NovelToon NovelToon
Sinar Aluna & Dua Pelindung Hati

Sinar Aluna & Dua Pelindung Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Idola sekolah
Popularitas:189
Nilai: 5
Nama Author: LailaHaidar

✨ Sinopsis

Aluna adalah gadis cantik dan agak nakal yang tumbuh dalam kemewahan, namun yang paling berharga baginya bukan harta, melainkan dua sahabat yang selalu ada di sisinya sejak kecil: Orion — tampan, tenang, bijaksana, & pintar; serta Rexy — ganteng, tegas, sedikit tengil, namun berhati emas & menjadi pelindung setia keduanya. Ketiganya anak dari keluarga terpandang, tumbuh bersama, berjanji tak akan pernah terpisahkan.

Namun seiring berjalannya waktu, rasa persahabatan itu perlahan tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dalam. Baik Orion maupun Rexy sama-sama menyayangi Aluna lebih dari sekadar sahabat. Ketika hati Aluna akhirnya harus membuat pilihan sulit, ia menyadari bahwa memilih satu berarti menyakiti yang lain.
Di antara cinta & persahabatan, di antara kebersamaan & pengorbanan, ketiganya belajar: cinta sejati tidak harus memiliki, & persahabatan tulus adalah harta yang abadi selamanya. Sebuah kisah hangat tentang perjalanan hati, keikhlasan, & kebersamaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LailaHaidar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Liburan Bersama Keluarga

 

Seminggu sebelum liburan semester dimulai, rumah Aluna udah berisik banget. Bukan karena ada pesta, tapi karena Aluna lari ke sana kemari sambil bawa koper ukuran gede banget, wajahnya berseri-seri kayak orang yang baru aja menang undian berhadiah utama.

"Mama! Mamaaa! Jaketku belum ketemu! Itu yang warna biru dongker, tebel banget yang biasa aku pakai kalau ke gunung!" teriak Aluna sambil nongol dari pintu kamarnya, rambutnya agak berantakan karena tadi dia sibuk narik-narik isi lemari.

Bu Amira tersenyum berdiri di bawah tangga, sambil memegang daftar barang yang harus dibawa. "Pelan-pelan dulu dong, Sayang. Rumahnya belum mau lari ke mana-mana. Jaketmu itu ada di ruang tengah, baru aja aku setrika tadi pagi. Kamu lupa ya?"

"Hahaha iya deh maaf, aku terlalu semangat kayaknya!" Aluna cekikikan, langsung lari turun dan memeluk ibunya erat.

Saat itu juga, suara klakson mobil terdengar dari depan gerbang. Aluna langsung melepaskan pelukannya dan melirik jam di dinding. "Cepat banget datangnya! Aku duluan ya Ma, aku panggil Papa dulu!"

Dia berlari ke ruang kerja ayahnya. Pak Bima sedang memeriksa dokumen terakhir, tapi saat melihat putrinya berdiri di ambang pintu sambil tersenyum lebar, senyum serupa terpasang di wajahnya.

"Siap berangkat, Nona Muda?" tanya ayahnya sambil menutup laptop.

"Siap banget, Pa! Dan terima kasih ya, udah izinkan Orion dan Rexy ikut. Seru banget rasanya liburan kali ini nggak sendirian!"

Pak Bima tertawa, lalu berdiri dan merapikan dasinya sedikit. "Yaudah ayo keluar, jangan bikin mereka nunggu lama di depan. Ingat ya, tetap jaga sikap, jangan terlalu nakal sampai mereka pusing ngurusin kamu."

"Iyaaa janji deh!" Aluna mengacungkan jempol, lalu menarik tangan ayahnya keluar.

Di depan gerbang, dua mobil sudah menunggu. Mobil pertama keluarga Aluna, dan mobil kedua membawa Orion bersama orang tuanya, lalu Rexy yang datang bersama ayahnya saja karena ibunya sedang ada urusan di luar kota. Begitu melihat Aluna keluar gerbang, kedua cowok itu langsung melambaikan tangan.

"Kamu lama banget nggak keluar, kirain kamu tidur lagi di dalam," ledek Rexy sambil membuka jendela mobil.

"Ah enak aja, aku kan sibuk mikirin bekal apa yang mau aku bawa buat kalian," balas Aluna sambil tertawa, masuk ke dalam mobil sebelah ibunya.

Perjalanan ke vila keluarga Aluna yang ada di daerah pegunungan itu butuh waktu sekitar empat jam. Sepanjang jalan, obrolan antar keluarga mengalir hangat banget. Tante Sari, ibunya Orion, bercerita soal prestasi Orion yang baru aja memenangkan lomba sains tingkat kota, sementara Pak Dedi, ayahnya Rexy, tertawa bercerita soal Rexy yang dulu sering jatuh waktu belajar naik sepeda.

Aluna mendengarkan sambil tersenyum lebar. Rasanya aneh tapi nyaman banget — melihat orang tua mereka juga akrab kayak anak-anaknya. Nggak ada rasa canggung sama sekali.

Sesampainya di vila yang terletak di tengah kebun teh dengan pemandangan gunung yang menakjubkan itu, semua langsung sibuk menurunkan barang. Udara di sana sejuk banget, bikin siapa pun yang datang langsung merasa rileks.

"Wih, keren banget tempatnya! Kayak di film-film gitu lho," ujar Rexy sambil melebarkan kedua tangannya, menghirup udara segar dalam-dalam.

Orion tersenyum sambil merapikan rambutnya yang tertiup angin. "Tenang banget ya di sini. Pasti enak banget buat istirahat."

