NovelToon NovelToon
Istriku Akhirnya Setuju Bercerai

Istriku Akhirnya Setuju Bercerai

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyesalan Suami / Diam-Diam Cinta
Popularitas:15.9k
Nilai: 5
Nama Author: Itha Sulfiana

Selama 365 hari, Arga hanya memiliki satu tujuan: menceraikan Nisa.
​Terjebak dalam perjodohan keluarga yang tak diinginkannya, Arga secara sepihak menganggap pernikahan mereka tak lebih dari sekadar "kontrak". Baginya, Nisa hanyalah penghalang yang merampas kebebasannya untuk bersama Adelia—satu-satunya wanita yang benar-benar ia cintai. Segala sikap dingin, pengabaian, hingga wacana perpisahan Arga lemparkan demi membuat Nisa menyerah.
​Dan malam itu, doa Arga terkabul.
​Sadar bahwa memperebutkan hati pria yang jelas-jelas dimiliki wanita lain adalah sebuah kesia-siaan, Nisa akhirnya berhenti berjuang. Tanpa air mata, tanpa perdebatan, dan tanpa drama, ia menandatangani surat cerai itu dan melangkah pergi membawa sisa harga dirinya.
Anehnya, saat keinginannya benar-benar terkabul, Arga justru menyadari satu hal. Dia tak bisa hidup tanpa Nisa.
​

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Suara derit pintu ruang ICU yang digeser perlahan memecah keheningan lorong rumah sakit yang sedingin es.

Papi Tommy melangkah keluar dengan bahu yang merosot jatuh. Wajahnya pias. Sisa-sisa air mata masih menggenang di pelupuk matanya yang memerah. Langkah pria paruh baya itu gontai, seolah seluruh tulang di tubuhnya baru saja diloloskan.

Mami Kintan, yang sejak tadi duduk gelisah sambil merapal doa, langsung melompat bangun. Ia berlari menghampiri suaminya, mencengkeram kedua lengan Papi Tommy dengan tangan bergetar hebat.

"Pi?" suara Mami Kintan mencekik tenggorokannya sendiri. Matanya menatap liar mencari setitik harapan di wajah suaminya. "Gimana, Pi? Ayah udah stabil, kan? Dokter berhasil memompa jantung Ayah, kan, Pi? Jawab Mami!"

Papi Tommy menatap istrinya dengan pandangan nanar yang teramat kosong. Perlahan, bibirnya bergetar, dan ia menggelengkan kepalanya. Satu gerakan pelan yang langsung menghancurkan dunia mereka.

"Ayah... Ayah sudah nggak ada, Mi," bisik Papi Tommy, suaranya pecah bersamaan dengan air matanya yang kembali tumpah. "Ayah sudah pergi."

"Nggak! Bohong!"

Jeritan histeris Mami Kintan meledak detik itu juga, menggema memantul di dinding-dinding lorong rumah sakit. Wanita itu merosot lemas, namun Papi Tommy dengan cepat menahan tubuh istrinya dan merengkuhnya ke dalam pelukan yang sarat akan keputusasaan. Mami Kintan menangis sejadi-jadinya, meronta dan memukul-mukul punggung suaminya.

Di sudut lorong, Arga berdiri mematung.

Tubuhnya membeku. Telinganya berdengung hebat. Ia tak bisa berkata-kata, tak sanggup mengeluarkan satu suku kata pun. Hanya air mata yang mengalir deras, berlomba-lomba membasahi pipinya tanpa bisa ia hentikan. Kakeknya... pria yang merawatnya sejak kecil, pria yang selalu membelanya, kini telah tiada.

Tiba-tiba, pandangan Mami Kintan beralih. Di sela isak tangisnya yang menyayat hati, matanya menangkap sosok Arga yang berdiri kaku. Duka yang teramat dalam seketika berubah menjadi kobaran amarah yang membutakan akal sehat.

Mami Kintan melepaskan diri dari pelukan Papi Tommy. Ia menerjang maju, menghambur ke arah Arga layaknya singa yang terluka.

"Ini semua salah kamu!" jerit Mami Kintan histeris.

Bugh! Bugh!

Kedua kepalan tangan Mami Kintan menghantam dada bidang Arga bertubi-tubi dengan tenaga yang tak terbayangkan.

"Kamu pembunuh, Arga! Kamu bunuh Kakekmu sendiri!" maki Mami Kintan, memukul dada putranya tanpa henti, menarik-narik kemeja yang dikenakan Arga. "Anak tidak tahu diuntung! Kembalikan Kakek! Kembalikan ayah mertuaku! Kalau saja kamu tidak membawa perempuan sialan itu! Kalau saja kamu tidak menceraikan Nisa... semua ini tak mungkin terjadi!"

