Nasib istri kuli bangunan :menceritakan tentang bahwa hidup yang penuh perjuangan seorang laki- laki yang bertanggung jawab dan istri yang punya kesabaran. dan keteguhan yang hebat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SulSya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 Nasib Derita Istri pekerja kuli bangunan
Siang itu matahari terik menyengat. Anisa berjalan kaki menuju sumur umum desa membawa ember plastik besar berisi pakaian kotor untuk di cuci.
Tubuhnya yang kurus tampak kewalahan menahan beban pakaian keluarga suaminya. Namun, ujian Anisa hari itu tak berhenti pada letih fisik semata melainkan masih harus tegar menahan kata-kata yang keluar dari para penggosip.
Di pos ronda dekat sumur, Rika ipar Anisa sedang duduk berkumpul bersama dua tetangga lainnya, Mpok Minah dan Bu Tuti. Mereka sedang mengupas mangga muda sambil tertawa-tawa.
Begitu melihat Anisa melintas, tawa mereka mendadak terhenti, berganti menjadi bisik-bisik yang disengaja agar terdengar.
"Lihat tuh, menantu kebanggaan Mbak Asnah lewat," sindir Rika keras-keras sambil mengunyah rujak mangga muda di mulutnya.
Mpok Minah tertawa kecil. "Duh, kasihan ya. Baju sudah kusam begitu masih dipakai terus. Beda banget sama si Rika yang suaminya kerja di pabrik, serba berkecukupan ya Rika " ejekan yang di ucapkan para tetangga kampung itu kepada Anisa.
Bu Tuti menyahut, "Iya nih. Padahal dulu waktu menikah katanya Anisa ini anak orang berada ya? Kok mau-maunya hidup terlunta-lunta sama Burhan yang cuma buruh pekerja kuli bangunan ya? Apa tidak menyesal?"
Anisa menghentikan langkahnya sejenak. Dadanya bergetar menahan malu dan sedih. Namun, ia mencoba tersenyum sopan dan menyapa mereka.
"Mari, Mbak Rika, Bu Tuti, Mpok Minah..." sapa Anisa halus serta memberikan senyuman yang ramah kepada para pengunjung itu.
Rika melipat tangannya, menatap Anisa dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan mencibir. "Nggak usah sok ramah deh, Nis.
Kita ini cuma kasihan sama Kang Burhan. Gara-gara nanggung kamu, dia sampai kelihatan tua sebelum waktunya. Muka sudah hitam terkena panas, badan kurus kering."
"Benar itu," timpal Bu Tuti tanpa rasa sungkan. "Istri tetangga sebelah saja rajin bantu-bantu nambal penghasilan suami dengan jualan gorengan. Lah kamu, Nisa? Cuma menompang hidup sama keluarga Burhan, Kasihan Burhan, uang hasil meremas keringatnya habis cuma buat makan kamu."
Kata-kata itu menghujam jantung Anisa bagai sembilu. Air mata hampir saja menetes, namun Anisa menahannya sekuat tenaga. Ia tidak boleh terlihat lemah di depan mereka.
"Kang Burhan adalah suami saya, Mbak, Bu," jawab Anisa tenang meski suaranya agak bergetar. "Saya menghormati kerja keras suami saya. Berapa pun rezeki yang dibawa Kang Burhan pulang, saya syukuri dan saya kelola sebaik mungkin. Saya tidak pernah merasa menjadi beban, dan Kang Burhan pun tidak pernah mengeluhkan hal itu."
Rika tertawa mengejek. "Halah! Itu kan di depanmu! Di belakangmu, Kang Burhan itu sering curhat sama Ibu kalau dia capek! Kamu saja yang tidak tahu diri, merasa sok dicintai!"
"Kalau memang Mbak Rika pikir begitu, itu hak Mbak," balas Anisa berusaha menjaga kesopanannya. "Permisi, saya mau mencuci dulu."
Anisa melanjutkan langkahnya menuju sumur. Di balik punggungnya, gelak tawa para tetangga dan iparnya kembali pecah, menyuarakan ejekan-ejekan yang tak henti memojokkannya.
Di tepi sumur yang sepi, saat menimba air seorang diri, pertahanan Anisa akhirnya runtuh. Air matanya menetes jatuh merembes ke dalam pakaian kotor yang dibawasnya.
"Ya Allah..." bisik Anisa dalam hatinya yang perih. "Kuatkan hamba. Berikan hamba kesabaran untuk terus berada di samping Kang Burhan. Jangan biarkan prasangka orang lain merusak ketulusan cinta hamba padanya."