus ke kamera utama yang menyiarkan ke seluruh negeri.

"Pernyataan pertama. Terkait spekulasi publik mengenai hubungan pribadi saya dengan Nona Nadine Vanya."

Nadine mendongak dengan senyum penuh harap ke arah para wartawan. Siska mengangguk anggun.

"Saya umumkan secara resmi bahwa seluruh rencana pernikahan saya dengan Nona Nadine Vanya ditunda tanpa batas waktu," tegas Devan tanpa ragu.

Kasak-kusuk meledak di antara kerumunan. Lampu kilat menyambar beruntun ke wajah Devan dan Nadine.

Wajah Nadine membeku. Senyum harapannya lenyap, berganti syok. Siska setengah berdiri dari kursinya, matanya membelalak menatap putranya.

"Devan! Apa yang kamu katakan?!" bisik Siska panik, tetapi Devan tidak melirik ibunya sedikit pun.

"Keputusan ini final dan tidak dapat diganggu gugat," lanjutnya, makin dingin. "Setelah konferensi pers ini selesai, seluruh kerja sama bisnis antara Narendra Group dan keluarga Vanya resmi dihentikan."

Para wartawan berebut mengangkat tangan, meneriakkan namanya meminta penjelasan. Devan mengabaikan mereka semua.

"Pernyataan kedua. Mengenai musibah kecelakaan yang menimpa istri sah saya, Alyssa Kirana Narendra."

Ia menggenggam tepi podium sampai buku-buku jarinya memutih.

"Sampai detik ini, tim pencari belum menemukan istri saya. Namun saya tegaskan kepada semua pihak, pencarian Alyssa Kirana tidak akan pernah dihentikan. Saya akan mengerahkan seluruh sumber daya yang saya miliki untuk menemukannya, sampai kapan pun dan di mana pun ia berada."

Devan menarik napas panjang, lalu menatap lurus ke kamera, seolah berbicara langsung kepada wanita yang sedang menonton.

Di sofa krem itu, Alyssa tidak bergerak. Hanya ibu jarinya yang berhenti mengusap pergelangan kirinya.

"Kepada siapa pun yang mencoba menyembunyikan atau mencelakai istri saya," bisik Devan, dingin dan mengerikan, "saya pastikan orang itu membayar harganya dengan sangat mahal."

Ia berbalik dan melangkah keluar dari ruangan, meninggalkan ibunya yang histeris dan Nadine yang mematung di kursi roda, di tengah kepungan wartawan yang memberondongkan pertanyaan.

Di Orchard Road, Alyssa menatap layar yang menampilkan kekacauan di Jakarta. Jemarinya yang memegang remote bergerak pelan dan mematikan televisi. Ruangan kembali hening.

Aris mendekat. "Pernyataan Devan sore ini membuat harga saham anak perusahaan keluarga Vanya turun lima belas persen dalam hitungan menit, Nona."

"Itu bukan pernyataan orang yang panik," kata Alyssa pelan. "Devan sengaja mengatakannya di depan kamera. Dia sedang memancing siapa pun yang gelisah agar bergerak lebih dulu."

Alyssa berdiri, melangkah ke dinding kaca balkon, dan menatap Singapura di bawah sana. Pantulan wajahnya di kaca tampak datar. Hanya ia sendiri yang tahu, ada satu hal dari siaran tadi yang tidak ia perhitungkan: suara Devan yang bergetar di kalimat tentang mencarinya.

"Ini baru permulaan, Aris," katanya tanpa kejutan. "Devan baru saja menunda pernikahan yang ia impikan selama lima tahun. Tapi dia belum tahu, penyesalan terbesarnya bahkan belum dimulai."

Ponsel Aris bergetar. Ia membaca pesan itu sekali, lalu mendekat dengan suara lebih rendah. "Nona. Anak buah kita di Jakarta melaporkan, begitu konferensi pers selesai, Nyonya Siska langsung menelepon seseorang dari dalam mobilnya. Nomornya terdaftar atas nama salah satu anak perusahaan Mahendra Corp."

Alyssa tidak menoleh dari dinding kaca. Di pantulannya, rahangnya mengeras sedikit.

"Catat nomornya," katanya. "Dan jangan disentuh dulu."

.....

.....

Bersambung.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!