Merelakan masa mudanya merantau demi modal bisnis, Nesa berhasil membangun brand kosmetiknya seorang diri. Sebagai wujud bakti, ia memberikan posisi nyaman di perusahaan untuk kakak kandungnya, Sasya, dan mempercayakan hatinya pada Dika, suami yang dipacarinya sejak SMA.
Namun, dunia Nesa runtuh seketika saat ia mendapati kenyataan paling menjijikkan: Dika berselingkuh dengan Sasya. Di saat yang sama, Sasya memanfaatkan fasilitas perusahaan untuk merintis skincare tandingan di bawah dukungan penuh Dika. Syok luar biasa akibat pengkhianatan berlapis itu merenggut nyawa bayi yang tengah dikandung Nesa.
Berada di titik terendah setelah keluar dari rumah sakit, air mata Nesa berubah menjadi bara. Mengabaikan rasa sakitnya, Nesa bersiap membalas setiap tetes air matanya, membongkar kebusukan suami dan kakak kandungnya, serta merebut kembali apa yang sepenuhnya menjadi hak miliknya.
Satu Atap, Seribu Dusta ketika bakti dibalas duri dan pengkhianatan harus dibayar mahal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SATU ATAP SERIBU DUSTA
Pukul delapan pagi, sinar matahari merangsek masuk melalui celah tirai jendela ruang kerja CEO NesAura Skincare. Nesa duduk tenang di balik meja marmer hitamnya, menyesap teh hijau hangat sambil meneliti laporan keuangan bulanan. Suasana di ruangannya begitu damai sebelum tiba-tiba pintu ruang kerja terdorong terbuka dengan gerakan cepat.
Bila melangkah masuk dengan napas sedikit terengah-engah dan wajah yang menyiratkan kepanikan luar biasa. Di tangan kanannya, tablet digital menyala terang dengan deretan notifikasi yang berkedip tanpa henti.
"Bu Nesa... gawat! Kita kecolongan pagi ini!" seru Bila panik, langsung menghampiri meja kerja sang atasan dan meletakkan tablet tersebut tepat di hadapan Nesa.
Nesa mengangkat sebelah alisnya, tidak tergesa-gesa. Ia meletakkan cangkirnya perlahan. "Ada apa, Bil? Kenapa sepagi ini wajahmu pucat begitu? Apakah ada masalah lagi dengan sistem logistik?."
"Bukan masalah logistik, Bu. Tapi masalah besar di media sosial!" ujar Bila cemas. "Coba Ibu lihat sendiri linimasa internet sekarang. Nama Pak Arsen dan foto-foto kalian berdua semalam waktu makan malam di Menteng mendadak viral di berbagai platform media sosial."
Nesa menunduk, mengalihkan pandangannya ke layar tablet yang disodorkan oleh asistennya. Di sana terpampang sebuah artikel gosip hiburan daring dengan tajuk utama yang sangat mencolok: "Tertangkap Basah! Idola Papan Atas Arsenio Vance Menghabiskan Malam Romantis Bersama Seorang Wanita Misterius Berkelas."
Di bawah tajuk utama tersebut, tertera beberapa foto hasil bidikan kamera paparazzi atau penggemar secara diam-diam. Foto-foto itu memperlihatkan momen saat Arsen dan Nesa duduk berhadapan di meja sudut privat restoran lounge Menteng malam tadi mulai dari saat mereka berbincang akrab, senyuman hangat yang terukir di wajah Arsen, hingga detik-detik ketika Nesa tersenyum menanggapi candaan sang musisi muda. Meskipun wajah Nesa tidak tersorot secara frontal dari dekat, postur tubuh anggun, balutan dress hijau zamrud, serta aura dewasa yang menguar dari dirinya tertangkap kamera dengan sangat jelas.
Nesa tertegun sejenak. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa makan malam santainya bersama Arsen akan menjadi konsumsi publik secepat ini.
"Bagaimana berita ini bisa menyebar sampai seluas ini, Bil?" tanya Nesa tenang, tanpa menunjukkan kepanikan sedikit pun.
