Di hari yang seharusnya menjadi perayaan cinta, dia justru disingkirkan dari hidup mereka.
Ketika seorang istri setia berharap mendapat kejutan di hari ulang tahun pernikahannya, yang ia terima justru pengkhianatan dari orang-orang yang paling ia percayai.
Suami yang berubah. Pelakor yang datang tanpa rasa bersalah. Serta ibu mertua dan ipar yang mendukung semuanya.
Akankah ia bertahan demi rumah tangganya?
Atau memilih pergi dan membuktikan bahwa dirinya mampu hidup tanpa mereka?
Siapkan hati kalian, karena kisah ini akan menghadirkan banyak air mata, kemarahan, penyesalan, dan tentunya balas karma yang memuaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Tamu Tak Diundang
Pagi itu suasana ruko terasa jauh lebih hangat dibandingkan beberapa hari sebelumnya. Karena memang hari itu hari pertama Arini tinggal di sana. Dari dapur mungil terdengar suara spatula yang beradu dengan wajan, disusul aroma bawang putih dan bawang merah yang ditumis hingga harum memenuhi ruangan.
Arini dan Hani baru saja menyelesaikan sarapan sederhana buatan mereka sendiri. Menu yang mereka pilih bukanlah makanan mewah, melainkan hidangan yang begitu akrab dengan masa kecil mereka di Panti Asuhan Al Amanah.
Nasi goreng kampung.
Tak ada suwiran ayam, bakso, ataupun sosis. Bahkan kecap manis pun tidak mereka gunakan. Hanya nasi putih yang ditumis bersama bumbu sederhana, lalu ditambahkan irisan kol dan potongan kecil wortel agar lebih berwarna. Sebagai pelengkap, ada telur dadar tebal yang baru saja diangkat dari penggorengan.
Berbeda dengan dulu.
Saat masih tinggal di panti, telur dadar itu hanya dibuat setipis mungkin agar cukup dibagi untuk semua anak. Satu butir telur bisa dinikmati oleh beberapa orang. Meski hanya mendapat sepotong kecil, mereka selalu menyantapnya dengan lahap tanpa pernah mengeluh.
Kini, mereka bisa membuat telur dadar setebal yang mereka inginkan. Namun, entah mengapa kenangan masa lalu justru membuat sarapan sederhana itu terasa jauh lebih nikmat.
Hani menyendok suapan terakhir nasi gorengnya, lalu menyandarkan punggung ke kursi. "Ya Allah... udah lama banget aku nggak menikmati nasi goreng kayak gini." Ia tersenyum lebar. "Tapi rasanya tetap enak banget ya, Rin."
Arini ikut tersenyum. "Iya. Dulu kita sering banget sarapan pakai menu ini."
Tatapannya menerawang sejenak, seolah kembali pada masa-masa ketika mereka duduk berjajar di ruang makan panti bersama puluhan anak lainnya. Tidak ada yang mengeluh meski lauk sederhana. Yang ada hanya tawa dan rasa syukur karena masih bisa makan bersama.
"Sekarang alhamdulillah," lanjut Arini, "adik-adik di panti makannya jauh lebih variatif."
Hani mengangguk sambil tersenyum bangga. "Itu semua berkat kamu, Rin."
Arini langsung menggeleng pelan. "Ah, nggak juga."
"Lho, kok nggak?"
"Mungkin karena sekarang donaturnya lebih banyak. Rezeki panti memang lagi bagus. Aku cuma ikut membantu semampuku."
Hani terkekeh pelan. "Iya juga sih."
Meski begitu, dalam hati Hani tetap tahu siapa sosok yang paling banyak berjuang untuk panti itu. Arini bukan hanya rutin berdonasi, tetapi juga mencarikan donatur, mengadakan berbagai program sosial, bahkan tak jarang mengeluarkan uang pribadinya saat kebutuhan panti sedang mendesak.
Namun, perempuan itu memang tak pernah suka dipuji.