Arga diam saja. Ia sama sekali tidak menangkis atau memundurkan tubuhnya. Pria itu menundukkan kepala, membiarkan ibunya memukul dadanya berkali-kali hingga buku-buku jari ibunya memerah. Rasa sakit dari pukulan itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan rasa sakit yang mencabik-cabik jantungnya.

Ia menangis dalam diam. Menerima setiap kutukan itu karena ia tahu... ibunya benar. Dialah pembunuhnya. Kesombongannya yang telah mencabut nyawa pria yang paling ia sayangi.

******

Langit Jakarta seolah ikut berkabung. Awan abu-abu tebal menggantung rendah, menghalangi sinar matahari, menciptakan suasana muram di Tempat Pemakaman Umum siang itu.

Angin berhembus membawa aroma tanah basah dan wangi bunga melati yang bercampur menjadi satu, menusuk indra penciuman setiap pelayat yang hadir. Pemakaman itu berlangsung dalam isak tangis yang tak putus-putusnya.

Di dasar liang lahat yang lembap dan dingin, Papi Tommy dan Arga berdiri tanpa alas kaki. Pakaian mereka kotor oleh tanah merah. Tangan Arga bergetar hebat saat ia menerima jasad sang kakek yang sudah terbalut kain kafan putih.

"Pelan-pelan, Ga," bisik Papi Tommy serak, menahan isaknya sendiri.

Arga mengangguk patah-patah. Dengan sangat hati-hati, ia membaringkan jasad itu menyentuh bumi. Tangannya menyentuh kain kafan di bagian wajah Kakek untuk yang terakhir kalinya sebelum tali-tali pengikat itu dilepaskan. Dadanya sesak bukan main. Ini adalah sentuhan terakhirnya. Perpisahan yang paling absolut.

Setelah tanah merah mengubur segalanya dan doa-doa pengampunan selesai dilantunkan, para pelayat perlahan mulai membubarkan diri. Suara lantunan surat Yasin mulai mereda, digantikan oleh keheningan yang menyiksa.

Satu per satu kerabat dan kenalan beranjak pergi, hingga akhirnya, di depan gundukan tanah basah yang dipenuhi taburan bunga mawar dan melati itu, hanya tersisa empat orang.

Nisa berdiri mematung di sisi kiri makam. Ia mengenakan gamis hitam panjang, dengan selendang yang menutupi kepalanya. Matanya yang sembab menatap lurus ke arah nisan kayu berukir nama sang kakek tanpa berkedip. Air matanya sudah mengering, menyisakan tatapan kosong yang menyiratkan duka tanpa batas. Ia masih belum menyangka, pria sebaik Kakek harus pergi meninggalkannya secepat ini, dengan cara yang paling menyakitkan.

Berdiri di seberang makam, Arga terus memperhatikan Nisa. Hati pria itu hancur melihat wajah pucat mantan istrinya. Ia ingin merengkuh Nisa. Ia butuh kekuatan dari wanita itu, dan ia merasa Nisa pun pasti membutuhkan sandaran.

Perlahan, Arga melangkah memutari pusara. Ia mendekati Nisa dengan ragu. Tangan kanannya terulur, berusaha memegang lengan wanita yang masih menatap nisan itu.

"Nis..." panggil Arga lirih, suaranya nyaris berbisik. "Kita pulang, ya?"

Namun, detik saat ujung jari Arga baru saja menyentuh kain hitam di lengan Nisa, wanita itu bereaksi dengan cepat.

Nisa menepis tangan Arga dengan sangat kasar hingga tangan pria itu terlempar ke udara. Nisa menoleh. Sorot matanya yang tadi kosong, kini berubah menjadi tatapan sedingin es, penuh dengan kebencian dan rasa jijik yang tak lagi ditutup-tutupi.

"Jangan pernah berani menyentuhku," desis Nisa tajam.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, Nisa memutar tubuhnya. Ia melangkah pergi meninggalkan area pemakaman dengan langkah cepat dan tegar, menolak menoleh ke belakang barang sedetik pun.

Melihat Nisa pergi, Papi Tommy dan Mami Kintan yang berdiri di belakang mereka pun segera menyusul.

"Tunggu, Nisa. Biar Papi yang antar kamu," ucap Papi Tommy, berjalan melewati Arga begitu saja seolah putranya itu tidak pernah ada di sana. Mami Kintan bahkan tak sudi melirik Arga, ia langsung mengekor di belakang suaminya dan Nisa.