Malam pertama, semua berkumpul di ruang tengah yang besar, ada perapian kecil yang menyala di sudut ruangan bikin suasana makin hangat. Tante Mira dan Tante Sari sibuk menyiapkan cokelat hangat dan kue buatan sendiri.

"Nah, sekarang kita duduk melingkar sini semua," ajak Pak Bima.

Mereka bertiga duduk berdampingan di karpet tebal, sementara para orang tua duduk di sofa di hadapan mereka.

"Sebenarnya kami orang tua kalian sudah lama melihat kedekatan kalian bertiga," buka Pak Bima dengan nada lembut tapi serius. "Kami sangat bersyukur kalian bisa tumbuh bersama dengan baik. Di zaman sekarang, punya sahabat yang tulus itu harta yang sangat berharga."

Tante Sari mengangguk setuju, menatap ketiga anak itu dengan mata berbinar. "Orion sering cerita ke aku soal kalian berdua. Dia bilang kalau ada masalah, yang pertama dia cari adalah kalian. Itu membuat aku senang sekaligus tenang."

Pak Dedi menepuk paha Rexy pelan. "Anakku ini mungkin nggak sepandai Orion, atau selembut Aluna. Dia kasar, kadang ngomong nggak dipikir dulu. Tapi aku tahu hatinya baik. Terima kasih sudah mau menerima dia apa adanya ya, Nak."

Rexy sedikit tersipu, menggaruk belakang lehernya yang nggak gatal. "Yah, Pa… ngomongnya kayak aku ini anak nakal banget aja. Aku kan cuma… punya cara sendiri aja gitu."

Semua tertawa mendengarnya. Aluna menyenggol lengan Rexy pelan. "Dia ini sebenarnya malu tuh, denger aja mukanya udah merah banget."

"Iya deh iya, kamu itu paling benar, Tuan Putri," balas Rexy sambil tersenyum ke arah Aluna.

Keesokan paginya, mereka bertiga bangun lebih awal sebelum orang tua mereka terjaga. Matahari baru aja muncul menyelinap di balik puncak gunung, langitnya berwarna oranye lembut yang pelan-pelan berubah jadi biru cerah.

"Ayo kita jalan-jalan sebentar, sebelum mereka bangun," ajak Aluna berbisik, seolah takut membangunkan pagi yang tenang itu.

Mereka berjalan menyusuri jalan setapak di dekat vila, menikmati kabut tipis yang masih menempel di dedaunan.

"Enak banget ya kalau begini," gumam Aluna sambil melipat kedua tangannya di depan dada. "Tanpa tugas sekolah, tanpa omongan orang lain, tanpa masalah. Cuma kita bertiga."

Orion berjalan di sebelah kirinya, menatap pemandangan di depan mereka. "Iya. Tapi ingat, kenikmatan kayak gini bukan karena tempatnya, tapi karena siapa yang ada di sebelah kita."

Rexy yang berjalan di sebelah kanannya menendang kerikil kecil di depannya. "Kadang aku takut tau. Kalau nanti kita udah dewasa, sibuk masing-masing, apakah kita masih bisa punya waktu kayak gini? Nggak ada yang tahu kan apa yang akan terjadi besok."

Aluna berhenti berjalan, lalu menatap kedua sahabatnya bergantian. "Itulah kenapa kita harus nikmati hari ini sebaik mungkin. Besok itu misteri, kemarin itu sejarah, tapi hari ini itu kado. Ingat kan?"

"Kata-katamu dalam banget pagi ini, Lun," kata Rexy sambil tersenyum, tapi sorot matanya terasa lebih tenang dari biasanya.

Mereka menghabiskan waktu seharian itu dengan hal-hal sederhana — membantu ibu-ibu memasak di dapur, bermain kartu di teras sambil tertawa sampai perut sakit, dan mendengarkan cerita para ayah saat mereka masih muda. Tidak ada yang mewah, tidak ada yang spektakuler. Tapi kebahagiaan itu terasa nyata banget, menyelimuti hati mereka bertiga.

Salah satu momen yang paling berkesan adalah saat malam terakhir liburan itu. Semua orang berkumpul di halaman belakang, ada api unggun kecil yang dinyalakan. Suara nyanyian lembut terdengar, bercampur dengan cerita-cerita lucu yang membuat mereka tertawa lepas.

Pak Bima menatap ketiga anak itu dengan pandangan penuh harap. "Jaga persahabatan ini baik-baik ya. Seiring berjalannya waktu, kalian akan bertemu banyak orang, tapi tidak semua orang bisa dipercaya. Kalian bertiga sudah melewati banyak hal bersama. Jangan biarkan hal-hal kecil merusak apa yang sudah kalian bangun selama ini."

Aluna menatap kedua sahabatnya di samping kanan dan kirinya, lalu tersenyum tulus. "Kami janji kan, nggak akan pernah terpisahkan. Betul kan, Rio, Rex?"

Orion mengangguk mantap. "Betul. Selama kita saling jujur dan saling menghargai, nggak ada yang bisa memisahkan kita."

Rexy menyilangkan tangannya di dada, lalu tersenyum bangga. "Dan kalau ada yang berani coba-coba pisahkan kita, hadapi aku dulu. Aku yang akan urus mereka!"

"Nah itu baru Rexy yang aku kenal!" seru Aluna sambil tertawa renyah, suara tawanya bergaung di udara pegunungan yang dingin namun terasa hangat itu.

Liburan itu berakhir, tapi bukan dengan rasa sedih karena harus pulang. Sebaliknya, mereka pulang dengan hati yang lebih penuh, ikatan yang lebih kuat, dan keyakinan bahwa apa yang mereka miliki itu jauh lebih berharga daripada apa pun di dunia ini.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!