NovelToon NovelToon
OTAK SUPER SANG DOKTER IDIOT

OTAK SUPER SANG DOKTER IDIOT

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Penyelamat
Popularitas:11.6k
Nilai: 5
Nama Author: Cherlly

Di balik tatapan kosong dan cemoohan sebagai "dokter idiot" yang selalu diremehkan di rumah sakit elit, Arka Prasetya sebenarnya menyimpan kejeniusan otak super serta sertifikasi bedah internasional yang tidak diketahui siapa pun. Ketika hidupnya terus diinjak-injak oleh para dokter senior yang arogan dan terjebak dalam perjodohan tak terduga dengan Clara, seorang pewaris konglomerat yang angkuh, Arka perlahan mulai menunjukkan taringnya lewat operasi-operasi mustahil yang akan memberikan tamparan telak bagi siapa saja yang berani merendahkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5

Suara ketukan sepatu pantofel berkerincing keras menghantam lantai keramik koridor rumah sakit.

Dr. Budi berjalan dengan langkah menghentak-hentak penuh amarah, menyeret lengan baju jas putihnya ke atas.

Di belakangnya, Arka berjalan mengikuti dengan langkah pelan dan kepala sedikit menunduk.

Ekspresi wajah Arka tampak kosong, sangat pas menggambarkan seseorang yang sedang ketakutan setengah mati.

"Masuk ke ruangan saya sekarang juga, Arka!" bentak Dr. Budi dengan suara menggelegar begitu sampai di depan pintu ruang kerjanya.

Arka mengangguk-angguk pelan sambil menggigit bibir bawahnya pura-pura cemas.

"Baik, Dok... saya masuk ya." Arka dengan suara yang sengaja dilemahkan.

Brak!

Pintu ruang kerja Dr. Budi ditutup dengan bantingan yang sangat keras.

Beberapa perawat yang duduk di dekat meja administrasi langsung menoleh dan berbisik-bisik melihat kemarahan sang dokter umum senior tersebut.

"Ada apa lagi itu? Kenapa Dr. Budi tampak sangat marah besar kepada Arka?" tanya seorang perawat muda kepada rekannya.

"Katanya tadi si Arka bikin ulah lagi di koridor poliklinik saat pasien pingsan," jawab perawat lainnya.

"Aneh ya, akhir-akhir ini si idiot itu sering banget terlibat dalam kejadian pasien darurat," timpal perawat pertama dengan nada heran.

Di dalam ruang kerja yang pengap itu, Dr. Budi menunjuk-nunjuk wajah Arka dengan jari telunjuknya yang bergetar karena emosi.

"Kamu benar-benar sudah bosan hidup ya, Arka?!" seru Dr. Budi dengan mata melotot tajam.

Arka tidak menjawab, ia hanya berdiri membungkuk sambil memainkan kedua ibu jarinya secara canggung.

"Kamu sadar atau tidak dengan apa yang kamu lakukan di koridor tadi?!" lanjut Dr. Budi dengan nada tinggi.

"Saya cuma mau lihat saja, Dok," jawab Arka dengan suara terbata-bata yang terdengar menyebalkan.

"Lihat kepalamu itu!" maki Dr. Budi sambil memukul meja kerjanya dengan telapak tangan.

"Pasien itu hampir mati gara-gara tindakan cerobohmu yang menotok lehernya sembarangan!" teriak Dr. Budi berbohong untuk menutupi kesalahannya sendiri.

Padahal di dalam hatinya, Dr. Budi sangat tahu bahwa totokan tangan Arka lah yang menyelamatkan nyawa pasien dari kematian mendadak.

Namun, harga diri seorang dokter senior tidak akan pernah sanggup mengakui kekalahan di hadapan seorang petugas kebersihan rumah sakit.

"Maafkan saya, Dok. Saya kan cuma pegawai rendahan, tidak tahu apa-apa soal medis," ucap Arka dengan nada polos yang dibuat semirip mungkin dengan orang bodoh.

Dr. Budi mendengus kasar, napasnya memburu tidak beraturan karena menahan geram.

"Kalau kamu mau tetap bekerja di rumah sakit ini, kamu harus menerima hukuman yang setimpal atas kelakuan lancangmu," ancam Dr. Budi dengan senyum sinis.

