Siapa perempuan yang ingin menjadi mandul .?? tidak ada satupun yang menginginkan itu semua, setiap wanita pasti ingin punya keturunan punya buah hati yang akan menjadi pelengkap dalam bahtera rumah tangga nya, sebagai pemanis dalam cinta yang di arungi bersama teman hidupnya.
Namun rencana yang kuasa tetap lah rencana nya siapa yang dapat menghindar atau mengelak jika ia sudah berkehendak, itu lah yang di alami kora.
11 Tahun pernikahan nya ia selalu mendambakan ada buah hati yang sudi tumbuh dalam rahim nya, 11 tahun penantian yang panjang. Pernikahan yang sempurna, memiliki suami yang sempurna ternyata bukan lah obat dari sebuah penawar kebahagiaan.
pernikahan yang dikira akan berjalan seumur hidup harus kandas kala tuntutan dan penghianatan yang terjadi. kora tidak marah tidak juga menyalahkan siapapun ia memilih mengalah dan merelakan cinta nya pergi dan memilih menghilang untuk menemukan arti kebahagiaan yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SeinXD, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CH 28
Kora masih berdiri mematung di balik tirai tebal itu. Jantungnya berdegup kencang, begitu keras hingga ia takut Hendra mendengarnya. Dari celah kecil itu, ia melihat punggung pria itu yang tampak tegang. Hendra tampak berusaha menstabilkan emosinya yang tampak melonjak.
Surat kecil itu tergenggam di tangan Hendra. Pria itu membacanya sekali lagi, lalu mengeratkan genggaman seolah ingin meremas kertas itu menjadi debu.
"Selidiki baik-baik siapa yang mengirim ini," ucapnya dingin ke ponselnya, lalu memutus sambungan.
Kora menahan napas. Kenapa? Mengapa sebuah surat yang begitu lembut membuat suaminya begitu cemas? apakah benar ada sesuatu yang memang benar di sembunyikan oleh suaminya selama ini, rasa percaya dalam dirinya perlahan mulai terasa goyah. Apakah ia terlalu percaya sampai ia tak menyadari ada sesuatu yang salah dari ini semua.
Hendra berbalik, matanya menyapu ruangan. ia masih mencari sosok istri nya, entah kemana wanita itu pergi, Hendra tak ingin sesuatu buruk terjadi lagi. Dalam hatinya ada kekhwatiran yang tak bisa ia ungkapkan.
Kora mundur selangkah, punggungnya menempel pada dinding dingin. Ia tidak keluar. Ia tidak siap. Bukan saat hatinya terasa begitu tercabik-cabik oleh keraguan yang tak kunjung reda.
Hendra memilih melangkah keluar kamar, menutup pintu dengan perlahan. Begitu langkahnya menghilang, Kora merosot jatuh ke lantai, menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Siapa aku bagimu, Hendra?" bisiknya lirih. "Dan apa yang sebenarnya kau sembunyikan?"
Kora meringkuk menahan rasa sesak dan sakit hati nya, jika benar itu cinta kenapa ini bukan terasa seperti cinta, itu bukan cinta tapi itu seperti sebuah lubang kecil yang selalu di tutupi hingga menghasilkan lubang yang lainya.
Kora mengangkat kepalanya matanya menatap tajam ia meremas tirai dengan kuat.
" aku tidak akan memilih diam!" kora berguman dalam hatinya ia sudah memantapkan dirinya akan menghadapi semua tidak akan takut dan bersembunyi jika memang ada yang terjadi.
...----------------...
Pagi hari ini kora duduk sendirian di meja makan yang besar ini, bibi Ratna memberikan segelas kopi padanya. Wanita paruh baya itu adalah asisten rumah tangga yang sudah begitu lama tinggal di situ, ia menganal siapa kora dan tahu seluk-beluk keluarga ini.
Bibi Ratna menaruh secangkir kopi di atas meja persis di depan kora yang hanya duduk diam sedari tadi, mata nya kosong entah apa yang saat ini ia pikirkan.
Bibi Ratna menyentuh pundak kora dengan pelan, kora menoleh pada nya ia hanya membalas tersenyum pada wanita itu.
Ia mendekatkan diri pada telinga kora, lalu membisikan sesuatu yang membuat kora seketika tegang, ia lalu menatap mata bi Ratna. wanita paruh baya tersebut hanya tersenyum lalu berbalik meninggalkan kora dengan banyak pertanyaan yang tiba-tiba muncul di benak nya.
