NovelToon NovelToon
Isteri Sah Di Balik Bayangan

Isteri Sah Di Balik Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: christinsenia seranica

**Isteri Sah di Balik Bayangan**

Sepuluh tahun menikah, Aina, PNS di Kantor Camat Pujut, Lombok Tengah, akhirnya hamil. Ia berniat memberi kejutan pada suaminya, Lalu Raka. Namun di dekat Pantai Kuta Mandalika, ia justru melihat Raka menggendong seorang bocah yang memanggilnya "Bapak", ditemani wanita bernama Baiq Sekar.

Hari itu juga, dari data kependudukan yang setiap hari ia urus, Aina menemukan kebenaran paling pahit: Sekar adalah istri pertama. Selama ini, dialah istri kedua yang hidup di balik bayangan.

Bertahan dalam kebohongan, atau pergi membawa buah hati yang telah lama ia nantikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon christinsenia seranica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua Perempuan di Tanjung Aan

Aina tidak tidur sepanjang malam. Ia membaca pesan Sekar berulang-ulang, mencoba menebak maksud di balik setiap kata. Apakah ini jebakan? Apakah Lale Rukmini yang menyuruhnya? Atau perempuan itu benar-benar sudah tahu?

Menjelang subuh, ia membalas singkat.

"Waalaikumsalam. Di mana?"

Balasan datang hampir seketika, seolah Sekar juga tidak tidur.

"Pantai Tanjung Aan, jam tujuh pagi. Di berugak paling ujung, dekat bukit. Belum banyak orang jam segitu".

Hamdan bersikeras ikut. "Aku tunggu di mobil, Dik. Tidak akan mengganggu. Tapi aku tidak mau kamu sendirian kalau ternyata ini akal-akalan keluarga mereka."

Aina tidak membantah.

Pagi itu Tanjung Aan masih sepi. Pasirnya yang halus seperti butiran merica berkilau ditimpa cahaya matahari yang baru naik. Ombak bergulung pelan, dan bukit Merese di kejauhan masih diselimuti kabut tipis.

Sekar sudah duduk di berugak paling ujung. Ia mengenakan gamis abu-abu sederhana dan kerudung hitam. Tanpa riasan, tanpa senyum ramah seperti di loket kantor camat. Matanya sembap, dan di tangannya ada sebuah ponsel yang ia genggam erat-erat.

Ketika melihat Aina datang, Sekar berdiri.

Sesaat keduanya hanya saling menatap. Dua perempuan yang menikahi lelaki yang sama, berdiri berhadapan untuk pertama kalinya dengan mengetahui siapa satu sama lain.

"Terima kasih sudah datang, Bu Aina," ucap Sekar akhirnya. Suaranya serak.

"Panggil Aina saja."

Sekar mengangguk. "Kalau begitu, panggil saya Sekar."

Mereka duduk berhadapan di berugak. Angin laut berembus, membawa aroma garam dan rumput laut.

"Bagaimana kamu tahu?" tanya Aina pelan.

Sekar menarik napas panjang. "Kemarin, setelah pulang dari kantor camat, saya tidak bisa berhenti memikirkan wajahmu. Kamu pucat sekali begitu mendengar nama suami saya. Lalu Abang tiba-tiba panik di telepon. Semuanya terasa janggal." Ujar Sekar sambil sesekali menatap ombak.

" Lalu Malam harinya, setelah Abang tidur, saya membuka ponselnya. Saya tidak pernah melakukan itu selama dua belas tahun menikah. Saya selalu percaya padanya." Sekar tersenyum getir. "Kata sandinya tanggal lahir Arsya. Saya langsung bisa masuk."

"Apa yang kamu temukan?"

"Ratusan pesan dengan nomor bernama Na. Foto-foto kalian berdua. Foto kamu memakai kain tenun yang Abang bilang ia beli untuk Inaq." Suara Sekar bergetar. "Foto alat tes kehamilan yang Abang kirim ke Inaq tadi malam, dengan tulisan: Aina hamil. Bagaimana sekarang?"

Aina memejamkan mata.

"Saya marah," lanjut Sekar. "Saya ingin membangunkan Abang dan berteriak. Tapi kemudian saya membaca percakapan Abang dengan Inaq."

Ia menyodorkan ponselnya ke arah Aina. Layar menampilkan rangkaian pesan yang sudah ditandai.

Aina membacanya dengan tangan gemetar.

"Lale Rukmini: Besok Inaq ke rumahnya. Kalau dia mau pergi baik-baik, beri uang, urus mutasinya. Anak itu kita ambil setelah lahir. Sekar yang akan merawatnya".

"Raka: Sekar tidak tahu apa-apa, Inaq. Bagaimana menjelaskannya?"

"Lale Rukmini: Bilang saja anak saudara jauh yang yatim. Sekar perempuan baik, dia tidak akan menolak".

"Raka: Aina tidak akan mau menyerahkan anaknya".

"Lale Rukmini: Kalau begitu kita buat dia tidak punya pilihan".

Aina mendongak. "Raka… tidak benar-benar setuju?"

Sekar menggeleng pelan. "Saya tidak tahu apa yang Abang pikirkan. Dia tidak pernah membalas pesan terakhir itu. Tapi dia juga tidak menolak." Ia menunduk. "Abang memang begitu. Selalu diam di tengah. Membiarkan orang lain memutuskan untuknya."

