Di dunia luar, Gabriel Alexius adalah ketua mafia paling ditakuti—dingin, kejam, dan tanpa ampun. Namun, takdir mempertemukannya dalam pernikahan rahasia dengan Aira, gadis biasa yang awalnya mengira suaminya hanyalah pria kaya yang polos dan sedikit konyol.
Di rumah, Gabriel berubah drastis menjadi suami yang manja dan bucin setengah mati, bahkan rela bertingkah konyol demi membuat istrinya tersenyum.
Semua kebohongan manis itu terbongkar saat Aira tak sengaja memergoki Gabriel dalam "mode monster" saat menghadapi musuhnya. Panik karena takut ditinggal, sang ketua mafia yang garang itu mendadak jadi panutannya yang paling penakut di hadapan sang istri.
“Aira, aku bisa menghancurkan kota ini, tapi jangan minta aku hidup tanpamu!”
Bagaimanakah kisah rumah tangga gadis biasa dengan pria paling berbahaya di dunia bawah ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey Nanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 : Inspeksi Ayah Mertua Dan Kepanikan Sang Ketua Mafia
Matahari pagi di ibu kota bersinar terang, memantulkan kilau kemegahan pada dinding kaca pencakar langit Blackwood Corp. Setelah malam sebelumnya berhasil meratakan markas Scorpion Syndicate tanpa menyisakan ancaman sedikit pun—ditambah aksi legendaris Gabriel yang menghukum musuh menggunakan pistol air mainan—suasana di dalam gedung utama kembali berjalan normal.
Di lantai eksekutif lima puluh, Aira duduk dengan sangat anggun di balik meja kerjanya yang bernuansa rose gold. Ia sedang memeriksa laporan keuangan triwulan perusahaan bersama Felix yang berdiri di samping meja sambil membawa setumpuk berkas tambahan.
"Laporan untuk ekspansi pelabuhan selatan sudah beres, Nyonya. Semua izin legalitas dan audit keamanan telah disetujui tanpa ada hambatan," lapor Felix dengan nada formal dan terstruktur.
Aira mengangguk puas, menandatangani lembar terakhir dokumen tersebut. "Bagus, Felix. Terima kasih atas kerja kerasnya."
Namun, di meja kerja utama yang berada tidak jauh dari meja Aira, pemandangan yang tersaji justru sangat kontras. Gabriel Blackwood—sang Dark Lord yang baru saja membubarkan sindikat internasional semalam—kini sedang duduk bersila di atas karpet beludru tebal. Pria tegap berotot itu tidak sedang memegang dokumen penting atau strategi militer, melainkan sibuk memegang sebuah ponsel pintar sambil merengek pelan.
"Sayang..." panggil Gabriel dengan suara manja berlebihan, mendongakkan kepalanya menatap Aira. "Pekerjaanmu banyak sekali dari tadi. Kapan kamu mau meluangkan waktu untuk menatap suamimu yang tampan ini?"
Aira menghela napas pelan, tersenyum geli sambil menaruh pena di atas meja. Ia menatap suaminya dengan sebelah alis terangkat. "Gabriel, aku baru bekerja selama satu jam. Jangan bertingkah seperti anak kecil yang merajuk minta permen."
"Bukannya merajuk, tapi aku rindu!" protes Gabriel tanpa rasa malu sedikit pun. Ia bangkit dari karpet, melangkah mendekati meja Aira, lalu menyandarkan dagunya di tepi meja tepat di depan istrinya dengan mata berbinar-binar. "Bagaimana kalau kita bolos kerja hari ini, terus pergi ke taman amusement naik komidi putar?"
Felix yang berdiri di sebelah meja langsung menepuk jidatnya sendiri, merasa pusing mendengarnya. "Ya Tuhan... Bos besar kita mau mengajak ratu mafia naik komidi putar," batin Felix pasrah.
Sebelum Aira sempat membalas ucapan konyol suaminya, pintu lift privat lantai teratas tiba-tiba berdenging terbuka. Suara ketukan tongkat bermata perak yang menghantam lantai marmer terdengar menggema dengan irama yang tegas dan mengintimidasi.
Tak... Tak... Tak...
Seketika itu juga, ekspresi di wajah Gabriel berubah drastis. Sifat manjanya langsung menguap tak bersisa. Ia bangkit berdiri dengan sigap, menegakkan tubuhnya, dan menatap ke arah lift dengan raut wajah siaga tingkat tinggi.
Seorang pria paruh baya berjas hitam klasik dengan uban di pelipisnya melangkah keluar dari lift. Sebastian Blackwood—sang mantan ketua mafia senior yang juga ayah kandung Gabriel—hadir kembali di kantor tersebut dengan aura dingin yang tidak kalah menakutkan.
"Wah, wah... Pemandangan yang sangat memuaskan," suara berat Sebastian menggema di seluruh ruangan saat ia melihat Gabriel berdiri kaku di dekat meja Aira. "Ketua jaringan Blackwood yang ditakuti dunia ternyata sedang memohon-mohon minta ditemani naik komidi putar kepada istrinya. Hilang sudah harga diri keluarga kita."
Gabriel mendengus tajam, melipat kedua tangannya di dada. "Ayah! Datang ke kantor anak sendiri tidak pernah ketuk pintu dulu ya? Mau inspeksi mendadak lagi atau mau pamer tongkat baru?"
Sebastian mendengus keras, mengabaikan protes putranya. Ia melangkah anggun menghampiri Aira yang sudah berdiri dari kursinya untuk menyambut sang mertua dengan hormat.
"Selamat pagi, Tuan Sebastian," sapa Aira ramah sambil membungkuk sopan.
