Tommy Nugroho adalah siswa kelas 2 SMA yang harus tinggal kelas dan selalu menjadi bahan tertawaan karena nilai-nilainya yang hancur berantakan.
Kehidupannya yang menyedihkan dan penuh ejekan berubah drastis pada suatu malam ketika sebuah layar biru misterius muncul di kamarnya dan memberinya Sistem IQ Tak Terbatas.
Alih-alih memamerkan kejeniusan barunya yang kini mampu memecahkan masalah tersulit dalam hitungan detik, Tommy memilih untuk tetap berpura-pura menjadi murid bodoh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Wusss.
Angin pagi berhembus cukup kencang melewati jendela kelas sebelas IPS dua yang terbuka lebar.
Begitu Tommy melangkah masuk melewati pintu, seluruh mata langsung tertuju padanya.
Suasana kelas yang tadinya biasa saja langsung berubah menjadi riuh.
"Woi, ini dia si raja hoki kita datang!" teriak Reno dari bangkunya.
Beberapa murid laki-laki langsung bertepuk tangan sambil tertawa mengejek ke arah Tommy.
"Ajarin gue dong, Tom, cara manggil roh kucing biar bisa ngerjain PR matematika," goda seorang murid dari barisan tengah.
Tommy hanya tersenyum canggung sambil menggaruk belakang kepalanya.
"Aku juga gak tahu kenapa bisa bener kemarin," jawab Tommy dengan suara pelan dan polos.
Ia berjalan menuju bangkunya di sudut belakang dan meletakkan tas ranselnya.
Dito yang duduk di depan menoleh ke belakang dan memberikan senyuman kecil penuh arti.
Tommy membalas senyuman itu dengan kedipan mata yang sangat cepat.
Brak!
Suara bantingan tas yang keras dari arah depan kelas membuat semua murid terkejut.
Bagas baru saja masuk dan langsung melempar tasnya ke atas meja dengan wajah sangat kusut.
"Lo kenapa, Gas? Pagi-pagi udah emosi aja," tanya Reno sambil menghampiri temannya itu.
"Gak usah banyak tanya lo, gue lagi pusing," bentak Bagas dengan nada tinggi.
Reno langsung terdiam dan mundur selangkah, tidak berani melawan preman kelas tersebut.
"Bokap gue lagi banyak masalah di kantor dari semalam, gue jadi kena imbas marahnya terus," gerutu Bagas sambil mengusap wajahnya kasar.
Tommy yang mendengar keluhan Bagas itu hanya tersenyum sangat tipis dari bangkunya.
"Bom waktu yang aku pasang sepertinya sudah mulai meledak," batin Tommy santai.
Ia tahu betul masalah apa yang sedang menimpa ayah Bagas di perusahaan konstruksi raksasa itu.
Kringgg!
Bel masuk berbunyi dan pelajaran pun dimulai seperti biasa tanpa ada hal yang istimewa.
Tommy menghabiskan waktu dengan berpura-pura tidur atau mencoret-coret bukunya agar terlihat malas.
Waktu terasa berjalan lambat hingga akhirnya bel tanda pulang sekolah berbunyi nyaring.
Murid-murid langsung berhamburan keluar kelas dengan wajah gembira.
Tommy baru saja memasukkan buku terakhirnya ke dalam tas ketika seseorang berdiri menghalangi jalannya.
Itu adalah Nadin.
"Ikut gue ke perpustakaan sekarang juga, Tom," ucap Nadin dengan nada dingin tak terbantahkan.
"Ada apa, Din? Aku mau langsung pulang," tolak Tommy memasang wajah bingung.
"Gue bilang sekarang, atau gue laporin ke guru kalau lo nyontek pas UTS kemarin," ancam Nadin menyilangkan tangannya di dada.
Tommy menghela napas pasrah, berakting seolah ia ketakutan dengan ancaman tersebut.
"Iya, Din, aku ikut," jawab Tommy menundukkan kepalanya.
Mereka berdua berjalan menyusuri lorong sekolah yang mulai sepi menuju ruang perpustakaan di lantai satu.
Suasana perpustakaan sangat sunyi, hanya ada penjaga perpustakaan yang sedang tertidur di mejanya.
Nadin menarik sebuah kursi di sudut paling tersembunyi dan menyuruh Tommy duduk di depannya.
Srak.
Gadis pintar itu mengeluarkan selembar kertas dari dalam tasnya dan meletakkannya di atas meja.
Tommy menatap kertas itu dan melihat gambar coretan benang kusut yang sama persis dengan apa yang ia gambar di papan tulis kemarin.
"Bisa lo jelasin ini gambar apa?" tanya Nadin menatap tajam langsung ke mata Tommy.
"Kan aku udah bilang kemarin di panggung, Din, itu cuma gambar benang kusut karena aku pusing," jawab Tommy dengan suara pelan.
Brak.
Nadin memukul meja dengan pelan namun cukup untuk menunjukkan rasa frustrasinya.
"Jangan pura-pura bodoh di depan gue, Tom," desis Nadin tajam.
"Gue semalaman gak bisa tidur mikirin gambar konyol lo ini."
Nadin mengambil pulpen dan mulai menunjuk garis-garis silang di gambar tersebut.
"Gue nyari referensi ke berbagai buku matematika tingkat lanjut yang ada di rumah gue."
"Dan lo tahu apa yang gue temukan?" Nadin mendekatkan wajahnya.
"Garis-garis silang ini bukan coretan asal, ini adalah visualisasi dari kurva probabilitas kuadratik."
Tommy memasang wajah sangat terkejut yang seratus persen palsu.
"Kurva pro... apa, Din? Probabilitas itu nama dinosaurus ya?" tanya Tommy dengan ekspresi idiot yang sempurna.
Nadin memejamkan matanya sejenak, mencoba menahan amarah yang meletup-letup di kepalanya.
"Ini matematika tingkat tinggi, Tommy," jelas Nadin dengan napas berat.
"Dan yang lebih gila lagi, titik temu dari semua garis kurva yang lo gambar ini, berpotongan tepat di titik koordinat nol koma dua delapan."
"Sesuai persis dengan jawaban dari deret probabilitas yang ditanyakan Pak Darmawan kemarin."
Nadin menyandarkan punggungnya ke kursi dan menatap Tommy dengan tatapan menilai.
"Sekarang lo mau bilang kalau ini cuma kebetulan dari tangan yang kepeleset?" tuntut Nadin.
Di dalam kepalanya, otak jenius Tommy sedang berputar mencari alasan paling logis untuk mematahkan argumen ini.
Ia tidak boleh menggunakan alasan matematika, ia harus menggunakan alasan psikologis.
Skill Manipulasi Ekspresi Mikronya seketika aktif bekerja.
Raut wajah idiot Tommy perlahan memudar, digantikan oleh ekspresi sedih dan sedikit malu.
"Kamu benar-benar ingin tahu dari mana aku belajar menggambar itu, Din?" tanya Tommy dengan suara bergetar.
lanjut thor, tak sukreb deh outhor yg begini.
ini ajang olympiade, kenapa sempat terjadi perdebatan antara 2 peserta yg satu regu mewakili satu sekolah, tentang cara menjawab pertanyaan. ditambah setiap ahir jawapan ada kata "pak" dr tomi.
ini lebih cocok kalo di ajang diskusi di kelas.
logis dikit kelesss..😇😇