“Mari bercerai, Mas!”
Rania menatap lurus ke mata suaminya tanpa gentar, meski hatinya terasa hancur perlahan.
Harsa membeku. Kata cerai tak pernah ada dalam hidupnya. Baginya, Rania adalah miliknya selamanya, takdir yang tak bisa diubah siapa pun.
“Apa katamu?!”
Rania menggigit bibir, menahan sesak di dada sebelum akhirnya berkata pelan namun tegas, “Aku ingin bercerai. Aku sudah lelah menjadi istrimu!”
Selama tiga tahun pernikahan mereka, semuanya baik-baik saja. Harsa mencintainya dengan cara yang hangat. Sampai kematian sang adik mengubah segalanya.
Sejak saat itu, Harsa seolah perlahan menjauh darinya. Semua waktunya habis untuk menjaga janda adiknya dan keponakan kecil mereka. Sedangkan Rania, hanya menjadi bayangan di rumahnya sendiri.
Tak ada yang tahu, di balik senyum tenangnya, Rania sedang berjuang melawan penyakit yang mematikan.
Akankah Harsa setuju dengan perceraian itu? Ataukah Rania memilih pergi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 35
Rima menuntun Rania dengan sangat hati-hati, lalu mendudukkannya di tepi ranjang. Sebelum membuka obrolan, Rima sempat melongok ke luar pintu dan meminta pelayan rumah untuk membuatkan secangkir teh hangat.
Tak lama, pelayan datang mengantarkan nampan. Rima mengambil cangkir teh itu dan menyodorkannya ke depan wajah putrinya.
“Minum dulu, Sayang. Biar hatimu agak tenang,” ucap Rima lembut, tatapannya lekat memandangi gurat-gurat kelelahan di wajah Rania.
Rania mengangguk. Dengan jemari yang masih sedikit bergetar, ia menerima cangkir tersebut dan meneguk teh manis hangat itu perlahan.
“Sudah merasa lebih baik?” tanya Rima setelah Rania meletakkan kembali cangkirnya ke atas nakas.
”Sudah, Ma. Terima kasih,” jawab Rania sembari mengulas senyum tipis, mencoba mengusir kecemasan yang membayang di mata sang ibu.
Rima menghela napas panjang, lalu menggeser duduknya agar bisa lebih dekat dan menghadap langsung ke arah Rania.
“Sekarang jujur sama Mama. Kenapa kamu datang ke sini sendirian? Di mana Harsa? Apa kamu sedang ada masalah atau bertengkar hebat dengannya?”
Pertanyaan Rima sangat mendasar. Tidak mungkin Rania tiba-tiba muncul di ambang pintu setelah tiga tahun memutus komunikasi tanpa sebab. Rima tahu watak putrinya, Rania adalah wanita yang keras kepala dan memegang teguh komitmen. Jika ia sampai melangkah kembali ke rumah ini, pasti ada badai besar yang sedang menghantam biduk rumah tangganya.
Rania menatap kosong ke arah lantai sejenak, mengumpulkan seluruh sisa keberaniannya sebelum mendongak menatap lurus ke dalam manik mata ibunya.
“Rania mau bercerai dari Mas Harsa, Ma,” jawab Rania.
Deg!
Mendengar kata cerai yang keluar begitu enteng dari bibir putri tunggalnya, membuat tubuh Rima seketika membeku di tempat. Jantungnya berdegup kencang karena syok.
Bagaimana mungkin?
Dulu, Rania begitu mengagungkan Harsa. Rania membela pria itu mati-matian di depan papanya, bahkan rela membuang segala kemewahan, fasilitas, dan nama besar keluarga Wiranata hanya demi hidup bersama Harsa.
Lalu kenapa sekarang, tiba-tiba Rania datang dan membawa kabar perceraian?
“Sayang, kamu tahu, kan, kalau perceraian itu adalah perbuatan halal yang sangat dibenci oleh Allah?” tanya Rima sembari mengingatkan.
Rania kembali mengangguk.
“Rania tahu, Ma.”
“Lalu, kenapa kamu masih berpikir pendek untuk bercerai, Nak? Pikirkan baik-baik terlebih dahulu. Mama nggak mau kamu mengambil keputusan fatal seperti ini hanya karena sedang diselimuti emosi sesaat. Pernikahan itu bukan mainan, Rania,” nasehat Rima panjang lebar.
Rania meraih kedua tangan ibunya, menggenggam jemari hangat yang sudah mulai berkerut itu dengan erat. “Rania sudah sangat mantap ingin bercerai darinya, Ma. Keputusan Rania sudah bulat seratus persen dan tidak akan bisa diganggu gugat lagi. Suatu saat nanti, Mama dan papa pasti akan tahu sendiri apa alasannya tanpa perlu Rania ceritakan sekarang.”
“Sayang...”
“Jadi, untuk saat ini, bolehkah Rania tinggal di sini bersama kalian lagi? Rania... Rania hanya ingin menenangkan diri, Ma.”
Rima menatap dalam-dalam ke sepasang mata kosong milik Rania. Di sana, ia tidak melihat adanya kilat amarah atau dendam membara, melainkan hanya ada rasa lelah yang teramat pekat dan kepasrahan yang teramat dalam.
