NovelToon NovelToon
SETELAH SUAMIKU MENGKHIANATIKU

SETELAH SUAMIKU MENGKHIANATIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:67.2k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi F. Sari

Raya tidak pernah menyangka dua bulan meninggalkan rumah akan mengubah seluruh hidupnya.

Pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan bersama atasannya, Kansa Alvaro Alistair, membuat Raya harus meninggalkan suami dan adiknya di rumah. Ia sama sekali tidak curiga, hingga kepulangannya disambut pemandangan yang menghancurkan hati.

Rumahnya dipenuhi tamu. Pernikahan sedang berlangsung.

Rara, adik yang selama ini ia percaya, telah mengandung anak Zevan, suaminya.

Lebih menyakitkan, Zevan tidak merasa bersalah. Ia justru menyalahkan Raya karena belum siap memiliki anak, sementara keluarga mereka membenarkan pengkhianatan itu.

Kini, setiap hari Raya harus melihat suaminya bermesraan bersamaan adiknya sendiri di depan matanya.

Akankah Raya terus bertahan demi pernikahan yang telah mengkhianatinya, atau pergi dan membuat Zevan menyesal karena telah kehilangannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perhatian Kecil dari Pak CEO

Tidak terasa, sudah cukup lama Raya menunggu di bangku taman. Angin pagi yang semula terasa sejuk kini mulai bercampur dengan hangatnya sinar matahari. Ia beberapa kali melirik layar ponselnya, memastikan tidak ada pesan baru dari Kansa.

Belum sempat ia kembali menyandarkan tubuh, suara klakson terdengar dari arah jalan.

Tin!

Suara kelakson mobil spontan membuatnya menoleh.

Tak jauh darinya tempat mobilnya terpakir,

terlihat sebuah mobil tak asing baginya berhenti.

Raya segera berdiri dan merapikan blazer yang dikenakannya. Hingga seorang pria keluar dari dalam mobil dan berjalan ke arahnya setelah menutup pintu mobilnya.

“Pak...” sapanya ketika Kansa berjalan mendekat.

“Kenapa kamu sudah ada di sini?” tanya Kansa.

Raya terdiam sesaat. ‘Nggak mungkin kalau aku jawab jujur soal apa yang ku lihat di dapur.’

“Saya butuh ketenangan, Pak,” jawabnya akhirnya.

Kansa tidak langsung bertanya lebih jauh. Ia hanya mengangguk kecil.

“Duduk dulu, kita ngobrol-ngobrol dulu sebentar,” ucap Kansa.

Raya mengangguk.

Keduanya duduk di bangku taman. Kansa mengambil posisi di sampingnya, sementara Raya menatap lurus ke depan. Pemandangan anak-anak yang bermain di wahana masih terlihat jelas di hadapannya.

Beberapa saat mereka terdiam.

“Apa ada masalah?” tanya Kansa tiba-tiba.

Raya tersentak kecil. Ia menoleh kepada atasannya. ‘Pak Kansa ini seorang cenayang kah? Kok tahu saja apa yang aku alami.’

“T-tidak, Pak.”

Kansa mengangkat alis. “Saya tahu kalau seseorang yang sedang berbohong, Raya.”

Jemari Raya langsung meremas ujung blazer.

Ia menundukkan wajah, lalu mengembuskan napas perlahan.

“Hanya masalah pribadi saja, Pak. Saya tidak bisa mengatakannya sekarang, maaf.”

Tak ada pertanyaan lebih lanjut dari Kansa.

Hingga keheningan kembali memenuhi suasana. Suara kendaraan yang berlalu-lalang di jalan raya berpadu dengan tawa anak-anak yang sedang bermain di wahana.

Raya sedikit mengendurkan bahunya.

Namun, ketenangan itu hanya bertahan beberapa saat.

Kruuk...

Suara dari arah perutnya terdengar cukup jelas. Raya membeku. Tangannya spontan menekan perut.

Dari sampingnya terdengar kekehan kecil.

Raya menoleh dan mendapati Kansa sedang menahan tawa.

‘Kenapa harus berbunyi sekarang sih, bikin malu saja.’

“Kamu belum sarapan?” tanya Kansa yang tampak berusaha menahan tawa.

Wajah Raya seketika menghangat. Ia menundukkan kepala.

“Kebetulan, saya belum sempat sarapan tadi, Pak.”

Kansa mengangguk.

“Kita sarapan dulu. Setelah itu baru kamu ikut saya.”

Raya segera mengangkat wajah. “Tapi, Pak, saya bawa mobil.”

“Biarkan saja, nanti saya akan menyuruh orang untuk membawa mobilmu. Ada kunci cadangan, kan?”

Raya mengangguk. “Ada Pak. Ada di bagian bawah mobil kuncinya,” ucapnya.

Kansa mengangguk. “Ayo, kita berangkat sekarang.”

“Baik, Pak.”

Mereka berjalan menuju mobil. Lalu Kansa membukakan pintu mobil untuknya.