"Restoran itu lounge semi-outdoor, Bu. Rupanya ada salah satu pengunjung atau paparazzi lepas yang tidak sengaja mengenali Arsen, lalu mengambil foto secara diam-diam dari jarak jauh," jelas Bila sambil menggelengkan kepalanya pelan. "Dan sekarang... internet benar-benar meledak."
Benar apa yang dikatakan Bila. Hanya dalam kurun waktu beberapa jam sejak berita itu diunggah, kolom komentar di berbagai akun gosip dan media sosial resmi Arsen diserbu oleh jutaan penggemar setianya. Tagar yang mencatut nama Arsenio Vance dan "Wanita Misterius" langsung menduduki trending topic nomor satu di jagat maya.
Reaksi dari jutaan penggemar Arsen sontak terbelah menjadi dua kubu besar yang saling berdebat sengit tanpa henti.
Di satu sisi, ada kubu penggemar garis keras yang merasa tidak terima, syok, dan melontarkan kritik pedas. Mereka merasa bahwa Arsen yang dikenal sebagai idola muda berkarisma tinggi terlalu berharga untuk bersanding dengan wanita yang terlihat lebih dewasa.
"Siapa wanita itu sebenarnya?! Kenapa Arsen jalan sama wanita yang usianya kelihatan lebih tua darinya? Dia tidak cocok buat Arsen!" tulis salah satu penggemar garis keras di kolom komentar.
"Aku patah hati! Kenapa idolaku harus dekat sama perempuan kantoran yang kaku begitu? Kurang cocok, rasanya aura mereka beda banget!" timpal yang lainnya dengan nada kecewa.
Namun di sisi lain, kubu penggemar yang lebih dewasa, rasional, dan netral justru memberikan dukungan penuh mati-matian. Mereka terpesona melihat bagaimana aura Nesa yang begitu elegan, matang, dan berwibawa justru melengkapi sisi Arsen yang terkadang tengil dan bebas.
"Kalian pada buta ya?! Coba lihat cara wanita itu duduk dan tersenyum, auranya itu mahal banget! Berkelas dan dewasa, bukan tipe cewek lebay yang cari pansos!" bela seorang netizen di barisan pendukung.
"Aku justru dukung seratus persen! Arsen kelihatan sangat bahagia dan menghargai wanita itu. Dari posturnya saja kelihatan kalau wanita itu bukan orang sembarangan. Cocok banget sama Arsen yang butuh pasangan matang!"
Perdebatan sengit antara kedua kubu fans itu berubah menjadi medan perang digital yang riuh rendah. Ada yang memuji habis-habisan, ada pula yang mencaci maki tanpa tahu fakta yang sebenarnya.
Nesa menghela napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya di kursi kerja. Ia menutup tablet digital itu perlahan dan menatap Bila dengan pandangan tenang.
"Biarkan saja mereka berdebat, Bil," ucap Nesa santai. "Opini publik di internet itu seperti angin lalu; hari ini mereka meributkan hal ini, besok mereka akan lupa begitu ada isu baru yang lebih menarik."
"Tapi, Bu Nesa..." protes Bila khawatir. "Bagaimana kalau pemberitaan ini mengganggu privasi Ibu, atau malah berdampak buruk pada citra korporat NesAura? Terutama karena kita baru saja melewati kasus hukum kemarin."
Sebelum Nesa sempat menjawab ucapan asistennya, layar ponsel di atas meja kerjanya tiba-tiba berdering nyaring. Nama Arsenio Vance tertera jelas di layar panggilan.
Nesa meraih ponselnya, lalu menggesek tombol hijau untuk menerima panggilan tersebut.
"Halo, Arsen," sapa Nesa tenang begitu sambungan terhubung.
Di ujung telepon, suara helaan napas berat terdengar jelas. Nada suara Arsen terdengar sedikit cemas, jauh berbeda dari biasanya yang selalu santai. "Nesa... kamu sudah lihat berita pagi ini di internet, kan? Maafkan aku. Aku benar-benar tidak menyangka kalau momen makan malam kita semalam akan bocor ke media dan membuat kehebohan seperti ini."
Nesa tersenyum tipis mendengar kekhawatiran di suara pemuda itu. "Aku sudah lihat beritanya, Arsen. Dan kamu tidak perlu meminta maaf atas sesuatu yang bukan kesalahanmu. Kita kan hanya makan malam biasa, bukan sedang melakukan tindakan kriminal."