Sebagai seorang ibu yang melahirkannya, Rima tahu ada rahasia besar dan rasa sakit luar biasa yang sedang disembunyikan oleh putrinya. Tidak mungkin Rania menyerah pada Harsa jika kesabarannya belum benar-benar habis dikuras.
Rima mengembuskan napas pasrah, hatinya melunak seketika. “Baiklah... Mama percayakan semua keputusan ini padamu, Nak. Kamu sudah dewasa, kamu yang menjalani rumah tanggamu sendiri. Tapi ingat pesan Mama, Mama tetap tidak suka ada perceraian tanpa alasan yang jelas. Jika waktunya sudah tepat, ceritalah pada Mama.” Rima mengulurkan tangannya, mengusap lembut rambut panjang Rania dengan penuh kasih sayang.
“Terima kasih karena Mama sudah mau menerima Rania kembali di rumah ini," bisik Rania, air matanya akhirnya menetes juga. Ia langsung memajukan tubuhnya dan memeluk erat tubuh ibunya, menyembunyikan wajah pucatnya di ceruk leher Rima.
Rima membalas pelukan itu tak kalah erat, menepuk-nepuk punggung putrinya yang kini terasa sangat kurus. “Mau seberapa besar orang tua kecewa atau tersakiti oleh pilihan putrinya, mereka tidak akan pernah bisa membencinya seumur hidup, Sayang. Sampai kapan pun, Mama tetap sangat mencintai kamu. Kamu tetap putri kecil Mama.”
Rania memejamkan matanya rapat-rapat di dalam dekapan hangat itu. Berada di pelukan ibunya memang selalu menjadi tempat paling aman dan nyaman di dunia ini, tempat di mana ia tidak perlu berpura-pura menjadi wanita kuat.
Dulu, Harsa adalah tempat bersandar dan rumah bagi segala keluh kesahnya. Namun kini, setelah rumah itu runtuh dan berubah menjadi tempat yang paling menyakitkan, Rania tahu bahwa sejauh apa pun ia tersesat, jalan pulang terbaiknya adalah kembali ke dekapan hangat orang tuanya.
*
*
Malam semakin larut, namun Harsa masih setia mondar-mandir di depan pintu utama dengan kecemasan yang memuncak.
“Mas, kok belum tidur? Masih nungguin mbak Rania?” tanya Wulan tiba-tiba, melangkah menghampiri Harsa.
“Hmm,” balas Harsa singkat tanpa menoleh. Namun, begitu ia membalikkan badan, matanya membelalak kaget. Wulan ternyata masih nekat mengenakan lingerie milik Rania.
Menyadari arah tatapan Harsa yang menegang, Wulan tersenyum tipis dan mulai melancarkan aksinya. “Aku nggak bawa banyak pakaian, Mas. Jadi, terpaksa pakai ini dulu. Gerah juga kalau pakai baju siang tadi.”
“Ikut aku!” potong Harsa tegas. Tanpa basa-basi, ia langsung mencengkeram pergelangan tangan Wulan dan menariknya setengah menyeret menuju kamar utamanya di lantai atas.
Begitu sampai di dalam kamar, Harsa langsung membuka lemari dan membongkar pakaian Rania. Ia merasa teramat risih. Bagaimana tidak? Ke-jantannya di balik celana kembali bergejolak hebat melihat lekuk tubuh Wulan yang terekspos.
“Pakai ini! Lain kali jangan pernah memakai lingerie itu lagi, aku tidak suka!” ucap Harsa ketus sembari menyodorkan beberapa helai gaun rumahan milik Rania pada Wulan.
Harsa mengembuskan napas berat. Ia yakin Rania tidak akan marah bajunya dipinjam. Harsa juga menduga, Rania sengaja tidak pulang malam ini hanya untuk menghukumnya, membuat dirinya gelisah setengah mati. Harsa yakin Rania akam pulang dan meminta maaf padanya besok.
Wulan menerima pakaian itu dengan cemberut, binar matanya menyiratkan rasa jengkel. Rencananya untuk merayu Harsa agar dibelikan baju-baju baru yang mewah justru gagal total.
“Mas... ini semua buat aku? Tapi... kenapa harus baju bekas mbak Rania, sih?” tanya Wulan.
Harsa menatap Wulan dengan pandangan dingin yang menohok. “Bukannya kamu memang suka barang bekas? Jadi pakai saja itu untuk sementara. Aku tidak punya waktu untuk membelikanmu yang baru.”
Setelah melayangkan sindiran tajam yang langsung menusuk ulu hati Wulan, Harsa melangkah lebar meninggalkan kamar, membiarkan adik iparnya itu terpaku bisu di tempat.
“Barang bekas katanya?! Sialan! Kok mas Harsa bisa bicara sekasar itu padaku?!” kesal Wulan setengah berbisik, menjejakkan kakinya ke lantai dengan wajah memerah menahan amarah sekaligus malu.
padahal Harsa sdh mulai sadar naif dan manipulatif nya seorang wulan eh dia dgn bangga nya memerkan tentang dia sebagai calon istri dan lgsg bertabrakan dgn pemilik oerusahaan🤣dasar wulan bodoh masih pede lg bilang calon istri🤣🤣
kemiskinannya😌😌