“Terimakasih, Pak,” ucap Raya sebelum akhirnya ia masuk ke dalam mobil.

Beberapa detik kemudian, Kansa masuk dan duduk di balik kemudi, memasang sabuk pengaman, lalu menyalakan mesin.

Suara mesin mobil terdengar halus.

Tanpa banyak bicara, Kansa menginjak pedal gas. Mobil perlahan meninggalkan area taman dan kembali menyatu dengan arus kendaraan.

Raya menyandarkan tubuhnya pada kursi. Pandangannya mengarah ke luar jendela.

Sepanjang perjalanan, tidak banyak percakapan di antara mereka. Hanya suara mesin mobil dan deru kendaraan yang berlalu-lalang di luar.

Jalanan kota semakin padat. Kendaraan memenuhi hampir setiap ruas jalan. Sesekali Kansa memperlambat laju mobil ketika melewati persimpangan yang ramai.

Raya kembali melirik pria di balik kemudi.

Wajah Kansa terlihat serius ketika berkonsentrasi mengemudi.

‘Pak Kansa memang dikenal tegas dan galak kalau sedang bekerja, dan semua karyawan pun pernah beberapa kali di bentak hanya masalah kecil.’

Raya kembali mengalihkan pandangan ke luar jendela.

‘Tapi kalau di luar pekerjaan, ternyata sikapnya berbeda. Sudah tampan, perhatian, lembut, dan nggak sombong.’

Ia terdiam sejenak.

‘Tapi aku nggak tahu seperti apa hati dan pikirannya. Apa dia sama seperti Mas Zevan atau enggak?’

Raya mengembuskan napas pelan.

‘Hanya Pak Kansa dan Allah yang tahu. Lagian, pria seperti Pak Kansa pasti banyak yang menyukainya.’

Raya meliriknya sekali lagi.

‘Dari latar belakangnya saja sudah sangat terlihat jelas kalau beliau berasal dari keluarga berada. Mungkin perempuan yang bersamanya juga harus berasal dari keluarga terpandang dan setara.’

Sebuah senyum tipis muncul di wajah Raya.

‘Kira-kira siapa perempuan yang beruntung mendapatkan Pak Kansa?’

Raya segera mengalihkan pandangan ketika Kansa tiba-tiba melirik ke arahnya.

Ia pura-pura sibuk memperhatikan jalanan.

‘Entah kenapa aku malah memikirkan hal seperti ini.’

Raya menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi.

. . .

Tidak lama, mobil berhenti di depan sebuah warung makan sederhana. Bangunannya tidak terlalu besar, hanya beratapkan seng dengan beberapa meja dan bangku panjang yang tersusun di dalamnya.

Raya menatap warung tersebut beberapa saat.

‘Satu lagi yang berbeda dari Pak Kansa. Meskipun kaya raya, ternyata beliau tetap sederhana.’

Suara Kansa membuat lamunannya buyar.

“Ayo, kita sudah sampai,” ujarnya sambil melepaskan sabuk pengaman.

“Iya, Pak.”

Raya segera membuka pintu mobil dan turun. Setelah menutupnya, ia berjalan mengikuti Kansa menuju warung tersebut.

Begitu memasuki warung, aroma masakan langsung menyambut hidung Raya. Beberapa pelanggan tampak menikmati makanan mereka, sementara suara alat makan beradu dengan piring terdengar dari berbagai sudut.

Kansa memilih salah satu meja yang masih kosong.

Namun, sebelum duduk, ia lebih dahulu mendekati pemilik warung.

“Mas, seperti biasa. Buat saya tumis pare, telur dadar bumbu, sama sambal bawang. Minumnya teh hangat,” pesan Kansa.

Pemilik warung mengangguk.

“Siap, Mas.”

Kansa kemudian menoleh kepada Raya.

“Kamu mau makan apa, Raya?”

Raya memperhatikan daftar makanan yang tertulis di papan kecil di dekat meja. Setelah berpikir sejenak, ia menunjuk salah satu menu.

“Saya sambal terasi sama lele goreng saja, Pak. Minumnya air putih.”

“Dengar, Mas?”

“Siap. Ditunggu, ya,” ujar pemilik warung sambil mencatat pesanan mereka.

Kansa kemudian mengajaknya duduk. Raya mengambil tempat di seberangnya, lalu meletakkan tas di samping kursi.

Ia mengedarkan pandangan sejenak.

Warung itu sederhana, tetapi suasananya terasa nyaman. Tidak ada kemewahan seperti restoran yang biasa ia lihat ketika menemani atasannya bertemu klien.

Raya kembali menatap Kansa yang duduk di hadapannya.

‘Ternyata Pak Kansa memang berbeda dari yang selama ini aku bayangkan. Bahkan semua karyawan pun nggak tahu soal itu.’

Ia tersenyum kecil, lalu menyandarkan punggungnya pada bangku sambil menunggu pesanan mereka datang.

.

.