"Aku tidak peduli apa kata media atau komentar julid para haters," tegas Arsen di ujung telepon, suaranya terdengar serius dan melindungi. "Tapi aku takut berita ini mengganggu kenyamananmu, ruang pribadimu, atau pekerjaanmu di kantor. Kalau kamu mau, aku bisa langsung minta manajemenku merilis klarifikasi resmi sekarang juga."
"Tidak usah terburu-buru merilis klarifikasi resmi, Arsen," cegah Nesa bijak. "Kalau kita terlalu reaktif menanggapi setiap gosip murahan di internet, para pemburu berita justru akan semakin menjadi-jadi. Biarkan saja mereka berasumsi sesuka hati mereka. Toh, kebenaran tidak akan berubah hanya karena opini orang-orang di dunia maya."
Mendengar ketenangan mutlak dari suara Nesa, ketegangan di dada Arsen perlahan mereda. Pemuda itu tertawa kecil di ujung sambungan, merasa kembali kagum pada mental baja wanita di hadapannya itu.
"Kamu memang perempuan paling tenang yang pernah aku kenal, Ratu Nes," puji Arsen tulus. "Baiklah, kalau itu keputusanmu. Tapi pastikan hari ini kamu baik-baik saja di kantor. Nanti sore, selesai urusanku, aku akan mampir menemuimu."
"Baiklah, aku tunggu di kantor. Hati-hati di jalan," balas Nesa lembut sebelum akhirnya menutup sambungan telepon.
Sementara itu, di sebuah kafe tersembunyi di sudut kawasan Kebayoran Baru, suasana hati seseorang justru berbanding terbalik dengan ketenangan Nesa.
Sasya yang seharusnya mendekam di balik jeruji besi tahanan rutan ternyata baru saja menikmati waktu kunjung luar biasa berkat bantuan segelintir sisa koneksi pengacara bayarannya yang memanfaatkan celah hukum darurat kesehatan untuk mengeluarkannya sementara waktu dari rutan guna pemeriksaan medis luar. Di hadapan meja kafe, Sasya menatap layar ponselnya dengan mata melotot penuh amarah dan rasa tidak percaya.
Ia baru saja melihat berita viral mengenai kedekatan Nesa dan Arsenio Vance di media sosial.
"Sialan... sialan perempuan itu!" desis Sasya penuh kebencian, meremas ponsel di tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.
Di dalam penjara, hidupnya hancur lebur tanpa sisa, keluarganya menjauhinya, dan masa depannya telah musnah. Namun, adiknya Nesa malah bisa berjalan bebas dengan kepala tegak, memegang kendali penuh atas perusahaan, dan bahkan kini dikabarkan dekat dengan seorang idola papan atas yang sangat terkenal dan kaya raya!
Rasa iri, dengki dan kebencian yang sudah mendarah daging di dalam jiwa Sasya kembali meledak hebat, membakar setiap sel di dalam tubuhnya. Ia tidak akan pernah membiarkan Nesa hidup bahagia di atas penderitaannya. Meskipun dirinya kini berada di ambang kehancuran hukum, Sasya bersumpah di dalam hatinya bahwa ia akan mencari cara terakhir untuk menjatuhkan sang adik sebelum ia benar-benar dikurung selamanya.
Kembali ke ruang kerja CEO NesAura, Nesa kembali fokus pada pekerjaannya setelah meletakkan ponsel. Badai opini publik di luar sana boleh saja menderu kencang, membelah para penggemar menjadi dua kubu yang saling serang. Namun, bagi Nesa, tidak ada satupun komentar netizen yang mampu menggoyahkan pijakan kakinya.
Ia telah melalui tikaman paling mematikan dari suami dan kakak kandungnya sendiri, melewati kehilangan yang meremukkan jiwa, dan bangkit dari abu kehancuran. Gosip murahan di internet sama sekali bukan tandingan bagi mental baja seorang Ratu yang kini memegang kendali penuh atas takdir hidupnya sendiri.
Pintu ruang kerja kembali terketuk, menandakan lembaran hari baru terus berjalan membawa Nesa semakin dekat pada kemenangan abadi yang diraihnya dengan cucuran keringat dan kepala tegak.