NovelToon NovelToon
Saving My Ex-Husband

Saving My Ex-Husband

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mafia / Penyelamat
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Hyacinthus Rainwood

IG: @hyacinthschia

Brooklyn dan Liam menikah karena perjodohan demi menyelamatkan keluarga Liam, meski hati pria itu tetap milik Helena. Selama beberapa tahun Brooklyn setia menjaga rumah tangga dengan cinta sendirian, hingga kembalinya Helena memicu perceraian di hari ulang tahunnya.

Brooklyn menghilang dan berubah menjadi agen rahasia, sementara Liam baru menyadari ketulusan Brooklyn serta kebohongan Helena setelah semuanya terlambat. Saat Liam diburu mafia, ia tak menyangka bahwa sosok yang ditugaskan melindunginya adalah mantan istrinya sendiri. Kini, di tengah bahaya yang mengintai, keduanya terpaksa berhadapan kembali dengan masa lalu yang belum selesai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyacinthus Rainwood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Kotak Makan Siang

Meskipun keputusan untuk berhenti membuka hati telah ia ucapkan pada dirinya sendiri pagi itu, Brooklyn tidak bisa sepenuhnya melepaskan kebiasaan lamanya—kebiasaan untuk tetap peduli, meski hatinya sudah terlalu banyak terluka. Ia tumbuh dalam keluarga yang mengajarkan bahwa kewajiban seorang istri adalah menjaga suaminya, apa pun keadaannya. Dan meski Liam telah menyakitinya berkali-kali, Brooklyn masih berusaha mempertahankan citra pernikahan yang baik-baik saja di hadapan dunia luar.

Hari itu, ia memutuskan untuk membawakan makan siang untuk Liam ke kantor Whitmore Group yang berlokasi di gedung pencakar langit megah di kawasan Midtown Manhattan. Ia menyiapkan kotak bekal berisi steak panggang lengkap dengan sayuran kukus dan kentang tumbuk—menu favorit Liam yang pernah ia dengar dari ibu mertuanya.

Dengan kotak bekal terbungkus rapi dalam tas kertas elegan bermotif emas, Brooklyn menaiki taksi menuju gedung Whitmore Group, hatinya berdebar antara harapan kecil dan kecemasan yang sudah menjadi teman akrabnya belakangan ini.

...***...

Lobi gedung Whitmore Group tampak megah dengan lantai marmer berkilau dan langit-langit tinggi yang dihiasi lampu gantung kristal. Brooklyn melangkah masuk dengan percaya diri yang ia paksakan, menuju meja resepsionis di lantai dasar.

"Selamat siang, saya Brooklyn Whitmore. Saya ingin menemui Tuan Liam Whitmore," ucapnya sopan.

Resepsionis muda itu tampak sedikit terkejut mendengar nama tersebut, namun segera tersenyum profesional. "Tentu, Nyonya Whitmore. Silakan naik ke lantai 42, kantor eksekutif berada di sana."

Brooklyn mengucapkan terima kasih dan melangkah menuju lift, tangannya menggenggam erat tas kertas berisi kotak bekal yang telah ia siapkan dengan penuh perhatian sejak pagi.

Ketika pintu lift terbuka di lantai 42, suasana kantor eksekutif Whitmore Group tampak sibuk dengan hilir mudik karyawan berpakaian formal, layar komputer yang menampilkan grafik saham, dan suara telepon yang berdering di berbagai penjuru ruangan.

Brooklyn berjalan menuju ruang kerja Liam yang terletak di sudut lantai, ruangan berdinding kaca yang memberikan pemandangan luas ke arah cakrawala Manhattan. Namun sebelum ia sempat mengetuk pintu, seorang wanita muda berpakaian blazer mahal menghampirinya dengan ekspresi yang sulit ditebak.

"Anda pasti Nyonya Whitmore," ucap wanita itu, yang belakangan Brooklyn ketahui bernama Claire, asisten pribadi Liam. "Tuan Whitmore sedang dalam rapat penting. Mungkin sebaiknya Anda menunggu di luar."

"Aku hanya ingin memberikan ini padanya," jawab Brooklyn sambil menunjukkan tas kertas berisi bekal makan siang. "Aku akan menunggu sampai rapatnya selesai."

Claire tampak ragu, namun akhirnya mengangguk dan mempersilakan Brooklyn menunggu di sofa dekat ruang kerja Liam.

Sekitar dua puluh menit kemudian, pintu ruang rapat terbuka, dan Liam keluar bersama beberapa rekan bisnisnya, tampak serius membicarakan sesuatu yang berkaitan dengan investasi baru perusahaan. Ketika matanya menangkap sosok Brooklyn yang duduk menunggu di sofa dekat ruang kerjanya, ekspresi wajahnya seketika berubah menjadi tidak senang.

"Brooklyn? Sedang apa kau di sini?" tanyanya dengan nada yang jelas tidak menyembunyikan ketidaksukaan, terlebih di hadapan rekan-rekan bisnisnya.