Sebastian menatap menantunya, dan seketika itu juga garis wajahnya yang kaku melunak, menampilkan senyuman tipis yang sangat jarang ia tunjukkan kepada orang lain. "Pagi juga, Aira. Duduklah, Nak. Kamu tidak perlu berdiri setiap kali orang tua ini datang."
Gabriel langsung menyipitkan mata tidak suka, menatap ayahnya dengan rasa cemburu yang kentara. "Kenapa Ayah kalau sama aku galaknya minta ampun, tapi giliran sama Aira suaranya jadi lembut begitu? Aku ini anak kandungmu atau anak pungut dari pinggir jalan sih?"
"Diam kamu, bocah tengik!" bentak Sebastian melirik Gabriel tajam. Ia kemudian beralih kembali menatap Aira dengan raut wajah serius. "Aira, kedatanganku hari ini bukan sekadar berkunjung. Ada hal penting yang harus kubicarakan dengan kalian berdua."
Aira mengerutkan dahi, menangkap keseriusan di balik nada bicara sang mertua. "Hal penting apa, Tuan Sebastian?"
Sebastian menghela napas panjang, lalu mengeluarkan sebuah map merah tebal dari balik jasnya dan meletakkannya di atas meja kerja Aira.
"Meskipun sindikat Scorpion Syndicate sudah kalian berantas habis tadi malam, jaringan bawah tanah internasional tidak akan pernah tenang," kata Sebastian dengan suara berat. "Dewan tetua sindikat di Eropa telah mendengar kabar tentang pernikahan Gabriel dan keterlibatanmu dalam struktur kepemimpinan Blackwood Corp."
Gabriel merengsek maju, merangkul pundak Aira posesif. Suaranya berubah sedingin es. "Kalau dewan tetua tua bangka itu berani merencanakan hal macam-macam terhadap Aira, aku sendiri yang akan terbang ke Swiss dan merobek kepala mereka satu per satu."
"Bukan begitu caranya, Gabriel!" sanggah Sebastian tegas. "Dunia bawah tanah tidak selalu bisa diselesaikan dengan kekerasan langsung. Dewan tetua di Eropa ingin menguji kelayakan Aira secara resmi sebagai Permaisuri Hitam dari dinasti Blackwood. Mereka menuntut diadakannya pertemuan puncak di Roma bulan depan."
Suasana di dalam ruangan mendadak hening seketika.
Pertemuan puncak di Roma adalah tradisi tertua dan paling berbahaya di dunia mafia internasional—sebuah forum di mana para pemimpin sindikat berkumpul untuk menguji kekuatan, mentalitas, dan loyalitas pasangan dari pemimpin tertinggi. Sedikit saja melakukan kesalahan, maka nyawa taruhannya.
Gabriel mengepalkan tangan kanannya hingga buku-buku jarinya memutih. Amarahnya kembali tersulut. "Pertemuan puncak? Mereka ingin menguji Aira? Aku tidak akan biarkan istriku dijadikan bahan pertunjukan para penjahat tua itu!"
Namun, sebelum Gabriel sempat melarang lebih jauh, Aira mengangkat tangannya perlahan. Wanita itu menatap ayah dan suaminya bergantian dengan sorot mata yang tenang, mantap, dan sama sekali tidak menyiratkan rasa takut.
"Gabriel, dengarkan aku," ucap Aira lembut namun penuh wibawa.
Gabriel menoleh cepat, menatap istrinya dengan cemas. "Aira, jangan gila! Tempat itu berbahaya! Aku tidak mau kamu terluka!"
Aira tersenyum tipis. Ia meletakkan tangannya di atas tangan Gabriel yang mengepal, meredakan ketegangan di tubuh suaminya. "Aku tidak takut, Gabriel. Kamu sudah melindungiku dari banyak bahaya di sisimu. Sekarang, biarkan aku berdiri di sampingmu sebagai istrinya, menunjukkan kepada dunia bawah tanah bahwa Nyonya Besar Blackwood bukan wanita yang bisa diremehkan."
Sebastian tertegun sejenak. Sorot mata penuh kekaguman terpancar jelas dari wajah pria paruh baya itu. Ia mengangguk pelan penuh persetujuan.
"Keputusan yang sangat berani, Aira. Cucu dari mendiang rekan bisnisku ini memang memiliki darah pemimpin yang luar biasa," puji Sebastian, lalu melirik Gabriel penuh kemenangan. "Dengar itu, Gabriel? Istrimu jauh lebih berani daripada kamu yang kerjanya cuma merengek minta naik komidi putar."
Wajah Gabriel seketika merona merah karena kesal. "Ayah! Jangan mempermalukan aku di depan istriku!"
Aira tertawa renyah melihat pertengkaran kecil antara ayah dan anak tersebut. Ketegangan yang tadinya mencekam seketika mencair berkat kehangatan suasana di ruangan itu.
"Baiklah," keputusan Aira bulat, menatap lurus ke arah Gabriel. "Kita akan hadiri pertemuan puncak di Roma itu bersama-sama. Apapun yang terjadi, kita lewati berdua."
Gabriel menatap manik mata istrinya dengan sejuta rasa cinta yang meluap-luap. Ketakutan di dadanya perlahan berganti dengan tekad yang membaja. Ia tahu, dengan Aira di sisinya, ia sanggup menaklukkan seluruh dunia.
Gabriel merengkuh pinggang Aira erat-erat, lalu mengecup kening istrinya penuh kasih sayang di depan Sebastian.
"Baik kita berangkat ke Roma," bisik Gabriel lembut. "Tapi setelah urusan dewan tetua itu beres, kita wajib naik komidi putar di sana, titik tidak boleh protes!"
Aira menggelengkan kepala pelan sambil tersenyum bahagia, sementara Sebastian di sudut ruangan mendengus pasrah melihat tingkah bucin akut anak kandungnya sendiri.