NovelToon NovelToon
Gadis Desa Diremehkan Ternyata Tabib Legendaris

Gadis Desa Diremehkan Ternyata Tabib Legendaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Mengubah Takdir
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Astiana Larasati turun ke ibu kota dengan ilmu bela diri kuno, pengobatan ajaib, dan kemampuan mendengar niat jahat untuk mencari orang tua kandungnya. Berpandukan liontin yang bisa menyala hijau, Astiana menavigasi intrik para elit kota sambil mati-matian menekan kekuatannya demi mematuhi amanat kakek angkatnya untuk hidup rendah hati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Dia menunjukkan sebuah kartu identitas palsu yang sudah dibuatkan oleh Raka sore tadi.

"Coba kulihat wajahmu lebih jelas."

Penjaga kedua menyalakan senter kecil dan menyorotkannya tepat ke wajah Astiana.

Trang.

Cahaya putih senter itu sedikit menyilaukan mata Astiana untuk sejenak.

"Gadis ini lumayan manis juga, pantas saja manajer menerimanya kerja malam ini."

Suara hati penjaga kedua terdengar sangat mesum dan meremehkan.

"Masuklah, langsung ke ruang ganti dan temui manajer di dapur."

Penjaga pertama membukakan pintu besi itu tanpa melakukan pemeriksaan barang bawaan sama sekali.

Kriet.

Astiana menunduk sopan mengucapkan terima kasih dan segera melangkah masuk ke dalam bangunan klub.

Suasana di dalam jauh lebih bising daripada di luar gang tadi.

Musik elektronik menghentak keras hingga membuat tulang dada Astiana sedikit bergetar.

Lampu neon berwarna-warni menyorot liar ke seluruh penjuru ruangan besar di lantai satu.

"Aku sudah di dalam, Tuan Muda Raka."

Astiana berbisik sangat pelan agar suaranya masuk ke dalam mikrofon tersembunyi di kerahnya.

"Bagus, jalan terus ke arah lorong kanan, dapur dan ruang minuman ada di ujung sana."

Suara balasan Raka terdengar jernih dari dalam earpiece di telinga Astiana.

Astiana menghindari kerumunan orang-orang yang sedang menari dan berhasil masuk ke area khusus karyawan.

Bau alkohol dan asap rokok sangat menyengat di ruangan persiapan yang sempit ini.

"Hei anak baru, jangan diam saja di pintu."

Seorang pria paruh baya yang memakai celemek bartender menegur Astiana dengan galak.

"Bawa nampan minuman ini ke ruang VIP nomor satu di lantai dua sekarang juga."

Pria itu menyodorkan sebuah nampan besi berisi tiga botol minuman keras yang terlihat sangat mahal.

Astiana menerima nampan itu dengan senang hati karena keberuntungannya sedang sangat bagus malam ini.

Dia tidak perlu repot-repot mencari alasan atau memanipulasi orang untuk bisa naik ke lantai dua.

"Baik, Pak, saya akan segera mengantarnya ke atas."

Astiana berjalan keluar dari dapur dan menaiki tangga melingkar menuju lantai dua.

Lantai VIP ini jauh lebih sepi dan eksklusif dibandingkan lantai bawah yang hiruk-pikuk.

Lantainya dilapisi karpet merah tebal yang meredam suara langkah kaki Astiana dengan sempurna.

Hanya ada empat ruangan besar di lantai ini dengan pintu kayu ukir yang tertutup rapat.

Di depan pintu dengan tulisan VIP 1, berdiri empat orang pengawal berseragam hitam dan memakai kacamata.

Pengawal di sini terlihat jauh lebih terlatih dan profesional daripada preman di pintu belakang tadi.

Mereka memiliki postur tegap militer dan tonjolan senjata api terlihat jelas di balik jas mereka.

"Berhenti."

Salah satu pengawal menahan langkah Astiana saat jaraknya tersisa dua meter dari pintu ukir tersebut.

"Saya membawakan pesanan minuman tambahan untuk Tuan Kusuma."

Astiana mengangkat nampannya sedikit sambil menundukkan pandangannya seperti pelayan penurut.

"Letakkan nampan itu di meja kecil itu, biar kami yang membawanya masuk."

Pengawal itu memberikan perintah dingin yang langsung merusak rencana penyusupan Astiana.

"Kalau aku tidak masuk ke dalam, aku tidak bisa mendengar percakapan mereka."

Astiana membatin dengan cepat mencari celah lain dari situasi yang mendadak buntu ini.

Dia memusatkan seluruh pendengarannya untuk membaca suara hati keempat pengawal tersebut secara bersamaan.

"Gadis ini terlihat mencurigakan, aku harus menggeledah seluruh tubuhnya nanti."

"Bos Kusuma sedang mengamuk di dalam karena target dokter tua itu gagal dibunuh."

"Kalau ada orang asing yang masuk sekarang, bos pasti akan menembak kepalanya tanpa ragu."

Pikiran para pengawal itu penuh dengan kewaspadaan dan ketegangan yang sangat tinggi.

Mereka tahu betul bos mereka sedang dalam kondisi emosi yang sangat berbahaya malam ini.

Ceklek.

Tiba-tiba, pintu VIP nomor satu terbuka dari dalam sebelum pengawal itu sempat mengambil nampan Astiana.

Seorang pria keluar dari dalam ruangan dengan wajah yang sudah hancur babak belur.

Pria itu dilempar keluar dengan kasar hingga jatuh tersungkur di atas karpet merah.

Bruk.

Astiana menyipitkan matanya melihat sosok pria malang yang baru saja ditendang keluar itu.

Pria itu mengenakan setelan jas abu-abu yang sudah kotor oleh noda darah segar.