Sekar menyeka sudut matanya dengan ujung kerudung.

"Yang membuat saya tidak bisa tidur bukan karena Abang menikah lagi, Aina. Bukan juga karena dia berbohong pada saya. Tapi karena mereka berencana menyerahkan anakmu kepada saya, membiarkan saya membesarkannya tanpa tahu bahwa ibunya masih hidup dan menginginkannya." Suaranya pecah. "Saya juga seorang ibu. Saya menunggu tujuh tahun untuk Arsya. Saya tahu rasanya."

Aina tidak bisa menahan air matanya lagi. Di depannya, perempuan yang seharusnya menjadi musuhnya, justru menjadi satu-satunya orang di keluarga itu yang memahami lukanya.

Mereka duduk dalam diam beberapa saat, membiarkan suara ombak mengisi kekosongan.

"Ada satu hal lagi yang harus kamu tahu," kata Sekar kemudian. "Proyek di Mandalika itu tidak pernah ada."

Aina menoleh cepat. "Apa maksudmu?"

"Abang tidak bekerja di kontraktor mana pun. Sudah bertahun-tahun ia tidak punya pekerjaan tetap. Mobil putih itu milik bapak saya. Rumah kami di bunut juga warisan dari keluarga saya." Sekar menatap Aina dengan sorot bersalah. "Setiap kali Abang bilang ke saya ada proyek di luar kota, dia sebenarnya ke rumahmu.Setiap kali dia bilang ke kamu ada proyek di Mandalika…"

"Dia pulang ke rumahmu," bisik Aina.

Sekar mengangguk.

Aina teringat sesuatu. Lima tahun lalu, Raka pernah memintanya mengajukan pinjaman ke bank dengan jaminan SK PNS-nya. "Modal proyek, Na. Nanti Mas yang cicil". Namun sampai hari ini, gaji Aina masih dipotong setiap bulan untuk membayar cicilan itu. Raka tidak pernah sekali pun ikut membayarnya.

Lima tahun lalu. Tahun yang sama ketika Arsya lahir.

Aina merasa mual. Uang itu mungkin dipakai untuk biaya persalinan Sekar. Untuk aqiqah Arsya. Untuk kehidupan yang tidak pernah ia ketahui.

"Saya tidak tahu soal itu," ucap Sekar lirih ketika Aina menceritakannya. "Demi Allah, saya tidak tahu."

"Aku percaya," jawab Aina. Ia memang percaya.

Matahari semakin tinggi. Beberapa wisatawan mulai berdatangan, menggelar tikar di pasir. Sekar melirik jam tangannya dengan gelisah.

"Aku harus pulang sebelum Abang bangun. Dia tidak tahu aku di sini."

"Sekar," panggil Aina. "Kenapa kamu menolongku? Kamu bisa saja diam. Kamu bisa mempertahankan suamimu dan membiarkan aku pergi."

Sekar terdiam lama. Lalu ia menatap Aina dengan mata yang jernih.

"Karena kalau aku diam, aku akan sama seperti mereka." Ia berdiri dan merapikan gamisnya. "Lagi pula, aku tidak yakin masih ingin mempertahankan apa pun."

Ia melangkah keluar dari berugak. Tetapi baru dua langkah, ia berhenti dan berbalik. Wajahnya berubah tegang, seolah baru teringat sesuatu yang paling penting.

"Aina, ada satu pesan lagi. Ibu mengirimnya ke Abang sekitar jam satu malam. Aku tidak sempat menandainya."

Ia mengeluarkan ponselnya lagi, menggulir cepat, lalu menyodorkan layar itu kepada Aina.

"Lale Rukmini: Kalau dalam seminggu dia belum memberi jawaban, jangan tunggu lagi. Inaq kenal orang di BKD. Kita laporkan dia duluan sebagai PNS yang menjadi istri kedua. Setelah dia diberhentikan, dia tidak akan punya apa-apa untuk membesarkan anak itu. Dia sendiri yang akan datang menyerahkannya".

Aina membaca pesan itu sekali. Dua kali. Darahnya terasa membeku.

"Mereka tidak akan menunggu seminggu," kata Sekar pelan. "Aku mengenal Ibu. Kalau dia sudah berkata begitu, dia akan bergerak secepatnya."

Aina menatap ombak yang bergulung di kejauhan. Lalu ia menoleh ke arah parkiran, ke mobil tempat Hamdan menunggu.

Kata-kata kakaknya terngiang di kepalanya. "Kamu harus melapor lebih dulu, sebelum orang lain yang melaporkanmu".

Ia berdiri. Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, tangannya tidak gemetar.

"Kalau begitu," katanya, "aku yang akan bergerak lebih dulu."

1
falea sezi
si aina di jadikan ban serep saat istri. pertama gugat cerai🤣 najis amat bloon
niaww
semngat kak mampir cerita aku juga ya🥰
falea sezi
pake pengacara lah bodoh
falea sezi
🤣🤣🤣 goblok si aina suami berbagi aja dia mau
Emily: kesel ya klo ada istri oon
total 1 replies
falea sezi
cerai aina bloon🤣
falea sezi
cerai aina enak y berbagi batangan satu itu🤣🤣 cari batangan yg gk usah di bagi😒 begooo🤭
falea sezi
aina tololl menye menye
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!