Tak lama kemudian, pesanan mereka akhirnya datang. Pemilik warung meletakkan sepiring nasi beserta lauk di hadapan Raya.

Raya langsung menatap makanan tersebut. Nasi hangat masih mengepulkan uap tipis, sementara aroma gurih dan pedas dari lauk di hadapannya membuat perutnya kembali berbunyi.

Ia menelan ludah.

Tanpa menunggu lebih lama, Raya mengambil sendok dan menyendok nasi beserta lauknya.

“Bismillahirrahmanirrahim,” gumamnya sebelum memasukkan suapan pertama ke dalam mulut.

Matanya seketika membesar.

‘Masyaallah, enak banget. Terima kasih, ya Allah.’

Raya kembali menyendok makanannya. Kali ini lebih lahap.

.

Di seberang meja, Kansa masih menikmati makanannya. Namun, beberapa kali pandangannya tanpa sadar beralih kepada Raya.

Ia memperhatikan perempuan itu yang sibuk menyendokkan makanan ke dalam mulutnya.

Kansa tersenyum geli melihat bagaimana wanita di hadapannya makan dengan begitu lahap.

Namun saat ia hendak kembali menyantap makanannya, matanya menangkap sesuatu di sudut bibir Raya.

Sebutir nasi.

Ia meletakkan sendoknya.

“Raya, tunggu sebentar.”

Raya menghentikan gerakan tangannya. Ia mengangkat wajah.

“Iya, Pak?”

Kansa tidak langsung menjawab. Tangannya meraih selembar tisu yang tersedia di atas meja, lalu mengulurkannya kepada Raya.

Raya terdiam.

Tatapan mereka bertemu.

1
Herdian Arya
membesarkan anak ular.
sutiasih kasih
andai kansa & raya tau..
nyesel kalisn miara ank tak tau diri... yv justru sll mnyskiti ank kndung kalian....
Meee
tuhkan anak g tau diri dah fitnah buah g jatuh dari pohonnya,emaknya jahat ya anaknya juga g beda.
sutiasih kasih
udh tau kturunan dajjal.... knapa jga dipiara sih.....
mna kelakuan g ada baik"nya tuh ank dajjal....
bkal nyesel km raya & kansa.... merawat ank tak tau diri🙄🙄
sutiasih kasih
gila ya.... ank pungut tak tau diri🙄🙄
Yuni Ngsih
Authooor ceritramu bgs bangeeeet ku yg baca asyik ,membaca jln ceritra ,banyak fakta dlm kehidupan nyata Thor terutama Kaka mengurus adiknya ,Kakanya punya suami eh suaminya di embat ,....smg lanjutannya Raya bahagia sm Kansa selamanya ok ditunggu lanjutannya
Ma Em
Lagian Raya dan Kansa mau saja merawat anaknya Rara dan Zevan , apa bodoh atau gimana sih mereka berdua cuma bikin penyakit saja harusnya kalau Raya sdh lepas dgn Zevan Raya tdk usah pedulikan lagi dan mau saja mengurus anak Rara dan Zevan .
Elina thea
nanti kalo keluargamu hancur,salahkan dirimu sendiri,oke~~~
Elina thea
terserahmu raya~~~
stela aza
bibitnya y aja beda kelakuan tetep mengikuti ibu kandungnya walaupun dia udh di adopsi dari bayi ,,,🤦 loe j yg bodoh mau nampung bayinya orang yg udh pernah merusak rumah tangga kamu 🤦
sunaryati jarum
Anisa, berawal kau yang salah tapi kok dendam dengan Raya.Kau bekerja dengan tekun akan enak hidupmu
sunaryati jarum
Bebas umur berapa Zevan
sutiasih kasih
ambil saja zevan buat km ra... kekepe sana suami keru smpe km muntah"😅😅😅....
raya pasti ikhlas ngasih zevan buat km seorang.... tpj jgn mmpi km bisa kuasai rmh raya ya ra.....
sutiasih kasih
ya ampun.... keluarga.... suami.... mertua parasit kok ttp km prtahankan sih ray....🙄🙄
sutiasih kasih
bu riana matamu buta ya.... mna ada sejarahnya.... perempuan perebut laki orang... adalah perempuan baik"😂😂😂
sutiasih kasih
eeee dasar musang berbulu domba.... tdi kau bilang msak cm 2 porsi....
skrg bilang ke suamimu msak 3 porsi...
dasar gundik tak tau diri kau ra.... benalu... pelakor 🙄🙄
Meee
KLO bisa mah anak sirara g di urus sama raya dan Kanza,di taroh di panti asuhan ajalah,tkt jdi petaka buat anak raya nantinya.
sunaryati jarum
Jual diri dapat uang atau mati saja Rara 🤣🤣🤣
sunaryati jarum
Anisa berani mengganggu bahkan menyakiti istri bosnya sendiri, tindakan konyol menggali lubang untuk kuburnya sendiri
sunaryati jarum
Bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!