Setelah meja makan dirapikan, Hani membawa dua cangkir teh hangat ke ruang kerja Arini. Itu adalah kamar tidur yang disulap menjadi ruang kerja. Mereka duduk santai menikmati suasana pagi yang masih tenang.
"By the way," tanya Hani, "kegiatanmu hari ini apa?"
"Aku di rumah aja, Han."
"Nggak ke kantor?" Kantor yang dimaksud Hami adalah butik di mana biasanya Arini lebih banyak berada di sana.
Arini menggeleng pelan. "Aku mau mempersiapkan mental buat sidang perceraian pertama besok."
Hani yang baru saja hendak menyeruput tehnya langsung menghentikan gerakannya. "Hah? Besok sidang perceraian?"
"Iya."
"Kok cepat banget?"
Arini tersenyum tipis. "Alhamdulillah dikasih jadwal cepat. Jadi nggak bertele-tele dan nggak kebanyakan drama."
Ia memang sengaja berharap proses itu berjalan secepat mungkin. Semakin lama perkara itu berlangsung, semakin besar pula peluang Galang dan keluarganya mencari berbagai cara untuk menggagalkan gugatan tersebut.
Hani mengangguk mantap. "Kalau gitu, besok aku temani kamu."
Arini menoleh dengan senyum tulus yang sudah lama tak menghiasi wajahnya. "Siap."
"Pokoknya kamu nggak usah menghadapi semua itu sendirian."
"Makasih ya, Han."
"Kan udah kubilang," sahut Hani sambil tersenyum hangat, "kita ini saudara."
Arini mengangguk pelan. Kini, menjelang sidang yang akan menentukan masa depan hidupnya, ia merasa sedikit lebih tenang. Sebab ia tahu, saat melangkah ke ruang sidang esok hari, ada seseorang yang akan berdiri di sampingnya, bukan untuk menghakimi, melainkan untuk menguatkannya.
Suasana hangat yang sejak tadi memenuhi ruangan di ruko milik Arini mendadak terusik oleh suara ketukan di pintu.
Tok... tok... tok...
Arini menoleh ke arah pintu. "Ya, masuk!" ucapnya dengan suara yang cukup keras.
Pintu terbuka perlahan. Tika, salah satu karyawan yang bertugas di bagian packing, masuk dengan raut wajah sedikit gugup.
"Ada apa, Mbak?" tanya Arini.
Tika melirik sekilas ke arah Hani sebelum kembali menatap Arini. "Di luar ada ibu mertua Mbak Arin sama Mbak Vera."
Seketika senyum di wajah Arini menghilang.
"Tadi satpam sempat melarang mereka masuk. Tapi beliau malah berteriak-teriak di depan ruko, Mbak. Jadi beberapa karyawan sama pengunjung sampai keluar buat lihat."
Arini mengembuskan napas pelan. Rupanya dugaannya benar. Cepat atau lambat, keluarga Galang pasti akan datang mencarinya.
Sebelum Arini sempat menjawab, Hani lebih dulu angkat bicara. "Suruh aja mereka masuk. Tolong antar sampai ke sini, ya!"
Tika mengangguk. "Baik, Mbak."
Setelah Tika keluar dan pintu kembali tertutup, Arini langsung menatap sahabatnya dengan bingung.
"Han, kenapa malah disuruh masuk?"
Hani menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil melipat kedua tangan di depan dada. "Biarkan aja!"
"Maksudnya?"
"Aku pengin tahu, sebenarnya apa yang diinginkan Mak Lampir itu."
Arini langsung mengernyit. "Mak Lampir?"
"Iya." Hani mengangguk dengan wajah datar. "Soalnya suaranya mirip Mak Lampir. Tinggal ketawanya aja yang belum."
Arini sempat menahan tawanya beberapa detik. Namun akhirnya ia tak sanggup lagi. "Hahaha..."
Tawanya pecah memenuhi ruangan. "Ya Allah... ada-ada aja kamu, Han." Hani ikut tertawa.