"Hukuman apa, Dok?" tanya Arka dengan mata mengerjap-nerjap polos.

"Mulai hari ini sampai satu minggu ke depan, tugas kebersihanmu dilipatgandakan!" perintah Dr. Budi penuh penekanan.

"Kamu harus membersihkan seluruh area pembuangan limbah medis di basement dan kamar jenazah sendirian tanpa bantuan alat mesin!" lanjut Dr. Budi memberikan sanksi berat.

Bagi kebanyakan orang, membersihkan area limbah medis dan kamar jenazah seorang diri adalah sebuah penyiksaan mental yang sangat melelahkan.

Tempat itu bau, kotor, sunyi, dan dipenuhi oleh sisa-sisa pembuangan operasi yang mengerikan.

Dr. Budi sengaja memberikan hukuman itu agar Arka merasa tidak tahan lalu memilih untuk mengundurkan diri secara sukarela dari rumah sakit.

"Baik, Dok. Saya akan kerjakan semuanya," jawab Arka penurut tanpa ada protes sedikit pun.

Mendengar jawaban yang terlalu cepat itu, Dr. Budi justru merasa sedikit curiga.

Biasanya, orang normal akan langsung menangis atau memohon ampun jika diberi hukuman seberat itu.

Namun, Arka malah menerimanya dengan ekspresi datar yang tidak menunjukkan rasa takut sama sekali.

"Kenapa? Kamu merasa keberatan?" selidik Dr. Budi sambil menyipitkan matanya tajam.

"Tidak kok, Dok. Kan memang sudah tugas saya bersih-bersih di rumah sakit ini," jawab Arka sambil tersenyum polos.

Dr. Budi mendengus kesal karena tidak berhasil melihat air mata penyesalan di wajah Arka.

"Keluar dari ruanganku sekarang juga sebelum aku lempar kamu keluar jendela!" usir Dr. Budi dengan nada geram.

"Iya, Dok. Saya permisi dulu mau ambil alat pel," pamit Arka sopan.

Arka berbalik badan dan melangkah keluar dari ruangan itu dengan punggung yang kembali dibungkukkan.

Begitu pintu tertutup rapat di belakangnya, senyum tipis yang sangat dingin terukir di sudut bibir Arka.

"Membersihkan kamar jenazah dan limbah medis," gumam Arka pelan di dalam hatinya.

"Tempat yang sangat sunyi dan tenang untuk merencanakan langkah selanjutnya tanpa ada gangguan dari orang-orang sok pintar."

Sementara itu, di stasiun perawat lantai tiga, Siska sedang memegang secarik berkas laporan pasien sambil melamun.

Pikiran Siska tidak bisa lepas dari dua kejadian luar biasa yang melibatkan Arka dalam dua hari berturut-turut.

Pertama di ruang IGD saat operasi aorta, dan yang kedua di koridor poliklinik beberapa waktu lalu.

"Mana mungkin semua itu cuma kebetulan," gumam Siska pelan seorang diri.

"Tidak mungkin ada orang bodoh yang bisa melakukan gerakan setepat itu dalam situasi hidup dan mati."

Tiba-tiba, seorang perawat senior mendekati meja Siska sambil membawa secarik kertas pengumuman tugas.

"Siska, kamu tahu tidak? Si Arka baru saja dijatuhi hukuman berat oleh Dr. Budi," kata perawat senior itu dengan nada berbisik.

Siska langsung mendongakkan kepalanya kaget.

"Hukuman apa maksudnya, Mbak?" tanya Siska penasaran.

"Dia dihukum membersihkan seluruh area limbah medis basement dan kamar jenazah sendirian selama seminggu penuh tanpa bantuan mesin," jawab perawat itu sambil menggelengkan kepala.

"Keterlaluan sekali Dr. Budi itu! Padahal jelas-jelas kemarin pasien poliklinik selamat karena ditolong Arka!" protes Siska dengan nada kesal.

"Hus! Jangan keras-keras ngomong begitu, nanti kamu denger dokter Dimas atau Dr. Budi bisa gawat," peringat perawat senior tersebut.

Siska mengepalkan kedua tangannya di atas meja kerja.

