NovelToon NovelToon
Perjodohan Pembunuh Naga Dan Putri Naga

Perjodohan Pembunuh Naga Dan Putri Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:350
Nilai: 5
Nama Author: EMPIRE RAJA

**Perjodohan Pembunuh Naga dan Putri Naga**

Veronica, seorang naga setengah manusia, harus menikah dengan Altres Vanguard, kesatria terkenal yang dijuluki pembunuh naga. Pernikahan mereka merupakan syarat perdamaian antara bangsa naga dan manusia yang telah lama bermusuhan. Namun, menyatukan dua makhluk dari ras berbeda bukanlah perkara mudah. Veronica yang tidak memahami kehidupan manusia sering berselisih dengan Altres, sementara Altres sulit menerima kenyataan bahwa wanita yang menjadi istrinya adalah seekor naga.

Di balik pertentangan mereka, tersimpan luka masa lalu yang perlahan terungkap. Veronica kehilangan ibunya yang seorang manusia, menyaksikan bagaimana usia singkat sang ibu memisahkan mereka untuk selamanya. Sementara itu, Altres kehilangan ayah dan kedua kakaknya dalam perang melawan bangsa naga, meninggalkan kebencian yang sulit dihapuskan.

Seiring waktu, keduanya mulai memahami kesedihan dan ketakutan masing-masing. Di antara perbedaan, dendam, dan luka masa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EMPIRE RAJA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 altres dan Veronica di atas ranjang

Altres, kesatria termasyhur yang digelari pembantai naga, sudah menebas puluhan, bahkan mungkin lebih dari seratus naga sepanjang hidupnya. Ia pernah berdiri sendirian di hadapan raungan yang sanggup meruntuhkan tebing tanpa gentar sedikit pun. Namun kini seluruh tubuhnya gemetar tak terkendali hanya karena seekor naga yang berbaring di atas ranjangnya sendiri. Ia memejamkan mata rapat-rapat dan berpura-pura tidur, tetapi bayangan Veronica dalam gaun merah muda yang begitu mempesona terus menari di balik kelopak matanya, membuat kepalanya kosong dan napasnya tak beraturan. Setiap kali kasur bergerak sedikit saja karena napas wanita di sampingnya, jantungnya serasa melompat keluar dari dada. Satu-satunya hal yang bisa ia lakukan hanyalah berdoa dalam hati agar makan malam segera tiba, sehingga ia punya alasan untuk melarikan diri dari kamar itu dan menenangkan diri, entah dengan makan atau dengan mengayunkan pedang sampai pagi.

Di sisi lain ranjang, Veronica berbaring menjauh hingga nyaris menyentuh tepi kasur, punggungnya kaku dan tatapannya terpaku pada langit-langit. Cahaya sore yang masuk lewat celah tirai menyapu pelan wajahnya, tetapi ia sama sekali tidak menikmatinya. Ia menghela napas panjang. Merebut hati pria itu ternyata jauh lebih sulit dari yang ia bayangkan, bahkan dengan penampilan secantik ini. Padahal pria yang ia kira dingin itu sedang berjuang mati-matian menahan diri agar tidak memeluknya. Veronica melirik Altres yang tampak terlelap, lalu menyimpulkan bahwa pria itu pasti tidak sudi menyentuh musuh bebuyutannya. Ia sebenarnya hanya ingin membuat mertuanya senang, tetapi sekarang semua usahanya terasa sia-sia. Akhirnya ia memutuskan ikut memejamkan mata, sebab setidaknya sang mertua akan tetap gembira meski tak terjadi apa-apa malam ini. Sayangnya perutnya tak mau diajak berdamai. Emma tidak membiarkannya makan sejak pagi demi menjaga bentuk gaun, dan tak lama kemudian perutnya berbunyi begitu keras hingga terdengar jelas di seluruh kamar yang sunyi.