"Daripada tegang terus, mending ketawa dulu. Nanti kalau mereka masuk, baru kita hadapi."
Arini menggeleng-geleng sambil mengusap sudut matanya yang berair karena terlalu banyak tertawa.
Di tengah segala masalah yang sedang menimpanya, Hani memang selalu berhasil membuat suasana menjadi lebih ringan. Namun, tawa itu perlahan mereda ketika terdengar suara beberapa langkah kaki mendekati ruangan.
Arini menarik napas panjang. Ia merapikan posisi duduknya, sementara Hani tetap tenang di sampingnya.
Tak lama kemudian, terdengar ketukan pelan di pintu. Kali ini, Arini tahu bahwa tamu yang datang bukan lagi membawa tawa, melainkan babak baru dari konflik yang harus ia hadapi.
Pintu ruang kerja terbuka perlahan. Tika mempersilakan dua tamu yang sejak tadi membuat keributan di depan ruko untuk masuk. Di belakangnya, Bu Sumarni melangkah lebih dulu dengan dagu terangkat tinggi, disusul Vera yang berjalan sambil memandang ke sekeliling ruangan.
Tatapan keduanya berkeliling, mengamati setiap sudut ruang kerja yang tertata rapi. Rak-rak berisi sampel produk, beberapa piagam penghargaan yang terpajang di dinding, hingga meja kerja yang dipenuhi berkas pesanan dan sebuah laptop yang masih menyala.
Raut wajah Bu Sumarni berubah. Ada keterkejutan yang berusaha ia sembunyikan.
Selama ini ia memang tidak tahu Arini berjualan secara daring. Jadi, ia tidak pernah benar-benar membayangkan bahwa menantunya punya usaha yang telah berkembang sebesar ini.
Pandangannya kembali menyapu ruangan sebelum akhirnya berhenti pada Arini.
"Gak nyangka... ternyata kamu seorang pedagang yang cukup berhasil, ya."
Itulah kalimat pertama yang keluar dari mulut Bu Sumarni.
Bukan ucapan salam. Bukan sapaan hangat.
Bahkan bukan sekadar basa-basi menanyakan kabar menantunya yang sedang menghadapi masa sulit.
Yang keluar justru komentar yang terdengar lebih seperti penilaian daripada penghargaan.
Arini hanya menatap ibu mertuanya dengan wajah datar. Tak ada senyum yang mengembang. Tak ada pula keinginan untuk menanggapi kalimat itu.
Sementara Hani yang duduk di samping Arini hanya memutar bola matanya pelan. Dalam hati, ia semakin yakin bahwa perempuan di hadapannya itu memang tidak pernah berubah. Datang tanpa empati, berbicara tanpa menjaga perasaan, seolah semua orang harus memaklumi sikapnya.
Suasana di ruangan itu pun mendadak berubah hening, dipenuhi ketegangan yang perlahan mulai terasa di antara mereka.
________________________________
Hai Readers, makasih ya, novel ini terpilih menjadi 20 bab terbaik. Support terus, biar terpilih kembali menjadi 40 bab terbaik. jangan lupa mampir ke novel aku yang lainnya ya!
Rahasia Masa Lalu Suami dan Sang Ipar (sudah tamat).
Ditalak Sesaat Setelah Akad (sudah tamat)
Benang Putus Karena Cinta Pertama. (Up)
Oh iya jangan lupa beri masukan dan kritikan yang membangun yah, biar makin semangat up novelnya. Terimakasih banyak Readers setiaku. 🥰🥰🥰 🙏🏼🙏🏼🙏🏼
di perintah sarapan lngsung sendiko dawuh.
untung Ada Hani.
lain kali jng di bantuin biar arini sendiri. ngadepi mertua zalim saja gk berani.
pantes di selingkuh I Dan di injak injak krn selalu sendiko dawuh. 😄.
sehat terus dan semangat Thor 😍💪💪💪