32 wanita menyerah. Vivi adalah calon istri nomor 33.
Menikah dengan duda beranak lima seharusnya menjadi solusi bagi dirinya yang divonis tak bisa punya anak sejak muda.
Namun tidak ada yang memberitahunya bahwa lima anak Pak Baskara telah bersekutu untuk mengusir setiap wanita yang mencoba menggantikan posisi ibu mereka. Akankah Vivi bertahan, atau menjadi nama berikutnya dalam daftar kegagalan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15
"Apa?"
"Kamu yang memastikan mereka bebersih sebelum tidur. Kamu yang memastikan mereka makan malam. Kamu yang memastikan mereka belajar. Kamu yang memastikan mereka tidur tepat waktu." Satu per satu kalimat itu keluar dengan tenang. Tanpa emosi.
Tetapi justru itulah yang membuat Baskara mulai panik. Karena selama ini ia dibantu ibunya dan setelah menikah Vivi mengambil alih tugas itu , Ia baru sadar bahwa semua hal itu diam-diam sudah dilakukan Vivi.
Vivi melanjutkan. "Aku akan menyendiri di kamar tamu. Sampai kamu punya jawaban."
Baskara berdiri. Tetapi terlambat. Karena Vivi sudah berbalik. Melangkah masuk ke dalam rumah. Meninggalkan suaminya yang masih berdiri di teras.
Di ruang belajar, lima pasang mata langsung mengikuti pergerakan itu. Sean yang pertama menyadari. Yuan langsung menurunkan bukunya. Saka berhenti menggambar. Ella mengangkat kepala. Bahkan Lili ikut menoleh.
Mereka melihat Vivi berjalan melewati ruang keluarga. Tanpa senyum. Tanpa menyapa.Tanpa mengingatkan siapa pun tentang tugas sekolah. Langkahnya tenang. Namun jelas berbeda dari biasanya.
Kemudian mereka melihat Baskara masuk beberapa detik kemudian. Ekspresinya juga aneh. Seolah baru saja kalah dalam sebuah perdebatan. Sean langsung melirik Yuan. Yuan membalas lirikan itu. Bahasa rahasia kakak beradik. Ada sesuatu yang terjadi. Mereka terus mengamati.
Vivi menaiki tangga. Berjalan menuju koridor. Masuk ke kamar tamu. Lalu, Klik. Suara kunci terdengar jelas. Pintu terkunci.Dan tidak dibuka lagi.
Saka berkedip. "Apa mereka habis berantem?"
"Diam." Sean langsung menjawab. Namun bahkan dirinya sendiri penasaran. Ini pertama kalinya mereka melihat Vivi meninggalkan Baskara.
Lima belas menit kemudian. Masalah pertama muncul. Lili mulai merengek lapar. Kemarin Vivi yang menyiapkan sesuatu sebelum jam makan malam. Namun kali ini tidak ada aroma masakan dari dapur. Tidak ada suara panci. Tidak ada siapa-siapa.
Sean mulai menyadari sesuatu. "Ayah."
Baskara yang sedang duduk di ruang keluarga mengangkat kepala. "Iya?"
"Lili lapar." Sean menunggu. Tidak ada kelanjutan. "Ayah. Lili lapar."
"Iya, Ayah dengar."
"Terus?"
Baskara terdiam. Karena untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama Ia tidak tahu harus melakukan apa dulu. Biasanya semua berjalan begitu saja. Anak-anak makan. Belajar. Mandi. Tidur. Rumah tetap hidup. Dan baru sekarang ia menyadari harus Ada seseorang yang mengatur semuanya. Sebelumnya ibunya anak-anak, lalu ibunya, sekarang diserahkan pada Vivi meski belum ada serah terima.
Di balik pintu kamar tamu yang terkunci. Vivi duduk di tepi ranjang. Masih menahan emosi. Masih menahan kecewa. Ia tidak menangis. Tidak juga marah. Ia hanya lelah. Karena sejak dibawa ke sini ia berusaha menjadi istri. Berusaha menjadi ibu. Berusaha menjadi penghuni rumah itu. Sementara Baskara seolah menganggap semua itu akan terjadi secara otomatis. Seperti menyalakan lampu. Seperti mengisi bensin. Seperti rutinitas yang tidak perlu dipikirkan. Padahal tidak. Semuanya membutuhkan hati. Dan hati tidak bisa dibeli dengan yayasan. Tidak bisa dibeli dengan hadiah. Tidak bisa dibeli dengan status.
Di luar kamar terdengar langkah kaki kecil. Berhenti tepat di depan pintu. Kemudian suara mungil yang sangat dikenalnya terdengar.
"Tante Vivi?" Lili. "Tante Vivi..." Suara itu terdengar lagi.