Altres membuka mata dan menoleh, mendapati Veronica yang buru-buru menutup perutnya dengan kedua tangan dan wajah memerah. Ia berdeham untuk menyembunyikan getar di suaranya. "Kau lapar? Kalau begitu makan saja duluan, tak perlu menungguku."

"Tidak masalah. Makan malam pasti sebentar lagi tiba," jawab Veronica dengan suara sedikit terlalu tinggi sambil memalingkan wajah. Ia berdeham pelan, lalu buru-buru mengalihkan pembicaraan sebelum perutnya kembali berulah. "Bagaimana keadaan perbatasan? Kudengar monster di sana semakin banyak belakangan ini."

"Sudah membaik setelah pasukanku membasmi ratusan monster di sana," jawab Altres singkat. Ia bergeser sedikit, masih berusaha menjaga jarak yang aman di antara mereka. "Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi untuk sementara waktu."

Veronica mengangguk pelan, tampak lega meski ia berusaha menyembunyikannya di balik wajah datarnya. Keheningan sempat kembali turun, dan Altres, yang tidak tahan dengan sunyi yang menyesakkan itu, memaksakan sebuah pertanyaan. "Bagaimana sidakmu ke Skypia? Menyenangkan?"

Mata Veronica langsung berbinar. Ia memutar tubuhnya setengah menghadap Altres dan mulai bercerita sambil menggerakkan tangannya, seolah lupa bahwa beberapa saat lalu ia masih kaku seperti patung. Ia melihat ladang yang membentang luas sejauh mata memandang, disambut dengan hangat oleh Count Regurd, lalu diajak menyaksikan tambang batu mulia yang menghasilkan permata dalam jumlah besar. "Bahkan ada batu sihir yang ditemukan di sana, walau jumlahnya sedikit sekali. Kau harus melihat kilau batu permata itu saat terkena cahaya," katanya sambil menyipitkan mata, seolah masih membayangkannya. "Lalu tiba-tiba ada monster yang muncul. Aku langsung membereskannya dengan mudah," lanjutnya bangga sambil mengangkat dagu. "Tidak ada korban jiwa. Banyak yang terluka akibat serangan itu, tapi tidak ada yang meninggal."

Altres menatapnya dengan alis terangkat, benar-benar heran. Seekor naga yang begitu bangga karena menyelamatkan manusia adalah pemandangan yang tak pernah ia bayangkan seumur hidupnya, apalagi dari makhluk yang selama ini hanya ia kenal lewat bilah pedang dan api. "Kenapa kau sebangga itu menyelamatkan manusia? Mereka bahkan takut padamu."

"Karena aku istri penguasa wilayah Brune, dan menjaga rakyatnya adalah tanggung jawabku." Veronica menegakkan punggung dan menatapnya tajam, nyaris seperti hendak menantang, sementara kedua tangannya terlipat di depan dada. "Takut atau tidak, itu urusan mereka. Jadi kau tidak boleh protes soal itu. Aku memang seekor naga, tapi aku tetap seorang Duchess yang bertanggung jawab."

Altres terdiam sejenak, memandangi wajah yang tampak begitu sungguh-sungguh itu. Seorang naga yang berbicara tentang tanggung jawab seorang penguasa, dan terdengar lebih layak menyandang gelar itu daripada banyak bangsawan yang pernah ia temui. Perlahan sudut bibirnya bergerak naik, dan ada sesuatu di dadanya yang mengendur sekaligus mengencang. "Kalau begitu, apakah kau juga mau bertanggung jawab atas diriku?"

Veronica mengerjapkan mata, bingung, dan menatapnya tanpa berkedip. "Apa maksudmu? Tanggung jawab seperti apa yang kau inginkan dariku?"

