NovelToon NovelToon
Terikat Pernikahan Dengan CEO Dingin

Terikat Pernikahan Dengan CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Aqilaa Kezia

Alisha Amanda hanyalah seorang gadis sederhana yang bekerja di sebuah toko roti demi menghidupi dirinya dan sang ibu. Sejak kepergian ayahnya, ibunya menjadi satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Namun, hidup Alisha berubah ketika penyakit sang ibu semakin parah. Operasi dengan biaya yang sangat mahal menjadi satu-satunya harapan untuk menyelamatkan wanita yang paling ia cintai. Sayangnya, tabungan Alisha tidak cukup, bahkan untuk membayar sebagian kecil dari biaya tersebut.
Di tengah keputusasaan, sebuah tawaran tak terduga datang kepadanya.
Adrian Mahendra, seorang CEO muda yang dingin dan berkuasa, membutuhkan seorang istri demi mempertahankan posisinya di perusahaan keluarga. Terdesak oleh tuntutan orang tuanya dan ancaman kehilangan jabatan, Adrian menawarkan pernikahan kontrak selama satu tahun kepada Alisha.
Sebagai gantinya, Alisha akan mendapatkan uang yang cukup untuk membiayai operasi ibunya.
Bagi Adrian, pernikahan itu hanyalah kesepakatan bisnis. Tidak ada cinta, tidak ada

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aqilaa Kezia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11 — Hari yang Semakin Dekat

Pagi itu, Alisha Amanda terbangun lebih awal dari biasanya.

Cahaya matahari belum sepenuhnya masuk melalui jendela kamarnya ketika dia sudah duduk di tepi tempat tidur, memandangi ponsel yang tergeletak di samping bantal.

Ada beberapa pesan masuk dari tempatnya bekerja. Salah satunya berisi jadwal kerja untuk beberapa hari ke depan.

Alisha membaca pesan itu dengan saksama sebelum membalasnya.

Dia harus memastikan jadwal kerjanya tidak berbenturan dengan persiapan pernikahan yang semakin dekat.

Meski begitu, dia tidak berniat berhenti bekerja hanya karena akan menikah.

Pernikahan tersebut memang akan mengubah statusnya, tetapi bukan berarti seluruh kehidupannya harus berubah dalam semalam.

Terlebih lagi, ibunya masih menjalani perawatan di rumah sakit.

Alisha tidak ingin kehilangan kesempatan untuk membantu membiayai kebutuhan ibunya.

Setelah selesai bersiap, dia memasukkan dompet dan ponsel ke dalam tas. Sebelum berangkat bekerja, dia berencana mengunjungi ibunya terlebih dahulu.

---

Di rumah sakit, Ratih Amanda sedang berbicara dengan seorang perawat ketika Alisha tiba.

"Selamat pagi, Bu," sapa Alisha sambil tersenyum.

Ratih menoleh.

"Pagi, Nak. Kamu sudah sarapan?"

"Sudah, Bu."

Sebenarnya, Alisha hanya sempat makan sedikit sebelum berangkat. Namun, dia tidak ingin ibunya kembali mengkhawatirkannya.

Dia meletakkan tas di kursi, kemudian memeriksa makanan dan minuman yang tersedia di meja kecil.

"Obat Ibu sudah diminum?"

"Sudah. Tadi perawat yang mengingatkan."

"Bagus."

Alisha duduk di samping ranjang.

Mereka berbicara tentang hal-hal sederhana selama beberapa menit. Ratih menceritakan bahwa malam sebelumnya dia bisa tidur lebih nyenyak daripada hari-hari sebelumnya.

Mendengar itu, Alisha merasa sedikit lega.

Setidaknya, ada perkembangan yang membuatnya bisa bernapas lebih tenang.

Namun, ketika Alisha hendak berpamitan untuk bekerja, Ratih kembali memanggilnya.

"Alisha."

"Iya, Bu?"

"Berapa hari lagi pernikahanmu?"

Alisha terdiam sejenak.

"Beberapa hari lagi."

Ratih memperhatikan wajah putrinya.

"Kamu sudah menyiapkan semuanya?"

"Sebagian besar sudah diurus oleh Pak Daniel dan keluarga Pak Adrian."

"Kalau begitu, kamu tidak perlu terlalu memaksakan diri. Kamu masih harus bekerja dan mengurus Ibu."

Alisha tersenyum kecil.

"Aku bisa mengaturnya, Bu. Ibu jangan khawatir."

Ratih menghela napas pelan.

Dia ingin percaya bahwa putrinya akan baik-baik saja. Namun, sebagai seorang ibu, sulit baginya untuk tidak memikirkan masa depan Alisha.

