NovelToon NovelToon
Ketika Takdir Berbicara

Ketika Takdir Berbicara

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Perjodohan
Popularitas:22.2k
Nilai: 5
Nama Author: Yam_zhie

Hidup Zheana berubah di saat harus menggantikan sang Kakak menikah. Niken kabur di saat hari pernikahan dengan Khadafi.

Ibunya mengamuk dan malah menyalahkan Zheana atas apa yang terjadi. Zheana bahkan di maki dan di siksa ibunya, Khadafi yang tak tega melihat Zheana membawa dia pergi dari sana.

Mereka tinggal di Apartemen milik Khadafi yang sudah di persiapkan sebelumnya. Rupanya kelembutan Zheana mengubah hati Khadafi dan mulai mencintai istrinya. seperti yang di katakan Umi dan Abinya, jika ini adalah jalan Allah SWT untuk menunjukkan jodoh Khadafi.

Selama pernikahan tak semulus itu, karena ibunya Zheana masih terus membencinya. saat Zheana hamil, rupanya Niken kembali. Apakah Khadafi akan kembali kepada Niken?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Zheana 10

Namun, saat kakinya baru memijak anak tangga ketiga menuju lantai bawah, terdengar suara langkah kaki yang membuat darahnya seketika mendidih dingin.

Srett... srett...

Niken mematung di tangga, menempelkan tubuhnya rapat-rapat ke dinding cat. Dari sudut tangga, ia melihat bayangan seseorang berjalan perlahan dari arah dapur menuju ruang tengah.

Itu Pak Bagas. Sang ayah baru saja memadamkan lampu dapur kotor dan melangkah pelan sambil memegangi pinggangnya yang pegal.

Niken menahan napas, memejamkan mata rapat-rapat. Jantungnya berdebar liar. Jika ayahnya menengadah sedikit saja ke arah tangga, seluruh rencananya hancur berantakan. Niken meremas tali tas selempangnya, merutuki nasib mengapa ayahnya masih terjaga di jam sesunyi ini.

Pak Bagas berhenti sejenak di dekat sofa ruang tengah, menghela napas panjang yang terdengar sarat akan beban pikiran, lalu perlahan melangkah masuk ke dalam kamar utamanya. Suara pintu kamar Pak Bagas yang terkatup rapat membuat Niken mendesah lega secara perlahan.

"Hampir aja..." bisik Niken sangat lirih.

Tanpa membuang waktu lagi, Niken menuruni sisa anak tangga dengan terburu-buru. Ia tidak menuju pintu depan yang terkunci gembok ganda, melainkan berbelok ke arah pintu samping dekat area jemuran yang hanya dikunci slot manual.

Dengan jemari licin berkeringat, Niken menggeser slot besi itu pelan-pelan.

Klek.

Angin malam yang dingin menyapu wajahnya saat pintu kayu itu terbuka sedikit. Niken menyelinap keluar, membawa kopernya melewati jalan setapak di samping rumah, lalu menggeser pagar besi kecil tanpa menimbulkan suara berisik.

Begitu kakinya menyentuh aspal jalan kompleks, Niken melangkah setengah berlari. Rasa sakit di jari manisnya yang kian membengkak terabaikan oleh sensasi kebebasan yang membakar pikirannya. Di persimpangan jalan utama yang sepi, sebuah mobil sedan hitam tampak menyalakan lampu hazard pelan.

Kaca mobil bagian depan terbuka, memperlihatkan Rico yang melambaikan tangan.

"Niken! Cepat masuk!"

Niken dengan sigap membuka pintu belakang, melempar kopernya ke dalam, lalu melompat duduk di kursi samping pengemudi. Ia membanting pintu mobil dan menyandarkan punggungnya seraya bernapas terengah-engah.

"Kamu beneran gila, Niken," kekeh Rico setelah meminta sopir membawa mereka pergi, membuat mobil itu melaju kencang membelah kegelapan malam menuju jalan tol arah bandara.

"Hari ini harusnya kamu dandan jadi pengantin, tapi kamu malah kabur sama aku."

Niken tertawa lepas, tawa yang dipenuhi rasa puas dan kemenangan atas ketakutannya sendiri. Ia menatap rumah keluarganya yang kian mengecil dan menghilang di cermin spion.

"Aku nggak mau mengorbankan masa depanku cuma buat jadi istri penurut Khadafy dan menantu pajangan orang tuanya yang sok suci itu, Rico!" seru Niken mantap, menepuk tas selempangnya.

"Di Paris, namaku bakal besar. Mereka semua nggak ada apa-apanya dibanding panggung impianku! Walau aku mencintai Khadafy, tapi aku lebh mencintai karirku!"

Rico melirik jari manis Niken yang memerah parah dan membengkak di atas pangkuannya.

"Jarimu kenapa itu? Cincinnya kekecilan banget, Ken. Malah kelihatan kayak mau putus peredaran darahnya."

