Demi menyelamatkan nyawa adiknya yang kritis di ICU, Dania Kirana terpaksa menerima syarat gila dalam surat wasiat seorang konglomerat: menikah dengan Arvin Dirgantara, CEO dingin yang penuh prasangka.
Arvin menganggap Dania wanita matre yang memanfaatkan kakeknya demi harta dan 51% saham perusahaan. Sementara Dania bertaruh harga diri demi bertahan dalam pernikahan rahasia berdurasi satu tahun.
Di balik pernikahan penuh ancaman dan perjanjian kertas ini, bahaya besar mengintai dari Dion—sepupu Arvin yang haus kekuasaan. Mampukah Dania membuktikan dirinya di tengah kepungan musuh, ataukah pernikahan rahasia ini justru menjebak mereka dalam benih cinta yang tak terduga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: Penerbangan Menuju Timur
Dua minggu berlalu dengan cepat dalam ritme kerja yang padat. Pagi itu, Terminal 3 Internasional Bandara Soekarno-Hatta dipenuhi kesibukan para penumpang. Di area keberangkatan VIP, seluruh tim desain dari studio arsitektur sudah berkumpul lengkap bersama koper-koper mereka.
Maya dan dua arsitek muda lainnya tampak tak henti-hentinya memeriksa paspor dan tiket di tangan mereka dengan wajah berseri-seri.
"Gila, Dania!" bisik Maya heboh seraya menyenggol lengan Dania. "Aku masih tidak percaya Dirgantara Group memfasilitasi penerbangan kita dengan kelas bisnis penerbangan utama! Bahkan hotel kita di Tokyo nanti letaknya tepat di kawasan Ginza. Pak CEO benar-benar tidak main-main kalau urusan memanjakan tim pemenang nominasi."
Erlangga yang berdiri di dekat mereka tertawa kecil seraya merapikan jaketnya. "Pak Arvin memang sangat menghargai efisiensi dan kenyamanan kerja tim. Tadi Rian bilang, seluruh fasilitas ini diatur langsung atas instruksi khusus dari kantor eksekutif."
Dania tersenyum tipis, merapikan tali tas tangannya. Dalam hati, ia tahu persis siapa sosok di balik 'instruksi khusus' itu. Dua hari lalu di penthouse, Arvin sempat berdeham kaku di meja makan hanya untuk memberitahu bahwa ia telah mengubah kelas penerbangan seluruh tim desain agar Dania tidak kelelahan sebelum acara penganugerahan dimulai.
Tuk... tuk...
Suara derap langkah sepatu kulit yang teratur dan tegap terdengar dari arah lorong VIP.
Arvin melangkah masuk didampingi oleh Rian dan dua pengawal berjas gelap. Pria tegap itu mengenakan mantel panjang berwarna abu-abu gelap di atas kemeja putihnya yang kaku. Aura dominan dan wibawanya seketika menarik perhatian orang-orang di sekitar ruang tunggu keberangkatan.
Seluruh anggota tim desain refleks berdiri tegak, membungkuk hormat. "Selamat pagi, Tuan Arvin."
Arvin mengangguk pendek, raut wajahnya tetap tenang dan kaku. Pandangannya menyapu seluruh anggota tim sebelum akhirnya berhenti pada Dania yang berdiri di tengah-tengah mereka. Dania mengenakan sweater rajut krem yang simpel dengan celana panjang bernuansa senada, tampil sangat anggun dan profesional.
"Selamat pagi," sahut Arvin dengan suara baritonnya yang berat. "Apakah seluruh dokumen teknis dan materi presentasi penganugerahan sudah berada di tempat yang aman?"
"Sudah lengkap berada di dalam koper khusus dan salinan digitalnya sudah diunggah ke server aman perusahaan, Tuan Arvin," jawab Erlangga lugas dan cekatan.
Arvin menatap Erlangga sejenak, mengangguk pelan. "Bagus. Perjalanan ke Tokyo memakan waktu sekitar tujuh jam. Pastikan timmu beristirahat dengan cukup di atas pesawat."
Arvin kemudian mengalihkan tatapannya lurus pada Dania. Ada kedalaman rasa yang tersimpan rapat di balik manik mata pekatnya—sebuah perhatian halus yang hanya bisa dipahami oleh Dania seorang.
"Nyonya Dania, bisa ikut saya sebentar untuk pengecekan draf protokol pers?" panggil Arvin kaku, memberikan alasan formal yang terdengar sangat rasional di depan anggota tim lain.