Pernikahan itu terjadi dalam keadaan yang tidak biasa.

Alisha tidak banyak bercerita mengenai hubungannya dengan Adrian. Dia hanya menjelaskan bahwa keluarga laki-laki itu telah menyetujui pernikahan mereka dan bahwa Adrian akan memperlakukannya dengan baik.

Ratih berharap semua itu benar.

"Ibu hanya ingin kamu tetap menjaga dirimu sendiri," ucapnya.

Alisha menggenggam tangan ibunya.

"Aku akan menjaganya, Bu."

Setelah berpamitan, Alisha meninggalkan kamar rawat dengan perasaan yang sedikit lebih ringan.

Dia belum tahu seperti apa kehidupannya setelah menikah nanti.

Namun, selama ibunya masih membutuhkan dirinya, dia akan terus berusaha melakukan yang terbaik.

---

Sementara itu, di kediaman keluarga Mahendra, Ratna Mahendra sedang duduk bersama suaminya, Hendrik Mahendra.

Di atas meja ruang keluarga terdapat beberapa catatan persiapan pernikahan yang baru saja diselesaikan oleh pihak keluarga.

Ratna memeriksa daftar tersebut sekali lagi.

"Sepertinya sebagian besar sudah selesai," katanya.

Hendrik mengangguk sambil membaca salah satu dokumen.

"Daniel juga sudah mengurus bagian administrasi yang diperlukan."

Ratna meletakkan kertas di tangannya.

"Saya hanya berharap Adrian tidak terlalu sibuk sampai melupakan hari pernikahannya sendiri."

Hendrik tersenyum tipis.

"Kamu tahu bagaimana anak kita. Kalau menyangkut perusahaan, dia bisa menghabiskan sepanjang hari di kantor."

"Itulah yang membuat saya khawatir."

Ratna menghela napas.

"Alisha gadis yang baik. Saya tidak ingin dia merasa sendirian setelah menikah nanti."

Hendrik menatap istrinya.

"Adrian memang bukan orang yang pandai menunjukkan perasaan. Tetapi dia bukan laki-laki yang akan sengaja menyakiti seseorang."

"Saya tahu."

Ratna sebenarnya memahami sifat putranya.

Sejak muda, Adrian terbiasa mengutamakan tanggung jawab dan pekerjaannya. Dia jarang membicarakan perasaan, bahkan kepada keluarganya sendiri.

Namun, Ratna tetap berharap pernikahan ini tidak hanya menjadi sebuah kewajiban bagi Adrian.

Dia ingin putranya setidaknya berusaha mengenal perempuan yang akan menjadi istrinya.

"Besok saya akan menghubunginya lagi," ujar Ratna.

Hendrik mengangguk.

"Silakan. Tetapi jangan berharap dia tiba-tiba berubah menjadi orang yang berbeda."

Ratna tersenyum kecil.

"Saya tidak meminta dia berubah dalam sehari. Saya hanya ingin dia mengingat bahwa ada seseorang yang akan berbagi kehidupan dengannya."

---

Di kantor Mahendra Group, Adrian sedang menghadiri rapat bersama beberapa kepala divisi.

Layar besar di ujung meja menampilkan laporan perkembangan perusahaan. Beberapa peserta rapat memberikan penjelasan mengenai target dan rencana kerja untuk bulan berikutnya.

Adrian mendengarkan dengan serius.

Sesekali dia mengajukan pertanyaan, meminta penjelasan tambahan, atau mengoreksi angka yang dianggap tidak sesuai.

"Bagian ini harus diperiksa kembali," katanya sambil menunjuk layar.

Salah satu manajer segera mengangguk.

"Baik, Pak Adrian. Kami akan memperbaikinya."

"Saya ingin laporan revisinya masuk sebelum akhir pekan."

"Baik, Pak."

Rapat berlangsung cukup lama sebelum akhirnya selesai.

Ketika semua orang meninggalkan ruangan, Adrian kembali ke ruang kerjanya bersama Daniel.

"Ada jadwal lain?" tanya Adrian.

"Rapat dengan tim pemasaran pukul dua siang. Setelah itu, tidak ada pertemuan eksternal yang dijadwalkan."

Adrian mengangguk.

"Baik."

Daniel memeriksa tabletnya sekali lagi sebelum berbicara.

"Pak, saya ingin mengingatkan bahwa beberapa hari lagi adalah hari pernikahan Anda."

Adrian yang sedang membuka laptop mengangkat pandangan.

"Saya tahu."

"Baik, Pak. Saya hanya memastikan jadwal pekerjaan tidak berbenturan dengan persiapan terakhir."