"Itu kan pria yang menjadi pelelang di acara hotel semalam."

Astiana langsung mengenali wajah pria yang mencoba menipu para tamu dengan buku kuno palsu itu.

Dari dalam ruangan, terdengar suara langkah kaki sepatu kulit yang berjalan pelan mendekati pintu.

Tap tap tap.

Tuan Kusuma muncul di ambang pintu dengan wajah yang sangat menyeramkan dan urat leher yang menonjol.

Tangan kanannya yang memakai cincin ukiran burung elang dan ular sedang memegang sebuah pistol perak.

"Gara-gara kebodohanmu memasukkan buku palsu itu, reputasi Nyonya Besar jadi hancur."

Tuan Kusuma membentak pria di lantai itu sambil mengarahkan moncong pistolnya ke bawah.

Astiana berdiri mematung di tempatnya sambil memegang nampan minuman dengan sangat erat.

"Nona Astiana, apa yang terjadi di sana, aku mendengar keributan dari mikrofonmu."

Suara Raka terdengar sangat cemas dan panik dari dalam earpiece.

Namun Astiana tidak bisa menjawab sama sekali karena jaraknya dengan Tuan Kusuma terlalu dekat.

"Ampun, Tuan Kusuma, saya bersumpah saya tidak tahu kalau buku itu palsu."

Pria pelelang itu menangis memohon ampun sambil memegangi ujung sepatu kulit Tuan Kusuma.

"Nyonya Besar tidak butuh permintaan maaf dari anjing bodoh sepertimu."

Tuan Kusuma menendang wajah pria itu hingga terpental ke dinding lorong.

Bugh.

Klik.

Tuan Kusuma menarik pelatuk pistolnya bersiap untuk mengeksekusi pria itu di depan mata Astiana.

Situasi penyamaran ini telah berubah menjadi medan pembunuhan dalam hitungan detik.

1
Was pray
ngapainn membocorkan identitasmu pada tuan Kusuma sih astiana? kan itu beresiko buat keluarga darma... jamu gak berbakat jadi agen rahasia/ intelijen. kemampuanotakmu gak memenuhi syarat
Was pray
yeee ... jangan samakan kita metropolitan dengan kampung di puncak gunung yg primitif astiana... makanya punya HP gunakan untuk update pengetahuan bukan cuma buat ngisi kantong bututmu.... biar kuoeng... 🤣
Was pray: kampung it's oke.... tapi jangan sampai rampungan... malu maluin orang asal pedesaan .
total 4 replies
kiyoe
okeii Kaka terima kasih yaaa 🥰
Diana Lely
lanjut thor...makin rame aja...
Was pray
ternyata astiana benar-benar bodoh... seharusnya jam tangan bima jangan dia yang ambil .. bisa minta agar Raka yg mengambil jam itu dari semak2, kalau jam itu ditangan astiana ya otomatis menjadi bukti bahwa astiana benar2 mencuri .. dan bima juga tolol, udah jelas barang bukti ada ditangan astiana seharusnya itu jadi bukti kalau tuduhan mencuri itu benar..ha... ga... ga.... alur ceritanya jadi aneh.
Was pray
buat masalah tapi gak becus menyelesaikan masalah yg ditimbulkannya, idan menyeret orang lain dalam lingkaran permasalahan itu ciri-ciri pengecat
Was pray
hatimu penuh empati tapi otakmu tebal astiana
Was pray
astiana terlalu berani apa bodoh sih sebenarnyar? keberanian tanpa berpikir panjang bukan menyelesaikan masalah , tapi memicu permasalahan yg lebih besar resikonya, tujuan utama dikesampingkan cuma gara sok bijak dengan ikut campur urusan yg bukan urusannya
Was pray
emang burung elangnya terbuat dari karet?, kok bisa melilit ? kecuali kalau burung elang ya lagi lapar ... terus perut elang melilit .. karena perut si elang lapar. .🤭🤭🤣
🟡🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥ 💎
rasakan, akhirnya tempat kasino itu hancur 🤣

selamat untuk memperbaiki semua kerusakannya pak manajer 🤣🤣
Anisa
gila² thor😄
kiyoe: Hehehe 🤭
total 1 replies
Was pray
jakarta jadi surga buat orang kaya, tapi neraka bagi orang miskin
kiyoe: heheheh iyaa bener Kak
total 3 replies
Was pray
hati manusia bisa sekeras baja jika privasinya terusik, tapi bisa jadi selembut salju jika hatinya tersentuh oleh hutang Budi / nyawa
kiyoe: iyaa bener kak 🤭
total 1 replies
🟡🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥ 💎
Astiana yang menyamar, tapi, aku malah ikut deg degan /Scream/
kiyoe: wkwkw tembak tembak dor dor dor
total 5 replies
Was pray
gak sekolah dari SD - SMA langsung kuliah..... wao... amazing... gak sekalian ambil gelar doktor tuh astiana....? 🤣🤣🤣
Was pray
Adrian cuma lulus TK doang Raka... 🤣🤣
Was pray
baru tau dan nyadar ya astiana?
Was pray
mencari seseorang /keluarga di jakarta tanpa alamat yg pasti kayak mencari jarum di lapangan sepakbola... hadeh... capek deh Nemu orang kayak model astiana ini
kiyoe: heheheh iyaa kak untung gak jadi gembel
total 5 replies
Anisa
wihh deg-degan thor😄
kiyoe: hehehe tunggu bab selanjutnya kak pasti deg-degan juga 🤭
total 1 replies
Siskasuryaningsih
knpa bibi nya gk di hajar tadi sebentar, kan enak tu
kiyoe: kan Astiana di suruh baik hati sama alm kakek yang merawat Astiana dari kecil kak hehe
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!