Langkah kaki mereka semakin menjauh, meninggalkan Arga yang berdiri mematung sendirian di tengah deretan batu nisan yang membisu.

Langit yang sejak tadi menahan beban, akhirnya menyerah. Titik-titik air mulai turun dari awan kelabu. Gerimis perlahan jatuh, membasahi bumi, menimpa kemeja hitam yang dikenakan Arga.

Arga tidak bergerak. Ia membiarkan rintik hujan itu membasahi wajah dan seluruh tubuhnya, menyamarkan air mata yang kembali luruh dengan derasnya. Suara gemerisik hujan yang menimpa dedaunan menjadi satu-satunya nyanyian duka yang menemaninya.

Perlahan, lutut Arga lemas. Tubuh jangkungnya merosot jatuh berlutut di atas tanah merah yang becek.

Pria itu merangkak maju, tak peduli celananya kotor oleh lumpur. Tangannya yang gemetar terulur, memeluk nisan kayu basah itu dengan sangat erat. Ia membenamkan wajahnya di atas gundukan tanah yang masih wangi bunga tabur tersebut.

"Kek..." tangis Arga akhirnya pecah, raungannya bersaing dengan suara rintik hujan. "Maafin Arga, Kek... Arga minta maaf..."

Arga mencengkeram tanah basah itu, meremasnya hingga lumpur memenuhi sela-sela jarinya. Ia memeluk nisan itu seolah sedang memeluk kakeknya sendiri.

"Kembali, Kek... Arga mohon, kembali..." rintih Arga putus asa, napasnya tersengal-sengal di tengah hujan yang perlahan menderas. "Arga salah... Arga janji bakal perbaiki semuanya... Bangun, Kek... Jangan tinggalin Arga sendirian begini..."

Namun jeritan penyesalannya hanya dijawab oleh keheningan makam dan guyuran hujan. Di tengah pusara itu, Arga menangis tersedu-sedu, menyadari bahwa ia baru saja kehilangan segala-galanya, dan tak ada satu pun yang bisa ia lakukan untuk memutar kembali waktu yang telah ia sia-siakan.

1
ryuka
astaga..yg kaya gini yg kamu bela di banding nisa ckckckckck.. arga arga mudah2an cepet sadar kamu
Adinda
cabut semua harta arga buat arga miskin pak tomy pasti pelakor cuma ngincer harta arga mungkin anak yang dikandungnya anak teman arga
sunaryati jarum
Itu wanita yang kamu pilih,dari keluarga preman tidak punya sopan.santun, arogan dan yang jelas Adelia sangat menginginkan hartamu.
Turi77 Turi77
sedih banget bab ini thor😭😭
selamat jalan kakek, semoga Allah menempatkan di surga nya🤲🤲
Mundri Astuti
coba aja miskinin tuh Arga ..coret dari ahli waris ...jangan kasih jabatan...
pengen tau masih mau ga tuh si lampir sama Arga ...cabut semua dukungan finansial Arga...
Lee Mba Young
nnti arga di miskin kan oleh ortunya, kl miskin masih mau gk pelakor itu.
sunaryati jarum
Nikahkan dengan Adelia dan tarik semua fasilitas Arga,Pak Tommy
sunaryati jarum
Emak akan beri 5 🌟jika Arga telah hancur
MamDeyh
Terimalah Arga pilihanmu😒
Bella. pr1ncess
benar kata kakek nisa meskipun nnti arga nangis darah ingin kembali padamu jangan mau ingatlah akan rasa sakit yg diberi arga ke kamu dan ingatlah akan kata kakek diakhir hayatnya secara tidak langsung argalah yg membunuh kakek
sunaryati jarum
Langsung beberkan saja jika selingkuhan Arga hamil, ngapain kau tutupi Arga saja tidak menjaga perasaan kamu dan keluarganya,kenapa kamu mau berkorban sama lelaki murahan
sunaryati jarum
Kamu yang bilang ke keluarganya Nisa, beserta alasannya.
sunaryati jarum
Dengan dukungan sahabat terbaikmu semoga sukses karir dan sukses dapat pasangan yang menghargai dan menghormati kamu Nisa
ryuka
bersiap lah kamu menerima hasil perbuatan kamu arga
ryuka
meraung guling2 pun tetap tidak bisa mengembalikan kakek dan nisa..
ryuka
/Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob/ kakeeeekkkk
Anonim
😭😭😭
ryuka
thoorrr aku nungguin kejatuhan nya adelia 🤭🤭🤭
ryuka
duuuhhhh kakekkk.. semogavkamu kuat ya...
ryuka
diihh dasar pengecut kamu arga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!