"Baik, Tuan Arvin," jawab Dania patuh.
Dania melangkah menyusul Arvin menuju area koridor yang agak tenang, beberapa meter dari kerumunan timnya. Rian dan para pengawal secara otomatis mengambil jarak menjaga privasi mereka dari kejauhan.
Begitu mereka berada di area yang cukup sepi di dekat dinding kaca besar yang menghadap ke landasan pacu, Arvin menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Dania.
"Obat maag dan vitaminmu sudah kamu bawa di tas tangan?" tanya Arvin pelan, suaranya merendah jauh dari nada bicaranya yang kaku saat menyapa tim tadi.
Dania terkekeh halus, matanya memancarkan binar hangat. "Sudah, Arvin. Saya sudah memasukkannya ke tas sejak semalam. Anda bertanya seolah-olah saya ini anak kecil yang baru pertama kali naik pesawat."
Arvin menatap Dania tanpa senyum, namun pandangannya begitu lembut. "Tokyo sedang memasuki awal musim gugur. Suhu di sana malam hari bisa mencapai belasan derajat. Jangan nekat keluar hotel tanpa memakai mantel tebal."
"Saya tahu," balas Dania lembut. "Bagaimana dengan jadwal Anda sendiri? Rian bilang Anda baru terbang nanti malam dengan pesawat jet komersial terpisah?"
"Ya," jawab Arvin datar. "Ada rapat pembukaan bursa saham yang harus kuselesaikan di kantor sore ini. Aku akan tiba di Tokyo besok pagi, tepat sebelum sesi makan malam pembuka dengan panitia penyelenggara."
Arvin merogoh saku dalam mantelnya, mengeluarkan sebuah kotak beludru hitam berukuran kecil dan menyodorkannya pada Dania.
Dania mengernyit bingung, tidak langsung memegang kotak tersebut. "Apa ini?"
"Buka saja," perintah Arvin kaku.
Dania menerima kotak itu, lalu membukanya perlahan. Di dalam bantalan beludru tersebut, terbaring sebuah bros pin berbentuk bunga melati yang terbuat dari emas putih dan bertatahkan berlian-berlian kecil yang berkilau sangat indah dan elegan.
"Ini..." Dania menatap bros itu dengan mata berbinar terkejut, lalu menatap Arvin.
"Itu bros buatan perajin lokal langganan Kakek Wijaya," kata Arvin seraya memasukkan kembali kedua tangannya ke dalam saku mantelnya, mencoba bersikap santai. "Semalam aku menyuruh Rian mengambilnya dari brankas keluarga. Sematkan bros itu di gaun utamamu saat malam penganugerahan nanti."
Dania menyentuh permukaan halus bros emas putih itu dengan jarinya. "Kenapa Anda memberikan ini pada saya, Arvin?"
Arvin mendongak, menatap pesawat udara yang sedang bergerak pelan di landasan pacu luar kaca, menghindar dari tatapan langsung mata Dania.
"Bros itu adalah simbol resmi keluarga Dirgantara untuk para wanita terpilih di acara-acara internasional," kata Arvin, beralih pada alasan tradisinya—meski Dania tahu betul bros itu diberikan murni sebagai bentuk dukungan emosional dari suami pada istrinya. "Kamu membawa nama besar perusahaan dan keluarga di panggung itu. Aku hanya ingin kamu memakai perhiasan yang pantas."
Dania tersenyum manis, menutup kotak beludru itu dan menggenggamnya erat di tangannya.
"Terima kasih, Arvin," bisik Dania tulus. "Saya akan memakainya dengan bangga."
Pengumuman panggilan masuk ke dalam pesawat (boarding call) untuk penerbangan kelas bisnis ke Tokyo bergema nyaring melalui pengeras suara bandara.
Arvin menatap Dania, lalu mengangguk pendek. "Pergilah. Rian akan mengawal rombonganmu sampai ke dalam kabin."
Dania melangkah dua pijakan, lalu menghentikan langkahnya dan menoleh kembali ke arah Arvin. "Sampai jumpa di Tokyo besok pagi, Tuan CEO. Jangan lupa makan siangmu di kantor."
Arvin mematung menatap punggung Dania yang melangkah menjauh bergabung kembali dengan timnya. Sebuah desiran halus yang teramat hangat merayapi dada sang CEO—sebuah perasaan rindu yang baru pertama kali dirasakannya bahkan sebelum pesawat wanita itu lepas landas.