Mireya Ananta diceraikan suaminya karena tubuhnya yang gemuk.
Terusir tanpa harta, ia hanya memiliki uang dua puluh ribu rupiah dan terpaksa mencari pekerjaan.
Sebuah lowongan membawanya ke kediaman Arven Zarreti, tuan tanah bengis yang memiliki perkebunan luas di sebuah desa.
Arven membutuhkan seseorang untuk mengasuh Elden, putranya yang berusia lima tahun dan menolak sekolah karena takut bertemu orang lain.
Awalnya, Arven menguji Mireya terlebih dahulu, apakah benar di bisa membuat Elden makan tanpa harus dipaksa. Ternyata, berbekal pengalaman mengasuh anak kakak iparnya, Mireya dengan mudah membuat Elden menikmati makannya.
Keesokan hari, Penghulu datang ke rumah itu.
"Kita menikah!"
Jadi lah, beberapa hari usai cerai, Mireya langsung menjadi istri pria bernama Arven.
Mireya menjadi ibu sambung bagi Elden, dan mengurus lahan pertanian milik Arven. Bagaimana kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Itu Benar-Benar Mireya?
Mireya tidak pernah bosan menjawab. “Iya, Ibu lihat.”
Sekarang, Mireya sudah berada di tahap penggemburkan tanah. Ia kembali melanjutkan aktivitas mencangkul.
Menancapkannya ke tanah.
Duk!
Mireya mengangkatnya kembali.
Duk!
Sekali lagi.
Duk!
Beberapa waktu lalu, dua kali saja telah membuatnya lelah. Namun, sekarang ia bisa melakukannya berkali-kali baru lah membuat napasnya memburu. Keringat kembali membasahi wajahnya.
Namun Mireya justru tersenyum. Tubuhnya terasa jauh lebih ringan. Pakaian yang ada dalam lemari yang awalnya tak muat, kini sudah pas di badannya.
Meski tubuhnya lelah, tangan kotor, pakaiannya penuh debu, tetapi hatinya terasa ringan.
Ia terus menikmati pekerjaan ini. Setiap hari, bergerak lebih banyak, makan secukupnya, tidur dengan nyenyak. Dan bangun kembali keesokan paginya untuk melakukan hal yang sama. Kulitnya pun sudah cukup gelap karena sering berada di bawah matahari. Namun Mireya tidak peduli.
Baginya, setiap tetes keringat adalah bukti bahwa hari itu tidak ia lewati dengan sia-sia. Malam hari, ia biasanya langsung membersihkan diri.
Kemudian makan bersama Elden. Setelah itu, keduanya tidur dengan sangat lelap. Mireya pun bahkan tidak pernah memikirkan Arven.
Begitu pula sebaliknya. Mereka bisa tinggal di bawah satu atap selama berhari-hari tanpa benar-benar bertemu.
Hubungan mereka memang seperti itu semenjak awal. Mereka sudah sepakat untuk tidak saling mencampuri urusan masing-masing.
Bahkan, ketika Arven harus pergi ke luar kota untuk mengurus masalah tanah di provinsi lain, Mireya sama sekali tidak mengetahuinya. Arven juga tidak merasa perlu memberitahunya.
Bagi mereka, itu bukan sesuatu yang harus dijelaskan. Satu bulan kemudian, Arven akhirnya kembali. Mobilnya memasuki halaman utama menjelang sore.
Pria itu turun dengan pakaian yang masih rapi meskipun perjalanan yang dilewati cukup panjang.
Ia melangkahkan kaki. Namun baru beberapa langkah berjalan, pandangannya berhenti pada sesuatu di kejauhan. Seorang perempuan sedang mencangkul tanah.
"Siapa itu? Sejak kapan ada perempuan masuk sembarangan di wilayahku?"
Ia mencoba memperhatikan kembali. Rambutnya diikat sederhana. Bajunya penuh debu. Wajahnya memerah terkena matahari. Di dekatnya, seorang anak laki-laki sedang bermain sambil sesekali menunjukkan sesuatu yang ditemukannya.
Arven mengernyit. Ia mengenal anak itu. Elden.
Tetapi perempuan di sampingnya... Arven memiringkan kepala. Ia memperhatikan lebih lama.
Entah mengapa, wajah itu terasa familiar.
"Ibu ..." Teriakan Elden terdengar sampai ke telinganya.
"Ibu?" gumam Arven terlihat sedikit mengernyitkan wajah. "Mireya? Itu Mireya?" Namun, tak ada yang menjawab pertanyaannya.
“Rasanya dulu dia tidak seperti itu. Bukan ... Dia bukan Mireya.”
Arven melepas kacamata hitamnya sepenuhnya. Tatapannya semakin tajam. Perempuan itu kembali mencangkul.