Altres tidak menjawab. Ia memiringkan tubuhnya dan menatap Veronica lekat-lekat, sementara jemarinya terulur menyentuh pipi wanita itu dengan sangat lembut, seakan takut ia akan pecah. "Kau sudah membuatku kesulitan menahan diri," bisiknya serak. "Apakah kau juga merasakan dadamu sesak seperti yang kurasakan sekarang?"

Veronica membeku di bawah sentuhan itu, seolah seluruh keberaniannya yang tadi menyala lenyap begitu saja. Hangat jemari pria itu menjalar sampai ke tengkuknya, dan untuk sesaat ia kehilangan kata-kata. Ia menelan ludah sebelum akhirnya bergumam pelan, "Aku... aku hanya mengikuti perintah Ibu Mertua. Dan aku juga tidak keberatan berhubungan denganmu layaknya suami istri."

Mendengar itu, Altres tak sanggup lagi menahan diri. Ia menarik tubuh Veronica ke dalam pelukannya dengan erat, hingga wajah mereka hanya berjarak sejengkal dan napas keduanya saling bertaut. "Kau bisa mendengar detak jantungku?" tanyanya lirih di dekat telinga Veronica. "Seorang pembantai naga sepertiku, berdebar seperti ini hanya karena satu naga kecil di ranjangnya."

Veronica mengangguk pelan dalam dekapan itu, dan tanpa sadar bibirnya melengkung tipis mendengar sebutan itu. Di balik wajahnya yang berusaha tampak tenang, jantungnya sendiri berdebar sama kencangnya, dan rasa malu yang luar biasa membuat jemarinya mencengkeram pakaian Altres tanpa sadar. Altres mengangkat dagunya perlahan dan menciumnya. Setelah itu ia menatap Veronica dari ujung rambut hingga ujung kaki, dari helai merah yang tergerai di bantal sampai ujung gaun yang kusut, nyaris tak percaya bahwa ada naga secantik dan seindah wanita dalam pelukannya. Veronica kembali memalingkan wajahnya yang merah padam, tak sanggup membalas tatapan itu.

Tangan Altres kembali membelai wajahnya dengan lembut, memaksanya menoleh pelan hingga tatapan mereka bertemu. "Kau benar-benar tidak keberatan?" tanyanya sekali lagi dengan suara rendah, memastikan, karena ia tidak ingin wanita itu menyesal esok hari. "Katakan sekarang kalau kau ingin aku berhenti."

Veronica terdiam cukup lama, napasnya tersengal dan bibirnya bergetar tanpa suara, lalu mengangguk kecil dan kembali membenamkan wajahnya di dada Altres, tepat di tempat detak jantung yang tadi ia dengar. Altres tersenyum tipis sambil menyisir pelan rambut merah yang terasa hangat di sela jemarinya, seakan ingin mengingat sensasi itu selamanya. Apa pun yang akan terjadi setelah ini, ia tahu ia tidak akan menyesalinya. Ia hanya ingin memiliki wanita itu, walau mungkin hanya sementara, sampai aliansi naga dan manusia berakhir.

Namun tiba-tiba terdengar ketukan keras di pintu yang membuat keduanya tersentak dan serentak menoleh, disusul suara Reynan, ajudannya, yang terdengar tegang dan tergesa-gesa. "Tuan Duke, maaf mengganggu. Ada laporan penting yang harus segera Anda urus."

Seketika suasana romantis yang baru saja dibangun keduanya hancur berkeping-keping. Altres terpaku dengan tangan masih melingkari pinggang Veronica, lalu menghela napas panjang dan menempelkan dahinya sejenak ke bahu wanita itu. Dari balik pintu, Reynan tentu sama sekali tidak menyadari bencana yang baru saja ia timbulkan. Veronica buru-buru menjauh dengan wajah yang masih merah padam dan jemari yang sibuk merapikan gaunnya, sementara Altres menatap langit-langit dengan tatapan kosong, bertanya-tanya dalam hati dosa apa yang telah ia perbuat hingga takdir mengirim laporan penting tepat pada saat itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!