"Kalau ada dokumen yang perlu saya periksa, kirimkan ke ruangan ini. Jangan mengubah jadwal rapat yang sudah ditetapkan tanpa alasan penting."

Daniel mengangguk.

"Dimengerti, Pak."

Adrian kembali menatap layar laptop.

Daniel tidak mengatakan apa-apa lagi.

Dia sudah cukup lama bekerja untuk Adrian sehingga memahami bahwa atasannya itu tidak menyukai pembicaraan yang berulang-ulang mengenai hal yang sama.

Selama semua persiapan berjalan sesuai rencana, Adrian tidak ingin menghabiskan terlalu banyak waktu untuk membahasnya.

---

Siang harinya, Alisha menerima pesan dari Daniel ketika sedang beristirahat sejenak dari pekerjaannya.

Pesan itu berisi informasi bahwa keluarga Adrian ingin bertemu dengannya untuk membicarakan beberapa persiapan terakhir sebelum pernikahan.

Alisha membaca pesan tersebut dua kali.

Dia kemudian membalas dengan sopan dan menjelaskan kapan dirinya memiliki waktu luang.

Setelah mendapat jawaban dari Daniel, Alisha kembali menyimpan ponselnya.

Dia tidak merasa keberatan bertemu keluarga Adrian. Sejak awal, mereka telah memperlakukannya dengan baik.

Namun, dia tetap merasa sedikit canggung.

Bagaimanapun, sebentar lagi dia akan menjadi bagian dari keluarga tersebut.

Sebuah keluarga yang memiliki kehidupan sangat berbeda dari kehidupannya selama ini.

Alisha tidak tahu apakah dia akan mampu menyesuaikan diri dengan baik.

Tetapi dia tidak ingin memikirkan hal-hal yang belum terjadi.

Untuk saat ini, dia hanya perlu menjalani satu hari demi satu hari.

---

Sore menjelang malam, Adrian baru saja menyelesaikan pekerjaannya ketika ponselnya berdering.

Nama Ratna Mahendra muncul di layar.

Adrian menjawab panggilan itu.

"Halo, Ma."

"Adrian, kamu masih di kantor?"

"Iya. Ada yang perlu dibicarakan?"

Ratna terdiam sebentar sebelum menjawab.

"Mama hanya ingin memastikan kamu ingat jadwal persiapan pernikahanmu."

"Saya ingat, Ma."

"Kamu tidak bisa terus-menerus bekerja sampai hari pernikahan tiba."

Adrian bersandar di kursinya.

"Saya masih punya tanggung jawab di perusahaan."

"Mama tahu. Tetapi bukan berarti kamu tidak bisa menyediakan sedikit waktu untuk urusan pribadimu."

Adrian mengusap pelipisnya.

Dia tidak ingin berdebat dengan ibunya. Namun, hari itu dia sudah menyelesaikan banyak pekerjaan dan masih memiliki beberapa laporan yang harus diperiksa.

"Ma, semua persiapan sudah ditangani Daniel. Kalau ada sesuatu yang membutuhkan keputusan saya, dia akan memberi tahu."

"Adrian, Mama tidak hanya membicarakan persiapan."

Adrian terdiam.

"Mama berharap kamu bisa berbicara dengan Alisha sebelum kalian menikah. Kalian perlu memahami bagaimana kehidupan yang akan dijalani bersama."

"Saya akan berbicara dengannya jika memang ada yang perlu dibicarakan."

Jawaban itu membuat Ratna menghela napas.

"Kamu selalu seperti ini."

"Seperti apa, Ma?"

"Terlalu mengutamakan pekerjaan."

Adrian tidak langsung menjawab.

Bukan karena dia tidak memahami kekhawatiran ibunya, tetapi karena dia memang tidak tahu harus mengatakan apa lagi.

Pernikahan itu bukan sesuatu yang dia rencanakan sejak awal.

Namun, dia sudah mengambil keputusan dan berniat menjalankannya dengan bertanggung jawab.

"Saya akan memperlakukan Alisha dengan baik, Ma. Mama tidak perlu mengkhawatirkan hal itu."

Ratna terdiam beberapa saat.

"Baiklah. Mama hanya berharap kamu tidak menganggap pernikahan ini sebagai urusan yang harus diselesaikan lalu dilupakan."

Adrian menghela napas pelan.

"Saya mengerti."

Setelah percakapan berakhir, Adrian meletakkan ponselnya di meja.

Dia memandang layar laptop yang masih menampilkan laporan perusahaan.

Beberapa detik kemudian, dia kembali bekerja.

