Mentari adalah CEO konglomerat besar yang menyamar menjadi karyawan biasa demi mencari cinta sejati. Ia bertemu dengan Bara seorang pekerja yang sangat ulet dan ambisius. Selama tiga tahun ia menjalin hubungan dan diam-diam membantu pria itu membangun perusahaan.
Bara pernah berjanji akan memberikan pernikahan yang megah setelah sukses, tetapi setelah berhasil meraih kejayaan sikap pria itu ternyata berubah.
Pada malam peresmian perusahaan, Vanya, sahabat sekaligus sekretaris Bara menghina dan mempermalukan Mentari. Namun, Bara hanya diam dan berpura-pura tidak melihat.
Kecewa dengan sikap pria itu, Mentari pun pergi dan menghentikan seluruh bantuan yang selama ini diberikannya.
Saat Bara menyesali perbuatannya dan berusaha mendapatkan Mentari kembali, wanita itu telah menemukan kebahagiaan bersama Titan, seorang miliarder yang mencintainya dengan tulus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 — Jalan Keluar di Ujung Keputusasaan
.
Keesokan paginya, Vanya datang ke kantor dengan pikiran kacau. Perubahan sikap bara setelah mengetahui identitas asli Mentari, dan Bara yang bilang akan mendatangi kediaman keluarga Adiprana membuatnya takut kehilangan pria yang telah disukainya sejak masa kuliah. Sudah banyak cara yang ia gunakan untuk menyingkirkan Mentari dari sisi Bara, mana mungkin ia membiarkan Mentari kembali mengambil tempat dalam kehidupan pria itu.
Selama ini, Vanya selalu berusaha menjadi orang yang paling dibutuhkan dan juga pengertian di mata Bara. Lalu dengan sikap yang begitu pengertian dan dalih menguji mental Mentari supaya bisa menjadi layak berdiri di sisi Bara, padahal aslinya yang ia lakukan adalah menindas Mentari. Semua itu ia lakukan agar Mentari menyerah dengan sendirinya. Dan ia sempat merasa menang saat Bara mengatakan bahwa Mentari marah dan pergi dari apartemen.
Lalu sekarang, tiba-tiba saja muncul berita bahwa Mentari adalah putri tunggal dari Panji Adipradana? Vanya merasa dirinya bagai dihempaskan dengan cara mengenaskan. Gadis yang selama ini ia injak sesuka hati ternyata memiliki status sosial yang sangat jauh berada di atasnya.
Ketika melihat Bara tiba di kantor dengan wajah lelah, Vanya segera menghampirinya.
“Kamu benar-benar pergi ke rumah Mentari kemarin?” tanyanya sambil berdiri di sisi meja.
Bara mengangguk dan meletakkan tasnya. “Ya, tetapi aku tidak berhasil menemuinya. Petugas keamanan bahkan mengusirku dari depan gerbang.”
“Lalu kamu masih ingin kembali ke sana?” Vanya berusaha menjaga suaranya tetap tenang, meskipun dadanya terasa sesak mendengar jawaban itu.
“Aku harus bicara dengannya.” Bara menatap wajah Vanya datar. “Kalau bukan kamu yang selalu bilang Mentari tak layak berdiri di sisiku, tidak mungkin selama ini aku membiarkan kamu menguji dia. Kamu yang sudah keterlaluan di malam peresmian itu makanya dia pergi.”
Vanya menggigit bibirnya. Ia ingin melarang Bara menemui Mentari, tetapi khawatir larangan itu justru membuat pria tersebut semakin bertekad. Karena itu, ia memilih mengalihkan pembicaraan kepada persoalan yang tak kalah mendesak, yaitu keadaan perusahaan mereka.
“Baiklah anggap saja aku salah. Tapi itu Karena aku tidak tahu kalau dia putri Adiprana. Tapi seharusnya kamu sadar itu bukan cuma kesalahanku. Dia juga salah karena menyembunyikan identitasnya.”
Vanya menjeda ucapannya untuk mengambil nafas, sebelum kemudian melanjutkan, “Bara, aku mengerti kamu ingin menyelesaikan masalah dengan Mentari. Namun, kamu juga jangan sampai mengabaikan perusahaan kita. Kalau kamu hanya fokus sama Mentari kondisi perusahaan kita akan semakin memburuk,” ujarnya sambil meletakkan sebuah map di atas meja.
Bara menyandarkan tubuh ke kursi dan mengusap wajahnya. “Aku tahu. Tapi bagaimana caranya? Investor, bank, semuanya menolak. Apa lagi yang bisa kita lakukan?”
Vanya membuka map yang dibawanya, lalu menunjukkan informasi mengenai sebuah tender besar dari Danuarta Global Corporation. Perusahaan itu sedang mencari mitra untuk mengerjakan proyek pengembangan kawasan bisnis terpadu dengan nilai kontrak yang cukup besar.
“Ada satu peluang yang mungkin bisa menyelamatkan kita,” jelas Vanya sambil menunjuk informasi proyek tersebut. “Danuarta Global akan membuka lelang tender. Kalau kita berhasil mendapatkan proyek ini, perusahaan bisa memperoleh pemasukan yang cukup untuk memperbaiki kondisi keuangan.”