Brooklyn berdiri, mencoba tersenyum meski hatinya mulai berdebar cemas. "Aku membawakan makan siang untukmu. Aku dengar kau sering melewatkan jam makan siang karena sibuk bekerja, jadi aku pikir—"

"Kau tidak perlu melakukan ini," potong Liam cepat, suaranya rendah namun tajam, matanya melirik ke arah rekan-rekan bisnisnya yang mulai memperhatikan interaksi mereka dengan penasaran. "Ini kantor, Brooklyn. Bukan tempat untuk urusan pribadi seperti ini."

"Aku hanya ingin—"

"Pulanglah," ucap Liam tegas, memotong kalimat Brooklyn sekali lagi. "Aku sibuk. Aku tidak punya waktu untuk hal-hal seperti ini."

Beberapa karyawan yang kebetulan lewat di sekitar area itu mulai memperlambat langkah mereka, diam-diam memperhatikan drama kecil yang terjadi antara pasangan pengantin baru yang menjadi buah bibir sejak pernikahan mereka diumumkan di media bisnis lokal.

Brooklyn merasa wajahnya memanas karena malu, namun ia tetap berusaha mempertahankan ketenangannya. "Baiklah, aku mengerti. Aku hanya akan meletakkan ini di mejamu, lalu aku akan pergi."

Ia melangkah menuju ruang kerja Liam, bermaksud meletakkan kotak bekal di atas meja kerjanya yang rapi. Namun Liam mengikutinya dengan langkah cepat, tampak semakin kesal dengan situasi yang menurutnya mempermalukan dirinya di depan rekan kerja.

"Aku bilang aku tidak butuh ini!" ucapnya sambil merebut tas kertas dari tangan Brooklyn dengan gerakan kasar.

Gerakan tiba-tiba itu membuat kotak bekal di dalamnya terguncang keras, dan sebelum Brooklyn sempat bereaksi, Liam melangkah menuju tempat sampah besar di sudut ruangan resepsionis lantai itu dan membuang tas kertas berisi kotak bekal tersebut begitu saja ke dalamnya.

Suara benturan kotak bekal dengan dinding tempat sampah terdengar cukup keras, cukup untuk menarik perhatian lebih banyak karyawan yang berada di sekitar area itu. Beberapa dari mereka saling berbisik, sebagian lagi menahan tawa yang nyaris tidak bisa mereka sembunyikan.

"Astaga, lihat itu," bisik salah seorang karyawan wanita kepada rekannya, tidak terlalu pelan hingga masih bisa didengar oleh Brooklyn yang berdiri mematung di tempatnya. "Kasihan sekali istrinya. Padahal sudah repot-repot membawakan makan siang."

"Kudengar pernikahan mereka memang cuma perjodohan bisnis," sahut karyawan lain sambil tersenyum sinis. "Pantas saja Tuan Whitmore bersikap seperti itu."

Tawa-tawa kecil yang tertahan dan bisikan-bisikan sinis itu terdengar jelas di telinga Brooklyn, membuat wajahnya semakin memerah karena campuran antara malu dan amarah yang sulit ia kendalikan. Ia menatap Liam yang kini berdiri dengan angkuh di depan tempat sampah, sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah atas tindakannya.

"Kau benar-benar keterlaluan," ucap Brooklyn akhirnya, suaranya bergetar menahan emosi yang meluap-luap, namun ia tetap berusaha menjaga volume suaranya agar tidak semakin menarik perhatian.

"Aku sudah bilang berkali-kali, Brooklyn," jawab Liam dingin, suaranya cukup keras hingga masih bisa didengar oleh beberapa karyawan di sekitarnya. "Berhentilah berusaha berperan sebagai istri yang sempurna. Semua orang di sini tahu pernikahan kita hanyalah formalitas bisnis. Tidak perlu ada sandiwara kepedulian seperti ini."

Kata "sandiwara" itu terasa seperti tamparan keras bagi Brooklyn. Ia menatap sekeliling ruangan, menyaksikan wajah-wajah karyawan yang menatapnya dengan campuran rasa iba dan geli, seolah dirinya adalah bahan tontonan gratis di tengah hari kerja yang membosankan.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, Brooklyn berbalik dan berjalan cepat menuju lift, berusaha sekuat tenaga menahan air mata yang mendesak ingin keluar di depan begitu banyak pasang mata yang menyaksikannya. Ia menekan tombol lift berkali-kali, seolah ingin secepat mungkin melarikan diri dari ruangan yang penuh dengan tatapan mengejek itu.

Ketika pintu lift akhirnya tertutup, membawa dirinya turun menjauh dari lantai 42, Brooklyn akhirnya membiarkan air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan lagi. Bayangan wajah-wajah karyawan yang menahan tawa, bisikan-bisikan sinis yang terdengar begitu jelas, dan sikap dingin Liam yang membuang begitu saja usaha tulusnya—semua itu berputar dalam pikirannya, membuat dadanya terasa semakin sesak.

Di dalam taksi yang membawanya pulang, Brooklyn menatap keluar jendela, menyaksikan gedung-gedung tinggi Manhattan yang berlalu begitu saja, sama seperti harapan-harapannya yang perlahan mulai pudar satu per satu.

"Sampai kapan aku harus terus mencoba?" bisiknya pelan pada dirinya sendiri, air mata masih mengalir perlahan di pipinya. "Sampai kapan aku harus terus dipermalukan demi sebuah pernikahan yang bahkan tidak pernah diinginkan olehnya?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!