Rasa penasaran dan rasa keadilannya bergolak hebat di dalam dadanya.

Ia merasa Arka sedang dijadikan kambing hitam oleh para dokter arogan yang tidak ingin rahasia kebodohan mereka terbongkar.

"Aku harus pergi ke basement untuk melihat keadaannya," batin Siska dengan tekad bulat.

Di sisi lain gedung rumah sakit, Arka sudah menuruni anak tangga menuju lantai paling bawah yang mengarah ke area basement pembuangan.

Suasana di area tersebut mendadak berubah menjadi jauh lebih dingin, temaram, dan berbau khas cairan antiseptik bercampur obat kuat.

Lampu neon di langit-langit berkedip-kedip mengeluarkan suara berdengung kecil yang memecah kesunyian.

Arka mendorong troli pembersihnya menyusuri lorong panjang yang mengarah langsung ke pintu kamar jenazah.

Tidak ada satu pun orang yang terlihat di koridor bawah tanah yang suram ini.

Tempat ini memang sengaja diisolasi dari aktivitas utama rumah sakit agar tidak mengganggu kenyamanan pasien umum.

Arka berhenti tepat di depan pintu besi besar bertuliskan area terbatas limbah medis.

Ia membuka kunci pintu itu dengan tenang menggunakan anak kunci cadangan yang ia ambil dari ruang logistik.

Ceklek...

Pintu besi itu terbuka lebar, memunculkan ruangan luas yang dipenuhi oleh rak-rak penyimpanan kotak khusus.

Arka melangkah masuk ke dalam ruangan yang sunyi senyap itu tanpa rasa takut sedikit pun.

Bagi seorang dokter bedah berotak super yang sudah terbiasa menghadapi situasi hidup dan mati di meja operasi, ruangan seperti ini sama sekali tidak ada apa-apanya.

Ia meletakkan ember pelnya di sudut ruangan lalu bersandar santai di pinggiran meja kerja tua.

[Sistem Mendeteksi Karakter Utama Memasuki Zona Rahasia Basement]

[Membuka Peta Tersembunyi Rumah Sakit Medika Sentosa]

[Peluang Menemukan Rekam Medis Rahasia Masa Lalu: 80 Persen]

Suara notifikasi bernada datar berderik pelan di dalam kepala Arka.

Mata Arka mendadak menyipit tajam saat melihat proyeksi peta digital transparan muncul di dalam penglihatannya.

Peta itu menunjukkan jalur rahasia di bawah tanah yang terhubung langsung ke ruang brankas milik direktur utama rumah sakit.

"Wah, sepertinya hukuman dari Dr. Budi ini justru memberiku jalan pintas yang menarik," gumam Arka sendirian di dalam ruangan yang sunyi.

Ia tersenyum misterius sambil mulai menyiapkan peralatan pembersihnya untuk memulai sandiwara hari itu.

1
Shinta geol
karya yang bagus dan masuk ke dalam alur
Shinta geol
salut sama sikap thor yang tenang menguasai keadaan,saya kasih vote lah biar rame😍
Shinta geol
kasihan si arka selalu dekerjain para dokter lain nya😭
setiawan
motivasi hidup,saya kasih bintang 5
Jangkar pion
🥰😍🤩
Anton barly
saya suka karakter Thor🤗
gofur
karya yg menarik
yani
😶‍🌫️
fitri
motivasi untuk org normal biar tambah wawasan
fitri
hebat nya orang idiot tpi otak melebihi orang normal👍
Angel
sangat berkesan untuk orang nornal biar tambah semangat dalam bekerja💪
Angel
walaupun banyak yang hina tpi dia tidak runtuh sama sekali👍👍👍
Anton barly
orang idiot aja masih punya musuh,apalagi dia normal
Anton barly
orang pintar walaupun udiot masih aja punya musuh
fitri
sikap thor yang tenang menghadapi masalah👍
pricilia
jangan meremehkan orang yang memiliki kekurangan,belum tentu orang kekurangan itu di bawah batas kita,saya sadar orang normal belum tentu baik😒
clara
sangat bagus
clara
saya suka alur crita nya saya kasih vote 1 deh biar bisa lanjut baca nya😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!