Niken melirik cincin berlian mewah pemberian Khadafy yang masih terkunci rapat mencengkeram kulit jarinya. Rasa nyeri denyutannya makin menjadi-jadi, namun Niken menyunggingkan senyum sinis.

"Biarin aja. Ini cincin berlian mahal dari Khadafy," sahut Niken santai sambil mencoba menariknya kembali, meski sia-sia.

"Nanti begitu sampai di Paris, aku tinggal minta tolong tukang perhiasan buat potong cincin ini dan lebur berliannya. Lumayan, bisa jadi tambahan uang jajan di sana."

Rico tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan dingin Niken.

"Kamu benar-benar memanfaatkan pria itu sampai tetes terakhir ya?"

"Dia yang terlalu bodoh mau menuruti semua kemauanku," balas Niken penuh keangkuhan. Ia menyandarkan kepalanya ke kaca jendela mobil, menatap lampu-lampu jalanan kota yang melaju cepat.

Di dalam benaknya, tak ada sedikit pun rasa bersalah atas kekacauan besar yang akan meledak di rumahnya beberapa jam lagi, saat tim perias, keluarga besarnya, serta keluarga Khadafy mendapati calon pengantin wanita telah melarikan diri tanpa jejak.

Waktu menunjukkan pukul empat pagi lebih. Udara dingin menjelang subuh masih menyelimuti kediaman Pak Bagas, namun lampu-lampu utama rumah sudah menyala terang benderang. Suasana rumah yang semula hening mendadak berubah sibuk. Suara gesekan langkah kaki, dering panggilan telepon, hingga gelak tawa sanak saudara yang menginap mulai meramaikan ruang tengah.

Di dapur, Pak Bagas tampak sibuk mengangkat beberapa dus air mineral, sementara Bu Irma berdiri di depan cermin besar ruang tamu dengan wajah berbinar-binar. Sang ibu sibuk mematut kebaya mewahnya yang dipenuhi payet mengkilap. Senyumnya mengembang lebar, tak mampu menyembunyikan rasa bangga yang meluap-luap. Karena sebentar lagi dia kan memiliki menantu dan besan orang kaya yang akan dia pamerkan kepada seluruh keluarga besarnya di kampung.

"Aduh, Lilis! Tolong bantu merapikan selendang aku dong," panggil Bu Irma pada kerabatnya dengan nada suara yang sengaja dikeras-keraskan.

"Duh, nggak menyangka ya, sebentar lagi anakku resmi jadi menantu keluarga konglomerat! Calon suaminya itu Khadafy, atasan bertangan dingin, kaya raya, keluarganya terpandang lagi! Masa depan Niken benar-benar sudah terjamin!"

Tante Lilis tersenyum canggung sambil membetulkan letak selendang Bu Irma.

"Iya, Mbak Irma... Selamat ya. Beruntung banget Niken."

"Jelas dong! Anak Irma gitu loh!" seru Bu Irma jemawa, mengibaskan tangannya anggun.

Tak lama kemudian, suara klakson mobil terdengar dari depan pagar. Dua orang wanita membawa koper-koper besar berisi perlengkapan kosmetik melangkah masuk dengan senyum ramah. Mereka adalah tim MUA profesional yang sengaja disewa mahal untuk merias sang calon pengantin.

"Selamat pagi, Bu Irma! Maaf ya, kami datang tepat waktu sesuai janji," sapa ketua tim MUA, Mbak Siska, ramah.

"Pagi, Mbak Siska! Wah, bagus dong, memang harus serba cepat," sahut Bu Irma penuh antusias. Ia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul empat lewat seperempat.

"Langsung saja ke lantai dua ya, Mbak. Kamar Niken ada di paling ujung kanan. Anaknya mungkin masih ketiduran atau sedang mandi. Langsung masuk saja!"

"Baik, Bu. Mari kita mulai dandanannya supaya siap tepat waktu sebelum akad," ujar Mbak Siska seraya mengajak asistennya menaiki anak tangga kayu menuju lantai dua.

Bu Irma melanjutkan aksinya memamerkan perhiasan emas di pergelangan tangannya kepada kerabat lain. Sementara itu, Zheana yang baru saja selesai mandi dan berpakaian rapi keluar dari kamar belakang, membawa baki berisi cangkir-cangkir teh hangat untuk sanak keluarga.

Namun, belum sempat Zheana meletakkan baki tersebut di meja, jeritan histeris dari lantai dua seketika memecah keriuhan rumah.

"Ibu! Bu Irma! Tolong naik ke atas, Bu!" teriakan Mbak Siska terdengar panik dan gemetar dari lantai atas.

Suasana ruang tamu mendadak hening. Gelak tawa Bu Irma terhenti seketika.