Untuk pertama kalinya hari itu, hati Vivi sedikit melunak. Karena rupanya Meski menjadi ibu yang tidak diinginkan bagi sebagian orang Ada satu anak kecil di rumah itu yang mulai mencarinya ketika ia tidak ada.
Vivi tetap duduk di tepi ranjang. Matanya menatap pintu yang masih tertutup rapat. Di luar, suara kecil itu terdengar lagi.
"Tante Vivi..." Kali ini lebih pelan. Lebih ragu. Seolah Lili tidak mengerti kenapa pintu itu tidak dibuka seperti biasanya.
Vivi memejamkan mata. Kalau ia membuka pintu sekarang, kemarahannya pada Baskara akan runtuh begitu saja. Dan kali ini ia tidak ingin mengalah. Bukan karena ego. Tetapi karena Baskara perlu menyadari sesuatu. Rumah tangga tidak bisa berjalan dengan satu orang saja. Akhirnya Vivi berdiri. Mendekati pintu. Namun tidak membukanya. "Lili sama siapa?"
"Sendiri..."
Vivi langsung mengernyit. Sendiri? Anak dua tahun? Ia membuka pintu sedikit. Dan benar saja. Lili berdiri di sana sambil memeluk boneka kelincinya. Sendirian. Tidak ada Sean. Tidak ada Yuan. Tidak ada Baskara. Tidak ada siapa-siapa. Vivi langsung jongkok. "Lili kok sendiri?"
"Lapar."
Tentu saja. Vivi hampir tertawa. Anak sekecil ini tidak peduli ada konflik rumah tangga. Tidak peduli ada drama orang dewasa. Yang ia tahu hanya satu. Perutnya kosong. Vivi mengusap kepala anak itu. "Ayah di mana?"
"Nggak tahu." Jawaban yang sangat tidak membantu.
Namun cukup membuat Vivi menghela napas panjang. Ia mengintip keluar koridor. Rumah terdengar ramai dari dapur. Terdengar suara Saka. Suara Sean. Dan suara Baskara yang mulai terdengar stres. Di dapur. Situasinya memang tidak baik. Sangat tidak baik. Sean berdiri dengan tangan terlipat. Yuan duduk sambil mengamati. Saka terlihat menikmati kekacauan ini. Sementara Ella mulai rewel karena lapar. Dan Baskara sedang menatap isi kulkas.Seolah kulkas itu menyimpan jawaban kehidupan.
"Ayah masak apa?" Sean bertanya.
"Sedang dipikirkan."
"Sudah tiga puluh menit dipikirkan." Yuan menambahkan.
Baskara memijat pelipis. Ia memang bisa memimpin rapat di perusahaannya. Bisa mengelola bisnis. Bisa mengambil keputusan besar bernilai miliaran rupiah. Tetapi menentukan menu makan malam lima anak ternyata jauh lebih sulit.
"Pesan makanan saja." Saka memberi solusi.
"Kemarin Ayah bilang terlalu sering pesan makanan tidak sehat." Sean langsung menyela.
Iya. Tapi aku lapar." Ella mulai cemberut. Dan situasi semakin kacau.
Saat itulah Vivi muncul di ujung tangga. Menggendong Lili. Semua mata langsung menoleh. Termasuk Baskara. Pria itu tampak lega melihatnya. Yang tentu saja membuat Vivi semakin kesal. Karena jelas sekali lelaki itu baru menyadari betapa banyak hal yang selama ini ia kerjakan.
"Tante Vivi!" Ella langsung berdiri. Kemudian buru-buru duduk lagi. Seolah takut ketahuan terlalu senang melihatnya.
Sean memperhatikan semuanya. Diam-diam.
Vivi berjalan ke dapur. Membuka kulkas. Melihat isinya. Lalu menutupnya lagi. "Masih ada nasi." Tidak ada yang menjawab. "Masih ada ayam." Masih diam. "Masih ada sayur." Kemudian Vivi menoleh kepada Baskara. "Tinggal dimasak."
Baskara terdiam. Karena kalimat itu terdengar sangat sederhana. Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu. Dan mereka berdua sama-sama tahu.
Vivi lalu berbalik. "Ayo Lili."
"Ke mana?" tanya Lili.
"Kembali ke kamar." Lili langsung memeluk lehernya. Anak ini terlalu mudah menempel. Kembali menuju tangga. Meninggalkan dapur. Meninggalkan Baskara. Dan meninggalkan kekacauan yang harus dibereskan sendiri oleh pria itu.
Sean memperhatikan punggung Vivi sampai menghilang di lantai atas. Kemudian ia menoleh kepada ayahnya. Untuk pertama kalinya hari itu, Sean melihat sesuatu yang tidak biasa.
demi keluarga mantan mertua dia malah mengkhianati amanah ibu sendiri,,
bloon banget
baskara sebagai suami tidak menjalankan amanah dgn baik