Baginya, pembicaraan itu sudah selesai.

Dia tidak berniat menghabiskan malam dengan memikirkan hal yang sama berulang kali.

---

Malam itu, Alisha akhirnya mendapatkan waktu untuk beristirahat setelah menyelesaikan pekerjaannya dan mengunjungi ibunya.

Dia duduk di tepi tempat tidur sambil membuka kalender pada ponselnya.

Hari pernikahannya telah ditandai dengan lingkaran kecil.

Alisha memandang tanggal itu cukup lama.

Beberapa hari lagi, dia akan menikah dengan Adrian Mahendra.

Laki-laki yang belum benar-benar dikenalnya.

Laki-laki yang hidupnya dipenuhi pekerjaan, rapat, dan tanggung jawab perusahaan.

Dia bahkan belum tahu bagaimana kebiasaan Adrian ketika berada di rumah atau bagaimana laki-laki itu menghabiskan waktu luangnya.

Namun, Alisha juga tidak berharap mereka akan langsung menjadi dekat setelah menikah.

Dia hanya ingin menjalani kehidupan dengan tenang, tetap bekerja, dan memastikan ibunya mendapatkan perawatan yang dibutuhkan.

Ponselnya bergetar.

Sebuah pesan masuk dari Daniel.

Daniel: Selamat malam, Nona Alisha. Keluarga Pak Adrian ingin mengatur pertemuan singkat dengan Anda untuk membicarakan persiapan terakhir. Apakah besok sore Anda memiliki waktu luang?

Alisha segera membalas.

Alisha: Selamat malam, Pak Daniel. Besok sore saya bisa meluangkan waktu setelah menyelesaikan pekerjaan. Silakan beri tahu saya jadwal dan tempatnya.

Tidak lama kemudian, Daniel mengirimkan balasan bahwa dia akan mengatur semuanya dan memberikan informasi lebih lanjut.

Alisha meletakkan ponselnya.

Dia kemudian merebahkan tubuh dan menarik selimut hingga menutupi sebagian tubuhnya.

Besok masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan.

Dia juga harus mengunjungi ibunya dan menghadiri pertemuan dengan keluarga Adrian.

Kehidupannya terasa semakin sibuk, tetapi Alisha berusaha tidak mengeluh.

Dia sudah mengambil keputusan.

Sekarang, dia hanya perlu menjalaninya.

Di tempat lain, Adrian masih berada di ruang kerjanya ketika jam menunjukkan pukul sepuluh malam.

Beberapa berkas telah selesai diperiksa, tetapi masih ada satu laporan yang perlu diselesaikan sebelum pagi.

Dia mengambil gelas air di samping laptop, meminumnya sedikit, lalu kembali menatap layar.

Pernikahannya semakin dekat.

Namun, malam itu Adrian dan Alisha kembali menghabiskan waktu dengan kesibukan masing-masing.

Mereka belum menyadari bahwa setelah hari pernikahan tiba, rutinitas yang selama ini mereka jalani sendiri akan mulai bersinggungan setiap hari.

Dan dari sanalah kehidupan baru mereka akan benar-benar dimulai.

1
Grend Levn
ceritanya menarik membuat ku penasaran bagaimana kelanjutannya kerenn
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan kamu itu Clarissa, sedemikian ga lakunya kamu ya sama bujangan, sampai orang udah punya istri juga kamu ganggu, hanya alasan masa lalu? Bodohnya kebangetan kamu
Aqilaa Kezia: Hehehe, sabar ya, Kak 😂 Clarissa memang bikin emosi. Terima kasih sudah membaca novelku! ❤️
total 1 replies
Ariany Sudjana
skak mat, bagus Alisha, kamu harus tegas menghadapi si pelacur murahan itu, tunjukkan kamu itu perempuan baik-baik, cerdas dan mandiri, meskipun kamu istri CEO, tapi kelas kamu jauh di atas si pelacur murahan itu, yang hanya bisa berharap jadi istri CEO, tapi ga kesampaian
Aqilaa Kezia: makasih banyak Kak Arianya udah selalu dukung Alisha😍
total 1 replies
Ariany Sudjana
Adrian dan alisha harus tegas dan waspada, si pelacur murahan itu ingin menghancurkan rumah tangga kalian
Aqilaa Kezia: terimakasih ka Adriany udah membaca😊
total 1 replies
Ariany Sudjana
jangan menyerah Alisa, buktikan kamu perempuan baik-baik, cerdas dan mandiri, dan cocok mendampingi Adrian, jangan biarkan pelacur murahan itu menghancurkan rumah tangga kamu dengan Adrian
katya
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!