"Ada apa sih, Mbak Siska? Teriak-teriak subuh begini!" sungut Bu Irma penuh keheranan, lalu melangkah cepat menaiki tangga diikuti Pak Bagas, Zheana, dan beberapa kerabat.

Begitu Bu Irma sampai di ambang pintu kamar Niken, matanya membelalak sempurna.

Pintu kamar terbuka lebar. Gaun pengantin mewah berwarna putih bersih masih tergantung kaku di sudut ruangan. Namun, isi kamar itu berantakan luar biasa. Laci-laci meja rias terbuka lebar, baju-baju berserakan di atas karpet, dan koper kabin milik Niken sudah hilang dari tempatnya. Tempat tidur rapi tanpa ada tanda-tanda orang yang baru bangun tidur.

"Mbak... Mbak Niken nggak ada di kamar, Bu!" seru Mbak Siska gagap, menunjuk lemari pakaian yang ompong.

"Kami cari di kamar mandi juga kosong!"

"A..apa?!" Bu Irma histeris. Wajahnya yang semula penuh riasan tebal seketika pucat pasi bagai mayat. Ia menerobos masuk, membongkar selimut, menyibak gorden, hingga memeriksa kolong tempat tidur dengan napas memburu.

"Niken! Niken! Kamu di mana, Nak?!"

Pak Bagas melangkah masuk dengan raut wajah mengeras, matanya menatap tajam ke sekeliling kamar yang kacau.

"Irma! Coba periksa barang-barangnya!"

Dengan tangan gemetaran hebat, Bu Irma memeriksa laci perhiasan.

"Gaib... Perhiasannya hilang semua, Mas! Baju-baju mahalnya... buku tabungan... semuanya nggak ada!" tangis Bu Irma pecah, tubuhnya terhuyung hampir roboh jika tidak ditahan oleh Tante Lilis.

1
nely_48
khadafy bner² hati nya tulus buat nerima zhea,, semoga az khadafy bs melindungi zhea dr incaran lampir irma
nely_48
jgn sampe niken datang trs ngamuk minta nikah sm khadafy n zhea suruh d cerai kan oleh khadafy,, big no ya Thor ✌✌✌
nely_48
ak reques kk outhor,, bu irma struk mulut nya menyon ga bs ngomong lg seumur hidup,, sebab dia sehat terlalu banyak ngomong unfaedah
nely_48
peluk mh boleh ath zhea, kasian suami mu kedinginan loh itu✌✌
nely_48
zhea km baik² lah tinggal sm suami mu,, abaikan ibu tiri mu ya
nely_48
zhea km belajar memantaskan diri dgn khadafy ath,, jgn protes wae
sunaryati jarum
Emak lega ternyata Kadaffi dengar semua perkataan nyakitin dari mulut Ny irma.Jangan terlalu baik pada orang yg selalu membuat kamu mengalah Zhea
nely_48
type suami yg tanggung jawab kan khadafy ini
Endang 💖
lanjut lagi thor
Endang 💖
bagus Khadafy memang harus membela zhiana, karna Niken sendiri yang memilih pergi di hari pernikahannya
Fitria Syafei
Aamiin semoga ya mereka selalu bersama dan bersatu 🤲 KK cantik mantaf 😍 terimakasih 😘
Ambu Rinddiany Thea
insyaallah rumah mu sangat kokoh zhea ga bakal gampang terima tamu tak kasat mata masuk tanpa ijin nya , insyaallah papa mu bakalan selamat jauh dr jangkouan para siluman ..
Oma Gavin
khadafi the best suami idaman jgn sampai goyah zheana apapun yg terjadi tetap percaya khadafi dan selalu jujur sama suami jgn dipendam sendiri
ryuka
kamu tlalu baik zhes
falea sezi
lemah menye menye🤣gk. suka karakter zhe
Fitria Syafei
nah ..nah ..kan ..posisi Zheana mau di tukar KK 🙄 KK cantik kereen 😍 kereen 🥰
Siti Kamisah Hasnul
plizz buat zheana jangan terlalu lemah thor....masa mudah kali diintimudasi sama direndahkan
Ambu Rinddiany Thea
jangan d dengerin suara suara ghoib ya zhea , tp dengerin apa kata hati dan suami kamu , lagian emak bapanya Khadafi jg kaga mau lah besanan dan punya mantu modela jenglot ma dajal.. mening kamu sok ngomong jujur ma suami kamu apa yg d omongin nene lampir tadi ..
Sri Angga
zheana terlalu cengeng Kadafi tidak punya ketegasan
sunaryati jarum
Emak nggak suka karakter Zhea yang lemah. Kamu tidak salah , bangkit dan lawan ibu tirimu. Kamu punya penghasilan sendiri,rumah yang di tempati nenek sihir dan Niken itu rumah ayahmu.Semoga Kadaffi menyusul dan melihat perlakuan mama Niken pada Zheana
Ade Chubi: author nya yg bikin Zhea lemah 😁😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!