Ternyata wanita paruh baya itu jauh lebih tau dari yang ia kira, selama ini dia diam namun ternyata mengamati semua dengan begitu cermat dan teliti. Kora mengepalkan tangan nya.
...----------------...
Nisa memilih tidak berangkat ke kantornya hari ini karena memang ada hal penting yang hendak ia cari, setelah di rasa semua orang rumah tidak ada di rumah Nisa berbisik kepada salah satu pelayan untuk memastikan apakah rumah benar-benar sudah tak ada orang.
pelayan tersebut membantuk bulat dengan jarinya seolah memberikan Kode bahwa semua sudah terkendali, Nisa dengan segera melancarkan aksinya ia berjalan ke ruang kerja ayahnya. Ia berjalan dengan pelan dan memastikan bahwa benar benar tak ada orang di sana.
Nisa masuk lalu menutup nya kembali dengan pelan agar tak menyebabkan kecurigaan nantinya, ia berjalan menuju meja kerja ayahnya. Disana tampak rapi dan bersih Nisa mencari sesuatu yang ia sedang cari namun tak menemukan nya.
Ia membuka semua laci meja dan memastikan bahwa benda itu ada disana, namun sekian lama ia mencari ia tak menemukan benda tersebut.
Tak menyerahkan begitu saja Nisa mencari di setiap sudut tempat, ia juga kembali menyusun kembali dengan rapi takut nanti akan memancing kecurigaan sang ayah.
Setelah cukup lama mencari ia tak menemukan nya, hingga mata nya tak sengaja menemukan sebuah foto yang telah usang. Ia mengambil foto tersebut dan menatapnya dengan saksama, Nisa menutup mulutnya untuk meredam suara dari rasa terkejutnya.
Ia segera keluar dari sana dengan membawa serta foto tersebut, ia akan menangani ini semua dengan baik sebelum semuanya tahu tentang apa yang pernah terjadi di masa lalu.
...----------------...
Tira duduk dengan menyilangkan kakinya ia menikmati minuman wine di tangan nya, ia menunggu seseorang yang akan ia temui. Rencana nya tidak boleh gagal ia harus memastikan bahwa semua akan terkendali.
" maaf lama menunggu!" seorang pria tiba-tiba muncul sembari membawa berkas dokumen yang di butuhkan tiara.
Tanpa mereka sadari ada seseorang yang memantau mereka dari jauh, namun orang tersebut tak bisa memastikan siapa pria yang bersama Tiara itu. Orang tersebut sangat pandai dalam melakukan penyamaran hingga masuhnya tak bisa mendeteksi nya.
" kumpulkan saja sebagai bukti nanti, melawan wanita licik itu harus lah dengan segala persiapan yang banyak dan harus menyimpan kartu truf jika sewaktu-waktu kita dalam keadaan terdesak."
Seseorang di samping nya hanya mengangguk paham, ia tetap melanjutkan memotret dan merekam mereka di tempat tersebut, ia sudah banyak menyimpan banyak bukti tentang scandal keluarga kaya, kali ini ia tak akan diam saja untuk menemukan berbagai bukti yang bisa menghasilkan bagi nya.
" kembali lah, ingat semua ini hanya kita yang tau!"
tiara bangkit berdiri meninggalkan nya sebelum tiara pergi ia memberikan amplop yang berisi uang, untuk jaminan hidup pria itu.
Pria tersebut hanya tersenyum ia menatap Tiara yang tergesa-gesa meningalkan tempat itu sebelum orang lain menemukan nya, ia duduk di kursi kemudi nya dan menatap berkas tersebut dengan saksama.
semua nya sudah di tangan nya tinggal menunggu waktu jalan harus meledakkan bom, ia tersenyum senang dari balik kaca spion mobil ia tak sengaja melihat seorang yang ia kenal melintas.
Kora keluar dari mobil dan mencari sosok itu namun ia tak menemukan nya, apakah terlalu stress sampai berhalusinasi seperti ini. Tidak mungkin Dimas kembali.
Tiara menarik nafasnya ia mencoba menenangkan dirinya bahwa semua yang terjadi pasti lah hanya halusinasi nya, ia tak ingin terlalu larut dalam bayang ini. namun hati nya seperti memberikan sinyal sedikit yang membuat nya bergetar.
Tiara merasakan memang ada sesuatu yang tidak beres dengan ini semua, namun ia belum menyelesaikan misinya.
" fokus Tiara, lelaki itu pasti tidak akan pernah kembali, dia sudah mati dan tidak akan pernah kembali!"