Bara mengambil dokumen itu dan membacanya dengan teliti. Semakin lama ia memeriksa persyaratan yang tercantum, semakin besar pula ketertarikannya. Nilai proyek tersebut memang menjanjikan, tetapi ia tahu persaingannya akan sangat ketat.
“Danuarta Global bukan perusahaan sembarangan,” katanya sambil mengangkat wajah. “Mereka pasti memilih perusahaan dengan kondisi keuangan sehat dan rekam jejak yang baik. Kita sedang terpuruk. Apa mungkin mereka memilih kita?”
Vanya sudah menduga pertanyaan itu. Ia segera menjelaskan bahwa dirinya mengenal seseorang yang cukup berpengaruh di perusahaan tersebut. Mereka pernah berkenalan dalam sebuah acara bisnis, dan Vanya yakin orang itu bisa membantu agar mereka lolos dengan mudah.
“Dia itu adalah salah satu petinggi di sana. Kalau kamu setuju aku akan menghubungi kenalanku itu untuk mendapatkan bocoran apa saja yang mereka butuhkan. Dengan begitu aku yakin kita akan menang.”
Bara kembali membaca dokumen di tangannya. Setelah berkali-kali menerima penolakan, kesempatan ini terasa seperti jalan keluar yang selama ini dicarinya. Ia harus bisa mendapatkan peluang tersebut.
“Baiklah. Hubungi orang itu secepatnya,” putusnya kemudian. “Aku ingin kamu mengurus semua informasi yang diperlukan. Lalu diskusikan dengan bagian pengembangan bisnis untuk segera menyiapkan proposal terbaik agar kita bisa mengikuti tender tersebut.”
Vanya mengangguk. Ia lega karena Bara tak lagi memusatkan perhatian pada Mentari. Asalkan ia bisa mengalihkan perhatian bara dari Mentari, ia yakin memiliki kesempatan untuk tetap berada di sisi pria tersebut.
Namun, sebelum beranjak dari ruangan itu, Vanya kembali menatap Bara dengan ekspresi serius.
“Ada satu hal lagi yang perlu kita pertimbangkan,” katanya, membuat Bara mengalihkan pandangan dari dokumen. “Mungkin kita membutuhkan sedikit pelicin agar prosesnya lebih mudah.”
Bara langsung mengernyit. “Pelicin seperti apa?”
Vanya menjelaskan bahwa mereka bisa memberikan sedikit uang agar kenalannya itu bersedia membantu mereka mendapatkan akses kepada pihak yang menangani tender.
“Berapa kira-kira yang harus kita berikan?" tanya Bara.
“Bagaimana kalau seratus juta? Aku rasa itu sudah cukup."
“Seratus juta?” tanya Bara tidak percaya. “Kamu tahu kondisi keuangan kita sekarang. Kita bahkan kesulitan membayar kewajiban yang sudah jatuh tempo. Bagaimana mungkin kita mengeluarkan uang sebanyak itu?”
Vanya berusaha meyakinkannya bahwa dana tersebut cukup wajar mengingat keuntungan yang akan mereka dapatkan jika proyek itu bisa mereka dapatkan.
“Kalau kita terus diam dan hanya menunggu keadaan membaik, perusahaan ini bisa keburu bangkrut,” ujarnya sambil menatap Bara lekat-lekat. “Tender ini mungkin kesempatan terakhir kita. Seratus juta memang besar, tetapi kalau kita mendapatkan proyek itu, hasilnya bisa berkali-kali lipat.”
Bara terdiam. Ia tahu Vanya benar mengenai keadaan perusahaan, tetapi tetap merasa ragu mengeluarkan uang yang belum tentu menghasilkan apa pun. Dana mereka sangat terbatas, sedangkan kebutuhan operasional tidak bisa ditunda. Jika rencana tersebut gagal, mereka hanya akan menambah masalah baru.
“Bagaimana kalau uang itu sudah keluar, tetapi kita tetap tidak mendapatkan tender?” tanyanya, berusaha memastikan bahwa Vanya memahami risikonya.
"Aku akan menghubungi kenalanku dan memastikan semua kemungkinan dipelajari sebelum kita mengambil keputusan," kata Vanya sambil mengambil ponselnya dari saku blazer. "Tanpa langkah berani, perusahaan kita tidak akan punya banyak pilihan untuk bertahan.”
Bara memandang dokumen tender sekali lagi dengan setitik harapan yang bercampur dengan keraguan. Ia ingin menyelamatkan perusahaan, tetapi juga takut dengan risiko yang akan mereka terima jika akhirnya mereka gagal mendapatkan tender. Hingga beberapa saat kemudian barulah pria itu mengangkat wajah dan menatap ke arah Vanya.
“Apa kamu yakin?”
Mak boleh yx getok dikit anak ny ,, 🤭
SIM ny blum ad Bu ,, 🤭🤭🤣🤣