Duk!
Arven mengernyit.
Duk!
Ia masih berdiri di tempat.
Tak lama kemudian Pak Can yang baru keluar dari rumah melihat kedatangannya. “Tuan sudah pulang?”
Arven mengangguk. Pandangan pria itu tetap tertuju ke arah kebun.
“Pak Can.”
“Ya, Tuan?”
Arven menunjuk ke kejauhan. “Itu siapa?” tanyanya memastikan. Ia takut dugaannya salah.
Pak Can mengikuti arah pandangannya. Kemudian menjawab dengan santai, “Nyonya Mireya, Tuan.”
Arven terdiam. “Jadi, benar-benar Mireya?”
“Iya, Tuan.”
Arven kembali menatap perempuan yang sedang mencangkul. Ia mencoba mengingat kapan terakhir kali mereka benar-benar bertatap muka.
Sudah cukup lama. Selama beberapa minggu terakhir, ia sibuk dengan urusan di luar kota. Sementara Mireya... Tampaknya sibuk dengan dunianya sendiri.
Arven memasukkan satu tangan ke saku celana. “Apa anakku tidak pernah menanyakan aku?”
Pak Can terdiam sesaat. “Maaf, Tuan.”
“Apa?”
“Elden sepertinya terlalu sibuk.”
Arven mengangkat alis. “Dengan apa?”
Pak Can menunjuk ke arah kebun. “Seharian di luar bersama Nyonya Mireya.”
Arven kembali melihat ke arah putranya. Elden sedang berlari sambil membawa sesuatu di tangannya. Kemudian ia berhenti di depan Mireya.
Perempuan itu meletakkan cangkul dan membungkuk mendengarkan sesuatu yang dikatakan anak tersebut.
Beberapa detik kemudian, Mireya tertawa. Elden ikut tertawa.
Arven terdiam. Satu tangannya bertolak di pinggang. Tangan lainnya mengusap dagu.
“Jadi…” Tatapannya menyipit. “Dia benar-benar Mireya?”
Pak Can menahan senyum. “Sejak awal memang Nyonya Mireya, Tuan.”
Arven tidak menjawab. Tatapannya kembali tertuju kepada perempuan yang sekarang sudah mengambil cangkulnya lagi.
Duk!
Duk!
Duk!
Arven menghela napas. “Perempuan itu…”
Untuk pertama kalinya sejak pulang, ia merasa ada sesuatu yang berubah di rumahnya.
Dan yang paling aneh, ia sama sekali tidak tahu kapan perubahan itu terjadi.
*bersambung*
Arven jangan diam saja 😡😡😡😡
Beri mereka pelajaran biar gak ngomong seenaknya.
Arven....kamu tahu apa yang harus kamu lakukan utk Mireya dan Elden
ayooo belajar galak
perlu aku kesana ga?
bantuin jambak🫣🤣🤣🤣
kepercayaan itu ga tumbuh dalam semalem..
dia udah pernah mencoba mempercayai seseorang dengan segenap jiwa dan raganya ,dan endingnya menyakitkan.
jadi cobalah kau bangun kepercayaan nya dulu
ambil simpatinya, dan sembuh kan lukanya
baru dia akan bisa membuka hatinya🥹
lucu amet si mereka🤣🤣
kontrak oh kontrak🤔
mending jujur daripada mantan mertua yang mengacaukan semua greget sama Mire
trauma diselingkuhi itu kyk kangker dufalam tubuh,ga keliatan tapi sakitnya nyata. merasuk Ampe kedalam aliran darah dan otak kita tanpa kita sadari
selalu mempertanyakan apakah kita cukup baik
apakah ini semua karena salah kita?
apakah ada g kurang dr kita?
sampai mati pasti kebawa🥹🥹
Mau nya lupa
maunya ga dipikirin
tapi...🫣🥹🥹
Dia takut nasib pernikahannya akan sama dgn sebelumnya
bahkan sekelas artis sebelah aj yg lagi rame
ketemu yg baru,setengah mampus nyerein istrinya 🤣🤣.
katanya yg baru dipilih karena lemah lembut.
hei...kami juga awalnya kembang desa
pas lama nikah jadi kembang api🤣🤣🤣
apalagi pengalaman mireya yg paket komplit...🥹
hatinya aja ga ada gerbang nya di KK
ga ada yg jagain🤣🤣🤣
Iddah itu berlaku pas suami ngucapin talak kan?
nah...si b4ngs4t itukan nalak nya udah lama...lebih dr 3 bulan kali
di pengadilan mah tinggal ketik pali doank
wahhhh....begini orang yg ga ngerti agama sok sok an mau pake dalili agama